Bab8 | Usaha Tidak Menghianati Hasil

1818 Words
Derasnya rintik hujan dan gemuruh petir tidak ia pedulikan. Ia tetap menerjang derasnya hujan. Syifa lah yang berani menerjang hujan deras itu, tak peduli apakah baju seragamnya basah kuyup, atau bahkan sakit sekalipun. Ketika sebagian teman-temannya telah pulang karena membawa kendaraan masing-masing atau dijemput, Syifa justru masih menyendiri di kelas. Karena sudah cukup lama ia menunggu berhentinya hujan, akhirnya disinilah ia sekarang, di depan gerbang sekolah. Dia berada di tempat yang teduh. "Dasar Ka Ilham! Gue nyesel dah, berangkat bareng dia. Kalo tau dia bakal kerja kelompok, dan ninggalin gue sendiri kayak gini, mana mau gue bareng dia. Duh, Ferarri gue pake abis bensin segala lagi," gerutu Syifa sambil mengusap-ngusap lengannya. Sekolah sudah sepi. Di sana, hanya ada Syifa, dan mungkin di dalam kelas sana, ada beberapa murid yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Terlihat dari arah kanan, ada sebuah mobil sedan, yang mungkin akan memberi Syifa tumpangan. Dan benar saja, mobil itu berhenti tepat dihadapan Syifa. Syifa mengernyitkan dahinya bingung. Dia seperti mengenali mobil itu, namun dia lupa. Kaca mobil itu tiba-tiba turun ke bawah, tanda sang pengendara membuka kacanya. Syifa terkejut, saat mendapati seorang lelaki yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu. "Ukhti gak bawa mobil?" tanya lelaki itu. Syifa menggelengkan kepalanya sambil menunduk. "Ukhti masuk aja ke mobil saya. Saya juga akan ke rumah Ukhti, kok." Syifa mengangguk dan segera memasuki mobil itu. Syifa duduk tepat berada di samping Azam, lebih tepatnya di samping pengemudi. Melihat Syifa, Azam terperanjat kaget. Ia pikir, Syifa akan duduk di belakang. "Kok Ukhti duduk disini?" Wajah Azam terlihat sangat tegang. Syifa menoleh ke arah Azam. "Lo sendiri, kan, yang ngasih gue tumpangan? Emang kenapa kalo gue duduk disini? Lo gak suka?" Azam menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan begitu. Lebih baik Ukhti duduk di belakang. Kita masih belum mahram, Ukh," ucap Azam sambil mengalihkan padangannya dari Syifa. Syifa menautkan alisnya. "Apa lo bilang? Belum mahram? Berarti akan dong?" tanya Syifa yang memberi penekanan pada kata 'akan'. Mendengar itu Azam gelagapan. Aduh, Zam. Ngomong nya kok bisa typo sih, astagfirullah, batin Azam. "Yaudah biarin aja lah, Pa Ustadz. Susah pindah ke belakangnya." Azam tak menanggapi. Ia langsung menghidupkan mesin mobilnya, kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Jujur saja, ini pertama kalinya Azam berduaan di dalam mobil. Ada rasa gugup tentunya. Bukan apa-apa, tapi Azam takut, jika matanya tidak bisa diajak kompromi. Apalagi yang berada di sampingnya ini bidadari. "Ish! Hari ini pake hujan segala lagi," gerutu Syifa sambil memandangi jalanan yang basah karena hujan. "Ganggu aja nih hujan." Azam tersenyum tipis mendengar perkataan Syifa. "Kita seharusnya bersyukur, bukan mengeluh. Jatuhnya hujan ke dunia bukan semata-mata pengganggu bagi manusia, melainkan memberi banyak manfaat bagi kita semua." Syifa hanya diam, tak menanggapi perkataan Azam. Cukup mendengarkan saja. "Ukhti tau tidak, sesuatu tentang hujan?" tanya Azam. Syifa memutar bola matanya ke atas−berpikir−kemudian berkata, "Gue gak tau. Yang gue tau cuma Bagas yang suka sama hujan." "Bagas?" Syifa mengangguk mantap. "Mantan gue. Udahlah lupain aja dia." "Hujan itu rahmat dari Allah, Ukhti. Hujan juga waktu yang baik untuk berdoa. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Hakim, "Ada dua doa yang tidak akan ditolak oleh Allah, yaitu setelah adzan dan ketika turun hujan." Maka dari itu, sudah sepantasnya kita bersyukur dengan turunnya hujan ini ke bumi." Azam masih fokus pada jalanan, tanpa melirik sedikitpun ke arah Syifa. Azam melanjutkan perkataannya, "Ketika hujan turun, ada juga doanya, yaitu: Allahumma shoyyiban naafi'aa yang artinya: Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat." Setelah itu... Hening... Keduanya hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Di tengah keheningan itu, Azam melantunkan salah satu surat Al-Quran favoritnya dengan suara pelan. Syifa masih dapat mendengar suara Azam, karena lantunan indah itulah yang berhasil memecahkan keheningan yang tercipta di dalam mobil itu. Mendengar suara indah Azam, Syifa terkagum-kagum pada suara Azam. Seketika hatinya langsung tenang. Suaranya, begitu menyejukkan hati. Pa Ustadz muda ini hebat banget. Suaranya bagus banget, batin Syifa. *** Setelah Syifa mengganti baju seragamnya yang basah dengan gamis, ia langsung meluncur ke ruang tamu. Dimana Azam duduk manis menuggu sang gadis manis bernama Syifa. Ternyata hari ini Syifa bukan hanya manis, tapi juga anggun dan cantik. Itu membuat Azam memperhatikan Syifa tanpa mengedipkan mata. "Ngapain lo liatin gue sampe segitunya?" tanya Syifa yang berhasil membuat Azam terperanjat kaget. "Emm, kita langsung mulai aja ya, belajar ngajinya." Azam mengalihkan pembicaraannya. Dengan rasa kesal, Syifa membuka Al-Qurannya. "Coba cari surat Al-Jumu'ah," perintah Azam sambil membuka lembar demi lembar Al-Quran. Syifa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil membuka Al-Quran. Jujur, dia bingung. Terlebih semua tulisannya adalah Arab, tentu Syifa tak mengerti. "Gue bingung. Gue gak ngerti." Azam mengambil Al-Quran milik Syifa dan mencarikan surat Al-Jumu'ah. Setelah ditemukan, Azam mengembalikan Al-Qurannya pada Syifa. "Gue gak bisa bacanya," keluh Syifa. Azam tersenyum. "Kita belajar sedikit sedikit." Azam mulai membaca ayat pertama surat Al-Jumu'ah, kemudian diikuti oleh Syifa. Bacaan Syifa masih tidak lancar dan terbata-bata. Bahkan Syifa sempat menyerah. "Bisa gak, kalo gue tulis latinnya aja. Kalo baca Arabnya gue pusing. Ntar gue hafalin kok." "Kita tengah belajar membaca Al-Quran, belum ke menghafal Al-Quran. Kita harus bisa dulu membaca dengan benar, panjang pendeknya juga harus benar," ucap Azam. Syifa akhirnya menurut. Sudah beberapa kali Syifa mengulang ayat pertama, namun ia masih kesulitan membacanya. "Ahh, ini gue udah berapa puluh kali baca ayat pertama, tapi kok gak lancar-lancar siiih," keluh Syifa. Azam menatap Syifa, kemudian berkata, "Dengarkan baik-baik yah, hadist ini. Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Seorang yang lancar membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit di atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala." Itu hadist yang diriwayatka oleh Muslim." "Terus ada lagi penjelasan darin Imam Muslim, "Adapun orang yang terbata-bata dalam membaca Al-Quran adalah yang berulang-ulang dalam membacanya, sebab lemahnya hafalan. Maka baginya dua pahala kesulitan dalam membacanya, Wallahu alam," lanjut Azam. Syifa hanya menyimak penjelasan dari Azam. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang berhasil menggerakan hatinya. Dia terdiam. Biasanya, dia paling tidak bisa dan tak terima apabila dinasehati atau bahkan diceramahi seperti tadi oleh Azam. Tapi hadist yang dijelaskan oleh Azam benar-benar sama persis seperti apa yang dialaminya. "Kita tak perlu sedih, bahkan berputus asa dalam membaca Al-Quran. Cukup keikhlasan hati dan sabar. Kamu akan mendapatkan pahala juga, Ukhti. Tak apa, jika tak lancar. Karena Ukhti akan mendapat pahala dari kesulitan itu." Syifa menunduk. Dia sendiri sempat merasa heran dengan hatinya sendiri. Kenapa hatinya bisa mudah tersentuh oleh penjelasan Azam? Padahal, dia sudah menilai dirinya sendiri, bahwa ia sulit untuk berubah dan tersentuh hatinya. "Gue mau nanya dulu. Kenapa mesti surat yang ini? Kan masih banyak surat-surat pendek yang belum gue bisa." "Bukannya, Ukhti akan di tes membaca surat Al-Jumu'ah, oleh guru Agama Ukhti?" tanya Azam. Syifa menepuk jidatnya. "Aduh!!! Gue lupa. Mana di tesnya besok lagi. Duuh, mana bisa gue ngafalin dalam waktu sehari?" "Ukhti hanya disuruh mengfal lima ayat saja. Insyaallah, jika Ukhti berusaha dan bersungguh-sungguh, Ukhti pasti lancar membacanya." "Lo peramal ya? kok bisa tau sih, kalo besok di tes baca surat itu? Gue aja ampe lupa." "Saya tau dari Ayahnya Ukhti." "Gue mau rekam suara lo aja, ntar gue dengerin, sambil ngafalin." Syifa lantas mengambil ponsel dari saku gamisnya. Setelah Syifa menemukan aplikasi perekam suara, ia langsung mendekatkan ponselnya pada Azam. Sedangkan Azam memulai bacaannya, dengan mengucapkan bissmillah. "Yusabbihu lillahi maa fiis-samaawaati wa maa fiil ardhil malikil qudduusil 'aziizil hakim." "Huwal-ladzii ba'atsa fiil ummiyyiina rasuulan minhum yatluu 'alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu'allimuhumul kitaaba wal hikmata wa in kaanuu min qablu lafii dhalalin mubiin." "Wa aakhariina minhum lammaa yalhaqqu bihim wa huwal 'aziizul hakim." "Dzaalika fadhlullahi yu'tiihi man yasyaa-u wallahu dzuul fadhil 'azhiim." "Matsalul-ladziina hummiluuttauraata tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaran bi'sa matsalul qaumil-ladziina kadz-dzabuu bi aayaatillahu wallahu laa yahdiil qaumazh-zhaalimiin." *** Ketika Azam pulang, Syifa langsung berlari menuju kamarnya. Dia rebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di kasur king size nya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Semua perkataan Azam masih terekam jelas di dalam otaknya. Saat Azam menjelaskan tentang membaca Al-Quran, misalnya. Saat itu Syifa tengah merenungi beberapa hadist yang Azam katakan. Karena ia teringat sesuatu, ia langsung bangkit dari tidurnya. Kemudian ia segera berlari ke lantai bawah. Melihat Syifa berlari terburu-buru, Nisa langsung menyapanya, "Ada apa Syifa?" "Ga ada apa apa, Cuma mau ngambil hp gue yang ketinggalan." Syifa kemudian menyambar ponsel yang tertinggal di ruang tamu. "Ayah mana?" tanya Syifa sambil fokus pada ponsellnya. Nisa tersenyum sambil menghampiri Syifa. "Ayah masih kerja, mungkin nanti malem pulangnya." "Huh, ayah itu emang nyebelin. Harusnya dia yang ngajarin gue ngaji, bukan orang lain. Ada-ada aja deh, keluarga ini." Syifa kemudian pergi ke kamar, dengan pandangannya yang masih fokus pada layar ponsel. Suara lelaki itu mengalun indah, dan berhasil memecah keheningan di kamarnya. Ada rasa tentram di hatinya, entah mengapa. Namun, setiap ia mendengar suara itu, ia selalu merasa tenang. Apakah, di dalam suara itu ada obat penenang hati? Pikir Syifa dalam hati. Dan ternyata memang benar, ada obat di dalam suara itu. Obatnya adalah ayat-ayat Allah yang Azam baca. Suara Azam ibarat pemanis, yang menyempurnakan obat−Ayat-ayat Al-Quran−itu. Sudah beberapa puluh kali Syifa memutar rekaman suara Azam. Sungguh, baginya, seperti tidak ada kata bosan mendengar suara indah itu. Bahkan, saat ini ia sudah lumayan hafal 3 ayat surat Al-Jumu'ah. Dia juga sempat tidak menyangka, itu bisa terjadi. "Iiih, kok bisa ya? ih, gue hebat banget sih, bisa hafal 3 ayat surat itu. Ih, gak nyangka banget. Gue kira, gue ga akan pernah bisa ngafalin itu surat." "Tunggu dulu, ini yang bikin gue hafal itu, karena gue yang pinter, apa suara Ustadz muda itu yang bagus, ya?" tanya Syifa pada dirinya sendiri. "Itu karena usahamu, Syifa." Suara itu berasal dari ambang pintu kamar Syifa. itu adalah suara Nisa. "Ngapain lo kesini? Ganggu gue aja." Nisa tersenyum. "Kamu belum makan malam, Syifa. ayo makan dulu, kebetulan Ayah kamu udah pulang barusan. Dia ngajak kamu makan bareng." Syifa memutar bola matanya malas. "Engga ah. Kalo Ayah nanyain gue, bilang aja gue lagi diet. Udah ah, lo aja yang makan sama Ayah. Bagi Ayah, adanya istri baru udah cukup, sampe lupa deh dia buat ngedidik anaknya." Syifa berjalan mendekati Nisa, hingga Nisa mundur satu langkah, kemudian Syifa menutup pintu kamarnya. Melihat itu, Nisa hanya tersenyum, kemudian pergi ke ruang makan. Sedangkan di dalam sana−di dalam kamar−Syifa tengah fokus kembali pada lantunan indah penyejuk hatinya itu. *** Assalamualaikum, Ukhti... Yakinlah, saat ini Ukhti sedang mengusahakan masa depan. Ukhti mungkin merasa kesulitan dan sempat berputus asa saat sedang berusaha, tapi ingatlah, akan ada hasil yang baik dan indah setelah lelah berikhtiar karena Allah. Ukhti pasti tau kata, "Usaha tidak akan pernah menghianati hasil". Itu sungguh sebuah kalimat yang inspiratif. Tetap semangat dan bersabarlah  Entah ada angin apa, tengah malam begini, seperti ada yang memaksa jemarinya untuk mengetik sebuah pesan untuk Syifa. Sudah sekitar 5 kali Azam menghapus pesan-pesan yang akan dikirimnya karena ragu. Hingga pesan yang terakhirlah yang berhasil ia kirim kepada Syifa. Dan begitu terkejutnya Azam, saat Syifa membaca pesan LINE darinya. Azam berusaha mengotak-atik akun LINEnya itu, dia sedang berusaha mencari, dimana tempat untuk menarik pesan seperti di BBM. Namun sayang, Azam tidak menemukannya. Tangannya sudah mulai berkeringat dingin, mungkin karena ini pertama kalinya Azam mengirim sebuah pesan kepada wanita. Tujuan Azam hanya ingin menyemangati Syifa, apa ia salah? Kok gue gak kebayang ya, kalo misalnya lo nyemangatin gue secara langsung? But, thanks semangatnya. Makin semangat ko, kalo lo yang nyemangatin. NO BAPER! GUE BERCANDA! Itulah balasan dari Syifa. jujur saja, itu membuat tangan Azam bergetar karena gugup. Hingga akhirnya, Azam memutuskan untuk mematikan ponselnya saja, agar ia tidak terus berlarut dalam kegugupan yang datang secara tiba-tiba itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD