Syifa turun dari mobil sedan hitam milik Azam. Saat itu dia setuju diantar Azam karena memang dia takut jika harus pulang sendiri, malam-malam. Kaca mobil Azam terbuka, Syifa menundukkan bahunya agar sejajar dengan kaca mobil yang menampilkan wajah tampan Azam. Saat itu Syifa kaget. Bagaimana tidak, ketika menundukan bahunya, Syifa berhadapan langsung dengan lelaki berkaca mata itu. Bola mata mereka bertemu, namun Azam langsung menunduk.
Syifa sedikit ragu untuk berbicara. "Ehm, thanks ya, Pa Ustadz muda, lo baik. Tapi lo masih tetep nyebelin," ucap Syifa sambil tersenyum dan menegakkan badannya lagi.
Sungguh, senyuman manis Syifa membuat Azam salah tingkah. Untuk menjawab ucapan terima kasih dari Syifa saja rasanya sulit.
"Sama-sama." Itu suara Zidan yang berada di samping Azam.
"Eh, gue berterima kasih sama kakak lo, ya," gerutu Syifa.
"Sama aja lah. Dia kan sodara gue."
"Lebih baik Ukhti cepat masuk, saya pamit, assalamualaikum." Azam kemudian melajukan mobilnya, menjauh dari tempat Syifa berdiri.
Syifa tersenyum. "Huh, dasar. Padahalkan lagi asik-asiknya adu mulut sama adiknya yang nyebelin itu," ucap Syifa.
Kemudian, Syifa memasuki pekarangan rumahnya. Hari ini sungguh melelahkan baginya. Mulai dari rasa sedih, kesal, marah, dan yang lainnya ia rasakan. Baru saja Syifa akan membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka sendirinya. Perasaan, ini pintu ga otomatis buka sendiri deh, batin Syifa.
"Lo abis darimana?" tanya seorang lelaki di ambang pintu yang ternyata adalah Ilham, kakaknya.
"Bukan urusan lo lah. Lo ngapain baik banget bukain pintu buat gue?" tanya Syifa.
"Idiih, Ge-er amat. Gue mau ngerjain tugas sama Bagas di sono," ucap Ilham sambil menunjuk kea rah taman kecil di depan rumahnya.
Mendengar nama itu, tiba-tiba Syifa membeku. Rasanya ingin sekali melanjutkan tangisannya, yang tadi sempat terhenti karena cowo nyebelin bernama Zidan, namun disini ada Ilham. Tiba-tiba, Bagas menghampiri Ilham yang berada di depan pintu. "Jadi, mau ngerjain dimana, Ham?" tanya Bagas sambil menepuk pelan pundak Ilham.
Melihat Bagas, Syifa sudah tak kuasa lagi membendung air matanya. Syifa langsung berlari ke dalam rumah menuju kamarnya. Sadar, akan adanya Syifa, Bagas langsung terperanjat kaget. Rasa kesal dan kecewa masih ada di hatinya.
"Tadi si Syifa kayaknya dianterin cowo deh," ucap Ilham.
Bagas langsung diam. Ada rasa cemburu, namun, apa haknya untuk cemburu?
Maafin gue Syifa. Ini demi kita...
***
Oke fix! Hari ini Syifa sedang tidak ada mood untuk membuat guru kesayangannya−Bu Rina−marah-marah atau menceramahinya. Sejak masuk tadi, Syifa memang lebih banyak diam. Padahal biasanya dia selalu mengomentari pelajaran-pelajaran Fisika yang menurutnya selalu membuat migraine.
Hampir semalaman Syifa tidak tidur karena menangis. Kejadian pahit itu teringat kembali oleh Syifa, terlebih lagi saat Bagas berada di rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama Ilham. Matanya semalam sempat bengkak. Dan sekarang masih terlihat sisanya, meski tidak separah tadi pagi, saat ia bangun dari tidurnya. Sampai-sampai Syifa ketakutan melihat matanya sendiri yang bengkak karena menangis.
Syifa mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Hari ini Syifa memang lebih banyak melamun.
"Syifa!" ucap Bu Rina pelan, namun tak ada jawaban apapun dari Syifa yang tengah asik bermain dalam alam pikirannya itu.
"SYIFA!" Bu Rina berteriak memanggil nama orang yang sedari tadi diam saja.
Alya yang berada di sampingnya menggoyang-goyangkan bahu Syifa. "Ada apa, Al? Bu Rina ngamuk lagi?" tanya Syifa pada Alya.
Dengan wajah tegang, Alya mengangkat dagunya ke arah Bu Rina. Kemudian Syifa menoleh ke arah yang yang dituju Alya. Bu Rina menatap Syifa dengan tatapan setajam sitetnya. "Kamu dari tadi merhatiin ibu nerangin, gak, sih?" tanya Bu Rina.
"Enggak." Syifa menjawabnya dengan enteng.
Bu Rina menarik nafasnya. "Tumben kamu gak banyak omong. Bisanya kan, kalo ada materi yang sulit kamu selalu komentar nggak jelas."
Syifa berdecak. "Ibu Rina Shafira Bachri, guru kesayangannya Syifa yang cantik sedunia, tolong jangan ganggu Syifa dulu, ya? Syifa lagi gak mau berantem sama ibu. Giliran Syifa komentar panjang lebar aja, ibu suka ngomel, lah sekarang Syifa gak komentar ibu omelin juga. Mau ibu apa sih?" ucap Syifa panjang lebar.
Murid selalu salah, dan guru selalu benar. Itulah kalimat yang selalu ada di hati Syifa, kalimat yang kadang selalu Syifa lontarkan saat ada guru yang menegur atau memarahinnya.
Bu Rina tersenyum dengan sangat-sangat terpaksa. "Baiklah. Terserah Asyifa saja."
Tak lama setelah itu, bel pun berbunyi tanda istirahat. Semua murid kelas 10 IPA2 berhamburan ke luar kelas, segera memberi makan cacing-cacing di perutnya yang sudah sejak tadi berdemo.
Alya segera membereskan buku-buku Fisikannya. Dia memang sudah memiliki niat untuk meminta Syifa bercerita. Karena jujur saja, ia khawatir melihat wajah Syifa hari ini.
"Lo kenapa sih, Fa?" tanya Alya penasaran.
"Putus." Singkat, padat, dan jelas. Hanya itu jawaban Syifa.
Alya menggenggam tangan Syifa dengan cepat. "Jangan bilang lo pu-"
"Gue putus sama Ka Bagas," ucap Syifa dengan wajah yang kali ini tanpa ekspresi.
Kemudian Alya memegang bahu Syifa. "Lo serius?" tanya Alya pelan dan hati-hati.
Air mata sudah menggenang. Benteng pertahanan Syifa saat itu akhirnya roboh juga. Kemudian Syifa memeluk Alya dengan erat. Berharap dengan memeluk sahabatnya ini bisa membuat dirinya sedikit tenang. "Kenapa bisa, Fa?" tanya Alya.
Syifa melepaskan pelukannya perlahan. "Gue gak tau. Tapi gue yakin, kalo dia mau balikan lagi sama Fiany."
"Kayaknya bukan karena itu deh, Bagas putusin lo. Lo tau sendiri, kan, kalo Bagas itu benci banget sama Ka Fiany?"
Syifa berdecih pelan, "Cih. Emak-emak kaya gitu dipanggil 'kak'."
Alya menarik sudut bibirnya.
"Ka Bagas ngajak gue pacaran, cuma buat manas-manasin si Fiany, Al," lanjut Syifa.
"Lo tau darimana, Fa? Emang Bagas ngomong itu ke, elo? Emang keliatannya Ka Bagas masih suka, sama Ka Fiany? Enggak, kan?"
Syifa diam.
"Ka Bagas itu bener-bener cinta sama lo. Gue bisa liat dari sorot matanya. Setiap dia ketemu sama lo, ada binar bahagia yang terlukis di wajah dia. Sedangkan saat ketemu Ka Fiany, Ka Bagas justru selalu menampakkan wajah ketus dan dingin, seakan membenci Ka Fiany."
Syifa terdiam sejenak. Perkataan Alya memang benar. Bagas pun pernah bilang bahwa ia sudah tidak mencintai Fiany yang notabene mantannya itu.
Bagas pernah bilang, bahwa ia mencintai Syifa tanpa alasan. Meski Syifa terkenal dengan kenakalan dan kelancangannya saat berbicara dengan orang lain, Bagas tetap menerima Syifa apa adanya. Bahkan di hati Bagas ada keinginan untuk mengubah sikap Syifa itu. Lantas, apa alasan Bagas memutuskan Syifa?
***
Di kantin, di meja paling pojok, terdapat tiga lelaki tampan−yang sangat terkenal di sekolah− sedang sibuk menyantap makanan yang dipesannya. Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Bagas, Ilham, dan Ariel. Mereka terkenal dengan kelebihan dan bakatnya masing-masing. Bagas terkenal dengan kecerdasannya, Ilham terkenal dengan kepandaiannya bermain basket, sedangkan Ariel terkenal dengan kelincahannya dalam bermain bola. Tampan dan keren seakan menjadi nilai plus sendiri yang ada pada mereka.
"Lo beneran putus, sama Syifa?" tanya Ariel pada Bagas.
Bagas terlihat begitu lesu saat mendengar nama gadis yang amat sangat ia sayangi itu. "Iya," jawab Bagas singkat.
Ilham sebagai kakak dari mantan Bagas−Syifa− mengerutkan dahinnya. "Lah, kenapa putus, Gas? Emang si Syifa bikin kesalahan, ya?" tanya Ilham yang kemudian langsung menyantap bakso yang dipesannya.
Bagas menggeleng cepat. "Lo jangan marah, Ham, soal gue yang mutusin adik lo."
Ilham menepuk pelan pundak sahabatnya itu. "Kalem aja, Bro. gue tau banget seorang Bagas itu kaya gimana. Seorang Bagas gak mungkin nyakitin cewe. Dan gue yakin, lo putusin Syifa karena ada alasannya," ucap Ilham sok bijak.
"Bener tuh kata si Ilham. Yaa, segimana dulu elo putusin si Fiany karena dia suka marah-marah tanpa alasan sama adik kelas, iya kan, Ham?" ucap Ariel.
"Gue kemarin ketemu lagi, sama temen SMP gue. Dia sekarang makin alim, suer dah," ucap Bagas.
"Ketemu dimana?" tanya Ilham.
"Di kafe Anggrek. Kita ketemu Cuma saling sapa aja sih."
"Kafe tempat lo nembak si Syifa, ya?" tanya Ariel, lantas menyeruput lemon tea kesukaannya.
Bagas mengangguk pelan. "Dan di tempat itu juga gue putusin Syifa."
Melihat wajah Bagas yang tak secerah biasanya, Ilham sebagai sahabat yang kadang sok bijak itu merangkul sang sahabat, kemudian berkata, "Gue tau ada alasan yang belum lo jelasin ke Syifa. Jadi, apa alasannya, Gas? Siapa tau gue bisa jelasin ke si Syifa. Walau, ya lo tau sendiri lah, kalo gue sama Syifa gak pernah akur. Maklum aja, kalo ketemu adik gue yang judes itu bawaannya pengen ngerjain mulu."
"Alasannya itu karena gu-," ucap Bagas terhenti oleh seorang gadis yang tiba-tiba duduk tepat di bangku kosong yang berada di sampingnya.
Gadis itu tanpa disuruh, duduk dan memeluk Bagas. Gadis itu bernama Fiany Adhara, mantan Bagas. "Gue tau lo masih sayang kan, sama gue? Makannya lo putusin si cewe PHO itu, kan?"
Bagas melapas pelukan Fiany dengan kasar. Tanpa ia sadari, bahwa saat Fiany memeluknya, ada Syifa yang sedang mematung di meja yang berada tak jauh dari Bagas. Bagas tanpa sengaja, melirik ke arah meja yang berada di depannya, dan begitu terkejutnya ia saat mendapati Syifa berada di sana.
Syifa tersenyum sinis. Air matanya telah menggenang, dan mungkin beberapa detik lagi akan meluncur di pipinya. Saat air itu meluncur, Syifa mengusapnya dengan kasar. Lantas pergi meninggalkan meja yang menyajikan pemandangan indah itu, tanpa mempedulikan Alya yang baru saja datang membawakan makanan pesanan Syifa.
"Oyy, Syifa, ini makanannya," teriak Alya.
Melihat Syifa yang berlari karena melihatnya, Bagas langsung berlari mengejar Syifa, mengabaikan Fiany yang berteriak memanggil namanya. "Lo jadi cewe Ge-eR amat sih. Emang siapa sih, cowo yang suka sama cewe yang centilnya minta ampun kaya lo? Bagas dulu nembak lo karena dia khilaf," sindir Ariel.
Tawa Ilham pun pecah. "Bhahaha, bener lo, Riel. Dulu Bagas khilaf, makannya dia nembak lo."
Fiany mendelikkan matanya kesal. Ada rasa marah sekaligus malu karena perkataan Ariel tadi. "Ish! Kalian itu nyebelin." Lantas Fiany pergi, meninggalkan Ilham dan Ariel.
***
Dengan cekatan, Bagas menarik tangan Syifa agar gadis itu berhenti berlari. Dan usaha Bagas berhasil, Syifa kemudian terdiam, sambil menahan tangisnya. "Dengerin kakak dulu, Fafa."
Nama panggilan itu, nama yang Syifa inginkan keluar dari mulut Bagas. Dan keinginan Syifa telah terkabul. "Semua udah jelas. Udah gue duga, kalo lo pasti mau balikan lagi sama Fiany. Apalagi yang mau lo jelasin? Sekarang, gue bukan siapa-siapa lo lagi. So, gue bebas ngelakuin apa aja kaya dulu. Ke klub malam pun ga akan ada yang ngelarang bahkan marah lagi ke gue. Syukur-syukur, malem gak ditampar Ayah lag-."
"CUKUP!" Bagas memotong perkataan Syifa dengan tegas.
"Kenapa, hah? Lo mau marah? Emang lo masih punya hak buat marahin dan ngelarang gue? Bukan urusan lo juga kan?"
"Cukup, Asyifa, cukup!" Bagas menghembuskan nafasnya kasar. "Kakak akan tetap ngelarang kamu ke klub itu lagi, meski tak ada hubungan lagi di antara kita."
"Apa hak seorang mantan buat ngelarang? Mantan itu bukan siapa-siapa lagi, kan? Sama seperti gue, yang bukan siapa-siapa di mata lo!"
"Gue sayang sama lo, Fa. Karena rasa sayang itu gue gak akan pernah ngizinin lo ke Klub itu lagi," ucap Bagas lemah.
Syifa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. "Sayang lo bilang? Lo ga akan bisa dikatakan menyayangi gue, kalo nyatanya lo juga nyakitin hati gue!"
"Justru karena gue sayang, makannya gue putusin lo!"
"Sayangnya lo udah nyakitin hati gue. Gue gak percaya lagi sama lo!" Syifa lantas pergi, meninggalkan Bagas yang masih mematung.
Nanti... kau akan mengerti, Asyifa. Kau hanya perlu waktu. Dan, maaf...