Empat hari menikmati libur kerja, esok paginya aku mendapat panggilan dari sir Graham. Kuhentikan langkah cepat di atas treadmill dan mengangkat telepon. “Good morning, sir.”
“Kau terdengar kelelahan. Sedang apa?”
“Oh.” Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku berolahraga.”
“Aku lega mendengarnya, seperti Harold yang biasa.” Kurasakan ada senyum dari ucapannya.
Aku terkekeh. “Ya, begitulah.” Karena sudah sebulan lebih tak berolahraga lagi, tubuhku jadi ter-reset.
“Aku menyesal mengganggumu pagi ini, tapi bisakah kau datang?”
“Baik, sir. Ada masalah apa kalau boleh tau?”
“Susah menceritakannya lewat jarak jauh begini.” Aku mendelik, sepertinya ada masalah rumit.
“Siang nanti aku akan ada di sana.”
“Bagus, aku akan tunggu.”
Setelah mandi dan dipaksa makan sebelum berangkat oleh Dean, aku sampai di perkumpulan cenayang, di Stratford-upon-avon.
Sebagai seseorang yang kerja di tempat ini, aku lebih suka melihat bangunan Mansion sir Graham di musim gugur. Saat daun-daun maple merah oranye dan kuning mewarnai tanah seperti karpet, sesuai dengan kemisteriusan bangunan itu sendiri.
Ah, right. Aku belum menjelaskan posisiku di sini. Aku kebetulan adalah satu dari segelintir orang yang menempati posisi cenayang non-spirit. Iya, aku tau nama jabatan itu membuat dahi mengerut, intinya aku cenayang yang mengatasi makhluk-makhluk tak lazim yang kasat mata, dengan kata lain monster.
Kuketuk pintu sebelum masuk ke ruangan pribadi sir Graham. Setelah mendengar izin, aku pun masuk.
“Oh, kau datang lebih awal dari yang kuperkirakan,” ujar pria dengan pembawaan khas bangsawan itu.
“Ada problem apa, sir?” tanyaku, berdiri di depan meja besarnya.
Sir Graham menautkan jemarinya di atas meja, terdiam sejenak. “Aku berhasil menemukan Ble Floges, sekarang dia ada di tangan penyihir bernama Cristine.”
Damn, kalau sudah ada di tangan penyihir, aku tak bisa berbuat apa-apa tuk merebutnya. Melawan mereka sangat berisiko.
“Sayang sekali, aku berharap kau merelakannya, Harold.”
Aku menarik napas kecewa, tersenyum tipis. “I will. Ini hanya keegoisanku yang menginginkannya.”
Dulu aku berharap bisa menyimpan semua benda tentang Levine. Seperti toples aluminium berisi tembakau berbau vanila dan citrus yang sering dia konsumsi atau sekedar lampu gantung yang sering kulihat di atas ruang tengah rumahnya. Namun, rumah dan seisinya lenyap tanpa sisa, dua spirit miliknya pun menghilang. Sekarang, keberadaan Dean sudah lebih dari cukup buatku.
“Lalu, berkat curah hujan yang meningkat, ada makhluk langganan yang kembali mengganggu.” Sir Graham mengeluarkan foto 4x6 dari amplop kecil putih dengan segel lilin wax merah yang sudah dipotong dengan pisau, menyodorkannya ke arahku.
Di foto polaroid itu, terlihat sosok berwujud manusia yang tak begitu jelas—dipotret saat objek bergerak. Yang jelas hanya foto itu diambil saat malam, dekat perairan.
“Nixe, di mitologi German dan wilayah Eropa lain, mereka menyebutnya duyung sungai atau monster air.”
“Anda bilang langganan, tapi saya tak menjumpai mereka beberapa tahun lalu," kataku.
“Karena mereka cukup cerdik, Harold, dan tidak banyak di sini. Mereka tidak menetap dan muncul sekali di satu wilayah lalu pergi ke sisi seberang yang berjauhan. Di musim panas tahun lalu, salah satu muncul di jalanan pedesan, Durham. Mereka menarik remaja laki-laki yang melintas ke genangan air hujan dan dia menghilang.”
“Setelah Anda bilang begitu, aku jadi ingat. Mereka memang suka memangsa laki-laki, khususnya di bawah usia empat puluhan. Tidak pernah muncul berkelompok tuk meminimalkan mereka di tangkap atau dilukai monster lain,” tuturku sembari mengambil foto itu dan memperhatikan sosok yang kabur.
“Ya. Mengerikan mengetahui betapa cerdiknya makhluk ini. Itulah mengapa, kita harus lebih cepat darinya tahun ini. Satu nyawa pun berharga.”
Aku hanya tau segelintir soal makhluk ini. Kalau tebakanku benar, mereka seperti ikan Salamander versi manusia. Aku mendengus tawa mengingat ikan Salamander yang bisa dibilang lucu itu.
Sir Graham mendengar dengusanku. “Kau menertawakan korban-korban yang tewas oleh Nixe?” tekannya.
“Tidak, Sir. Aku hanya teringat lelucon Dean,” dalihku sambil mengontrol senyum.
Rautnya mendadak menjadi cerah. “Aaah, bagaimana kabarnya? Apa dia betah?”
“Aneh sekali untuk Anda menanyakan kabar spirit, tuan Graham,” kataku.
“Ya, saking netralnya dia, terkadang aku menganggapnya sebagai anak laki-laki biasa. Namun, aku sungguh bersimpati padanya sejak kepergian Levine,” tuturnya. “Juga padamu.”
“ ... Aku sudah baikan sekarang,” balasku tenang.
“Ya, kuharap seterusnya juga begitu.”
Setelah itu, aku pergi ke ruang berkas laporan tuk memeriksa rekam jejak Nixe di tahun-tahun sebelumnya. Aku bukan detektif yang pintar melacak, tapi kuharap ada pola serupa yang muncul setiap kemunculan mereka yang bisa menjadi acuan.
Aku bertemu dengan Miss Jane yang menjadi pengurus ruang dengan rak-rak tinggi penuh kertas dan map itu. Dia berdiri di balik meja kayu dekat ambang pintu. Perempuan yang setahun lebih muda dariku itu bersurai cokelat kemerahan agak keriting dan selalu diikat ekor kuda rendah. Kacamata bulatnya agak merosot saat kami bertukar pandang. “Oh! Kau mengagetiku, Mr. Harold,” tuturnya sembari tersenyum memperbaiki kacamata.
“Pagi, Miss Jane. Keberatan tuk memberitahuku letak berkas laporan Nixe?” tanyaku langsung ke intinya.
Matanya membulat. “Nixe? Mermaid sungai, kan? Sebentar ....” Dia berkutat dengan komputer di sebelah. “Rak 12F.”
“Terima kasih.”
Kulihat huruf kayu berwarna hitam yang tertempel di sisi rak satu-persatu. Rak F berada di tengah, lalu kulanjut berjalan lurus sampai berhenti di rak ke dua belas.
“Konyol, bukan? Seharusnya dia bergabung saja dengan tim lain.”
“Aku yakin harga dirinya akan terluka jika melakukan itu. Kau dan aku tau pasti Natalie orangnya bagaimana.”
Mendengar nama Nat aku spontan menghentikan langkah. Perbincangan itu pun berlanjut. “Dia hebat, ibunya cenayang juga, tentu dia berpikir bakal mudah memulai karier sebagai cenayang solo. Aku kalau jadi dirinya juga bakal berbuat demikian.”
“Itu namanya besar kepala, Fred.”
“Anak sembilan belas tahun mana tau dunia kerja. Dia sedang di tahap menyicipi kesusahan dan menghadapi kegagalan. Biarkan dia.” Anak ini terdengar paling netral dibanding dua temannya.
“Kau bicara seperti Ayahnya saja.”
Ibunya juga cenayang? Wah, aku sudah duga dia hebat, tapi tidak menduga kalau dia menjadi cenayang bersama orang tuanya.
Mereka bertiga pun pergi, aku kembali melanjutkan jalan. Menemukan berkasnya jadi kerjaan lain lagi. Map besarnya hanya tercantum tahun dari berkas yang ada di dalam.
Kuhela napas. “Lebih baik aku tanya Miss Jane lagi sebelum pusing menatap laporan satu persatu.”
Usai itu, berkas laporan yang kucari ketemu di tiga rak berbeda berdasarkan tahun kemunculan mereka. Sesuai yang sir Graham katakan, mereka langganan muncul di sini setiap musim panas dan saat hujan.
Ternyata biar kuselidiki lewat laporan pun tidak ada ciri atau sesuatu yang lain yang bisa membantuku.
“Seperti biasa aku kembali bergantung pada kutukan lagi,” gumamku sembari menatap tangan sendiri.
Kumerekahkan senyum pasrah sembari menutup map besar. “Waktunya mengusir para duyung ini pulang ke German.”