karena kami saling berlawanan,

1140 Words
[ N A T A L I E ] “Natalie, tunggu!” Aku berhenti saat kami sampai di jejeran mobil yang terparkir di depan Mansion sir Graham. “Apa?” tukasku selagi menoleh dari bahu. “Kita perlu bicara.” “Bicara apa? Kalau soal tim, aku tidak mau.” “Jadi, kau akan diam saja sampai sir Graham menganggap kita tak berhasil?” “Oh, rencana yang sempurna. Ya, aku akan melakukannya,” tekanku. Harold berkata, “kau yakin?” Aku merotasikan mata. “Apa?” “Aku rasa jika kita berhasil menemukan sedikit saja titik terang, baik kau dan aku bakal mendapat untung. Aku dengar kau cenayang tanpa tim, bukankah keberhasilan ini bakal berdampak ke popularitas jasamu?” Dari kapan dia tau aku tidak bekerja dalam tim? Dan apa dia menyelidiki daftar laporanku yang sedikit itu dan menyimpulkan kalau jasaku jarang disewa? “Kau mengerikan,” kataku kembali melanjutkan jalan. Aku langsung melempar diri ke kasur sesampainya di rumah. Lalu aku memekik. “Padahal niatku ke sana untuk melihat laporan pertama soal kerasukan aneh itu!” Aaaarg! Semua ini gara-gara laki-laki itu! Kubalik badan, menatap langit-langit seperti menantangnya tuk bertarung denganku sekarang juga. “Lagi pula, kenapa sir Graham menyuruh dia? Dia tak bisa melihat spirit ....” ‘Tidak ada yang tau masalah kali ini melibatkan spirit atau monster.’ Ya, itu kata tuan besar perkumpulan cenayang tadi. Jadi, Harold ini orang yang mengatasi monster. “Memangnya ada?” tanyaku sembari bangkit tuk duduk. “Maksudku, spirit memang sulit dipercaya awalnya, tapi monster kan bisa dilihat manusia biasa. Kalau memang ada ....” Ah, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Spirit saja yang terbukti ada masih dibilang rumor, tidak heran kalau monster juga begitu. Aku mengerang jengkel. “Aaaaaa, apa yang harus kulakukan malam nanti? Aku sudah berjanji tuk ke sana.” Sesuatu jelas terjadi pada Irma, pasti perbuatan makhluk supranatural. Lalu, itu juga menimpa Owen. Aku bisa menanyakan apa yang terjadi sebelum dia mulai berhalusinasi. Dengan kemantapan hati yang dipaksakan, malamnya, sekitar pukul tujuh, aku ke rumah keluarga Isaac dan menghampiri Owen yang mungkin tidak bangkit dari kasur sejak siang. Pemuda itu menghempas napas mendapati keberadaanku. “Sudah dibilang jangan datang.” Berbeda dengan sikap agresif Irma yang Mrs. Alma ceritakan dan sempat kulihat juga, kesaksian kedua orang tua Mr. Owen adalah putranya ini suka bicara hal yang tidak jelas. Seolah jiwanya suka berpindah-pindah tempat. Pertama dia bertanya soal mobil yang tak pernah keluarganya punya. Lalu dia menanyakan keberadaan seorang anak laki-laki yang tak pernah hadir di keluarga mereka, dan kali ini dengan kemarahan luar biasa dan tiba-tiba pingsan. Aku duduk di kursi tanpa punggung yang ada di sebelahnya. “Aku yakin dirimu tidak kerasukan, Mr. Owen.” Dia menatapku malas. “Aku sudah mengatakannya sampai muak sejak tadi.” “Tapi, kalau boleh tau, sebelum ini terjadi, apa kau melihat sesuatu yang ganjil? Atau merasakan sesuatu yang tidak seharusnya?” “Seperti mimpi basah?” lontarnya. Aku merapatkan mata sejenak. “Aku serius.” “Aku menjalani hari seperti biasa. Berkuliah, berkumpul dengan teman. Tak ada yang berbeda, tidak ada yang aneh. Kau mungkin tidak tau, tapi aku tak bisa melihat hantu.” Aku sudah sangat jelas tau itu. “Belakangan ini banyak sekali yang wafat karena dugaan kerasukan, tapi nyatanya mereka wafat tanpa ada roh jahat di dalam,” kataku dengan harapan dia mau terbuka jika aku memberitau yang sebenarnya. “Mungkin mereka bunuh diri dengan meminum racun yang bereaksi di waktu tertentu dan hilang tanpa bekas.” Aku agak tercenung mendengarnya. “Itu bakal hebat,” ujarku datar. “Sudah dua orang yang wafat. Aku tak mau ada yang gugur lagi dan tak tau cara menghentikannya.” Dia tak mau bicara. Kuhela napas berat sembari mengeluarkan tanaman Marigold kering yang digulung dan diikat bersama batang dan daunnya dari tas kulit selempang, menggantungnya di depan pegangan laci di sebelahku. Yang ini berguna sebagai penangkal ringan, khusus digunakan saat tidur. “Aku tidak berhalusinasi.” Aku menatap ke arahnya lagi. “Hmm?” “Bukan halusinasi.” Dia menatapku. “Saat orang tuaku bilang aku kerasukan dan berhalusinasi, aku tidak keduanya. Aku hanya tidur dan mengigau.” Susah sekali bicara dengannya. “Baiklah. Kalau begitu, silakan tidur, Mr. Owen, aku akan berjaga di sini semisal kau melempar benda saat tertidur.” Dia mengerang frustrasi, bergerak tuk meluruskan badan di kasur dan membelakangiku. “Suka-suka kau, deh.” *** Aku tidak tertidur. Aku yakin sekali dengan itu. Semalam, satu jam lewat setelah aku berjaga, Mrs. Isaac masuk tuk mengantarkanku teh dan camilan, juga mengecek Owen. Mendadak cermin di kamar pecah, entah karena apa. Kacanya terlempar sampai ke karpet di bawah kaki rangka kasur. Nyonya Isaac membangunkannya, bermaksud untuk meminta Owen pindah dulu agar dia bisa menarik karpet bulu, tapi pemuda itu tak bangun-bangun. Saat Mr. Isaac masuk, menyentuh nadi putranya, bahunya langsung layu dan dia jatuh terduduk, masih memegangi tangan Owen. Paginya, Tuan Isaac membantu istrinya yang menangis sampai kehilangan kuasa tubuh, sembari menatap peti mati kayu warna hitam yang diangkut ke dalam mobil. Mr. Owen ada di dalam peti itu. Mereka tak mengatakan apa-apa selain terima kasih dan membayarku sesuai kesepakatan. Namun, pikiranku kosong seperti aku lah penyebab Owen pergi. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku sudah melakukan segalanya sesuai prosedur, sesuai yang aku bisa. Aku memasang penangkal, aku terus memperhatikan sekitar, tapi .... Tetangga dan saudara yang datang segera pergi ke kendaraan masing-masing tuk mengikuti mobil yang membawa peti Owen. Aku pesan taksi dulu agar bisa ikut. Seseorang menepuk pundakku beberapa kali, memancing tuk melihat. “Kau kenalan putra Tuan Isaac?” Aku membulatkan mata. Dia wanita yang kujumpai di tengah malam setelah menangkap Dean. “Oh, maafkan ketidak sopananku. Aku Gabriel, kita pernah bertemu saat kau mengatasi spirit Dean,” tutur wanita bermanik tosca itu. “Ya, aku ingat.” Dean dan Harold bilang dia Moirai. Sekarang saat yang tepat untuk mengetesnya. “Jadi, tadi aku bertanya, apakah kau kenalan Isaac Owen?” “Tidak. Aku ke sini untuk—“ Aku berubah pikiran. “Sebenarnya aku memang kenalan Mr. Owen. Kami pernah tetanggaan dulu.” Kalau dia bisa memprediksi masa depan, dia tau aku berbohong. “Oooh, kalau begitu mau menumpang? Aku bawa mobil, mari kita sama-sama ke pemakaman.” Reaksinya datar. Entah dia percaya atau tidak, aku tak bisa membedakannya. “Tidak perlu, aku sudah memesan taksi.” Dia mengibaskan tangan di udara. “Taksi bakal memakan banyak waktu sampai ke sini. Ada penutupan jalan di gang besar yang langsung mengarah ke jalan raya utama.” “Dari mana kau tau?” tanyaku. Mrs. Gabriel menunjuk mobil putih dengan jempolnya. “Sudah kubilang aku membawa mobil.” Oke, aku semakin terlihat konyol dan d***u serta bebal karena ingin mengetes wanita ini. “Bagaimana?” katanya mengangkat kedua alis. Aku merapatkan bibir menatap jam tangan. “Baiklah, maaf merepotkan,” lontarku pasrah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD