PART 3

1162 Words
"Selama setahun, Darell...maka hanya akan ada satu hari di mana kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri, bahwa hanya Louisa Devonshire--lah yang mampu membuatmu menjadi pria dungu dengan otak mencair tak sanggup berpikir. Hanya Louisa Devonshire yang sanggup membuatmu mengeras bagaikan kau tidak pernah bercinta selama setahun penuh dalam hidupmu. Oh...sungguh...sialan!" Darell menggeram sembari menatap milyaran meter kubik air di hadapannya. Sudah seharian ini dia merutuki nasibnya karena harus berakhir dengan dirinya yang mengeras tanpa pelampiasan. Menghujat dirinya yang berakhir dengan membayangkan percintaan panas dengan Louisa. Seharian penuh. Bahkan ketika dia mengalihkan semua pikirannya dengan makan, berlari di atas treadmill, menekuri olahraga kesukaannya yaitu Bo Staff, sebuah olahraga ketangkasan dari Jepang yang menggunakan tongkat kayu ramping menjadi alatnya, tapi yang dia dapat adalah dirinya yang kembali terhempas ke ranjang dengan sesuatu yang menyakitkan pada bagian tubuhnya. Oooh...double s**t! Dan pada akhirnya, Darell harus berakhir dengan mandi berulang kali sambil melakukan hal gila bernama m********i! Sungguh memalukan untuk ukuran dirinya yang tak ada seorangpun wanita di dekatnya tak mengakui dirinya adalah b******n paling mempesona di jagad raya, di mana wanita manapun akan dengan sukarela membuka kakinya lebar-lebar untuknya. Darell menggeram. Louisa yang jinak-jinak merpati. Apa maksud gadis itu menarik dan mengulur dirinya? Apakah dia tidak merasakan apapun saat berada di dekatnya? Apakah semua yang dia lakukan hanya karena dia kesal dengan dirinya atas perbuatannya setahun lalu? Apakah gadis itu tak merasakan gejolak apapun? Apakah dia tidak merasakan panas yang Darell rasakan bahkan hanya dengan menelisik tepian celana pendeknya dan menyentuh kulit paha sehalus satinnya? Oh... baiklah. Beruntunglah ada celana pendek sialan yang agak menyulitkan itu. Bagaimana jadinya seandainya saat itu Louisa mengenakan sebuah rok pendek? Atau...blouse terusan nan cantik dengan renda di bagian bawah? Atau sebuah rok terusan berbahan rajutan? Atau... Darell, sekali lagi merasa kalah. Setahun penuh imajinasinya akan seorang wanita selalu berakhir pada sosok Louisa Devonshire yang bahkan terlihat pendek di hadapannya. Oh bukan pendek, gadis itu mungil dengan kaki jenjangnya yang sangat pas untuk di elus. Pinggang ramping dengan b****g penuh... "Sir..." Imajinasi liar Darell terputus. Suara anak buahnya seakan merusak segalanya. Dia bahkan baru saja ingin berteriak, namun urung karena melihat siapa yang datang di belakang anak buahnya itu. Dengan isyaratnya, anak buah Darell undur diri. "Sesuai dengan janjiku, Tuan Bareskoviv. Aku akan mengganti semua kesalahan pengiriman anggurmu dan mewakili karyawanku, aku minta maaf." Louisa dengan blouse terusan berbahan rajutan rumit. Kedodoran dengan sepatu boot berwarna hijau tua yang pas membingkai kakinya. Dari potongan bahu yang sedikit rendah, Darell dapat melihat warna bra yang dipakai Louisa. Hijau tua senada dengan sepatunya. Apa merk--nya? La Perla or something like that? Lalu apa yang ada di balik blouse rajutan itu? Biasanya ada wanita dengan kegilaannya mengenakan pakaian dalam yang...sedikit menggelikan menurut Darell. Celana dalam dengan pita-pita kecil? Atau sebuah simpul yang sekali tarik akan... "Tuan Bareskovic?" Darell mendongak dan Louisa masih berdiri tegak di hadapannya. Agak jauh dari jangkauan. Tapi tak terlalu jauh untuk meraihnya dan menyeretnya ke suatu tempat dan... Dengusan Louisa sekali lagi memecah imajinasi Darell. Dia memasukkan tangannya ke saku celananya dan menatap Louisa dalam. Darell menggeleng. Dia tidak bisa seperti ini. Dia harus mengakhiri semua ini. Dan yang terdengar kemudian adalah jeritan Louisa yang melengking saat Darell tiba-tiba melaju ke arahnya dan meraih tangannya. Tangan kekar Darell mencengkram erat tangan Louisa, hingga Louisa yakin dia dapat melihat otot-otot menawan khas pekerja keras di bawah permukaan kulit kecoklatan milik Darell. Louisa mencoba berontak. Namun dia segera terpaku dalam seretan tangan Darell. Kapal terasa bergerak. Louisa melirik cepat saat seorang pria besar membuang sauh di dermaga. Oh...tidak. Kapal akan berlayar "Lepaskan aku, Darell!" Tidak ada jawaban. Darell tetap melaju langkahnya hingga mereka mencapai sebuah koridor dengan lampu keemasan. Dengan tergesa Darell membuka sebuah pintu. Louisa tercekat. Dari balik tubuh Darell yang mencengkram tangannya begitu kuat Louisa dapat melihat bahwa mereka sudah memasuki sebuah kamar super mewah di kapal pesiar itu. "Ini..salah. Aku mau keluar!" Tarikan tangan Louisa mentah. Dia justru merasakan tubuhnya membentur tubuh Darell dengan keras. d**a bidang Darell yang liat. Tangan Louisa bergerak ke atas, menekan d**a Darell. Membatasi dirinya agar tidak bersentuhan dengan pria itu. "Well...ada sesuatu yang berkhianat sekarang ini..." Tatapan mata kelabu Darell membentur manik mata Louisa. Dengan segala ke tidaksopanannya, Darell melirik ke arah payu dara Louisa yang tertekan oleh tangannya sendiri. Ooh...puting silaaaan....! Louisa merutuk dirinya. Merutuk bagian dirinya yang bereaksi terlalu berlebihan. Louisa tercekat saat Darell menekan pinggangnya. "Lepaskan aku Darell. Kau...tidak sopan!" "Kau menginginkannya." Nada percaya diri keluar dari mulut Darell. Dan dia seakan yakin dia benar. "Tentu saja tidak." Louisa menggeram dan seketika dia terkejut dengan suaranya sendiri yang serupa erangan tak tahu malu. Tangannya berusaha mendorong Darell sekuat tenaga dan sebuah bunyi sssh...keluar dari mulut Darell. Louisa seketika tercekat saat merasakan permukaan kulit telapak tangan Darell yang kasar menjamah pahanya. Mata Darell tak sedetikpun meninggalkan mata Louisa.   "Apa yang akan kau lakukan?" Louisa berhenti memberontak dan menatap balik Darell. Louisa tak akan pernah sanggup menjabarkan bagaimana tatapannya ke mata Darell sekarang ini karena hampir pasti tubuhnya menyukai setiap gerakan tangan Darell di tubuhnya sekarang ini. "Bukan aku...tapi kita...darling..." Suara parau Darell menghantam pendengaran Louisa. Dan dia menggeleng. Keadaan sebaliknya terjadi pada Darell yang justru tengah mengangguk. Dalam kebingungannya...Louisa lalu merasakan dirinya melayang saat bibir hangat sedikit tebal milik Darell menjelajah pipinya. Napas hangat menerpa wajah Louisa dan dia yakin seluruh tubuhnya bereaksi. Dan pagutan bibir Darell, lidahnya yang menjelajah membuat Louisa limbung. Darell menopang b****g Louisa dan meremasnya lembut. "Ini...salah..." Louisa berbisik nyaris menangis. Dia menangisi dirinya yang berperang. Batin dan raganya begitu menyulitkannya sekarang. Batinnya memberontak namun raganya menginginkan Darell melakukan apapun yang dia mau pada tubuhnya. "Aaargh...apapun alasan seorang wanita memakai celana dalam dengan simpul seperti ini...akhirnya aku menyetujui alasan apapun itu..." Bunyi gemerisik sesuatu yang ditarik dengan kepercayaan diri penuh, membuat Louisa tercekat. "Darell..." Sekarang celana dalam Louisa hanyalah sebuah kain tak berharga seberapapun mahal harganya. Teronggok begitu saja di sela kakinya. Tubuh Louisa memanas. Dia menahan napasnya saat merasakan Darell menyusur tulang selangkanya. Louisa mengerang. Tangannya gemetar menahan bahu Darell. Batinnya terus berperang. Sekali saja dan dia yakin dia akan berhenti penasaran pada pria itu. Sekali saja dan semuanya akan berakhir. Louisa menatap Darell yang menjauhkan kepalanya dari ceruk lehernya. "Jangan melawan pikiranmu Lou..." "Ini tidak benar. Sepenuhnya tidak benar..." Suara Louisa mencicit. Tenggorokannya terasa kering. Tangannya erat menahan blousenya yang sekarang dicengkeram oleh Darell. Dan tarikan tangan kuat Darell membuat Louisa tersentak. Blousenya melayang dan teronggok di lantai kayu nan mengkilat di bawah mereka. Seketika hawa dingin menerpa tubuh Louisa yang memanas di balik tatapan mata memuja milik Darell. "Darell..." "Hmm?" "Ini..." "Kau mau aku bagaimana Lou..." "Kau gila..." "Kau benar Lou..." "Aku harus pulang." "Kau yakin Lou?" Tangan Darell perlahan meraih pinggang Louisa. Dan dalam sekali tarik bra Louisa terlepas dari kaitannya oleh tangan kiri Darell yang bebas. Bra itu teronggok dan tertahan di lengan Louisa. Louisa mengerang saat hawa dingin menerpa putingnya yang mengeras tak tahu malu. "Darell..." "Katakan kau mau apa dariku Lou..." Ooh...bajingan paling mempesona di muka bumi dengan segala kelicikannya! Apakah dia sekarang merasa menang? "Aku...mau kau menghancurkanku..." "Sesuai maumu Lou..." Tangan Darell cekatan meluncur melucuti pakaiannya sendiri, dan itu terlihat salah di mata Louisa yang membatu dalam ketelanjangannya. Sampai kemudian saat Louisa melihat bukti kekuatan Darell yang tegak berdiri dan... Membuat Louisa kalap.... "Setubuhi aku dengan keras dan kasar, Darell! Kau terkutuk!"  -------------------------------------      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD