Chapter 47 : Buah Keajaiban

1980 Words
Menuntun ke arah lorong yang sempit dimana itu adalah tempat persembunyian Marcell dan juga Julio saat ini, Max dengan anehnya masih bisa mendapatkan kesadarannya meskipun berada dalam kondisi seperti ini. Namun semua badannya masih mati rasa dan tak bisa digerakkan sedikitpun karena rasa sakit yang ia rasakan. Marcell terus berteriak mencoba untuk membuat Max terus terjaga dan tetap sadar meskipun mereka berdua tahu kalau rasa sakit yang dia derita sangatlah keji dan juga menyakitkan. “Bertahanlah Max, kita akan segera sampai.” Namun terlambat, kata-kata penyemangat itu tidak membuat Max terus terjaga. Akhirnya dia terus saja lemas dan mencoba untuk melelapkan matanya. Jika saja memang mungkin itu adalah terakhir kalinya dia bisa membuka matanya, Max akan menerimanya dengan senang hati. Mungkin ini akan menjadi kematian yang sangat berarti bagi dirinya. Sendi-sendi dan juga ototnya lemas serasa tak memiliki daya sama sekali di sana. Tapi ternyata itu bukanlah terakhir kalinya Max memejamkan matanya. Dia bangun di sebuah tempat sempit dan juga atap yang hampir menyentuh dahinya. Gelap dan usang dia rasakan di tempat ini. Bahkan Julio dan Marcell yang berbadan pendek harus duduk agar mereka bisa berada di tempat ini dengan aman dan nyaman. Sementara Max harus terbaring telungkup agar tubuhnya muat di dalam lorong super sempit ini. “Syukurlah Max, kau akhirnya bangun juga. Kita harus cepat-cepat membangunkan Alinzar karena jika tidak mungkin nyawanya akan mati sebentar lagi!” Ucap Marcell dan Julio kepada Max. “Dimana kita, apa yang terjadi denganku?” Dengan kesadaran yang masih tipis dan ingatan yang tak begitu bagus, Max bertanya kepada dua bocah itu apa yang terjadi padanya sebelum dia berada di tempat ini. Namun tak lama setelah dia bertanya hal itu, dia tiba-tiba bisa merasakan tulang dan juga dagingnya yang robek akibat sesuatu yang tleah dia lakukan sebelumnya. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa selamat dari serangan Judy dan Jade tadi. Tapi lukamu sembuh dengan sendirinya dengan sangat cepat. Kami bahkan tak melakukan apa-apa. Apa mungkin ini adalah anugerah yang diberikan ikan itu kepadamu?” tanya Marcell dan Julio yang belum mengenal betul tentang Max sampai bertanya tentang perkara itu. “Tidak, aku sudah mendapatkan kemampuan ini jauh sebelum aku berada di tempat ini. Itu juga lah yang membuatku tak yakin kalau aku adalah manusia. Apa pun itu, aku merasa benar-benar lelah sekarang. Bisakah kau melakukan misi selanjutnya untukku selagi aku tidur dan beristirahat di tempat yang sempit dan juga sesak ini?” Ucap Max yang ingin kembali terlelap dan menutup matanya masih merasa kelelahan karena kejadian yang dia lakukan barusan. Namun Marcell dan juga Julio tentu saja tak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Max, mereka buru-buru memukul punggung Max membangunkannya dari percobaannya untuk tidur dan terlelap sekali lagi. “Jangan tidur Max! Kita berada di dalam posisi bahaya! Karenamu, semua orang sedang berada di dalam kondisi siaga sekarang! Mereka telah mencariku kemana-mana dan mulai mengetahui jalur lorong-lorong rahasia yang kami simpan baik-baik. Hanya menunggu waktu sampai mereka menemukan kita dan membunuh kita. Kumohon, cepat selamatkan Alinzar di sana dan kabur dari tempat ini!” Ungkap Julio membeberkan kondisi mereka terkini. Max terlihat tak tergugah mendengar informasi itu, ia malah terus lanjut untuk tidur dan mencoba untuk tak mendengarkan apa yang mereka katakan. “Aku tak peduli dengan itu semua. Biarkan aku tidur. Aku sungguh lelah. Jika kalian memaksaku, mungkin aku akan benar-benar mati nanti!” Ucap Max kepada kedua bocah itu. Tapi kemudian Marcell dan juga Julio menunjukkan sesuatu di bawah mereka. Sesuatu yang bolong memberikan penglihatan yang cukup jelas tentang apa yang terjadi dengan kondisi di bawah mereka sekarang ini. “Lihat itu, Alinzar sedang di tahan sekarang. Dia masih tak sadarkan diri karena jiwanya telah diambil. Sebaiknya kau cepat-cepat menyelamatkannya sebelum dia mati. Kau tak tahu berapa lama lagi dia akan hidup dan berusaha untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu bukan?” Tanya Julio dan juga Marcell kepada Max. Max pun kemudian melotot melihat rekannya itu berada di dalam kondisi yang tidak manusiawi, walaupun dia sebenarnya juga bukan manusia. Max digantung dengan tangan terlentang dan diikat oleh sebuah tali erat-erat. Di belakangnya ada sebuah kayu yang membuatnya berdiri dan melayang dengan ketinggian yang cukup untuk membuat semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Mukanya tertutup oleh rambutnya yang putih dan gondrong. Hanya memakai celana yang menutupi bagian Vitalnya. Di depannya ada sebuah cahaya yang membuatnya bisa terlihat dengan jelas. Max tak tahu apa tujuan mereka menaruh lampu itu di sana, mungkin mereka ingin melihat wajah Alinzar yang tersiksa dengan cara yang keji dan tak manusiawi. “Kita harus cepat menyelamatkannya!” Max langsung mencoba berdiri, namun ia lupa kalau bagian atas lorong yang ia tempati sekarang sangatlah sempit. Atap itu berbunyi sangat keras sampai mengusir tikus yang berdecit di sekitarnya. Marcell dan Julio menahan Max mencoba untuk tidak membuatnya gegabah dan bertingkah semaunya sendiri. mereka berdua jelas tak ingin rencana yang mereka ingin lakukan gagal sekarang ini mengingat keadaan yang semakin berbahaya. “Apa yang kau lakukan? Tidakkah kau melihat ada seseorang yang berjaga di sana menunggu Alinzar. Apa yang akan kau lakukan jika mereka akan menyerang atau membunuhmu. Dan lebih buruknya lagi, membelah kepala Alinzar yang tak bisa apa-apa menempel di sana?”. Tepat di bawah, Max jelas melihat kalau ada dua sosok orang yang sangat ia kenal. Mereka adalah George dan juga Josh. Memegang palu mereka seperti hendak ingin melakukan sesuatu. Di pergelangan tangan George dan Josh ada sebuah bekas luka yang mirip seperti jahitan. Max tak tahu kenapa ada bekas jahitan itu di tangannya, tapi Max mengira kalau sesuatu yang buruk telah menimpa mereka sampai tanda itu telah terbuat dengan jelas di sana. “Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Alinzar dari sana, apakah kalian memiliki rencana untuk itu?” Tanya Alinzar kepada dua bocah itu. Julio dan Marcell memberikan Max sebuah kotak yang sudah ia curi dari kamar Judy dan Jade sebelumnya. Mereka berdua menunjuk sebuah gembok di luar kotak itu seperti mengisyaratkan sesuatu kepada Max. “Kami tidak bisa membukanya, kami sudah mencobanya dengan sekuat tenaga dan memang ini sangat sulit untuk dibuka. Kami mengira kalau George dan Josh sajalah yang bisa membuka kotak ini. Jadi mungkin akan sangat sulit untuk ku katakan, tapi kami membutuhkanmu untuk mengecoh George dan Josh untuk membuka kotak ini secara tidak sadar kepada mereka,” Max melotot mendengar permintaan itu dari dua bocah itu. Seperti kodok yang melompati jurang, kemungkinan berhasil memang ada, namun kemungkinan mati juga semakin lebar jika Max melakukan itu. “Apakah kalian tidak memiliki permintaan yang lebih gila dari itu? aku bahkan tidak tahu seberapa kuat kemampuan yang dimilikinya! Aku belum pernah melawannya. Dan bisa saja aku benar-benar mati saat melawan mereka. Tidakkah kalian memiliki rencana lain untuk membuka itu?” Tanya Max kepada kedua bocah itu. Marcell dan Julio menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan raut muka yang putus asa dan tiada harapan. Mereka memang sepertinya tak memiliki pilihan lain selain mencoba untuk membuka gembok ini dengan menggunakan tenaga yang dimiliki George dan juga Josh. Tiba-tiba, sebuah batu terlempar dari bawah dan membunyikan suara yang nyaring. Otomatis Max dan dua bocah itu pun menoleh ke bawah dan melihat George dan Josh menyadari keberadaan mereka. “Oh tidak, dia telah menyadari keberadaan kita. Kita harus segera lari dari tempat ini!” Teriak Marcell kepada semua orang yang ada di sana. Namun ucapannya itu terlambat. Muncul sebuah tentakel dari balik punggung Max dan dia mencoba untuk menghancurkan loteng itu dengan sangat kuat sampai menjatuhkan mereka semua. George dan Josh dapat menjatuhkan loteng itu dengan mudah membuat reruntuhan dan kegaduhan terjadi di tempat ini. Sekarang, Max dan juga kedua bocah itu terjatuh berhadapan langsung dengan kedua lelaki gagah perkasa itu. “Sia-lan!” George mengayunkan tentakel dari dalam tubuhnya dan mencoba untuk menyabet Max di sana. Untungnya, Marcell dan juga Julio berhasil kabur dari serangan George dan Josh tersebut membuat mereka terbebas dari ancaman dua lelaki itu. Sayangnya, Max tinggal sendirian di sini melawan mereka. Hanya berbekal sebuah kotak berisi jiwa Alinzar itu dan juga pisau yang ada di kantongnya. “Siapa yang pengecut sekarang hah! Kalian jelas-jelas pergi meninggalkanku sendirian di sini! Tapi tidak apa-apa, kedua pria ini akan dengan sangat mudah aku kalahkan bahkan tanpa memakai senjata apa pun menempel di dalam tanganku!” Ucap Max dengan sombongnya. Mendengar kalimat penuh intimidasi seperti itu tidak membuat George dan Josh membalasnya dengan perkataan apa-apa. Bahkan Max ingat kalau mereka berdua tidak pernah berkata sedikit pun selama pertama kali bertemu di depan gerbang atau pun di sini. Max berpikir apakah mereka adalah orang yang sangat pendiam atau memang tidak bisa berbicara. “Hanya satu cara untuk memastikan apakah kalian memang sesuai dengan dugaanku atau tidak.” Max membawa kotak itu di tangan kirinya dan belati di tangan kanannya. Menunggu George dan Josh melakukan langkah selanjutnya untuk sekedar mencoba untuk membunuhnya dengan serangan yang mereka punya. Max sendiri tak tahu apakah pisau itu akan benar-benar cukup. Tak lama kemudian, George dan Josh memberikan serangan tentakel mereka lagi ke arah Max. Saat turun di dalam lantai ini, entah kenapa rasa lelah dan juga sakit yang dialami oleh Max sebelumnya tiba-tiba hilang. Dia merasa benar-benar sembuh sekarang setelah bertemu dengan dua bersaudara itu. Max dengan mudahnya menghindari tentakel demi tentakel itu dengan melompat dan berguling di depan. Max terus saja berguling tanpa henti seperti seekor rubah yang kabur dari pemangsanya. Tak berhenti di situ saja, George dan Josh mencoba untuk menggunakan palu di tangan mereka menyerang Max dengan jarak dekat dan menjaga jarak mereka agar tetap mematikan. Dengan tubuh bongsor dan juga besarnya, Max tak tahu kalau mereka bisa bergerak secepat itu, bahkan lebih cepat daripada yang bisa Max bayangkan tentang seorang Werewolf. Max mulai kewalahan dan kelelahan, dia tak bisa mengimbangi kecepatan dua lelaki itu yang semakin lama semakin cepat. Max pun sadar kalau mereka masih berada dalam bentuk manusianya, bukan bentuk monster yang ia lawan saat bertemu dengan Jade dan Judy sebelumnya. Yang berarti bahwa George dan Judy bisa jauh lebih berbahaya dari pada yang ia lawan sekarang. Melihat dan menimbang segala kemungkinan, Max pun akhirnya memutuskan untuk menyerang mereka dahulu dan bergantian. Max menempel ke tembok, menciptakan sebuah momentum agar dia bisa melompat dan meluncur dengan hebat. Sayangnya tembok itu sudah menjadi sasaran dari tentakel Josh dan dia menghancurkannya dengan mudah. Max membatalkan menempel ke arah tembok itu dan mencoba untuk meluncur lewat bawah. “Kena kau dasar monster breng-sek!” Max memotong kaki dari George membuatnya tak bisa bergerak untuk sementara waktu. Sementara Josh yang lengang pun juga menjadi target dari Max selanjutnya. Dari belakang, Max melompat dan merobek leher dan juga kepala dari George dengan sangat mudahnya sampai kepalanya putus dan berguling di lantai. Tak bisa berdaya karena kakinya sedang diputus, Josh meraung-raung dengan sangat keras melihat kondisi saudaranya itu. “Meraunglah dasar bayi dewasa! Kalian tidak akan mendapatkan kesempatan hidup setelah bertemu denganku!” Merasa kalau dia masih memiliki waktu, Max buru-buru menuju ke arah Alinzar yang masih tergantung di sana dan membebaskannya dari jeratan dan juga tali itu. Max memotong tali itu dan menurunkannya berada di dalam dekapannya. Kondisi Alinzar benar-benar memprihatinkan sekarang dengan kondisi tubuh super pucat dan juga mata yang mati seperti seekor ikan yang ditangkap di pinggir laut. “Tenanglah Alinzar, aku akan menyelamatkanmu setelah ini. Dan kita akan kabur dari tempat j*****m ini membinasakannya rata dengan tanah!” Sibuk berinteraksi dengan Alinzar, Max tak sadar kalau kaki Josh telah tubuh kembali seperti semula. Dia berteriak dengan sangat keras menggetarkan siapa pun yang mendengarnya. Dia membuang palunya sampai menancap di tembok. Josh pun berlari dengan mata yang bersinar dan berapi-api dalam wujud monsternya. Dia akan meninju Max dengan bogem mentahnya sekarang. Max sudah memperhitungkan itu semua. Saat George mencoba untuk menghantam muka Max, dia menahannya dengan kotak yang ia bawa di tangan kirinya. Menghancurkan gembok itu di sana. Kotak itu pun terbuka, dan sebuah benda bulat berwarna gelap melayang dari kotak itu. Benda itu pun melayang dan masuk ke dalam tubuh Alinzar, membuat bocah Vampir itu menjadi sadar kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD