Chapter 48 : Penyusunan Rencana

2064 Words
“Apa kau bisa berjalan dan kabur dari tempat ini Al? Kita harus pergi dari para monster biadab ini!” Teriak Max kepada Alinzar yang masih dalam kondisi setengah sadar. Alinzar hanya membuka sebagian matanya, dan melihat seorang monster berbadan besar dan berbulu lebat datang akan menghantamnya dengan keras saat ini. Alinzar langsung saja kabur dan pergi dari hadapan monster itu mencoba untuk menyelematkan dirinya sendiri. Sedangkan Max juga menyelinap berguling dari depan ke belakang agar serangan Josh tidak mengenai dirinya sendiri. “Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Siapa mereka?!” Teriak Alinzar dengan hawa ketakutan dan juga kengerian yang sangat tinggi. Siapa yang tidak kaget melihat seorang monster ada tepat di hadapannya saat dia bangun dari ketiadaan. Josh tak habis akal mencoba untuk terus menyerang Max dan Alinzar, tentakel di punggungnya membelah menjadi dua membuatnya seperti memiliki 6 lengan sekarang. Satu ayunan tentakel itu mampu untuk membuat tembok dan juga dinding runtuh dengan sangat mudah. Max yang masih oleng karena pertempuran sebelumnya terus saja menjaga jarak dengan Josh membuatnya tidak bisa diserang atau pun disakiti dengan mudah oleh Josh. Sementara Alinzar meskipun baru bangun masih bisa bergerak dengan bebas dan leluasa tanpa harus khawatir kehabisan tenaga ataupun stamina Alinzar mengeluarkan sihir darahnya, mencoba untuk menjebak Josh yang sedari tadi bergerak aktif seperti memiliki stamina yang tak terbatas. Alinzar sadar dengan orang yang dihadapinya sekarang, “Tunggu sebentar, aku telah membelah lengan orang ini. Aku melihatnya sendiri kalau tangannya putus setelah aku menyayatnya. Bagaimana dia mendapatkan dan menyembuhkan lengannya kembali dengan mudah seperti ini?” Ucap Alinzar, namun dia sadar perkataannya tak dihiraukan oleh Max. Alinzar pun berteriak dengan lantang. “Max mereka bukanlah orang yang baik-baik saja. Kita harus kabur secepatnya dari tempat ini dan pergi ke garis horizontal di langit itu!” “Oh tidak, aku baru mengetahui itu Alinzar. Bisakah kau membunuhnya sekali lagi dan membuat kita kabur dari tempat ini?” Ucap Max dengan nada menyindir dan sedikit mengejek. “Tidakkah kau lihat kalau kita sedang menghadapinya sekarang!? Aku tentu saja tahu kalau dia bukan orang yang baik-baik saja. Bahkan semua orang di rumah ini tidak baik-baik saja. Kita harus segera kabur dan mencoba untuk mengalahkan mereka secepatnya! Dan jika saja yang kau suruh tadi sangat mudah untuk dilakukan, kita tidak akan terjebak di tempat ini dan melawan baji-ngan bertubuh tambun ini. Dia sangat-sangat mengesalkan dan aku mungkin ingin menggaruk usus dan merobeknya sekarang!” Sindir Max lagi kepada Alinzar. Tapi Josh tak memerlihatkan tanda-tanda kalau ia akan berhenti sekarang, malahan ia malah tambah berlari sekencang mungkin dan mengambil palunya kembali yang menancap di tembok. Josh menyerang Max dengan palu itu dengan kecepatannya yang luar biasa sampai-sampai hidung Max dan Josh saling menyentuh sekarang. Dengan ayunan ke arah samping, pukulan palu Josh tepat mengenai pinggang Max membuatnya terjatuh dan terlempar menempel tembok. Suara tulang dan juga daging yang remuk bisa didengarkan dengan mudah saat Josh memukul Max seperti itu. Membuat Alinzar yang mendengarnya yakin kalau ia mungkin tidak bisa bergerak dengan tenang dan sehat seperti biasanya, “Max!” Alinzar memunculkan sihir darahnya kembali. Namun ini bukan duri-duri yang biasanya dia lakukan, ia membuat sebuah tentakel panjang yang mirip seperti Josh lakukan. “Apa kau pikir hanya kau yang bisa membuat benda sihir murahan seperti itu? Bahkan anak kecil di kaumku membuat benda seperti itu sebagai permainan!” Tentakel itu memanjang dan menargetkan Josh yang ada di depannya. Josh tak kehilangan akal mencoba untuk memukul mundur tentakel itu dengan palu dan juga tentakelnya sendiri. Tapi anehnya, ternyata tentakel milik Alinzar memiliki atribut yang sedikit berbeda dengan milik Josh, Tentakel milik Max sangatlah elastis dan cenderung fleksibel alih-alih memiliki daya tarung yang kuat. Tentakel itu digerakkan dengan sangat cepat dan kuat sampai-sampai membungkus tubuh Josh yang berada di sana dari kepala sampai dengan kakinya. Benar-benar membuatnya seperti seorang mumi yang terbungkus kain merah. “Kau tidak bisa bergerak sekarang. Aku akan menusuk jantung dan juga lehermu membuatmu mati secara instan, maaf aku tidak bisa berbuat lebih menyakitkan daripada ini, karena memang waktuku terbatas. Mungkin aku akan bisa meladenimu saat pertemuan kita nanti di hari yang selanjutnya!” Ucap Alinzar dengan sombongnya kepada Josh yang terjerat tak bisa melakukan apa-apa saat itu. Josh pun mencoba untuk menjatuhkan palu miliknya dan mencakarnya sendiri dengan cakar yang ia punya di jarinya. Naas, tentakel itu ternyata memiliki suhu yang sangat tinggi sampai-sampai membuat jari-jarinya terbakar dan berasap. “Tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini. Benar-benar terjebak dalam tentakel milikku. Kau mungkin akan menyusul saudaramu di neraka!” Alinzar mencoba untuk memadatkan tentakel miliknya yang masih tergantung belum dibuat apa-apa. Dengan sangat keras dan ujung yang sangat tajam, Alinzar menusuk tubuh Josh dengan tentakelnya tersebut. Yakin kalau Josh mungkin akan masih selamat mendapatkan serangan seperti itu, Alinzar pun menarik tentakelnya dari bawah ke atas dan membelah tubuh Josh menjadi dua. Otak dan seluruh organnya benar-benar terbelah sekarang membuat darah yang mengucur di dalam tubuhnya menjadi terlihat sangat menjijikkan dan tak pantas untuk dilihat oleh siapa pun. Bahkan oleh Alinzar sendiri yang terbiasa untuk melihat darah seumur hidupnya. Merasa selesai urusannya dengan Josh, Alinzar langsung buru-buru menghampiri Max dan mencoba untuk menanyakan bagaimana kabarnya yang sekarang sedang cedera sangat parah itu. Tubuhnya benar-benar remuk terasa saat Alinzar mencoba memegang punggung Max. Pemburu itu memejamkan matanya, namun suara nafas dan angin yang berhembus dari hidungnya masih terasa di tangan Alinzar yang memeriksanya. Alinzar mencoba untuk menggotong Max keluar dari tempat ini mencari sebuah tempat yang lebih aman untuk mereka bisa bersembunyi atau tinggali. Tapi Max pun berkata dalam keadaan sangat sekarat, “Tidak Al, tunggu sebentar. Akan ada seseorang yang datang menyelamatkan kita nanti.” Alinzar tak tahu kalau Max memiliki sekutu di sini selain dirinya. Dia juga tak tahu sekutu seperti apa yang sedang Max maksud sekarang. Tapi kemudian dua bocah dengan dandanan jas rapi datang dari sebuah lorong sempit. Di samping ruangan di depannya. Max tentu saja langsung berdiri heran dan kaget bagaimana kedua bocah itu bisa datang ke tempat ini dengan mudah dan tanpa ada masalah. Tapi kemudian Max mencoba untuk menghentikan keraguan Alinzar dengan berkata, “Tenanglah Al, mereka adalah sekutu kita. Cepat antarkan aku kepada mereka!” Dua bocah itu tanpa di suruh langsung menggotong Max ke dalam bahu mereka. Alinzar masih bingung dengan apa yang terjadi karena kedua bocah itu berpenampilan mirip dengan Josh atau George yang sedang tergeletak di atas lantai meninggal dengan tragis tersebu, “Hei, siapa kalian berdua!” Tanya Alinzar bingung. Kedua bocah itu menoleh ke arah Alinzar sambil berlari kembali ke dalam lorong mencoba untuk membawa Max kabur dari tempat ini. “Aku yakin kalau kau adalah Vampir itu. Kami adalah Marcell dan Julio, seorang pengembara yang kehilangan identitas kami. Ayo cepat ikut kami jika kau ingin selamat dan kabur dari tempat ini dengan secepatnya!” Dari belakang, Alinzar mengikuti dua bocah itu yang berlari dengan sangat cepat. Dan entah kenapa, tubuh Alinzar perlahan-lahan menyusut mengikuti lebar dari lorong yang mereka lewati saat ini. “Hei, apa yang sedang terjadi dengan diriku sekarang?! Apa yang telah kalian lakukan?!” Marcell dan Julio menoleh, mereka pun berbisik dan mengatakan sesuatu kepada Max. “Apakah dia memang seberisik ini saat kalian bersama? Aku tak mengira kalau Vampir adalah seorang makhluk yang banyak omong dan merepotkan. Tidak bisakah dia diam saja dan mendengarkan apa yang kami perintahkan padanya?” Max tertawa dengan pelan dan lirih mendengar itu dari mulut Marcell. Dia sepertinya baru tahu kalau Alinzar memang semerepotkan itu saat diajak melakukan misi bersama-sama. “Beberapa menit bersamanya saja kau sudah lelah dan ingin kabur. Bagaimana denganku yang sudah bersamanya semenjak sangat lama? Aku yakin kau akan merasa lebih lelah dari pada itu semua.” Marcell dan Julio pun menoleh ke arah Alinzar dan menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. “Kami memiliki kekuatan untuk menyusutkan orang dan juga diri kami sendiri. Hal itu semata-mata kami lakukan hanya untuk membuat kami bisa kabur dengan mudah. Apakah kau merasa keberatan jika kami melakukan ini kepadamu? Tentu saja kau bisa lewat melalui jalan utama dan ditemui oleh semua keluargaku”. Alinzar diam, dia setuju kalau memang ini merupakan jalan dan juga opsi terbaik yang dia punya saat ini. mengeluh tidak akan membuatnya mendapatkan masalah yang lebih baik ataupun solusi yang lebih tepat. Cukup lama mereka berlari sampai-sampai tiba di suatu ruangan cukup besar dengan barel-barel yang tertumpuk di sana. Max membuka matanya karena merasa kalau dia sudah berhenti dan tidak digotong lagi. Dia melihat ruangan yang sama persis yang ia datangi saat bersekutu dengan Marcell dan Julio pertama kalinya. “Apakah kalian tidak memiliki ruangan yang lebih bagus dari pada di sini? Kukira kalian adalah keluarga yang kaya dan bergelimang harta. Mengapa kalian terus menyimpan ku di sini bersama barang-barang usang itu?” Berbeda dengan Max, Alinzar baru pertama kalinya pergi ke tempat ini. Dia bisa mencium dan merasakan aroma yang sangat menyengat di ruangan ini. Aroma yang ia sangat familiar dan lupa atas apa yang ia hirup itu. Marcell dan Julio membawakan kursi yang tertumpuk di ujung ruangan ini, membiarkan mereka duduk dengan nyaman dan aman di tempat ini. “Ruangan di rumah ini memang banyak. Namun dari sekian banyaknya ruangan itu, tempat inilah yang paling aman. Apakah kau mau berdebat lagi soal itu?” Ujar Marcell kepada Max yang berhenti mengeluh setelah mendengar itu sekarang. “Hei, apa yang ada di tungku itu? Aku bisa mendengarkan suara-suara yang aneh di dalam sana,” Tanya Alinzar kepada kedua bocah itu. Alinzar menyadari sesuatu di sana. Dan memang tungku yang ia tunjuk bukanlah sebuah benda biasa, melainkan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang hilang dan tak berdosa. “Kau memang seorang Vampir, indramu sangatlah tajam sampai-sampai kau bisa mersakan apa yang ada di dalam tungku itu. Bukalah sendiri untuk mencari tahu benda apa itu sebenarnya.” Pinta Julio kepada Alinzar. Vampir itu pun membukanya, dia memiliki reaksi yang hampir sama dengan Max. Muntah dan merasa jijik, tapi bedanya, air mata Alinzar keluar membasahi pipinya. “Sungguh tega sekali,” ucapnya. “Setelah kau melihat itu, kau pasti paham seberapa berbahaya keluarga ini jika terus dibiarkan. Kita tidak berkata soal baik dan buruk di sini, melainkan tingkatan bahaya yang mungkin akan diterima oleh orang-orang tak berdosa lainnya. Akan kutanya sekali lagi, terutama untukmu wahai Vampir yang baru bergabung dengan aliansi kita. Apa kalian bersedia untuk menghancurkan tempat ini rata dengan tanah menghanguskan semua penduduk dan seisinya?” Tanya Marcell dan Julio kepada Max dan Alinzar di sana. Mereka masih diam, ragu-ragu untuk menjawab apa yang harus mereka lakukan terhadap rumah ini. “Hati nurani kami mungkin sangat ingin melakukannya, namun kami tak memiliki kekuatan yang kuat untuk melawan mereka semua. Katakan padaku, apa rencana kalian agar kami bisa mengalahkan mereka dengan mudah?” tanya Alinzar kepada kedua bocah itu. Marcell dan Julio pun beranjak dari kursi mereka menuju ke suatu tempat di ujung ruangan. Sebuah kertas yang dilipat dengan rapi dan terlihat sebuah gambar di atasnya. “Aku tahu, membawa kalian langsung ke Mathilda sama saja mengatakan kalau kalian akan dikirim langsung ke ajal. Oleh karena itu, aku memiliki rencana agar kalian mendapatkan sebuah kekuatan lebih, yaitu dengan menuju ke ruangan ini”. Marcell dan Julio menunjuk ke suatu gambar di kertas itu. Ternyata itu adalah kertas yang berisi denah di ruangan ini. Max yang masih lemas dan kesakitan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut mengintip apa yang sedang Max tunjuk di ruangan itu. “Vampir, aku yakin kalau kau sudah mendengar tentang konsep ruang dan dimensi lain yang tak terbatas. Dan di tempat ini, kalian bisa mengakses ruang itu dengan tanpa konsekuensi atau pun risiko. Di sana ada sebuah senjata yang aku yakin akan dapat menaikkan kekuatan kalian. Sebuah Trisula yang dapat mengontrol darah, dan juga panah cahaya yang dapat menembus benda kegelapan apa pun yang melintasinya!” Ucap Marcell dengan penuh semangat. Max dan Alinzar saling menatap, mereka mulai tahu ke mana arah pembicaraan ini. Sebuah senjata yang bagus tentu saja akan sangat membantu mereka di dalam pertarungan, Max tidak lagi harus menggunakan crossbow usang yang tak memiliki daya sakit sama sekali di sini. “Itu terlihat sangat meyakinkan. Tapi katakan padaku, apa risiko yang mungkin kita dapatkan saat berada di tempat itu, apakah ada sesuatu atau seseorang yang menjaganya?” tanya Max penasaran dan mulai ragu-ragu. “Tentu saja ada, dan aku yakin kalau kalian familiar dengan orang itu. Mereka adalah Judy dan Jade, orang yang telah mengambil jiwa Alinzar dan juga meremukkan badanmu pemburu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD