Chapter 43 : Tangan Terakhir
“Aku menemukan emblem Iron Hammer di kamar yang aku tinggali. Dan sejauh yang aku tahu, kalian tidak pernah mengatakan ikatan atau kaitan kalian dengan Iron Hammer secara langsung. Jujurlah kepadaku. Siapa kalian sebenarnya!” Situasi Max saat ini masih belum mengenal tentang siapa Mathilda dan juga keluarganya yang sebenarnya. Namun kecurigaannya sudah mulai dia pertanyakan dan penasaran tentang identitas keluarga ini yang sebenarnya.
“Oh tentang emblem itu, “ Sahut Mathilda menghembuskan nafas besar seperti lega akan sesuatu. Mathilda mungkin mengharapkan pertanyaan lain yang lebih berbahaya keluar dari mulut Max. “Memang jujur, sebenarnya bukan hanya dirimu Pemburu yang kami rawat. Kami juga pernah merawat pemburu lain sebelum dirimu. Dan salah satunya adalah pemburu dari guild Iron Hammer. Salah satu guild terkenal di kota Merleth. Aku lupa siapa namanya, tapi yang jelas dia adalah seseorang dengan rambut panjang sebahu dan memakai pedang. Memangnya, apa hubunganmu dengan guild itu wahai pemburu? Apakah kau salah satu anggota dari guild itu.” tanya Mathilda balik kepada Max.
Untuk menjawab pertanyaan itu, Max tentu saja tidak bisa menjawabnya dengan jujur. Karena dia ingin identitas dirinya dan juga guildnya terekspos oleh keluarga ini. Dia pun menjawab pertanyaan itu dengan berbohong, “Aku bukan berasal dari guild itu. Namun aku memiliki sejarah yang tidak mengenakkan tentang guild itu. Jadi lupakan saja”. Ucap Max kepada Mathilda.
“Oh seperti itu, baiklah. Aku mengira kalau kalian merupakan berasal dari kelompok yang sama. Aku ingin mengucapkan salam kepada orang itu,” Balas Mathilda lega. Wanita itu kemudian mengangkat tangannya, dan mengacungkan jarinya ke depan seperti mengisyaratkan sesuatu kepada kedua putrinya itu. Mereka mengambil sebuah kotak kayu bersama mereka, kotak kayu yang dikunci dengan sebuah gembok yang sangat besar. Namun akhirnya Angela membuka gembok itu hanya dengan tangannya mematahkannya. Terlihat sangat sia-sia karena untuk apa fungsi gembok itu ada jika mereka bisa membukanya semudah itu. Saat membuka kotak itu, ternyata ada benda mirip seperti pisau di sana. “Ayo cepat ambil bunga dahlia itu. Aku akan mempersiapkannya kepadamu sekarang juga ritualnya”.
“Ada apa dengan pisau itu? Kenapa kau memerlukannya?” Tanya Max kebingungan. Dia mengira mengambil bunga Dahlia hitam itu hanya semudah saat dia memetiknya di atas ladang. Max juga tak paham dengan ritual apa yang disebutkan oleh Mathilda.
“Aku lupa mengatakan. Dahlia hitam itu berasal dari dunia lain. Dan walaupun kau melihatnya tumbuh subur di kaca kemarin, itu bukanlah dahlia yang sesungguhnya. Melainkan hanya sebuah replika dari benda aslinya. Kurang lebih kau akan menemukan benda yang sama saat di dunia lain itu. Dan fungsi pisau ini tentu saja akan membukakan portal menuju dunia lain. Aku yakin Marcell dan juga Julio telah mengatakan padamu tentang apa yang terjadi sesampainya kau ke sana. Dan aku mengira kalau kau sudah siap akan semua konsekuensinya. Kau sudah siap kan sekarang?” tanya Mathilda lagi apakah Max benar-benar sudah yakin untuk pergi sekarang.
“Tidakk.” Teriak Max dengan lantang. “Maksudku belum. Aku masih tak paham bagaimana caraku mendapatkannya. Apakah aku harus pergi ke sesuatu tempat untuk mencarinya terlebih dahulu atau aku hanya harus mengambilnya tepat di depan mataku? Aku harus siap dengan apa yang aku temui saat berada di sana!” Ucap Max yang memang sudah terlatih untuk merencanakan apa pun yang akan ia lakukan.
“Bayangkan seperti ini. Kau masuk ke dalam ruangan, dan kau menemukan sebuah bunga tepat di depan matamu. Hanya semudah itu. Tugasmu cukup simpel, memetik bunga itu dari tempatnya. Dan saat kau selesai, kembali lah ke portal dimana kau lewat tadi. Mengerti?” Tanya Mathilda apa memang perkataannya sudah jelas. Max belum benar-benar yakin dengan perkataan Mathilda. Dia merasa kalau perkataannya hanyalah mencoba untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dipahami dengan menghilangkan beberapa detail pentingnya. Tapi Max memang tidak memiliki pilihan lain untuk sekarang.
Dia menatap ke langit, melihat garis lintang itu masih ada di sana membujur panjang ke tempat sebelah utara. Dari atap rumah ini Max tidak bisa melihat ujung dari garis langit itu. Dia pun menduga-duga karena kemungkinan besar garis itu akan berakhir di tempat yang ia pernah datangi atau hidupi. Yaitu Merleth. Max memandang lagi ke hadapan Mathilda, memandangnya dengan tajam. Dengan perasaan sangat yakin dan alis yang menukik turun. Bahkan bunyi detak jantung Max yang gugup bisa didengar oleh Mathilda maupun kedua putrinya di sana. “Baiklah. Aku akan masuk ke dalam portal itu!”
Mathilda mengambil pisau di dalam kotak itu. Dia pun mengoles-oleskannya dengan tangannya dan mencoba untuk memberikan mantra kepadanya. Setelah itu Mathilda pun menusuk udara. Merobek dinding-dinding realitas antara sesuatu yang nyata dan imaji belaka. Mathilda menunjuk Max dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan kalau dia harus cepat berdiri di sampingnya untuk masuk ke dalam portal buatannya itu. Max pun berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Meskipun belum terbuka lebar, Max bisa merasakan kalau sesuatu dari dalam portal itu menarik apa pun masuk ke dalam sesuatu dari luar. Bahkan angin yang tak memiliki materi pun juga ikut menjadi korban dalam portal dunia lain itu. “Baik, masuklah!”
Dengan tiba-tiba, Mathilda mendorong Max masuk ke dalam portal itu. Max yang belum sempat mengintip ke dalam portal itu langsung terjerembap masuk ke dalam dunia lain.
Pengap, sesak, gelap, dan juga kosong. Itulah yang dirasakan indra Max saat pertama kali masuk ke dalam sini. Dia tak tahu ada dimana sekarang, di bawah, atas, kanan, kiri, seolah semua konsep yang dia ketahui tentang dunianya sekarang benar-benar berubah dan terbalik-balik. Tidak ada timur atau pun barat sekarang. Tidak ada atas ataupun bawah. Max benar-benar berada di dalam dimensi kekosongan. Bahkan telinganya tidak bisa merasakan atau mendengarkan apa-apa sekarang. Mendengung pun menjadi sesuatu yang mewah apabila dia mendapatkannya sekarang.
Hingga akhirnya tak lama setelah itu, Max melihat sebuah cahaya di depan matanya. Tidak, bahkan Max tak yakin kalau ini adalah matanya sendiri yang melihat. Karena memang se aneh itu berada di tempat ini. Cahaya itu seperti menuntun Max pergi ke suatu tempat. Tempat yang mungkin akan membuat Max berujung dalam kemalangannya sendiri. Dia juga tidak bisa berdiam di satu tempat tanpa melakukan apa-apa sekarang, hanya mencoba untuk mengikuti arus di dalamnya. Cahaya itu menjalar mirip seperti akar tumbuhan yang akan membuah atau berada di dalam masa-masa pertumbuhan. Max merentangkan tangannya lebar-lebar, karena walaupun tangannya tak menyentuh apa-apa. Dia tetap merasa sempit.
Ternyata cahaya yang Max lihat dan rasakan itu adalah sebuah bunga. Namun bukan bunga dahlia hitam yang disebutkan Mathilda di hadapannya. Melainkan sebuah mawar berwarna putih dilengkapi dengan duri-duri yang menjalar di sekitar batangnya. Tak memiliki pilihan lain, Max pun mencabut bunga itu dan memasukkan ke kantongnya.
Tak khayal, setelah Max mencabutnya, semua cahaya yang dia lihat dan rasakan di sana tiba-tiba redup dan juga menghilang. Ibarat sebuah tali yang putus dan berantai. Tempat pijakan Max tiba-tiba bergetar, seperti hendak runtuh karena sesuatu. Max tak mempunyai pilihan lain, ia tidak mau mati di tempat ini. Ia harus kabur sejauh mungkin dan menyelamatkan dirinya sendiri sambil tentu saja membawa mawar putih di tangannya itu. Max melihat sekali lagi bunga yang ia bawa. Dan ternyata wujudnya telah berubah. Itu menjadi Dahlia berwarna hitam sekarang. Persis seperti yang Mathilda katakan sebelumnya.
Max berlari, entah ke arah mana. Yang penting menjauh dari reruntuhan lantai tempatnya berpijak. Namun tak peduli dia berlari ke arah mana saja, runtuhan lantai itu selalu mengikutinya dari belakang. Seperti memang sengaja untuk menerornya. Karena terlalu lelah berlari, kecepatan Max pun berkurang. Reruntuhan lantai itu akan segera datang dan membuatnya jatuh. Ke dalam keabadian dan juga jurang tanpa dasar.
Max jatuh sekarang, sambil membawa dahlia itu tentu saja. Dia merasakan angin meniup seluruh tubuhnya dari bawah, seperti merasakan kalau hidupnya akan berada di ujung tanduk. Dalam keadaan jatuh itu, Max memikirkan apa yang telah dia lakukan selama hidupnya. Dosa-dosa dan juga kejahatan yang dia lakukan. Max pun berpikir, apakah mungkin ini gambaran neraka yang sesungguhnya!
Sudah lama Max berada dalam kondisi terjatuh ini, dan sepertinya dia memang tak akan “Terjatuh” dalam waktu dekat. Max pun memutuskan untuk berteriak sekencang mungkin. Meminta pertolongan kepada orang-orang atau apa pun yang mungkin akan mendengar doanya. Max rela berdoa kepada Tuhan jika pun mereka benar-benar ada di dunia ini. “Tolong siapa pun keluarkan aku dari tempat ini!”
Tiba-tiba Max pun berdiri. Di suatu tempat, masih dalam kegelapan. Dia melihat seekor ikan raksasa di hadapannya. Wajahnya berukuran sama persis seperti dengan Max. Dia bingung, bagaimana dia tidak menyadari benda dan makhluk sebesar ini berada di sana semenjak tadi? Dan bagaimana Max bisa berpindah tempat setelah sebelumnya terjatuh tanpa memiliki ujung itu. Ikan itu menggumam, ternyata dia ingin berinteraksi dengan Max. “Manusia, apa yang kau lakukan di sini! Bagaimana kau bisa selamat!”
“Siapa aku? Dimana aku? Siapa kau? Tolong keluarkan aku dari tempat ini secepatnya!” Max tak pernah dalam kondisi seputus asa ini. Dia mulai mengembangkan ketakutan akan kegelapan. “Tenang wahai manusia. Kau berada denganku sekarang, makhluk yang lebih tinggi darimu. Selama kau ada di dekatku, kau akan selamat. Tapi, bagaimana kau bisa kemari. Tidak mungkin kau datang ke tempat ini tanpa sengaja. Pasti setidaknya ada sesuatu yang mengirimmu ke sini!”
“Aku berasal dari dunia seberang, dan aku kemari hanya untuk ingin mengambil bunga dahlia hitam. Hanya itu saja, setelah aku membawa itu, aku akan pergi dari tempat ini. Jadi tolong aku untuk segera pergi dari sini!” Ucap Max memohon-mohon untuk segera pergi dari tempat ini. Ikan itu walaupun tidak memiliki wajah seperti manusia, namun Max bisa tahu kalau dia sedang mengamati Max dengan seksama. Ikan itu berbeda dari ikan-ikan lain yang pernah ia temui sebelumnya. Tepat di antara wajahnya ada sebuah kumis tebal dan panjang ke samping kiri dan kanan.
“Lalu, apa yang akan kau perbuat dengan bunga itu? Kau boleh mengambilnya, namun dengan alasan yang jelas,” Tanya ikan itu lagi. “Aku akan menyembuhkan kawanku yang terkena kutukan di hutan kegelapan. Seseorang berkata kalau dia hanya bisa disembuhkan dengan bunga dahlia ini. Dia sedang kesakitan dan sekarat sekarang, kehadiranku akan sangat-sangat dia butuhkan saat ini. Kumohon cepat kirim aku kembali ke tempatku!”
“Biar kutebak, seseorang yang mengirimmu kemari adalah Mathilda, benar bukan?” Tanya ikan itu lagi. Max pun mengangguk dengan sangat keras mengonfirmasi tebakannya. Tak lama setelah itu, dengan mulutnya yang lebar dan juga kumis yang menggelegar, ikan itu tersenyum dengan lebar memperlihatkan giginya yang runcing dan menakutkan. Max akan sangat mudah dimakan saat berada di dalam mulut ikan itu. “Baiklah manusia. Aku akan mengirimkanmu kembali kepadanya. Pastikan kau untuk memberikan bunga langsung kepada orang itu, bukan yang lain, mengerti!” Ucap sang Ikan dengan tegas.
“Namun sebelum aku mengirimmu kembali, aku akan menghadiahkanmu sesuatu,” Ucap ikan itu mencoba untuk memberikan Max sesuatu. Tepat di dahi sang ikan, keluar cahaya yang sangat menyilaukan mampu untuk menyinari lingkungan di sekitar Max. Tubuh Max kemudian terangkat sendirinya mengikuti ke arah cahaya ikan itu berada. “Kau akan mendapatkan anugerah yang sangat menguntungkan. Aku jarang-jarang bertemu dengan seorang manusia akhir-akhir ini. Dan untuk sekian waktu yang lama, aku bisa bertemu denganmu. Anggap saja ini adalah sebagai sebuah hadiah wahai manusia!” Ungkap Ikan itu lagi.
“Apa yang telah kau berikan kepadaku? Aku tak merasakan apa-apa!” tanya Max kebingungan. “Kau akan tahu saat kau sudah terkirim ke sana. Cepat pergilah wahai manusia!” Cahaya itu semakin lama semakin membesar. Dan tubuh Max yang terangkat tiba-tiba terlempar ke suatu tempat. Karena takut akan cahaya yang bersinar sangat terang itu, Max tentu saja menutup matanya.
“Kau selamat Max! Dimana bunga dahlia itu!” Max membuka matanya, melihat Mathilda bersama kedua putrinya. Mereka terlihat sangat lega dan campur bahagia melihat Max di sana duduk tersungkur dan terlihat tak berdaya. Max pun merogoh sakunya, memberikan bunga dahlia berwarna hitam itu kepada Mathilda. “Terima kasih Max. Aku akan pastikan kalau tak lama lagi Alinzar akan segera sembuh dari kutukannya”.
Namun kemudian Angela membawa sebuah perangkat yang dimana itu digunakan menumbuk sesuatu. Angela menumbuk bunga itu dengan alat yang ia bawa. Ketiga orang itu di sana langsung saja menjilat mencicipi bunga yang baru saja mereka tumbuk. Max pun berkata sesuatu, “Aku bertemu dengan sebuah ikan raksasa di sana. Apa maksudnya?”
Mathilda dan kedua anaknya melotot terkejut dengan apa yang telah Max ucapkan. “Apa? Seekor ikan!”