Chapter 44 : Tabiat

2006 Words
Muka dan tubuh Mathilda beserta anak-anaknya tiba-tiba berubah. Menjadi sesuatu yang sangat buruk, menyebar dari seluruh wajah menuju ke seluruh badannya. Max tak tahu apa yang terjadi. Namun dia bisa merasakan kalau itu adalah sesuatu yang sangat buruk, bagi Mathilda. Max juga bingung, kenapa bunga itu malah dikonsumsi oleh Mathilda bukan oleh Alinzar yang tengah berbaring dan membutuhkan pertolongan, “Kurang ajar. Kau telah menipu kami!” Geram Mathilda kepada Max sambil menunjuknya. Jari telunjuk yang diperlihatkan oleh Mathilda itu berubah dari awalnya merupakan jari yang sangat indah dan lembut menjadi sebuah jari yang berbulu penuh dengan cakar. Max sejujurnya masih tak mengerti apa yang terjadi dengan Mathilda. Bulir-bulir perubahan di dalam tubuh Mathilda tidak terlihat melambat atau pun berhenti. Malahan mereka makin menjadi-jadi dan berubah sangat cepat. “Ibu!! Tolong kami!” teriak Angela dan juga Ankha. Wajah mereka berubah yang tadinya manusia menjadi seperti semacam monster dengan bulu-bulu dan taring di mulut mereka. Max pernah melihat sesuatu semacam itu, sesuatu yang pernah dilawan oleh Brooks dan juga semua kawanan guildnya. Mathilda melihat kedua putrinya dengan pandangan tak tega. Dia pun langsung saja memalingkan pandangannya ke arah Max. “Dasar kurang ajar! Akibat perbuatanmu kedua putriku menjadi seperti ini. Rasakan ini!” Sebuah bayangan hitam bergerak menuju ke arah Max. Max sadar kalau bayangan itu bukanlah bayangan yang baik-baik saja. Max tentu saja langsung berguling menghindar dari bayangan itu dan mencoba kabur. Mathilda telah bergerak agresif sekarang. Bayangan itu mengikuti Max saat dia mencoba untuk berguling menghindar. Karena kehilangan momentum, bayangan itu berhasil menyentuh Max dan menjebaknya dalam atmosfer kegelapan, “Kena kau!” Ucap Mathilda kepada Max. Bayangan itu mencekik leher Max, mengangkatnya tinggi-tinggi di udara. Max hampir kehilangan nafas dan juga suaranya karena kelakuan bayangan itu. Saat ia mencoba melawan balik bayangan itu, tapi hasilnya hanya sia-sia saja. Tangannya tembus saat ia mencoba memberontak. Tak ada yang bisa Max lakukan saat ini. “Apa yang kau inginkan Mathilda! Aku sudah melakukan segala sesuatu sesuai dengan instruksimu. Mengapa kau menyalahkanku dalam hal ini!” Ucap Max mencoba untuk mencari tahu apa arti dari yang dilakukan Mathilda kepadanya. “Ikan itu, aku tak pernah mendengar tentang ikan itu sebelumnya. Dia hanyalah makhluk mitos yang bahkan tidak pernah ada. Dan kau dengan mudahnya bertemu dengannya. Katakan padaku sebenarnya wahai pemburu. Siapa kau sebenarnya!” Teriak Mathilda dengan sangat keras sampai udara keluar dari mulutnya. Sementara itu Max melihat Angela dan Ankha kabur dari loteng rumah ini. Mereka menuju ke arah bawah rumah lagi dan kabur dari Max dan juga ibunya. Max merasa kalau ini semua hanyalah jebakan. Bunga dahlia hitam itu sejak awal tidak digunakan untuk menyembuhkan Alinzar, melainkan digunakan untuk dirinya sendiri. Semuanya menjadi masuk akal bagi Max. Mathilda menyuruhnya pergi ke dunia lain semata-mata hanya untuk membuatnya sebagai tumbal yang bisa dibuang kapan saja. Dia tak pernah peduli dengan Alinzar sejak awal, atau bahkan dirinya sendiri. Max pun sadar, kalau sekali lagi dia menjadi mainan bagi semua orang di rumah ini. “Mungkin belum jelas bagimu. Namun aku, adalah ketakutan terbesarmu!” Di kantong Max masih ada belati yang dia simpan sebelum masuk ke dalam dunia lain. Dia mencoba untuk membelah bayangan itu dan ternyata berhasil. Anehnya, meskipun Max membelah bayangan itu tapi Mathilda juga ikut merasakan cederanya. Mathilda menyentuh tangannya dengan erat seperti ikut kesakitan. Mengetahui celah itu, tak ada pilihan lain bagi Max selain kabur dan mencoba untuk menemukan Alinzar di mansion ini. Tepat di bawah Max, ada sebuah balkon yang bisa dia gunakan untuk kabur. Max berlari sambil berseluncur ke bawah balkon itu. “Kau tidak akan bisa kabur dariku wahai manusia sia-lan!” Teriak Mathilda kepada Max dengan diiringi bayangan mengejarnya yang lebih pekat dari pada sebelumnya. Sayangnya, bayangan itu tak mampu untuk mengejar Max tepat waktu sampai dia berhasil turun di Balkon dan masuk ke dalam rumah itu kembali mengamankan dirinya sendiri. Max sadar kalau bayangan itu memiliki batas jarak tertentu sehingga mereka tidak bisa mengikutinya begitu saja di sembarang tempat. Mencoba untuk mengusir bayangan itu dan membuat mereka mundur untuk sejenak, Max pun mengayun-ayunkan belati itu ke arah bayangan dan mengenainya. Terdengar suara jeritan Mathilda dari lantai atas menandakan kalau ayunan belatinya itu berhasil membuat Mathilda cedera kembali. Bayangan-bayangan itu pun kembali mundur ke tempat semula mereka yaitu di atas loteng. Max berada di suatu kamar sekarang, kamar dengan cat berwarna kuning dan dihiasi oleh lampu-lampu yang terang. Max tentu saja tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan tempat ini dengan sangat seksama. Yang perlu dia lakukan hanyalah kabur dan mencari Alinzar lagi. Tapi begitu Max mencoba untuk keluar melalui pintu di sana, ada seseorang yang memegang leher Max dan membantingnya ke arah pintu itu. Menghancurkan pintu itu dan juga beberapa tembok yang ada di sana. Pemburu itu merasa sangat kesakitan di bagian punggung dan juga lehernya karena ulah orang yang membantingnya tersebut. Matanya perlahan dia buka untuk melihat siapa pelakunya. Ternyata itu adalah dua bersaudara George dan Josh. Dengan lengan yang entah kenapa diselimuti oleh perban. Mereka menatap ke arah Max dengan sangat kejam dan juga penuh amarah. Max masih belum bisa berdiri dan pulih sepenuhnya saat ini, dia merasakan tulang-tulangnya patah karena bantingan dua orang itu. Tapi jika ia tidak bangun, mungkin akan dibanting lagi oleh dua orang itu, dan hasilnya akan lebih parah daripada sebelumnya. Benar saja, kedua pemuda berbadan tambun itu tidak hanya berjalan lagi sekarang, mereka berdua berlari dengan sangat kencang walaupun jarak antara Max dan juga dua bersaudara itu tidaklah jauh. Max masih memegang belatinya sekarang. Mencoba untuk mengancam agar mereka tidak mendekat lebih jauh. Tapi tentu saja hal itu mustahil membuat mereka takut. Badan Max diterbangkan ke udara oleh Georger, sementara Josh berlari lebih jauh berusaha untuk menangkap Max. Pemburu itu benar-benar dibuat seolah seperti permainan bola lempar anak kecil sekarang. Max tentu saja tak bisa melakukan apa-apa karena terlalu sakit untuk menggerakkan semua tubuhnya. Max mencoba untuk menggerakkan lengannya, menusuk punggung George yang menggendongnya sambil berlarian saat ini. Mereka berdua bergantian untuk menggendong Max. Tapi tampaknya tusukan belati itu tidak berarti apa-apa bagi mereka berdua. Bahkan belati itu tidak berusaha untuk dibuang atau di singkirkan dari tangan Max yang berarti itu bukanlah ancaman bagi mereka berdua. Badan Max serasa benar-benar remuk sekarang. Semua tulangnya berbunyi dan terdengar sangat memuaskan bagi orang-orang yang suka mendengar kesadisan manusia atau semacamnya. Diayun-ayunkan bak sebuah mainan, Max hampir kehilangan kesadarannya sekarang. Namun dia mencoba untuk menjaga kesadarannya selama mungkin hanya untuk berjaga-jaga bila sesuatu yang lebih buruk terjadi kepadanya. Dia tidak ingin mati di dalam rumah dan juga oleh saudara konyol ini. Dia lebih memilih mati saat melakukan tugasnya ataupun saat menyelamatkan seseorang dari sesuatu. Tapi dengan ini, dia lebih memilih untuk menghancurkan semua yang dia lihat tanpa memikirkan konsekuensinya. Hingga akhirnya Max benar-benar kehilangan kesadarannya. Semua tampak gelap dan telinganya seperti berhenti berfungsi sekarang. Max berharap jika dia mati, mungkin kematiannya tidak akan diingat oleh siapa pun. Dia akan tetap menjadi seorang hantu dan meneror orang-orang yang menginginkannya mati. Tapi sayangnya, dalam kondisi saat-saat terakhirnya ini Max tidak bisa bertemu dengan Alinzar. Dia tidak bisa meminta maaf atas apa yang dia lakukan kepada kaumnya dan juga semua keluarganya. Max akan sangat menerima jika dia bangun dan berada tepat di neraka sekarang. Keadaan berkata hal yang lain. Max bangun, namun bukan di neraka. Dia duduk di atas sebuah kursi. Tangannya diikat beserta kakinya yang ada di bawah. Dia melihat seluruh anggota keluarga Conro berada di depannya, kecuali istri dari Mathilda. Namun sebagian mereka sudah tidak memiliki wujud yang Max kenali sebelumnya. Seperti Angela dan Ankha yang berubah menjadi monster berbulu coklat dan tebal dan juga Mathilda yang separuh wajah dan badannya menjadi bergelambir seperti monster jeli. Max tidak bisa melihat kedua bocah tengik Marcell dan juga Julio berada di sana. “Akhirnya kau mendapatkan kesadaranmu kembali wahai pemburu. Cepat katakan kepada kami. Siapa kau sebenarnya!? Mengapa kau bisa selamat dari makhluk itu. Katakan sejujurnya kepada kami semua!” Mathilda membentak dengan sangat keras ke arah Max. Namun Max masih diam tak menjawab apa-apa. “Aku tak tahu apa yang kau katakan, Karena aku juga tak tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku mengira kalau kalian akan lebih tahu tentang diriku sampai berani menangkap dan mengikatku seperti ini. Aku akan tetap diam, karena aku memang tak tahu apa-apa.” Ucap Max kepada Mathilda, dan juga semua anak-anaknya yang ada di sana. Max memang tak tahu apa yang terjadi kepada mereka. “Sesuatu yang kau lihat dan temui di sana, adalah salah satu The Corrupted. Kami selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan mereka, dan tak pernah berhasil. Lalu bagaimana caranya seorang manusia biasa sepertimu bisa dengan mudahnya bertemu dengannya? Apa yang kau lakukan sampai-sampai dia mau melakukan sesuatu kepadamu dan menyelamatkanmu dari dunia lain! Kau benar-benar bukan manusia!” Mathilda berteriak sekali lagi ke arah Max. Dia bisa saja membunuh Max sekarang, namun jelas-jelas Mathilda akan sangat rugi jika dia membunuh Max sekarang. Dia membutuhkan jawaban dari pria itu. “Oh... jadi kau mengakui kalau kau mengirimku ke sana hanyalah sebuah perangkap dan jebakan? Apakah ini yang selalu kalian lakukan? Menjebak orang-orang asing dan membuat mereka melakukan pekerjaan yang kalian enggan lakukan?” Tanya Max kepada keluarga itu. Mereka pun diam, tak menjawab apa-apa atas tudingan Max kepada mereka. Namun saat Max berteriak-teriak seperti tadi, Max bisa merasakan tulang-tulang belakangnya masih terasa sakit bahkan berbunyi untuk beberapa saat. “Tunggu, jangan bilang kalau kalian adalah orang yang telah memberikan kutukan itu kepada Alinzar. Kalian telah menipuku kalau sebenarnya Alinzar bisa dengan mudah sembuh, namun kalian mengatakan kalau satu-satunya obat yang bisa menyembuhkannya adalah dahlia hitam itu. Cepat katakan sejujurnya!” Teriak Max lagi dengan penuh emosi kali ini. “Apa yang akan kau lakukan sekarang jika kami berkata. Iya?” jawab Mathilda dengan santainya. “Sebenarnya, kutukan itu tak pernah ada. Kami hanya menipumu. Itu hanyalah sebuah sihir biasa, sihir jarak jauh. Dan Vampir itu tak cukup pintar untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri kau tahu. Dia sangat bodoh! Kau memang pantas bepergian bersamanya, karena kalian memang benar-benar bodoh. Mudah sekali untuk dibohongi dan dipermainkan!” “Dan untuk bunga Dahlia berwarna hitam itu. Kami akan menunjukkan siapa kami sebenarnya!” Jawab Mathilda sambil mengangkat tangannya lagi. Di depan mata Max, dia bisa melihat kalau semua anggota keluarga Conro berubah menjadi monster yang mengerikan. Sama seperti perubahan yang dilakukan Angela. Mereka adalah seorang Werewolf! “Kami terlahir seperti ini, dan mungkin kau akan merasa paham atas segala apa yang terjadi sekarang. Bunga Dahlia hitam itu kami gunakan semata-mata untuk memperpanjang umur kami semua. Menurutmu, berapa lama kami telah hidup di dunia ini dan mencoba untuk bertahan menggunakan bunga dari dunia itu? Kami mungkin telah menipu ribuan atau ratusan pengunjung hanya semata-mata untuk mengambilkan bunga dahlia untuk kami!” “Dan anehnya, dari ribuan ataupun ratusan manusia yang telah kami kirim ke dunia lain, mereka selalu berakhir mati tanpa memiliki harapan untuk hidup sama sekali. Katakan padaku pemburu, siapa kau sebenarnya?!” Tanya Mathilda lagi. Max tak tahu harus menjawabnya dengan bahasa apa lagi agar dia paham apa yang coba Max katakan kepadanya. “Aku tahu, mungkin kau juga kebingungan harus menjawab apa. Namun hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Jude, Judy belah jiwanya. Lihat siapa dia sebenarnya!” Pinta Mathilda kepada kedua anaknya tersebut. George dan Josh membuka kotak kayu itu. Memperlihatkan sebuah artefak mirip seperti pisau. Jade mengambil dan memegang pisau itu, melakukan ancang-ancang seperti ingin menusuk jantung Max. Sementara tangan Judy bercahaya, seperti ingin menarik sesuatu di dalam jantung yang terbelah itu. Max tahu kalau itu bukan merupakan tanda-tanda yang baik. Dia terikat sekarang, tidak bisa kabur ataupun menghindar. “Percuma saja. Karena setelah kau terkena pisau itu, kau mungkin akan mati. Dan atribut jiwamu, akan menjadi bonekaku hidup selamanya!” Ucap Mathilda kepada Max. Pemburu itu berteriak dengan ketakutan. Dia pun geram dan menggerutu dengan sangat keras. “Camkan ini, bila aku mati, tidak ada satupun dari keluarga kalian akan bisa hidup dengan tenang ataupun bahagia. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!” Gumam Max. Namun percuma saja, Jade berhasil menusuk ke arah jantung Max. Tapi tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi di rumah ini...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD