Chapter 45 : Marcell Conro

2058 Words
Gelap dan suara mendengung terdengar di telinga Max saat ini. Dia pun membuka matanya, tak tahu berapa lama dia tak sadarkan diri. Akhir-akhir ini karena berbagai kejadian yang menimpanya, Max memang sangat sering tak sadarkan diri. Dia tak tahu apakah hal tersebut adalah sesuatu yang baik atau pun buruk. Yang jelas itu memang membuatnya merasa tak nyaman saat berada di rumah ini. Dia bangun dan melihat sebuah udara pengap dengan pencahayaan minim berasal dari obor-obor di pinggir tembok. Ada barel-barel yang tertumpuk di sana meneteskan beberapa air yang berasal dari dalamnya. Max tak diikat lagi, dia merasa kalau mungkin yang terjadi dengan dirinya adalah suatu mimpi, karena tak ada satu pun kejadian itu masuk akal bisa diterima otaknya. Tikus-tikus berdecit dan berlarian tepat di hadapan Max sampai-sampai salah satu dari mereka menuju ke arah kaki dan juga tangan Max. Pemburu itu pun mengusir mereka dan berdiri untuk menakuti tikus-tikus itu Namun betapa kagetnya Max saat melihat dua bocah yang dia kenali sebelumnya berada di ruangan yang sama dengannya saat ini. Marcell dan Julio. Max langsung saja mengambil belati yang ada di kantongnya dan mengancam mereka untuk segera mundur. “Dasar baji-ngan kepa-rat. Apa yang kalian lakukan kepadaku tidak akan berhasil. Enyahlah dari tempat ini!” teriak Max kepada dua bocah itu. Namun Marcell dan juga Julio hanya diam sambil saling bertatapan. “Jika kami memang ingin membunuh kalian, kami akan langsung melakukannya tanpa menunggumu untuk sadar. Justru kebalikannya, kami mencoba untuk menyelamatkanmu dari tempat ini. Kami bukan bagian dari mereka, seperti yang kau kira Pemburu. Kami sama sepertimu.” Ucap Marcell dan Julio berbarengan. Namun tentu saja Max tak percaya dengan kata-kata kedua bocah itu. Max langsung mencoba untuk membunuhnya dengan bergerak sangat cepat berlari ke arah kedua bocah itu sampai-sampai mereka tak memiliki waktu untuk berkedip. Marcell dan Julio anehnya tidak berusaha menghindar atau takut dengan ancaman Max. Mereka seakan-akan bersiap-siap untuk menerima serangan dari Max tersebut. Namun itu sudah menjadi kesalahan bagi kedua bocah itu, karena Max memang tak menunjukkan kalau dia akan memberikan belas kasihan kepada mereka. Dengan cepat dan sebuah ayunan keras, Max mencoba untuk membelah leher kedua bocah itu secara berbarengan. Menciptakan sebuah momentum yang keras dan juga berbahaya bagi siapa pun yang melintas ke arah ayunan tersebut. Tapi anehnya, tangan Max tembus dari kulit dan juga leher Marcell dan Julio. Seakan-akan mereka tak pernah ada di sana. Max melakukannya sekali lagi, berusaha memastikan apa yang sedang dia lihat sekarang. Dan benar saja, itu adalah sebuah keanehan sekaligus keajaiban yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Tubuh Marcell dan Julio tembus tak berpengaruh apa-apa. Lantas, Max langsung saja membuang belati miliknya. Dia bergantian menjadi orang yang paling ketakutan di sini. Dia tak tahu apa yang terjadi, menganggap apa yang terjadi barusan kepadanya hanyalah ilusi dan juga pikirannya sedang sangat-sangat kacau. “Katakan padaku. Ini hanyalah sebuah ilusi bukan? Tidak ada dari kalian adalah sesuatu yang nyata bukan?” Max mulai berpikir kalau kedua bocah itu adalah personifikasi dari kesedihan dan juga ketakutan yang dialaminya saat kecil. Ia mulai berteriak dengan sangat histeris dan kencang. “Berhenti berteriak pemburu! Karena mungkin orang-orang di rumah ini akan mengetahui dimana keberadaanmu. Kami memiliki waktu yang sedikit untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya denganmu. Tentang alam lain dan juga dimensi lain itu. Kau hanya perlu diam di sini dan kami akan menjelaskan semuanya kepadamu!” Ucap Marcell dan juga Julio. Meskipun mereka berbicara panjang lebar kepada Max. Tapi Max benar-benar berbeda sekarang. Dirinya diselimuti oleh ketakutan dan juga kengerian yang bertumpuk tak mungkin bisa dikendalikan atau dihilangkan begitu saja. “Kami adalah seorang pengembara, sama sepertimu. Kami bukan bagian dari keluarga ini. Itulah mengapa kami tidak mirip. Setidaknya di matamu,” Ungkap Marcell kepada Max. Dia pun mulai berbicara lagi. “Bertahun-tahun lamanya, kami hanyalah seorang pengembara yang mendapatkan kutukan sama sepertimu. Sedangkan Julio melakukan prosedur yang sama dengan yang kau lakukan, pergi ke dunia lain untuk mengambil bunga dahlia hitam itu. Tapi Julio bernasib buruk. Jiwanya terbagi dua antara realitas di dunia ini dan dunia sana. Dan saat dia kembali, jiwaku juga terbagi dua menjadi realitas di dunia ini dan dunia sana. Kami hanyalah tawanan, tak bisa bergerak atau pun kabur dari tempat ini”. “Hingga akhirnya suatu hari Mathilda kehilangan kedua anak laki-laki paling kecil kembarnya. Mereka terbunuh dengan sadis karena ulah seseorang. Berduka atas kematian anaknya itu, Mathilda mengambil jiwa kami masuk ke dalam tubuh ataupun wadah dari anaknya itu. Membuat diri kami terjebak di sini. Untuk waktu yang sangat lama, bahkan kami tak tahu sudah berapa lama kami keluar dari tempat ini. Namun seketika, kami mendapatkan harapan saat kau datang ke rumah ini. Entah kenapa kau selamat dan jiwamu tidak terjebak di dua tempat seperti kami. Di situ kami mulai paham kalau kau akan menjadi seorang penyelamat.” Ucap Marcell kepada Max. “Tunggu, jiwa antara dua dunia? Kalian menggunakan istilah-istilah yang tak aku pahami di sini. Apakah itu berarti semua jiwa yang mereka simpan masih berada di tempat ini? Dimana mereka sekarang?” tanya Max yang sepertinya paham akan sesuatu. Marcell pun melangkah, menuju ke sebuah tungku perapian di bawah sana. Max mengikutinya dari belakang, tak tahu apa yang mereka ingin tunjukkan kepadanya. Marcell dan Julio pun membuka tungku itu bersama-sama, dibantu oleh Max yang ikut membukanya. Saat tungku itu terbuka, terdengar sebuah teriakan dan juga erangan kesakitan di dalam tungku itu. Suara ratusan ataupun ribuan orang yang mungkin sudah terjebak di sana selama bertahun-tahun menunggu untuk di selamatkan. Max langsung muntah saat melihat dan mendengar suara-suara itu. Walaupun dia tak bisa melihat wujudnya, dia bisa merasakan betapa menjijikkannya berada di satu tempat dengan sebuah keheningan dan kehampaan yang menyelimuti seluruh tubuh mereka. “Kau tak perlu khawatir Max. Mereka sudah tak bisa diselamatkan lagi. Tubuh mereka sudah tidak ada di dunia ini. Mereka hanyalah sebuah jiwa yang kosong tanpa memiliki alasan untuk hidup ataupun berjalan di dunia ini. Satu-satunya alasanmu untuk keluar dan juga pergi dari rumah ini hanya untuk menyelamatkan temanmu.” “Siapa mereka sebenarnya? Maksudku keluarga ini. Mengapa mereka rela melakukan hal-hal yang keji kepada orang-orang tak berdosa itu?” tanya Max merasa sangat lemah dan berdosa melihat mereka saling tindih di sana. “Mereka adalah seorang Werewolf, bukankah kau sudah mengetahui wujud asli mereka? Mereka adalah orang sama yang telah mengejar kalian berdua saat masih berada di dalam hutan. Mereka memang sengaja menggiring kalian ke tempat ini,” Ucap Julio kepada Max. “Tidak, maksudku bagaimana mereka bisa melakukan hal semacam itu? Bukankah Werewolf seharusnya hanya memangsa makanan mereka seperti biasa tanpa bisa melakukan sebuah sihir yang kompleks dan aneh-aneh?” Tanya Max penasaran. ”Kau mungkin mendengar Werewolf dari cerita rakyat ataupun dongeng-dongeng. Mereka bukan makhluk yang seperti itu. Sesungguhnya, mereka adalah makhluk yang kuat. Bahkan mungkin setara dengan monster kelas S lainnya. Dan keluarga ini, sudah turun temurun memiliki tradisi untuk menjebak para pengembara yang hadir di rumah mereka. Sudah terikat dengan keluarga mereka sejak jaman dulu,” Ucap Julio kepada Max. “Lalu jika memang seperti itu, apakah sejarah yang mereka ucapkan kalau mereka adalah keturunan kerajaan Merleth adalah sesuatu yang benar-benar nyata? Apa mereka memang se spesial itu?” Tanya Max kepada Marcell dan Julio yang masih penasaran dengan mereka sebenarnya. “Ya memang benar. Dan harta yang mereka ucapkan sebenarnya adalah Bunga Dahlia hitam itu sendiri. Keluarga Kerajaan pada masa itu benar-benar tercemar oleh isu kalau raja mereka yang memiliki kebiasaan aneh yaitu membunuh prajuritnya sendiri. Hingga akhirnya kudeta berlangsung, mereka kalah dan mengasingkan diri mereka sendiri. Dahlia hitam itu benar-benar berkhasiat untuk membuat mereka menjadi makhluk abadi dan tak pernah mati. Aku bertanya, Apakah kau paham dengan maksud kalau Mathilda memiliki kelainan sehingga selalu menghasilkan anak kembar? Karena memang suami dari Mathilda itu adalah kakaknya sendiri. Mereka sangat ingin menjaga kesucian keturunan mereka sampai-sampai menikah dengan keluarga mereka sendiri. Maka dari itu lahirlah anak mereka yang selalu kembar.” “Benar-benar j*****m. Bagaimana mungkin aku bisa kabur dan meninggalkan mereka begitu saja!” “Memangnya apa yang ingin kau lakukan selain itu pemburu?” Tanya Marcell kepada Max yang memiliki firasat tak bagus tentang apa yang ingin Max rencanakan kepada keluarga ini. “Tentu saja membunuh mereka. Binatang seperti mereka memang layak untuk dibinasakan dan dilenyapkan. Mereka memang tak memiliki tempat di dunia ini, mereka mungkin akan mati dengan dimakan oleh kelabang dan ulat sampai darah mereka kering, tulang mereka rapuh, dan kulit mereka pudar. Aku akan menjamin akan melakukan itu kepada mereka!” Amarah Max benar-benar memuncak setelah dia mendengar tentang keluarga Conro. “Apakah kau ingat bagaimana kondisi terakhirmu sebelum ini Pemburu? Kau tidak memiliki kesempatan untuk menang melawan mereka. Bahkan kau tidak memiliki kemampuan sihir untuk menghalau mereka. Kau hanyalah seorang manusia biasa!” Teriak Marcell mencoba untuk mengurungkan niat dari Max yang mencoba melawan keluarga itu dengan sangat gegabah dan tanpa rencana. “Benarkah aku bukan seorang manusia? Mereka selalu menanyakan siapa diriku sebenarnya. Sampai aku tak yakin dengan diriku sebagai manusia. Kemampuan regenerasi ini, terasa sangat aneh. Aku selalu memilikinya semenjak aku lahir, dan aku tidak tahu kenapa aku memilikinya. Katakan padaku, apakah aku seorang manusia?” Julio dan Marcell termenung, mereka berpikir untuk sesaat siapa diri Max yang sebenarnya. “Tunggu, apakah kau yang mengeluarkan cahaya itu sampai melempar mereka semua dari ruangan itu?” Tanya Julio mencoba untuk meyakinkan akan sesuatu. “Cahaya apa? Aku tak mengingat kalau aku melihat cahaya sedikitpun di sana. Bahkan aku benar-benar bingung bagaimana aku bisa selamat dan berakhir bersama dengan kalian di tempat ini. Kukira, kalian lah yang lebih tahu soal itu!” Max menyangkal terhadap tuduhan Julio dan Marcell itu. Kedua bocah itu pun saling berbisik dan menyebutkan sesuatu yang tak bisa Max dengar dari sana. “Apa kau memang menemukan seekor ikan raksasa di dunia lain itu Max?” tanya Julio dengan nada yang sangat serius. Max mengangguk, “Ya, aku bertemu dengannya. Badannya sangat besar dan memiliki kumis panjang. Aku sangat ketakutan saat melihatnya karena memang dia memang terlihat sangat menakutkan. Aku tak pernah melihat makhluk itu sepanjang hidupku.” Jawab Max kepada Marcell dan juga Julio. Kedua bocah itu saling berbisik kembali dan merundingkan sesuatu. “Apakah sang Ikan itu berkata kalau dia akan memberimu sesuatu saat kemari, sesuatu hadiah mungkin?” tanya Marcell dan Julio kembali. “Ya, dia mengatakan sesuatu seperti itu. dan seketika cahaya keluar dari dahinya. Aku sangat bingung dengna apa yang terjadi, badanku terangkat dan mengeluarkan cahaya juga. Namun aku tak merasakan apa-apa setelah itu. Semuanya masih terasa normal dan baik-baik saja. Apa kalian mengetahui sesuatu tentang ikan raksasa itu?” Marcell dan Julio berjalan menuju ke ujung ruangan. Di sana ada sebuah Crossbow dan sejumlah anak panah yang lumayan banyak di sana. Marcell mengambil crossbow itu dengan kedua tangannya sedangkan Julio memegang anak panah itu kepada Max. “Ambil ini wahai pemburu. Kami sekarang yakin kalau kau memiliki kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan keluarga ini. Mungkin ini tugas yang sangat berat bagimu, tapi kami benar-benar yakin kalau kau bisa melakukan ini semua”, Max masih kebingungan dengan apa yang kedua bocah ini ingin lakukan terhadap keluarga itu. Sebuah crossbow dan juga anak panah tentu saja tak menambah kesempatan apa-apa bagi Max untuk melawan keluarga itu. “Hei, setidaknya jelaskan kepadaku apa yang terjadi denganku dan apa sebenarnya ikan itu. Kenapa kalian tiba-tiba sangat yakin kalau aku bisa membunuh mereka setelah sebelumnya kalian mencoba melarangku?” tanya Max bingung. “Makhluk yang kau temui tadi, kami tak yakin sepenuhnya apa makhluk itu. Namun dia adalah makhluk yang memiliki tingkat dan kedudukan yang lebih tinggi daripada kita makhluk yang hidup di dunia ini. Makhluk itu jugalah yang memberikan kekuatan bagi Mathilda dan seluruh anggota keluarga di rumah ini. Berkali-kali mereka masuk ke dunia lain sampai kewarasan dan juga jiwa mereka terkikis tak mampu membuat mereka bisa bertemu dengan makhluk itu. Itu jugalah yang menjelaskan kenapa mereka membutuhkan jiwa dan juga stok bunga dahlia yang hitam banyak hanya karena menjaga diri mereka tetap waras. Tapi tidak dengan satu orang, suami dari Mathilda.” Ucap Marcell kepada Max di sana. “Dan kau dengan mudahnya bertemu dengan makhluk itu dalam sekali pertemuan di dunia lain. Kami yakin cahaya yang kau lihat di dahi makhluk itu adalah sebuah kekuatan, hanya saja kau belum membangkitkannya. Oleh karena itu kami sangat yakin, dengan kekuatan baru yang kau miliki itu, kau akan bisa dengan mudah mengalahkan dan membunuh semua orang di tempat ini!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD