Hari ini sidang pertama kami berlangsung. Semua tak semudah yang kubayangkan. Kupikir Mas Mustafa takkan hadir untuk mempermudah proses perceraian kami. Dia pun tak mengatakan apa-apa bahkan pergi begitu saja ke pabrik. Sayangnya, tanpa diduga dia datang dan justru malah menghambat dan mempersulit perpisahan kami dengan menolak gugatan ini. Membuat hakim memutuskan agar kami melakukan mediasi. "Mil! Mila!" panggilnya di belakang sana, tapi kuabaikan. Aku terus melangkah cepat keluar parkiran kantor pengadilan agama dengan perasaan kesal. Rasa kecewa dan marah bercampur menjadi satu. "Mil!" Dia berhasil mengejar dan menarik tangan ini. Membuatku mau tak mau berhenti melangkah dan berbalik padanya. "Lepas!" geramku dengan suara pelan, tapi penuh penekanan. "Kita pulang sama-sama." "En

