Kami saling melempar tatapan dingin untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, kulepaskan cekalannya dengan kesal. "Buat apa masih peduli, hm? Aku pergi ke mana pun, itu bukan lagi urusanmu." "Aku suamimu," ujarnya tanpa beban. Aku melongo sesaat, lalu tersenyum meledek. "Suami? Suami macam apa, huh? Suami KTP?" cibirku tanpa embel-embel Mas lagi. Peduli amat dia akan berpikir aku tak sopan. "Kita bicarakan soal masalah tadi sekarang." "Enggak." Aku menepis tangannya yang hendak menarikku menuju sofa. "Enggak lihat aku basah kuyup begini?" Aku melemparkan tatapan sinis, kemudian langsung bergegas pergi ke kamar untuk mandi. Tak bisa kusangkal kalau aku sudah kedinginan. Syukurlah berdiam diri di bawah guyuran air hangat bisa menghilangkan itu dan membuat pikiran juga tubuh ini kembali ril

