Aku mencoba menarik tanganku, tapi ditahannya.
"Lepasin!"
"Mending kalian pulang sebelum singanya kulepas dan nerkam kalian."
What?
'Singa katanya? Asem!'
"Ayo, ayo!" Santi dan Wina dengan cepat menarik Rika menuju motor mereka.
"Jangan kabur woy!" seruku dengan kaki meronta-ronta ingin mengejar, tapi kedua lenganku dicekal. "Lepasin, dong!" pintaku, tapi tidak digubrisnya.
"Jauhin Asep! Awas kalau berani dekatin lagi!" seru Rika yang sudah duduk di atas motor.
"Suruh aja si Asep yang jauhin aku! Emangnya siapa yang ngejar-ngejar, huh?" balasku sengit.
"Dasar ganjen!" cibirnya.
"Sini kalau berani woy! Jangan gede cingcong doang!" Aku menantangnya, tapi Rika dan temannya sudah lebih dulu pergi setelah sempat menunjukkan jari tengah mereka.
"Cemen!" teriakku kesal.
"Bisa diam enggak? Jangan kayak belatung nangka begini. Enggak malu sama umur?"
'Sadis! Masa cantik begini disamain sama belatung?'
"Ya udah lepasin dulu, dong!"
"Masih mau ngamuk?"
"Enggak!" sahutku ketus.
"Udah pada dewasa, tapi masih berantem kayak anak SMA. Enggak ada malu-malunya jadi tontonan orang yang lewat," komentarnya.
"Mereka yang duluan mulai, kok. Terus, aku harus diam aja gitu dihina-hina? Hel to the low!" Aku membela diri dengan mata mendelik tajam padanya. "Ini ... mau dilepasin apa enggak, nih?" tanyaku saat menyadari dia masih belum melepas cekalan.
Mendengar itu, dia pun melepaskan tangannya seraya berdehem pelan dan membuang muka. Kugerak-gerakkan kedua lengan ini yang sempat dicekal ke belakang olehnya tadi. Setelah itu, aku kembali menatap dia dengan kening berkerut dalam, lalu tersenyum miring.
"Kenapa tahu-tahu senyum?"
"Ciee, yang pura-pura mau misahin. Bilang aja pengen meluk," godaku, kemudian berjalan ke dalam kedai sambil tertawa. Meninggalkan dirinya yang mematung di tempat dan menatap tak percaya atas ucapanku tadi.
Kubawa mangkuk dan gelas kotor ke belakang, lalu kembali menghampirinya yang sudah berdiri di dekat gerobak.
'Tenang, Mil, tenang. Ingat kata Aa Toni tadi, harus jaim sedikit.'
Aku berdehem pelan, merapikan anak rambut yang sempat berantakan dan berusaha bersikap tenang alias sok jual mahal. Padahal, aslinya jiwa kejomloanku ini tengah meronta-ronta ingin disalurkan. Gatal rasanya jika mulut ini tak menggoda.
"Mau pesan baksonya lagi?" tanyaku.
"Makanya, jadi cewek itu enggak usah terlalu akrab sama cowok. Sana-sini deket." Bukannya menjawab, dia malah berkomentar tentang diriku.
"Maksudnya?" Keningku berkerut seraya menatap tak suka padanya.
"Biarpun dia cuma teman kerja, ada baiknya kalian jaga jarak. Orang akan mengira kalian itu punya hubungan spesial."
"Apa, sih? Aa Toni itu udah anggap aku kayak adiknya sendiri kali. Kok, Mas ini jadi ikutan julid kayak Rika?"
"Berapa semuanya?" Dia malah bertanya balik dan tak menanggapi perkataanku barusan.
"Tujuh belas ribu!" sahutku ketus.
Dia merogoh dompet, kemudian mengambil selembar uang seratus ribu dan memberikannya padaku.
"Ambil aja kembaliannya," ujarnya ketika aku tengah mempersiapkan kembalian.
"Hah? Serius? Banyak banget ini." Aku melongo. Rasa kesal yang sempat hinggap tadi mendadak lenyap entah ke mana.
'Mataku langsung hijau kalau lihat uang. Haha.'
Dia hanya mengangguk dengan raut wajah datarnya, kemudian pergi begitu saja.
"Makasih, ya, Mas. Sering-sering aja begini, oops!" Aku dengan cepat membekap mulut melihat dia menoleh ke sini lagi dengan tatapan tajam.
Setelah kepergiannya, aku bergegas mengelap meja sebelum ada pembeli baru yang datang. Tak berselang lama, Aa Toni akhirnya kembali dengan membawa dua kantong es campur.
"Beli es campur di mana, Aa? Di jepang?"
Dia tertawa seraya mengelurkan es campur dari dalam kantong kresek putih.
"Antri tau, Mil. Kenapa? Di sini rame, ya? Maaf, deh."
"Enggak, sih. Enggak rame, kok. Makasih, ya," ucapku ketika dia memberikan satu plastik es campurnya.
"Sama-sama. Duduk, Mil. Minum jangan sambil berdiri."
Aku mengangguk, kemudian duduk. Begitu juga dengannya.
"Aku boleh tanya sesuatu enggak, Aa?"
"Tanya aja. Soal apa emangnya?"
"Ehm ...." Aku ragu untuk melanjutkan pertanyaan ini.
"Apaan? Kok, ehm doang?" Dia cengengesan.
"Teh Lani ... Teh Lani suka nanyain atau ngomongin soal aku enggak?"
"Lani?" Keningnya berkerut dalam. "Nanyain gimana maksudnya?"
"Enggak jadi, deh." Aku nyengir.
"Diih, enggak jelas." Dia tertawa. "Kenapa sama Lani?"
"Enggak apa-apa." Aku tersenyum.
???
Kedai tak pernah buka sampai larut malam. Pemilik kedai hanya membukanya sampai pukul delapan malam. Setelah selesai merapikan dan membersihkan kedai, kami pun pulang sekitar pukul setengah sembilan. Aa Toni menawarkan diri untuk mengantar ke rumah, tapi kutolak. Lagipula, kami berbeda kampung.
Hari ini, aku membawa tiga bungkus bakso untuk dibawa pulang. Asep mengirim pesan kalau dia tak bisa menjemput karena harus mengantar mamanya ke rumah sakit. Meskipun, sebenarnya aku tak berharap dan tak masalah dengan itu. Dia bahkan berkali-kali mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan maaf. Dia pasti berpikir aku marah karena janji tidak ditepati saat pesannya tak dibalas satu pun.
Sudah cukup lama aku berdiri di bahu jalan, tapi tak ada satu pun ojek yang lewat. Kuputuskan untuk berjalan santai sembari menunggu ojek datang. Tak jauh dariku, terlihat ada seorang pria renta tengah memungut barang-barang plastik bekas.
Aku melirik kantung kresek berisi tiga bungkus bakso, lalu tersenyum dan bergegas menghampirinya.
"Pak," sapaku.
"Iya, Neng. Kenapa?"
"Ini ... ada sedikit makanan buat Bapak. Tolong terima, ya," kataku seraya menyerahkan kantong kresek tersebut.
"Ini ... buat saya?"
Aku mengangguk dan tersenyum haru melihat mata beliau langsung berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Makasih banyak, ya, Neng. Semoga Neng panjang umur, sehat-sehat dan dilimpahkan rezeki lebih banyak lagi."
"Aamiin. Aku jalan lagi kalau begitu. Mari, Pak," pamitku, kemudian kembali melangkah menyusuri bahu jalan di mana hanya ada pepohonan rimbun.
Rumah warga hanya terlihat kerlip lampunya saja karena jaraknya cukup jauh dari jalan raya ini. Namun, baru maju beberapa langkah dari pria tua tadi, suara klakson motor membuatku terjingkat kaget dan refleks bergeser lebih jauh ke pinggir.
Motor sport Mas Mustafa berhenti tepat di samping. Aku terpana ketika dia membuka helm dan menyugar rambut tebalnya yang seolah berada dalam mode slow motion.
'Uuh, gantengnya calon mantumu, Pak.'
Aku berdehem pelan dan mencoba terlihat santai walau dalam hati rasanya ingin jingkrak-jingkrak tak karuan.
"Apa?" tanyaku ketika melihat dia menatapku dalam diam.
"Kenapa pulang jalan kaki?"
'Ciee, yang mulai perhatian. Haha.'
"Enggak ada ojek lewat."
"Ayo naik!" Dia kembali memakai helmnya.
"Naik ke mana?"
"Ke langit, noh!" Dia menunjuk ke atas. "Ya ke motorlah. Gimana, sih?"
Benar-benar mirip sama yang ada di lagu dangdut dia, ish! Urat sarafnya tegang mulu kalau lagi ngajak ngomong.
"Mas mau nganterin aku pulang?" Aku tak tahan lagi untuk tidak tersenyum senang.
"Enggak. Mau minta makan," sahutnya asal. "Cepetan naik!"
Aku mengangguk, kemudian segera mengempaskan p****t di jok belakang.
"Jangan ge-er! Aku ngajak kamu pulang bareng karena kita tetanggaan. Bukan karena sengaja ngikutin kamu terus."
"Eh? Emangnya aku bilang kalau Mas ngikutin? Perasaan rnggak, deh," sahutku dengan kening berkerut sedikit seraya menggaruk kepala.
Dia malah berdehem pelan dan menambah kecepatan motornya dengan tiba-tiba. Hingga membuatku hampir terjengkang karena belum berpegangan pada kedua sisi jaketnya.
???
"Makasih, ya, Mas," kataku seraya turun dari motornya setelah kami tiba.
"Hm."
"Mas!" Panggilanku berhasil membuat dia yang tengah mendorong motor ke halaman rumahnya jadi berhenti dan menoleh lagi.
"Apa?"
"Tau kepanjangan dari senin enggak?" Aku berjalan mendekat padanya sambil tersenyum.
Dia terdiam sejenak, kemudian mengeleng.
"Senin—selalu ngangenin. Kayak wajahnya Mas ganteng ini." Aku mengedipkan sebelah mata sambil tersenyum semanis mungkin.
Setelah itu, aku segera berbalik dan berjalan menjauh sambil tertawa karena sempat melihat ada rona merah di pipinya.
'Maaf, Aa. Aku gagal jadi anak didikmu. Enggak bisa nahan gombalan. Haha.'
???