Aku tentu saja melongo melihat pesanku sendiri yang dikirim tadi. Typo satu huruf saja bisa membuat malapetaka. Namun, tak bisa dipungkiri ini juga lucu hingga aku tak tahan untuk tertawa. "Kok, malah ketawa, sih?" Dia menatapku dengan kening mengernyit hingga alis tebalnya hampir saling bertemu. Yee, orang sakit masih bisa ngegas aja ngomongnya. Sakit beneran atau boongan apa, ya? "Ya, terus harus apa? Nangis guling-guling? Orang itu lucu, kok," kataku santai sembari berjalan meninggalkannya. "Tapi ini kamu ngetiknya begini?" "Yaelah, Mas. Typo itu typo. Masa gitu doang enggak paham, sih?" "Yang bener kamu?" Aku berhenti melangkah dan menatap tak suka padanya. "Mas pikir aku gila? Masa iya aku beneran nenenin Asep. Memangnya dia orok?" "Bukan cuma orok kecil yang bisa dikelonin, t

