Belum ada sehari pindah ke sini, tapi aku sudah dibuat kesal olehnya. Istri mana yang tak marah saat tahu suaminya menerima telepon dari wanita lain. Terlebih lagi ini dilakukan secara diam-diam dan wanita itu mantan kekasihnya. Mas Mustafa mengejarku yang pergi ke kamar dengan hati panas. Pintu hendak kukunci, tapi dia sudah lebih dulu mendorong dan berhasil ikut masuk. Aku mendelik kesal, kemudian memilih pergi ke ranjang untuk mengambil bantal juga selimut dan memilih tidur di sofa. "Jangan tidur di sini. Badanmu bisa pegal-pegal nanti." Dia hendak menarikku bangun, tapi kutepis kasar dengan mata mendelik tajam, lalu berbaring membelakangi seraya menutup selimut sampai kepala. "Jangan gampang ngambekan gini apa, Mil. Kamu cuma salah paham. Aku dan Monica emang udah enggak ada hubung

