Hati yang Patah

1242 Words

"Ayo," ajak dia pelan. Aku mengangguk, lalu kembali berjalan bersamanya dengan perasaan tak karuan. Belum mengatakan apa pun, tapi hatiku sudah gerimis. Rasanya ingin menangis. Sejahat ini ternyata aku pada Asep. Seharusnya dari awal aku tidak memberi dia harapan. Seharusnya sejak awal sikapku tetap ketus dan cuek seperti dulu. "Asep." "Akhirnya kamu dat ... ang." Asep langsung menoleh saat mendengar panggilanku, tapi ucapannya memelan di akhir kata saat tahu aku tidak datang sendiri. Dia tertegun dengan tatapannya yang membidik tepat di kedua mata ini untuk beberapa saat, kemudian perlahan turun pada tanganku yang berada dalam genggaman Mas Mustafa. Aku berusaha tenang meski berkali-kali harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. "Asep, aku—" "Duduk, Mil, d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD