Bab 2. Teringat Mantan

1243 Words
Flashback Awal mula Arma bertemu dengan Gesi di salah satu perusahaan. Sebelum ganti identitas nama asli Arma adalah fiqi. Hari pertama Gesi masuk kerja dia berjalan dari lobi menuju lift, setelah masuk lift ada seorang pria juga masuk, ya pria itu adalah fiqi. Mereka berdua didalam lift yang sedang menuju lantai 5. Fiqi melirik ke arah gesi dan berkata, “ aku belum pernah lihat kamu sebelumnya. Apa kamu karyawan baru?” Gesi menjawab, "iya, baru hari pertama bekerja, namaku gesi.” Fiqi sambil tersenyum, “ohh gesi salam kenal ya, aku fiqi semoga betah kerja disini.” Gesi terkejut saat melihat Fiqi, karena ia mirip sekali dengan Brian, mantan pacarnya. Ia tidak bisa tidak membandingkan Fiqi dengan Brian, dan merasa seperti sedang melihat Brian lagi. Dalam hati Gesi berkata, "Demi apa dia mirip banget sama Brian. Apakah ini kebetulan atau apa?" Gesi mencoba menghilangkan pikiran itu dan memfokuskan diri pada percakapan dengan Fiqi. Ia tersenyum dan berkata, "Salam kenal juga, Fiqi. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Fiqi tersenyum kembali dan berkata, "Tentu saja, Gesi. Aku senang bisa bekerja sama denganmu." Lift berhenti di lantai 5 dan Gesi serta Fiqi keluar dari lift. Mereka berjalan bersama menuju meja kerja Gesi, dan Fiqi membantu Gesi untuk mengenal lingkungan kerja baru. Gesi merasa senang bisa bekerja sama dengan Fiqi, tapi ia tidak bisa tidak merasa penasaran tentang kemiripan Fiqi dengan Brian. Fiqi lanjut bertanya, “ Gesi kamu kerja di bagian apa?” “di bagian perpajakan, kalo kamu?” Jawab Gesi “aku di bagian cyber security, nanti waktu istirahat mau ngga makan siang bareng?” Tanya Fiqi Gesi mengangguk setuju. Dan pintu lift terbuka. "yaudah sampai bertemu nanti siang ya gesi” Fiqi sambil mengedipkan mata kanannya. Gesi tersenyum dan berkata, "Baik, sampai jumpa nanti siang, Fiqi." Ia tidak bisa tidak memperhatikan gerakan Fiqi yang mengedipkan mata kanannya. Gesi merasa sedikit terkejut, tapi juga penasaran tentang apa yang Fiqi maksudkan dengan gerakan itu. Setelah Fiqi pergi, Gesi memasuki ruang kerjanya dan mulai mengatur meja kerjanya. Ia tidak bisa tidak memikirkan tentang Fiqi dan kemiripannya dengan Brian. Gesi merasa sedikit bingung tentang apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu apa yang Fiqi inginkan dari dirinya, tapi ia merasa penasaran untuk mengetahuinya lebih lanjut. Saat istirahat siang tiba, Gesi berjalan menuju kantin untuk bertemu dengan Fiqi. Ia tidak bisa tidak merasa sedikit berdebar saat memikirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka berdua sedang makan bersama di kantin, Fiqi bertanya pada gesi, ”bagaimana hari pertama kerja disini ges?” Gesi menjawab, ”nyaman sih rekan kerja juga pada asik semua” "semoga betah ya, btw rumah dimana?” Tanya Fiqi dengan penuh penasaran. “Jaksel perumahan andarra, kalo kamu dimana?” Jawab Gesi. “Sunter tanjungpriok, ngontrak sih disana” jawab Fiqi dengan santai. Gesi tersenyum dan berkata, "Jaksel memang jauh dari sini, tapi aku suka tinggal di sana." Fiqi mengangguk dan berkata, "Aku juga suka tinggal di Sunter, lebih dekat dengan kantor dan lebih mudah untuk mencari makanan." Mereka berdua terus berbicara dan berbagi cerita tentang kehidupan pribadi mereka. Gesi merasa nyaman berbicara dengan Fiqi, dan ia merasa seperti telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Setelah selesai makan, Fiqi berkata, "Gesi, aku ingin bertanya sesuatu pada kamu." Gesi tersenyum dan berkata, "Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan?" Fiqi terlihat sedikit ragu-ragu sebelum bertanya, "Gesi, kamu punya pacar?" Gesi menjawab agak gugup, ”ga punya, ehh.. mas fiqi, boleh ngga aku curhat sedikit.” “boleh dong curhat yg banyak juga boleh kok.” Jawab Fiqi dengan wajah tersenyum. “waktu pertama kali lihat mas fiqi, aku teringat sama mantanku namanya brian.” Curhat Gesi Fiqi sambil mengangkat alis kanannya, “pasti dia ganteng ya sampai kamu gabisa move on, emang kenapa kalian bisa sampai putus?” Gesi menghela napas, ”ga dapat restu karena beda agama.” “oohh jadi gitu, tapi sebenernya kalian berdua masih saling suka?” Tanya Fiqi merasa penasaran. Gesi cuma mengangguk. Fiqi terlihat sedikit terkejut dengan jawaban Gesi, tapi ia tidak berkomentar lebih lanjut. Ia hanya mengangguk dan berkata, "Aku paham." Gesi merasa lega karena bisa berbagi cerita dengan Fiqi. Ia merasa seperti Fiqi benar-benar mendengarkan dan memahami perasaannya. Setelah beberapa saat, Fiqi berkata, "Gesi, aku ingin bertanya sesuatu lagi." Gesi tersenyum dan berkata, "Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan?" Fiqi terlihat sedikit ragu-ragu sebelum bertanya, "Gesi, kamu masih mencintai Brian?" Gesi terkejut dengan pertanyaan Fiqi. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Gesi berkata sambil menunduk, “iya, setelah kejadian itu aku sering mengurung diri dikamar. Aku mencoba melupakan semuanya dan melamar pekerjaan untuk menyibukan diri.” Fiqi sambil tersenyum, “tapi sialnya kamu malah ketemu sama aku yg mirip sama mantanmu ya hahaha” Di dalam hati fiqi berkata, kalo diliat liat gesi ini cantik juga ya kebetulan dia juga masih single, kesempatan nih untuk mendekatinya. Gesi tersenyum dan berkata, "Iya, aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang mirip dengan mantan pacarku." Fiqi juga tersenyum dan berkata, "Tapi aku senang bisa bertemu dengan kamu, Gesi. Kamu orang yang sangat menyenangkan." Di dalam hati Fiqi, ia merasa semakin tertarik dengan Gesi. Ia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk mendekatinya. Tapi, Fiqi juga merasa sedikit ragu-ragu. Ia tidak tahu apakah Gesi masih mencintai Brian, dan apakah ia siap untuk membuka hatinya lagi. Setelah makan siang dan hari sudah menunjukan jam 4 sore waktu untuk pulang kerja. Sebelum pulang gesi bertemu dengan fiqi. “Eh Gesi, minggu depan pas libur kamu mau ngga makan malam denganku?” Tanya Fiqi. Gesi menjawab sambil tersenyum, “iya mas mau, lagian waktu libur aku juga ga ngapa-ngapain dirumah.” Libur sudah datang dan mereka menuju restoran untuk makan malam bersama. Fiqi menatap gesi dengan senyuman. Fiqi dengan penuh keberanian mulai mengulurkan tangan dan megang tangan gesi sambil mengucapkan, “Gesi apakah kamu mau pacaran denganku?.” Gesi terkejut tapi juga senang saat Fiqi mengajaknya pacaran. Ia tidak menyangka bahwa Fiqi akan mengajaknya pacaran begitu cepat. Tapi, Gesi juga merasa bahwa ia sudah siap untuk membuka hatinya lagi. Ia merasa bahwa Fiqi adalah orang yang tepat untuknya. "Maksudnya kamu serius?" tanya Gesi dengan senyum. Fiqi mengangguk dan berkata, "Serius, aku suka kamu Gesi." Gesi tersenyum dan berkata, "Aku juga suka kamu Fiqi." Mereka berdua kemudian berpelukan dan berbagi ciuman pertama mereka. Setelah berbagi ciuman pertama, Gesi dan Fiqi duduk kembali dan menikmati makan malam bersama. Mereka berbicara tentang rencana masa depan dan impian mereka. Gesi merasa sangat bahagia dan nyaman bersama Fiqi. Ia merasa seperti telah menemukan orang yang tepat untuknya. Setelah selesai makan, Fiqi mengajak Gesi untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Mereka berjalan bergandengan tangan dan menikmati suasana malam yang indah. Gesi merasa seperti sedang bermimpi. Ia tidak percaya bahwa ia telah menemukan cinta lagi setelah kehilangan Brian. Tapi, Gesi juga merasa sedikit khawatir. Ia tidak tahu apakah Fiqi benar-benar serius dengan hubungan mereka atau tidak. Mereka berdua memutuskan untuk menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat mereka makan malam. Mereka check-in dan menuju ke kamar mereka. Gesi merasa sedikit gugup karena ini adalah pertama kalinya ia menginap dengan pria yang baru ia kenal. Tapi, ia juga merasa nyaman dan aman bersama Fiqi. Fiqi memeluk Gesi dan berkata, "Jangan khawatir, aku akan selalu menjaga kamu." Gesi tersenyum dan membalas pelukan Fiqi. Mereka berdua kemudian beristirahat dan menikmati malam bersama. Keesokan paginya, Gesi terbangun dan melihat Fiqi yang masih tidur. Ia tersenyum dan memeluk Fiqi. Fiqi terbangun dan berkata, "Selamat pagi, aku mencintaimu." Gesi tersenyum dan membalas ciuman Fiqi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD