~~Flashback Selesai~~
Latar waktu kembali didalam mobil dimana mereka sedang diburu.
Mobil melaju kencang di jalanan sepi. Arma menatap layar tablet di tangannya, mencoba membuka file dalam flash drive yang diberikan Gilang.
“Apa isinya?” tanya Adrian, masih fokus menyetir.
Arma mengetik cepat, memasukkan kode dekripsi yang ia hafal dari sistem agensi. Beberapa detik kemudian, file itu terbuka.
Layar menampilkan rekaman suara. Suara seorang pria, dimodifikasi hingga terdengar datar dan berat.
“Kita harus memastikan dia lenyap. Dia tahu terlalu banyak. Pastikan operasi ini terlihat seperti pengkhianatan biasa.”
Arma mengepalkan tangan. “Mereka bicara tentangku.”
Gilang mengangguk. “Bukan hanya kau. Aku juga masuk dalam daftar mereka. Kita dianggap ancaman.”
Adrian melirik ke cermin tengah. “Siapa orang dalam rekaman ini?”
Arma mempercepat rekaman, hingga terdengar suara lain yang lebih familiar.
“Kalian punya waktu 48 jam sebelum semuanya terungkap. Jika dia masih hidup setelah itu, aku sendiri yang akan menghabisinya.”
Jantung Arma berdegup kencang. Ia mengenali suara itu.
Gilang menatapnya, wajahnya tegang. “Kau mendengarnya?”
Arma mengangguk, rahangnya mengeras. “Itu suara Komandan Brahma.”
Keheningan menyelimuti mobil.
Komandan Brahma adalah salah satu petinggi di agensi mereka, orang yang selama ini mereka anggap sebagai pemimpin yang bisa dipercaya. Jika dia ada di balik semua ini, berarti musuh mereka jauh lebih berbahaya dari yang mereka kira.
“Kalau Brahma yang mengincar kita, berarti kita tidak punya waktu banyak,” ujar Raka serius.
Adrian mengepalkan tangan di setir. “Apa yang akan kita lakukan?”
Arma menatap layar tablet sekali lagi, lalu menutupnya dengan ekspresi dingin.
“Kita buat dia tahu,” ucapnya. “Bahwa kita bukan target yang mudah diburu.”
Malam itu, mereka tidak lagi bersembunyi. Mereka bersiap untuk melawan.
Mobil berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang mencolok dari tempat itu, hanya papan nama tua dan lampu redup yang menggantung di depan pintu. Namun, bagi orang-orang tertentu, kedai ini adalah tempat pertukaran informasi paling aman di kota.
Arma turun lebih dulu, diikuti oleh Gilang, Adrian, dan Raka. Mereka masuk tanpa banyak bicara, langsung menuju meja di sudut ruangan di mana seorang pria sudah menunggu.
Rahmat Sudraja.
Pria itu mengenakan jaket kulit lusuh dan topi yang ditarik rendah, menyembunyikan sebagian wajahnya. Namun, sorot matanya tajam, penuh kewaspadaan.
“Sudah lama tidak bertemu, Arma,” ucap Rahmat dengan suara serak.
Arma duduk di depannya, menatapnya tanpa basa-basi. “Kita butuh informasi tentang Komandan Brahma.”
Rahmat terkekeh pelan. “Kalian benar-benar tidak membuang waktu, ya?”
Adrian menyela dengan nada tegas. “Kita sedang diburu. Jika kau tahu sesuatu, sekaranglah waktunya bicara.”
Rahmat menghela napas, lalu menyandarkan punggung ke kursi. “Aku tahu Brahma bukan orang yang bersih. Tapi belakangan ini, dia semakin hati-hati. Banyak jejak yang dihapus, banyak orang yang tiba-tiba menghilang.”
Arma mempererat genggamannya di meja. “Apa yang dia rencanakan?”
Rahmat menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbisik, “Operasi Madya Godhand.”
Gilang menyipitkan mata. “Apa itu?”
Rahmat menatap sekeliling sebelum melanjutkan. “Sebuah pembersihan. Brahma ingin memastikan hanya orang-orang yang loyal padanya yang bertahan di agensi. Siapa pun yang dianggap ancaman akan dihabisi.”
Arma bertukar pandang dengan Adrian. “Jadi, bukan hanya kami yang menjadi target?”
Rahmat menggeleng. “Banyak agen lain yang sudah masuk daftar. Beberapa bahkan sudah lenyap tanpa jejak. Dan yang lebih buruk lagi… Brahma punya orang di setiap sudut. Kalian tidak bisa mempercayai siapa pun di dalam agensi.”
Keheningan menyelimuti meja.
Raka bersandar ke kursinya. “Kalau begitu, bagaimana kita bisa menjatuhkannya?”
Rahmat tersenyum tipis. “Kalian tidak bisa menyerang langsung. Tapi aku tahu satu cara untuk membuatnya keluar dari bayang-bayang.”
Arma menatapnya tajam. “Apa itu?”
Rahmat melirik ke kantong jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu akses hitam dengan logo Godhand.
“Brahma akan menghadiri pertemuan rahasia besok malam di sebuah fasilitas bawah tanah. Jika kalian ingin menangkapnya basah-basah, di sanalah tempatnya.”
Arma mengambil kartu itu, merasakan bobotnya di tangannya.
“Infiltrasi ke markas rahasia Godhand?” gumam Adrian. “Ini gila.”
Arma tersenyum tipis. “Tapi ini satu-satunya cara.”
Malam itu, rencana mereka berubah. Mereka bukan lagi buronan yang melarikan diri.
Mereka adalah pemburu. Dan target mereka adalah Brahma.
Malam itu, mereka berkumpul di sebuah gudang kosong yang telah lama ditinggalkan. Tempat persembunyian sementara yang digunakan oleh Gilang selama pelariannya. Cahaya lampu redup menerangi peta dan dokumen yang tersebar di meja di tengah ruangan.
Arma meletakkan kartu akses hitam yang diberikan Rahmat di atas peta. “Fasilitas ini ada di bawah gedung Trinusa Corporation. Dari luar, perusahaan ini terlihat seperti perusahaan teknologi biasa, tapi sebenarnya ini adalah salah satu markas rahasia Godhand.”
Gilang menatap denah bangunan yang mereka miliki. “Bagaimana kita bisa masuk tanpa ketahuan?”
Rahmat, yang kini duduk di sudut ruangan, menyela, “Dengan kartu akses itu, kalian bisa masuk ke bagian lobi tanpa masalah. Tapi begitu melewati sistem keamanan pertama, segalanya akan jauh lebih sulit.”
Adrian menatap layar laptopnya. “Aku sudah mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang sistem keamanan mereka. Kamera pengawas ada di setiap sudut, dan hanya ada satu jalan masuk ke fasilitas bawah tanah melalui lift khusus yang hanya bisa diakses dengan kode biometrik.”
Raka menghela napas. “Jadi kita tetap butuh seseorang dari dalam untuk membantu?”
Rahmat mengangguk. “Tepat. Dan kebetulan… aku punya seseorang.”
Semua mata tertuju padanya.
Rahmat melanjutkan, “Ada seorang teknisi di dalam gedung yang diam-diam bekerja untukku. Namanya Tariq. Dia bertanggung jawab atas sistem akses dan server di fasilitas itu. Jika kita bisa berhubungan dengannya, dia bisa membantu menonaktifkan beberapa sistem keamanan sementara.”
Arma mengetuk jarinya di meja, berpikir cepat. “Bagaimana kita bisa menghubunginya?”
Rahmat menyerahkan sebuah ponsel burner. “Dia tidak bisa dihubungi langsung, tapi dia punya kode komunikasi sendiri. Kirimkan pesan ini, dan dia akan tahu kalian datang.”
Arma mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang harus dikirim: “Langit gelap, bintang redup. Apakah fajar akan datang?”
Arma menatap Rahmat. “Dan dia akan tahu maksudnya?”
Rahmat tersenyum kecil. “Kalau dia masih hidup, ya.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Akhirnya, Adrian menutup laptopnya dan menatap timnya. “Kita punya satu kesempatan. Besok malam, kita menyelinap ke markas Godhand, menemukan bukti yang kita butuhkan, dan jika memungkinkan…”
Arma menyelesaikan kalimatnya dengan suara dingin. “Kita jatuhkan Brahma.”
Mereka semua saling bertatapan. Tidak ada jalan mundur.
Permainan sebenarnya baru akan dimulai.