Dengan perasaan yang tak menentu, aku menunggu petugas customer service menyelesaikan permasalahan Mas Yoga. Usai Mas Yoga mengisi semua formulir, ia pun membuat pin ATM yang baru. Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Barangkali aku yang terlalu berprasangka buruk padanya hingga berpikiran macam-macam.
"Ini Pak, buku tabungan dan KTPnya."
"Terima kasih, Mbak," jawab Mas Yoga.
Kemudian sang petugas customer service menjelaskan soal pendaftaran internet banking kepada Mas Yoga. Sambil menyimak, aku mengambil buku tabungan dari genggaman Mas Yoga. Ia nampak terkejut melihatku merampas bukunya begitu saja. Namun Mas Yoga tidak bisa melarangku karena masih berbicara dengan petugas di depannya.
Dengan tangan yang gemetar, aku membuka lembaran buku tabungan Mas Yoga mulai dari halaman paling akhir. Fokus utamaku adalah melihat transferan gaji dari kantor. Benarkah transfer gaji selalu terlambat dan hanya dibayarkan setengahnya seperti kata Mas Yoga?
Aku pun menelusuri satu per satu angka-angka yang tertera di buku itu. Darahku seketika berdesir melihat uang masuk di rekening Mas Yoga selama tiga bulan terakhir. Ternyata semua ditransfer tepat pada tanggal 25 setiap bulan. Dan nominalnya selalu sama, yaitu tujuh juta lima ratus ribu rupiah. Ini berarti kantornya Mas Yoga tidak terlambat memberikan gaji. Mereka juga memberikan gaji secara utuh tidak seperti yang dikatakan Mas Yoga. Jadi terbukti sudah kalau suamiku memang berbohong selama ini.
Rongga dadaku mulai berdenyut nyeri. Satu kebohongan Mas Yoga telah terkuak, lalu apa berikutnya. Aku hampir tak kuasa untuk melanjutkan namun aku tidak bisa mundur sekarang. Aku tak akan melewatkan kesempatan untuk menyingkap tabir misteri tentang suamiku sendiri.
Bola mataku pun bergerak ke bawah untuk memeriksa jumlah uang keluar. Kucermati satu per satu transaksi pengeluaran Mas Yoga. Aku mengerutkan dahi begitu dalam tatkala melihat nama Agung selalu muncul disitu. Mas Yoga rutin mentransfer sejumlah uang kepada Agung setelah gajian. Jumlahnya bervariasi dari delapan ratus ribu hingga dua juta rupiah. Lalu di bawahnya ada pendebetan otomatis senilai satu juta rupiah. Pengeluaran untuk apa ini? Kenapa Mas Yoga memberikan uang yang seharusnya untuk hidup sehari-hari kami kepada orang lain? Padahal setiap bulannya kondisi keuangan kami selalu pas-pasan.
Aku sungguh bingung dengan kelakuan Mas Yoga. Aku beralih memindai angka ke bawah. Lagi-lagi kurasakan sakit hingga ke ulu hati saat melihat nama Dian tercantum disitu. Ternyata dugaanku selama ini benar. Mas Yoga mentransfer uang bulanan juga kepada adiknya tanpa mengatakan apapun padaku. Semua dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Dan aku hanya diberikan sisa dari gajinya setelah dibagi-bagikan kepada orang lain. Lalu dengan mudahnya dia menggunakan seribu satu alasan mengenai kondisi buruk yang menimpa kantornya. Ya, aku telah ditipu mentah-mentah oleh Mas Yoga.
Namun kejutan yang kuterima belum berakhir. Mataku menyipit melihat dana masuk dari seorang perempuan bernama Rani. Disusul dengan transaksi penarikan tunai empat hari yang lalu. Tunggu dulu, itu berarti Mas Yoga masih menggunakan kartu ATM ketika Zidan berada di rumah sakit. Jadi pada waktu itu ia berdusta mengenai kartu ATM miliknya yang hilang.
Cairan bening menggenang di sudut mataku. Aku masih belum percaya jika Mas Yoga tega membodohi istrinya sendiri. Sungguh aku tidak bisa menahannya lebih lama. Sesudah urusan di bank selesai, aku harus menanyakan padanya mengapa dia mencurangi aku.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?"
"Tidak, Mbak, terima kasih."
Jawaban Mas Yoga membuatku tersentak dari lamunan. Aku pun ikut beranjak dari kursi. Sambil menggenggam tanganku sendiri yang sedingin es, aku membulatkan tekad. Ini waktunya aku harus bicara empat mata dengan Mas Yoga.
Seperti biasa Mas Yoga melangkahkan kakinya lebih dulu tanpa menungguku. Aku lantas menyentuh lengan suamiku untuk menghentikannya.
"Mas, tunggu, kita harus bicara."
"Soal apa? Aku harus kembali ke kantor," tanyanya setengah menundukkan kepala.
"Transaksi yang ada di buku tabungan. Aku minta penjelasan sekarang," jawabku lugas.
Mas Yoga terdiam sejenak sambil meneguk salivanya.
"Aku akan menjelaskannya di rumah. Ayo pulang."
"Aku maunya sekarang, Mas!" balasku meninggikan nada suara. Aku sudah gelap mata sehingga tidak peduli lagi bahwa kami masih berada di keramaian.
"Oke, tapi jangan disini. Aku akan mengajakmu ke tempat lain."
Entah aku salah lihat atau tidak, namun wajah Mas Yoga nampak memucat.
Berusaha menahan gemuruh di hati, aku mengikuti Mas Yoga ke area parkir motor. Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana, tapi satu hal yang pasti aku harus memaksanya untuk bicara jujur.
***
Mas Yoga mengendarai motornya lebih lambat. Ia berbelok beberapa kali ke jalan kecil yang tidak kukenal. Terakhir ia melewati sebuah jalan sempit yang menuju ke kawasan perumahan. Disitu ada taman kecil yang cukup lengang. Mas Yoga menghentikan motornya lalu menyuruhku turun.
"Mas, kenapa kita kesini?" tanyaku merasa asing dengan tempat ini.
"Duduk dulu, Rista," jawab Mas Yoga menunjuk bangku kecil yang ada di taman itu.
Tiba-tiba saja Mas Yoga mengubah nada bicaranya menjadi lebih lembut. Mungkinkah ini strateginya untuk membuatku kembali luluh? Tidak, untuk sekali ini kamu tidak akan berhasil, Mas, batinku pedih.
Aku meraih buku tabungan dari dalam tas lalu membukanya di hadapan Mas Yoga. Kupaksakan diri mengutarakan ganjalan di hatiku meskipun suara ini seolah tertelan di tenggorokan.
"Mas bilang kantor telat memberi gaji. Tapi ternyata kantor selalu mentransfer gaji setiap tanggal 25. Jumlahnya juga tidak dipotong sama sekali. Bisa jelaskan padaku kenapa Mas bohong selama berbulan-bulan?" tanyaku berusaha tegar.
Mas Yoga tidak segera menjawab. Justru kudengar helaan napasnya yang begitu berat.
"Aku terpaksa, Rista. Aku sedang banyak keperluan."
"Keperluan apa? Keperluan memberi uang kepada Agung dan Dian? Bagaimana dengan istri dan anakmu, Mas? Kamu lebih mementingkan orang lain daripada mereka," cecarku menyudutkannya.
"Dengar dulu...." potong Mas Yoga membela diri.
"Mas yang harus menjawab pertanyaanku. Siapa Agung? Kenapa Mas rutin mentransfer uang padanya?"
Kulihat Mas Yoga memilin-milin jemari tangannya sambil membuang muka ke arah lain.
"Agung itu salah satu temanku di kantor. Aku ada bisnis kecil-kecilan jual motor sama dia."
"Tatap aku, Mas! Mas bohong kan? Kalau Mas punya bisnis tidak mungkin kondisi keuangan kita begini," hardikku tidak sabar.
"Aku merugi, makanya uangku habis. Untuk Dian aku memang memberinya uang supaya tidak kekurangan selama kuliah," jawabnya datar.
"Jadi kamu lebih suka aku dan Zidan yang kekurangan daripada adikmu?"
Aku tidak peduli lagi bila Mas Yoga menganggapku wanita yang egois.
"Lalu pendebetan otomatis ini untuk apa? Dan siapa Rani? Kenapa dia mengirimkan uang padamu?"
"Pembayaran kartu kredit," jawabnya singkat.
"Mas punya hutang kartu kredit? Sejak kapan dan untuk apa?" tanyaku terperanjat. Aku bahkan tidak tahu jika Mas Yoga memiliki kartu kredit selama ini.
"Baru dua bulan, untuk nambah belanja kebutuhan sehari-hari. Kalau Rani itu teman kuliahku, dia baru gabung dengan bisnisku," ucapnya seraya menyentuh daun telinga.
Percuma saja aku terus bertanya. Nampaknya Mas Yoga akan tetap menutupi rahasia yang disembunyikannya. Kini saatnya aku harus mengambil tindakan tegas.
"Mas, berikan handphonemu."
"Untuk apa?" tanya Mas Yoga terkejut.
"Berikan sekarang, aku mau lihat!"
Sambil menarik napas panjang, Mas Yoga menyerahkan benda pipih itu ke tanganku. Aku pun bergegas membuka bagian w******p untuk melihat riwayat percakapannya. Dan entah ini kebetulan atau takdir, aku melihat pesan masuk dari pria bernama Agung. Tanpa pikir panjang lagi, aku membuka dan membaca pesan itu.
"Mas, kamu...." lirihku dengan mata terbelalak lebar.