Tidak Bisa Mengelak Lagi

1169 Words
Karena gelisah memikirkan apa yang akan terjadi, aku bangun pagi-pagi sekali. Melihat Ibu dan Zidan masih terlelap, aku turun dengan gerakan sangat pelan dari tempat tidur. Aku harus memasak makanan dulu untuk mereka. Ini adalah persiapan yang wajib kulakukan sebelum pergi. Apalagi aku tidak bisa memprediksi berapa lama aku akan meninggalkan rumah. Bisa satu jam, dua jam atau bahkan lebih. Semua itu tergantung pada fakta apa yang nanti akan terkuak. Aku hanya berharap semoga rahasia yang disembunyikan Mas Yoga tidak akan terlalu menyakitkan hatiku. Tatkala hendak menuju dapur, Mas Yoga masih mendengkur pelan di sofa. Bisa-bisanya kamu tertidur tanpa merasa berdosa sama sekali, Mas, batinku pedih. Apa sedikitpun kamu tidak bisa merasakan penderitaanku? Ah, sudahlah, percuma saja aku berharap dia akan menjadi suami yang pengertian. Aku pun meneruskan langkahku menuju dapur. Segera aku mencuci beras, mengambil sayuran dan daging ayam yang ada di kulkas. Tanganku bergerak lincah mencuci semua bahan masakan itu kemudian meraciknya. Aku akan membuat sup ayam sederhana dan tahu goreng kesukaan ibuku. Sambil memasak, aku juga merebus air panas untuk minum s**u Zidan. Jujur, dulu aku tidak pandai bila menyangkut urusan dapur. Namun setelah menikah dengan Mas Yoga aku berlatih sebisa mungkin agar bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri. Masih asyik memasak, aku mendengar langkah kaki yang mendekatiku. "Rista, ini baru setengah enam pagi, ngapain kamu masak? Gara-gara kamu berisik aku jadi terbangun," ketus Mas Yoga sambil menggosok pelupuk matanya. Aku tidak menjawab namun rongga dadaku berdenyut nyeri. Setahuku seorang suami akan memuji istrinya yang rela bangun pagi demi menyiapkan makanan untuk keluarga. Namun yang terjadi pada diriku justru sebaliknya. Aku dimarahi oleh suamiku sendiri karena memasak. Nampaknya apapun yang kulakukan selalu salah di matanya. "Daripada ngomel lebih baik Mas mandi. Nanti jam delapan kita langsung ke bank. Katanya jam satu siang Mas harus balik ke kantor," balasku datar. "Kamu kenapa sih ngotot ikut aku ke bank? Aku bisa kok mengurus semuanya sendiri," ucapnya berusaha mengelak. "Ingat, Mas, kita sudah sepakat kemarin. Aku tetap akan ikut walaupun Mas melarangku," jawabku bersikukuh. Mas Yoga mendengus kasar lalu berjalan melewatiku ke kamar mandi. Rumah tangga macam apa ini? Bahkan di pagi hari pun kami sudah bersitegang karena hal sepele. Memang sudah tak ada kedamaian lagi yang terasa di dalam pernikahan kami. Aku mencuci semua peralatan dapur yang sudah selesai digunakan lalu menyajikan hasil masakanku di atas meja ruang tamu. Ya karena di rumah petak tidak ada ruang makan, terpaksa kami makan di ruang tamu. Tepat saat itu, Ibu dan Zidan sudah bangun. Aku lantas melakukan rutinitas pagi seperti biasa. Memandikan Zidan, menyuapinya lalu setelah itu memberinya obat dari dokter. Sepanjang sarapan pagi, Mas Yoga tidak bicara. Matanya lebih banyak menatap layar gawai, sedangkan jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu. Ia tidak menganggap keberadaanku, Ibu maupun Zidan. Ingin sekali kutegur kelakuannya itu. Namun demi menjaga harga dirinya sebagai suami di depan Ibu, aku tidak melakukannya. Aku akan menegurnya di kala kami berdua saja. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan. Aku mengambil tas selempang kecil milikku dari kamar lalu menghampiri Ibu. Dia sedang duduk menemani Zidan bermain pesawat dari plastik. Sementara Mas Yoga berdiri di ambang pintu seraya menerima telpon. "Bu, aku berangkat sekarang ya," pamitku seraya mencium punggung tangan Ibu. Aku mengambil kesempatan selagi Zidan sibuk dengan mainannya. "Hati-hati, Arista, selidiki semuanya sampai tuntas. Jangan biarkan Yoga terus membohongimu." Aku memberi anggukan kecil sebagai jawaban. Buru-buru aku berlalu sebelum Zidan melihatku keluar. "Mas, ayo," tuturku menyentuh lengannya. Mas Yoga yang masih menelpon lantas berjalan ke arah motornya. Sambil menyalakan mesin motor, ia masih serius bercakap tentang pekerjaan. Harus kuakui bahwa Mas Yoga sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. Namun yang membuatku heran mengapa ia tidak kunjung mendapat kenaikan gaji. "Wid, aku ke bank dulu. Nanti kutelpon lagi," ucap Mas Yoga mengakhiri panggilan tersebut. Tanpa disuruh, aku naik ke atas motor lalu melingkarkan tanganku di pinggang Mas Yoga. Anehnya, meski sedekat ini aku tak merasakan getaran apapun di antara kami. Semuanya hambar seolah ada suatu dinding pembatas yang memisahkan aku dan Mas Yoga. Mas Yoga pun memakai helm lalu tancap gas untuk menuju ke tempat tujuan kami. Dalam perjalanan, jantungku berdebar tak karuan. Entah mengapa firasat buruk mendadak melingkupiku. Dalam hati aku memanjatkan doa. Oh, Tuhan, tolonglah hamba-Mu agar kuat menerima kenyataan sepahit apapun. Siap atau tidak siap, aku harus menguak tabir kebohongan yang ditutupi Mas Yoga selama ini. Berpura-pura tenang, aku berjalan beriringan dengan Mas Yoga memasuki gedung megah berlantai dua itu. Tak kusangka bank sudah cukup ramai walaupun masih pagi. Security yang bertugas di depan pintu menyapa kami dengan ramah. "Selamat pagi, Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?" "Saya mau ke customer service, Pak," jawab Mas Yoga. Security itu bergegas menekan tombol bulat pada mesin di sampingnya untuk mengeluarkan nomer antrian. "Silakan tunggu di dalam, Pak," ucapnya menyerahkan kertas kecil berwarna putih. Kulihat Mas Yoga mendapat nomer antrian dua puluh satu. Sedangkan yang dipanggil saat ini masih nomer sebelas. Artinya kami masih harus menunggu sepuluh orang lagi. Kami pun duduk bersebelahan untuk menunggu giliran. Aku membunuh waktu dengan cara mengunggah katalog baju di toko online. Ketika mendapati tiga pesan masuk dari calon pembeli, semangatku langsung bangkit. Ternyata ada juga yang berminat pada barang jualanku. Perkembangan kecil ini saja cukup menghiburku di tengah kegundahan. Sama halnya denganku, Mas Yoga tenggelam dalam urusannya sendiri. Namun bisa kudengar hembusan napas beratnya beberapa kali. Kedua alisnya juga melengkung ke atas, menandakan ia tengah berpikir keras. "Mas, kenapa?" tanyaku. "Punya staf manja semua. Ditinggal sebentar sudah banyak masalah." Mas Yoga lantas melihat nomer antrian yang tertera di layar. "Sebaiknya kita pulang saja. Urusanku di kantor masih banyak dan aku harus menanganinya sendiri." "Tanggung, Mas, hanya menunggu empat lagi. ATM itu sangat kita butuhkan. Kalau ATM Mas dibiarkan terblokir terus, bagaimana kalau kita butuh uang nanti? Apalagi Mas juga tidak mau daftar internet banking," ucapku beralasan. "Kapan-kapan saja aku daftar." Aku mengernyitkan dahi, merasa heran dengan jawabannya. "Kita sudah di bank, daftar saja sekarang, Mas. Jangan ditunda." "Ccckkk," decap Mas Yoga terdengar kesal dengan permintaanku. Percakapan kami terhenti sampai disitu saja. Kami pun kembali pada gawai masing-masing hingga suara panggilan bergema di ruangan. "Nomer antrian dua puluh satu, silakan ke customer service dua." Telapak tanganku langsung berkeringat mendengar panggilan itu. Jadi sudah tiba saatnya aku akan mengetahui yang sebenarnya. Aku bergegas bangkit untuk menuju ke customer service. Dari ekor mataku kulihat ekspresi wajah Mas Yoga. Ia sengaja berjalan lambat sambil membasahi bibir bawahnya. "Ayo, Mas!" ajakku menarik tangannya menuju customer service. Wanita muda dengan rambut yang tersanggul rapi lantas menyambut kami. "Selamat pagi, Pak, apa yang bisa saya bantu?" "ATM saya terblokir." "Sekalian suami saya mau print buku tabungannya dan daftar internet banking, Mbak," timpalku tiba-tiba. Aku sengaja melakukan ini supaya Mas Yoga tidak bisa mengelak lagi. Raut cemas tergambar jelas di wajah Mas Yoga, namun ia tidak menyangkal ucapanku. "Baik, Bapak, silakan isi formulir dulu. Dan saya pinjam KTP Bapak," ucap sang customer service menyerahkan beberapa lembar kertas. Detik-detik yang menegangkan telah tiba. Aku duduk di samping Mas Yoga sambil menantikan ia selesai mengisi data diri. Aku yakin kebenaran sebentar lagi akan terungkap di depan mataku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD