Selesai membereskan dapur, aku melihat Mas Yoga sedang sibuk dengan laptop dan gawainya di ruang tamu. Sesekali kudengar dia berdecap seperti kesal akan sesuatu. Tak ingin menambah masalah, kuputuskan untuk berlalu ke kamar.
Ibu sudah tertidur pulas di samping Zidan. Aku yakin Ibu sedang memendam kemarahan karena aku tidak berhasil membuat Mas Yoga mengakui perbuatannya. Karena itu ia lebih memilih tidur daripada melihat wajahku.
Aku beringsut naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Jangan sampai aku menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu kenyamanan tidur Zidan dan Ibu. Kuambil satu bantal yang tersisa lalu kutepuk perlahan supaya terasa lebih nyaman. Setelah merebahkan diri, aku menghadap ke dinding seraya memejamkan mata. Tubuhku ingin sekali beristirahat namun pikiranku terus berkelana. Nampaknya fisik dan mentalku saling bertentangan satu sama lain.
Kuubah posisi tidurku dengan menghadap pada putra kecilku. Cukup lama aku bertahan dalam posisi itu, tapi tetap saja aku tidak dapat terlelap. Yang kubutuhkan saat ini adalah udara segar dan dingin untuk menjernihkan pikiranku yang kusut. Dengan demikian, aku baru bisa mengistirahatkan diri.
Akhirnya kuturunkan satu per satu kakiku dari tempat tidur. Sengaja aku tidak memakai alas kaki supaya bisa bersentuhan langsung dengan ubin. Berharap rasa dinginnya akan menjalar dari ujung kaki hingga ke seluruh tubuhku yang terasa panas.
Kubuka pintu kamar lalu kututup kembali pelan-pelan. Tindakanku ini nyaris tidak menimbulkan suara. Begitu keluar dari kamar, yang kulihat pertama kali adalah ruang tamu. Selama Ibu masih menginap disini, ruang tamu selalu dipergunakan Mas Yoga sebagai tempatnya tidur di malam hari. Namun kenapa ruangan ini sunyi dan kosong? Bahkan televisi pun tidak dinyalakan. Lalu dimanakah Mas Yoga berada?
Didorong rasa penasaran, aku berjalan sambil mengedarkan pandang ke seluruh sudut ruangan. Mas Yoga memang tidak ada. Pencarianku terhenti tatkala samar kudengar Mas Yoga sedang berbicara dengan seseorang.
Saat kusibak tirai jendela, barulah kutemukan keberadaan Mas Yoga. Ternyata dia berdiri di teras depan sambil memegang ponsel. Dari gerakan bibirnya, sudah jelas dia sedang bercakap serius dengan seseorang. Dan anehnya dia memilih teras sebagai tempatnya mengobrol.
Kecurigaanku kian bertambah melihat gerak-gerik Mas Yoga. Aku pun menempelkan daun telingaku di kaca jendela. Aku yakin bisa mendengar suara Mas Yoga karena suasana sekitar sudah sepi.
"Iya, Dian, bulan depan Abang akan mengirimkan uang lima juta. Kamu bisa pilih sendiri laptop mana yang paling cocok untuk mengerjakan tugas kuliahmu."
Uang lima juta dan laptop? Apa aku tidak salah dengar? Jelas-jelas Mas Yoga mengatakan dia tidak punya uang sama sekali, bahkan ia tidak mau mencicil hutang kepada Ibu. Lalu mengapa dia berani menjanjikan uang lima juta kepada Dian, adiknya? Apakah selama ini Mas Yoga telah berbohong mengenai keterlambatan gajinya dan kartu ATMnya yang hilang?
Memikirkan segala kemungkinan itu membuatku meradang. Tidak, kali ini aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus meminta penjelasan Mas Yoga sekarang juga.
Spontan Mas Yoga tersentak kaget saat aku membuka pintu. Kulihat bibirnya memucat. Ekspresinya sama seperti orang yang tengah kepergok mencuri sesuatu.
"Dian, sudah ya, Abang ngantuk. Kalau ada perlu, w******p aja," tutur Mas Yoga menutup obrolannya dengan sang adik. Tangannya menekan tombol merah di layar untuk menghentikan panggilan itu.
"Arista, kenapa kamu belum tidur?" Terlihat Mas Yoga kikuk menghadapiku sehingga hanya melemparkan pertanyaan basa-basi.
"Aku tidak bisa tidur. Ayo masuk, Mas, ada yang ingin kutanyakan," balasku dingin.
Dengan langkah lebar, aku mendahuluinya masuk ke dalam rumah. Mas Yoga mengikutiku dari belakang. Aku menunggunya mengunci pintu rumah sebelum menanyakan tentang permintaan adik perempuannya.
"Mas, kenapa Dian menelpon malam-malam begini? Dan kenapa Mas menerima telponnya di teras bukan di dalam rumah?" tanyaku berusaha tetap tenang.
Mas Yoga mendengus kasar, pertanda ia tidak suka dengan pertanyaanku.
"Dian itu sibuk kuliah. Waktu senggangnya cuma di malam hari, makanya dia menelponku. Dan aku keluar supaya dapat sinyal. Di dalam sinyalnya putus-putus."
"Aku dengar tadi Mas akan mentransfer uang lima juta untuk Dian. Buat apa Mas? Kita sendiri serba kekurangan dan punya hutang sama Ibu. Apa Mas lupa semua itu?"
Mas Yoga berkacak pinggang sambil melayangkan tatapan tajam kepadaku.
"Aku belum pikun, Arista. Dian butuh laptop untuk kuliahnya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa membelikannya? Jangan pernah melarangku untuk menolong adikku sendiri. Kepentingan Dian jauh lebih mendesak daripada bayar hutang ke Ibu. Ibumu itu tabungannya masih banyak," jawab Mas Yoga tanpa rasa bersalah.
Mataku memerah mendengar alasannya. Ternyata dia tidak peduli dengan kondisi ibu mertuanya yang sudah tua. Bahkan tidak ada rasa sungkan sama sekali. Yang dipikirkan Mas Yoga hanyalah adiknya, keluarganya sendiri. Padahal sebelum kami menikah, dia pernah berjanji untuk menyayangi ibuku layaknya orang tua sendiri.
"Lalu Mas dapat uang sebanyak itu dari mana? Kemarin saja Mas cuci tangan terhadap biaya rumah sakit Zidan?" tanyaku getir.
"Jangan membesar-besarkan masalah, Arista. Itu urusanku, kamu tidak usah ikut campur. Lagipula aku baru akan mengusahakannya bulan depan."
Aku bersedekap sambil balas menatap Mas Yoga. Aku tidak boleh gentar padanya lagi. Bila aku terus mengalah, maka aku akan diperlakukan tidak adil.
"Baik, lakukan saja apa yang Mas anggap benar. Tapi aku minta besok pagi Mas izin setengah hari. Urus ATM Mas yang hilang ke kantor polisi dan ke bank. Aku akan menemani Mas," tegasku menantangnya.
Raut wajah Mas Yoga berubah seketika. Secara refleks, ia menyentuh telinganya sendiri dengan tangan kanan sambil membasahi bibir. Ini adalah kebiasaan Mas Yoga setiap kali dia merasa gugup.
"Begini, Rista. ATMku ternyata tidak hilang, tapi keselip di buku agenda yang aku simpan di meja kantor. Aku baru menemukannya siang tadi," jawab Mas Yoga.
"Lalu mana ATM itu Mas? Biar aku yang menyimpannya di rumah."
"Ada di dompetku. Percuma kamu menyimpannya karena ATM itu tidak bisa dipakai."
Aku mengerutkan dahi karena meragukan ucapan Mas Yoga.
"Memangnya kenapa lagi, Mas?"
"Aku lupa pinnya sampai tiga kali jadi keblokir," tutur Mas Yoga menghindari tatapanku.
"Jadi ATM Mas keselip lalu sekarang terblokir karena salah pin?"
"Iya, memang begitu kenyataannya," jawab Mas mengedikkan bahu. Rupanya dia masih menganggapku wanita lugu yang mudah ditipu dengan alasan konyol.
Meskipun jengkel, aku berpura-pura mempercayai perkataannya. Aku harus bersikap cerdik demi bisa membongkar kebohongan suamiku.
"Kalau begitu kita langsung ke bank saja, tidak perlu ke kantor polisi."
"Aku saja yang ke bank. Kalau kamu ikut, siapa yang akan mengurus Zidan? Dia pasti rewel," cegah Mas Yoga. Dia menggunakan alasan Zidan supaya aku bersedia membatalkan niatku.
"Mas tidak perlu khawatir. Besok aku akan minta tolong Ibu untuk menjaga Zidan sampai urusan kita selesai," balasku membuat Mas Yoga tidak berkutik.