“Bagaimana Sa, apa keputusan kamu sekarang? Tinggalkan dia atau hidup menderita dengan orang yang tidak tahu asal usulnya.”
“Apa maksud Pakde, dia itu suamiku!”
“Apa suami kamu bilang, yang model begini kamu sebut dia suami, lihat Bu keponakanmu ini sudah nggak waras!”
“Apa yang kamu lihat dari dia, lemah, miskin, bahkan bekerja berat saja dia tidak mampu, masih mengandalkan tenagamu!”
“Kamu perhatikan baik-baik dari suamimu yang tidak berguna ini dari ujung kaki sampai rambut tidak ada yang di banggakan, berpakaian lusuh memang cocok buat dirimu Sulthan!”
“Bapak kamu salah memberi nama dia Sulthan, seharusnya pecundang itu nama yang cocok untuk suamimu!”
“Pakde, Salsa mohon!”
“Kamu menjadi pengemis sekarang, harta kamu sudah bersama Pakdhe, karena Amin itu tidak percaya sama kamu busa-bisa barat bapak kamu malah kamu ke suamimu yang berpakaian lusuh ini!”
“Nggak punya harga diri sama sekali kamu, dan kamu Sulthan yang bukan anak Sultan tinggalkan Sasa, ceraikan dia, saya tahu sengaja menikah dengan Salsa agar semua warisan itu kamu yang ambil, iya kan?”
“Dasar Amin , segera keluar dari sini, ingat Salsa begitu kamu menginjak keluar dari rumah ini jangan harap kamu bisa kembali dari sini!”
“Mas, kita pergi dari sini!”
“Aku nggak mau lama-lama berada di sini.”
“Kalian boleh saja mengambil harta warisan Bapak, tetapi ingat satu hal saya akan kembali untuk mengambilnya dan kalian harus bersiap-siap untuk itu!” hardik Sulthan yang berbicara.
“Hei kamu, sudah berani mengancam saya? Wah hebat nyali mu sudah ada ternyata, kamu itu hanya tubuh saya yang kekar tetapi fisik lemah seperti perempuan klemer-klemer, lebih baik kamu pakai rok saja kalau begitu,” ledek Doni tersenyum sinis.
Kedua matanya memerah, tangannya mengepal kuat, napasnya pun memburu, ingin sekali merobek mulut Doni, tetapi sentuhan lembut tangan Salsa membuatnya terdiam.
“Mas, sudah kendalikan emosimu, kamu yang akan rugi sendiri dan ingat kondisimu belum seratus persen baik, tidak perlu meladeni mereka yang tidak waras,” celetuknya.
“Yayaya ... betul anggap saja kami nggak waras Salsa dan ingat jangan sekalipun meminta bantuan dari kami, nggak sudi aku, cuih .... Pakdhe Tejo meludah dan menghina mereka habis-habisan.
Salsa dan Sulthan akhirnya pergi dari rumah itu hanya dengan membawa satu koper saja. Mereka tidak dibolehkan untuk membawa semua pakaian mereka.
Pakaian mereka pun di bakar habis menyisakan abu yang beterbangan ke sana kemari.
“Sayang, maafkan Mas, belum bisa membahagiakan kamu, tetapi Mas janji akan berusaha menghidupi kamu, sebagai amanah dari Bapak untuk selalu menjagamu, tolong beri Mas waktu untuk memperbaiki keadaan kita,” ucap Sulthan merasa bersalah.
“Mas, kamu itu suamiku, Imamku, aku tidak akan meninggalkan kamu, harta masih bisa di cari asalkan kita kerja keras, tetapi kebahagiaan akan sulit di dapat jika kita tidak merasa bahagia dalam hati.
“Semua butuh proses Mas, tidak ada yang instan, aku juga sudah mengikhlaskan semuanya, tidak perlu di sesali, lebih baik kita jalan lagi siapa tahu kontrakan yang murah, aku masih ada uang sedikit,” ucap Salsa tersenyum kecut.
Mereka pun berjalan pelan sambil mencari kontrakan yang murah tetapi tidak ada satu pun yang mau menampung mereka karena sudah di ancam oleh beberapa preman untuk tidak mengizinkan mereka tinggal.
“Apakah Mas capek, kita istirahat saja kalau begitu, nanti kalau Mas sudah agak mendingan kita lanjut lagi,” usul Salsa memapah tubuh besar Sulthan.
“Maafkan Mas ya Sayang, betul kata Pakdhemu kalau Mas ini nggak berguna sama sekali, setiap bergerak sedikit tubuh Mas terasa capek dan kepala pusing, Mas tidak tahu kenapa,” ucapnya yang merasa bersalah.
“Kita istirahat di sana saja Mas, nggak apa-apa, lagian cuacanya hari ini sangat panas pasti Mas kepanasan. “
“Mas, aku beli air dulu ya di sana ada warung, tunggu sebentar.” Salsa langsung pergi menghampiri warung kecil itu untuk sekedar membeli air kemasan dan beberapa roti untuk pengganjal perut mereka.
“Loh, Mbak Salsa kan?” tanya pemilik warung itu kaget.
“I—iya saya Salsa Bu, maaf kok Ibu tahu nama saya?” tanyanya penasaran.
“Ya kenal toh, saya dulu pernah bekerja di rumah Juragan Amin, tetapi karena ibu saya juga sedang sakit waktu lama, ya saya berhenti dan Juragan Amin tetap membayar pengobatan dan memberikan modal untuk bisa buka warung ini.”
“Oh ya nama saya Ibu Narsih.”
“Loh di mana suamimu, Sa?” tanya Bu Narsih penasaran.
“Mas Sulthan kepalanya pusing Bu, jadi dia beristirahat di sana,” jawabnya malu-malu.
Wanita paruh baya itu keluar memperhatikan Sultan sekilas.
“Kok, kalian bawa tas, mau ke mana?”
“Kami di usir sama Pakdhe Tejo, makanya kami mau mencari tempat tinggal yang dekat dari sini di mana ya Bu, yang murah gitu?”
“Kok bisa, bukannya bapak kamu Juragan toh?”
“Sudah di ambil sama Pakdhe Tejo, nggak tahu juga bagaimana dia bisa mendapatkan tanda tangan Bapak, jadi semua harta warisan itu Pakdhe Tejo yang pegang, Salsa nggak mau cari ribut saja, kasihan Mas Sulthan,” jelas Salsa.
“Ya sudah kalian tinggal sama Ibu saja, bagaimana?”
“Maaf Bu tidak usah, Salsa tidak mau merepotkan Ibu lagian jika Pakdhe Tejo tahu kalau Ibu membantu saya kalian akan mendapat masalah, dan Salsa tidak mau itu sampai terjadi, biar kami mencari sendiri saja “
“Kamu mau mencari di mana, Sa?”
“Sebentar lagi mau magrib dan kalian nggak tempat untuk berteduh?”
“Maaf Bu, bukannya menolak rezeki dengan bantuan Ibu, tetapi mata-mata Pakdhe Tejo pasti sudah mengikuti kami dan dia akan memberitahukan kepada Pakdhe Tejo siapa saja yang sudah menolong Salsa, jadi lebih tidak usah Bu, terima kasih.”
“Sebentar, kamu tunggu sini dulu.”
Wanita paruh baya itu lalu mengambil beberapa roti, air mineral dan sejumlah uang untuk diberikan kepada Salsa secara diam-diam dan sebuah alamat rumah kontrakan yang Bu Narsih tahu.
“Sa, ambil ini,” ucap Bu Narsih sembari memberikan satu bungkus plastik hitam kepada Salsa.
“Apa ini Bu?”
“Ini hanya beberapa camilan untuk kamu dan ini alamat ruah kontrakan yang paling murah dan satu lagi ini ada uang tetapi nggak banyak tetapi cukup untuk kamu bertahan hidup selama dua bulan, mudah-mudahan kalian bisa melewatinya.
“Terima kasih Bu, kalau begitu Salsa pergi dulu, kasihan Mas Sultan sudah lama menunggu,” jawabnya tersenyum bahagia.
Salsa lalu berlari dan menghampiri suaminya, buru-buru memberikan air mineral itu.
“Bagaimana, Mas? Sudah mendingan?” tanya Salsa yang masih tampak khawatir.
“Sudah nggak apa-apa, terima kasih ya Sayang.” Salsa tersenyum dan mengangguk.
“Oh ya kamu banyak sekali beli camilannya?”
“Oh nggak Mas, ini semua di kasih sama ibu pemilik warung itu, sebenarnya kita di suruh menginap di rumahnya tetapi aku tolak, karena pasti anak buah Pakdhe sudah membuntuti kita dan aku nggak mau cari masalah Mas,” jelas Salsa pelan.
“Kamu benar, juga kalau begitu kita jalan lagi yuk takut kemalaman susah cari kontrakan.”
Namun, saat berdiri tubuh Sulthan sedikit limbung membuat Salsa lebih khawatir.
“Mas, nggak usah di paksakan jalan, nanti saja sepertinya Mas belum kuat jalan,” usul Salsa.
“Nggak apa-apa sudah kuat kok,” sanggahnya cepat dan mengulas senyum.
Mereka pun kembali jalan perlahan-lahan tetapi kepalanya bertambah pusing dan seketika ... brukk!” Tubuh kekar itu akhirnya tumbang membuat Salsa semakin panik.