Biaya Rumah Sakit

1239 Words
“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” “Bapak tidak apa-apa Bu, hanya saja dia kecapean dan mungkin karena mungkin di memaksa untuk mengingat masa lalunya sehingga otaknya tidak bisa mengoptimalkan secara sempurna.” “Sebentar lagi dia akan sadar dan ingat kasih tahu Bapak untuk tidak memaksa mengingat masa lalunya karena itu saja akan memperlambat kesembuhan dirinya.” “Kalau begitu saya permisi dulu.” “Baik Dok, terima kasih.” “Maaf Bu segera ke bagian administrasi untuk pembayaran uang muka, melihat kondisi suami Ibu, beliau harus di rawat untuk beberapa hari ke depan dan dokter bisa memantau perkembangan pasien.” “Baik Sus, saya akan ke sana sebentar, terima kasih. “Baik Bu, permisi.” Suster itu telah pergi bersamaan dengan hati yang bingung untuk membayar rumah sakit. Salsa menatap sendu suaminya yang masih terbaring, lalu mengecup kening suaminya. “Mas, aku tinggal sebentar ya,” ucapnya berbisik di telinga suaminya. Salsa lalu mengambil tasnya untuk mengambil uang dari dompetnya dan amplop putih yang tadi diberikan Bu Narsih untuk bisa membayar biaya rumah sakit. Salsa membuka dompetnya dan uang di dalamnya sudah tidak begitu juga dengan amplop putih itu saat dia buka uangnya pun sudah tidak ada. Dia mencari cincin kawin mereka semuanya raib, bahkan ponselnya pun di dalam tas sudah tidak ada. Salsa terduduk lemas di lantai, dia bingung untuk membayar rumah sakit, dia kembali mengingat-ingat saat suaminya pingsan di tengah jalan dan Salsa meminta bantuan, mereka berkerumun dan sekilas melihat anak buah Pakdhe Tejo ikut berpura-pura mau menolong. “Pasti mereka yang mengambil semuanya, keterlaluan sekali dan sekarang bagaimana ini Ya Allah?” Tanpa terasa bulir-bulur air mata sudah menggenangi kedua matanya yang seperti mata panda. “Tidak-tidak, bukan saatnya aku menangis, bukan waktunya menyerah, aku harus mencari uang untuk biaya rumah sakit Mas Sulthan,”ucapnya pelan. Salsa bangkit dan langsung memberanikan diri pergi ke sana. Dengan langkah berdebar dia sudah tahu akan biaya ruangan sakit yang besar, entah apa yang harus dilakukan olehnya, mencari uang di mana yang cepat kecuali ke rumah Pakde Tejo. “Apa yang harus aku lakukan ya Allah?” tanyanya dalam hati. Langkahnya terhenti saat dia sadar dan membaca tulisan diatas. Bagian Pembayaran. Sedikit yang mengantre sehingga Salsa langsung menemui petugas administrasi itu. “Selamat pagi, Mbak.” “Selamat pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu dengan ramah. “Maaf Mbak saya mau tanya dulu biaya rumah sakit atas Nama Sulthan, suami saya. “Maaf Bu, Pak Sulthan siapa ya Bu, ada nama panjangnya ?” “Maaf Mbak tidak ada, suami saya masuk umum di ruangan anyelir nomor 28." “Sebentar ya Bu, agak susah Bu cari datanya jika tidak ada nama belakangnya, tetapi tunggu ya Bu.” “Baik Mbak, terima kasih. “Ini dengan Ibu Salsa Sasmitha Raharjo?” “Ya Mbak itu nama saya.” “Oke, sebentar ya Bu.” “Baik, total biaya untuk sampai hari ini sudah mencapai lima juta lima ratus ribu rupiah, dan sepertinya ibu belum ada memberikan uang deposito untuk biaya pengobatan.” “Kalau bisa hari ini ibu bisa mencicilnya sebagian dan sisanya bisa dibayarkan pada saat Pak Sulthan pulang.” “Baik, Mbak terima kasih, saya ambil uangnya dulu, permisi,” jawabnya dengan lesu. “Baik, saya tunggu secepatnya ya, Bu." “Iya Mbak, permisi.” “Ya Allah uang segitu, aku harus cari ke mana, tidak ada yang bisa aku jual, hanya ... ucapannya menggantung saat mengingat sebuah kalung emas yang tertinggal di rumah itu. “Ah, kenapa sampai lupa perhiasanku? Tidak mungkin aku kembali ke rumah itu, tetapi... “Bruuk!” Salsa menabrak seseorang dan terjatuh “Augh ...huh sakit,” Salsa berusaha untuk bangkit ingin meminta maaf dengan orang itu. Tangan itu mengulurkan bantuan, tanpa dia sadari dia menerima uluran tangan itu dan berdiri. “Tangan yang cantik,” ucap orang itu dan mendengus ke tangan Salsa, seketika dia baru sadar dan segera menarik tangannya. “Juragan?” “Kenapa kamu kaget seperti itu? Dan jangan panggil saya juragan, rasanya sangat tua sekali, saya ini masih muda baru tiga puluh tiga tahun, panggil saja saya Mas Saiful,” ucapnya tersenyum. “Saya dengar suami kamu itu masuk rumah sakit dan terlihat banget dari wajah kamu sangat membutuhkan kehangatan oh maaf maksudnya uang untuk biaya rumah sakit kan?” goda Juragan Saiful tersenyum. “Maaf bukan urusan kamu, Juragan!” “Oh ya, pasti kamu mau ke rumah Pak Tua itu Sutejo, Pakde yang angkuh itu?” “Ayolah Salsa, buat apa kamu ke sana, nggak bakalan dia akan memberikan uang atau perhiasan kamu.” “Dari mana kamu tahu kalau perhiasanku ada sama dia?” tanyanya kesal. “Saiful tersenyum lalu mengeluarkan salah satu perhiasan yang melingkar di lehernya, sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf S. “Apakah ini yang kamu maksud, Sayang?” Seketika wajah Salsa memerah, kalung yang dipakai Saiful adalah miliknya yang dibuat khusus oleh Pak Amin. “Kenapa kalung itu ada sama Juragan?” “Ayolah Salsa, kamu sepertinya tidak tahu siapa aku, bahkan aku bisa membeli semua yang aku mau termasuk kalung ini bahkan dirimu sekalipun.” “Aku yang meminta semua perhiasan kamu untuk dijual keaku, sebelum aku mendapatkan kamu, berarti perhiasan ini yang akan menemaniku ke mana saja.” “Dan yang aku tahu kalau kalung ini sangat berharga bagi kamu kan, Sayang?” “Kamu jangan meminta lebih dari mereka, karena baru saja Pakdemu itu menjual salah satu warung nasinya dengan aku.” “Kamu tahu kan kalau Doni selalu kalah kalau bermain taruhan, pria itu terlalu naif dan dia kalah jadinya aku meminta warung nasi itu.” “Lama-kelamaan usaha yang dirintis oleh pak Amin dulu akan berpindah tangan ke Juragan Saiful Adji Sudarmaji.” “Kamu tidak ingin itu terjadi kan, mereka sangat b*d** mudah sekali di tipu.” Saiful sangat bangga akan dirinya sendiri. “Kamu sangat keterlaluan , apa yang kamu inginkan?” teriaknya. “Kamu bertanya apa yang aku inginkan?” tanya balik dengan tersenyum licik. Merasa tertantang dengan pertanyaan Salsa , Saiful menarik paksa sampai ke lorong rumah sakit yang jarang dilalui oleh banyak orang, dia lalu membekap mulut Salsa dengan tangan besarnya. Salsa tak bisa menghindar dan melawan dari tubuh besar dan berotot itu. Setelah berhasil, dia mengunci kedua tangan Salsa hanya dengan satu tangan Saiful. “Sangat sempurna, saat kamu ketakutan seperti ini dan terdengar napasmu memburu semakin membuatku jatuh cinta Salsa. “Aku sudah lama menginginkan dirimu, cintamu, bahkan tubuh ini yang sangat menggoda, walaupun kamu berpakaian tertutup seperti ini tetap saja bagiku kamu tetap membuatku terpesona. “Hatiku terbakar emosi, cemburu, saat Sulthan yang menjadi suamimu.” “Lepaskan!” “Bahkan suaramu sangat seksi dan kamu itu cintaku, Salsa!” “Kamu itu sudah punya empat istri, Juragan!” teriaknya histeris. Saiful kembali membekap mulut Salsa karena berteriak, hanya tetesan air mata yang mengalir dan berusaha lari dari pelukan Saiful. “Kamu benar aku sudah menikah dengan mereka, tetapi tidak ada satu pun yang membuatku jatuh cinta, aku hanya ingin melampiaskan kebutuhan biologisku, tetapi cinta sebenarnya hanya untukmu Salsa!” “Dia sudah mengambil semuanya dariku, dan kamu sangat mencintainya bukan? Pasti kamu mau menyelamatkan suamimu yang nggak waras itu kan?” “Baiklah, akan aku berikan uangnya untuk kamu tetapi dengan satu syarat dariku!” bentaknya. “Apa syaratnya, Juragan?” tanya Salsa sedikit secercah harapan, tetapi wajah Saiful tersenyum kemenangan saat mendengar ucapan Salsa yang begitu pasrah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD