“Siapa kamu dan di mana istriku, di mana dia?” Sulthan ingin bangun tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak mungkin karena terlalu berbaring sehingga semua tubuhnya menjadi kaku.
“Kamu jangan banyak bergerak wanita yang bersamamu juga ada di sini, dia juga sedang di rawat.”
“Kamu sudah dua hari tak sadarkan diri dan sekarang kamu sudah kembali, kamu ingat aku kan, sahabatmu?” tanya orang itu yang bernama Satria.
“Sat-Satria, tidak aku tidak mengenalmu, siapa kamu?” tanyanya bingung.
“Kamu Sulthan.”
“Ya namaku Sulthan, mertuaku yang memberikan nama itu dan di mana istriku aku tidak melihatnya tolong antarkan aku ke dia, aku tidak mau berpisah dengannya,” protes Sulthan mengiba.
“Tenang Sulthan, tenang kamu akan bertemu dengannya tetapi kamu betul tidak mengingat siapa dirimu?” tanya ulang Satria.
“Tidak siapa aku?”
“Mertuamu memang benar memberikan nama itu Sulthan, karena itu memang namamu Sulthan Ardi Pratama kamu adalah cucu dari Kakek Baskoro Adji Pratama.” Satria menatap lekat wajah sahabatnya.
“Bagaimana kamu yakin jika aku cucu orang itu?”
“Aku menemukanmu di dasar sungai, saat itu anak buahku melihat ada dua orang tergeletak, mungkin terbawa oleh batang pohon besar yang menyangga tubuh kalian. Aku sangat mengenal wajahmu walau banyak luka dan yang membuat aku semakin yakin adalah ketika aku melihat tanda lahir di bahumu sebelah kiri tanda yang sama dengan Sulthan sahabatku.”
“Selamat pagi,” sapa dokter muda itu masuk ke ruang perawatan.
“Pagi Dok,” sahut Satria bersemangat.
“Bagaimana Sulthan apakah kamu ingat sesuatu?”
“Apakah dia kehilangan ingatan, dia tidak tahu siapa aku?”
“Sulthan sepertinya kehilangan sebagian memorinya dia hanya mengingat yang baru saja terjadi, apakah sebelumnya kamu pernah masuk rumah sakit?” tanya dokter itu.
“Ya, kata istriku aku ditemukan oleh bapaknya di tepi sungai dengan luka seperti ini, makanya setiap aku ingin mengingat masa laluku berakhir dengan sakit kepala yang menyakitkan dan setelah tak sadarkan diri, tetapi kadang ingatan itu ingin kembali muncul seperti bereaksi sendiri dan ujung-ujungnya kepala langsung pusing,” jelas Sulthan dengan pelan.
“Kamu tenang saja Sulthan kami akan membantumu mengingat semuanya tetapi memang harus bertahap kita sembuhkan lukamu ini setelah itu kita akan mulai dengan terapi, pokoknya kamu tenang saja selama saya yang menjadi dokter kamu, tidak ada yang akan mencelakai kamu.”
“Apakah kamu menghubungi Kakek Baskoro?” tanya Rizwan dokter itu.
“Sudah, mungkin beliau sudah menuju kemari, sebentar aku cek di luar.”
“Siapa dia?”
“Beliau adalah kakek kamu setelah orang tuamu meninggal beliau lah yang merawat kamu selama ini sebelum kamu kecelakaan.”
“Maksud Dokter?”
“Malam itu kamu baru pulang dari tempat kerja bersama Satria dan tiba-tiba saja ada yang memukul kalian. Satria babak belur dan di larikan ke rumah sakit sedangkan kamu hilang tanpa jejak, tidak ada rekaman CCTV di jalan itu sehingga sangat sulit menemukan jejak kamu, ponselmu di temukan di tempat kejadian dan tidak ada yang mencurigakan."
“Mereka seperti orang berpengalaman sampai polisi saja tidak bisa menemukan kamu. Entah siapa yang ingin melenyapkan kamu.”
“Satria berusaha keras untuk mengingat semua kejadian setelah dia siuman, tetapi memang mereka tidak meninggalkan jejak apa pun sangat rapi dan lihai.”
“Semenjak kamu hilang Satria yang mengendalikan perusahaan kamu, tetapi Om kamu yang bernama Dirga selalu berbuat ulah, sering terjadi yang tidak wajar oleh Satria tetapi dia masih tetap bertahan.”
“Beberapa haru yang lalu ada yang berusaha menikamnya untung saja dia melawan dan terkena di bahunya, setalah itu dia mengincar Kakekmu, tetapi Satria terus berusaha untuk melindunginya “
“Kami belum tahu siapa pelakunya , tetapi pasti orang itu ingin balas dendam atau ingin mengambil harta warisan kamu.”
“Satria sudah melindungi Kakekmu, sekarang kamu sudah kembali kamu bisa menaklukkan mereka, saya yakin mereka hanya orang dalam yang sangat tahu tentang kehidupan kamu.”
“Apakah separah itu?” tanya Sulthan masih ragu.”
“Sulthan, kamu harus menemukan siapa orang itu dan satu lagi yang harus kamu tahu kematian papa kamu karena kecelakaan itu adalah rekayasa.”
“Mereka telah memberikan obat tidur saat beliau mengendarai mobilnya sehingga terjadi kecelakaan itu, tetapi kami belum bisa mengetahuinya sampai sekarang tidak ada bukti dan itu menyulitkan pihak polisi.”
“Seperti yang saya bilang kalau orang yang melakukan ini sangat lihai, kami pernah mencurigai om Dirga tetapi semua tuduhannya tidak beralasan karena setiap ada kejadian itu dia selalu ada bisa menghindar bahkan pernah Kakekmu menyewa seorang detektif untuk mematainya tetapi hasilnya juga tidak ada tampak biasa saja.”
“Saya tidak tahu Dok, apa yang harus saya lakukan tetapi saya perlu tahu bagaimana keadaan istri saya, itu saja tolong bawa saya untuk menemuinya,” pintanya sedikit memaksa.
“Baik, kamu jangan khawatir dengan istri kamu dia baik-baik saja, tetapi ...
“Apa Dok, tetapi apa?”
“Apakah dia terluka lebih parah dari saya cepat katakan apa yang terjadi?”
“Lukanya memang tidak begitu parah tetapi cedera di tulang ekornya sedikit parah, kemungkinan dia akan lumpuh, tetapi kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membuatnya berjalan, ini hanya sementara asalkan rutin melakukan terapi agar otot-ototnya tidak kaku.” Penjelasan Dokter Rizwan membuatnya menangis.
“Tidak ... jangan beri cobaan untuk dia, biar saya saja yang menderita dia sudah banyak berkorban untuk saya, tidak jangan ambil istriku ya Tuhan!”
“Sulthan tenangkan dirimu, kamu kuat dan tabah, jika kamu sehat kamu bisa bertemu dengan istriku secepatnya, sekarang kamu belum bisa menemuinya karena dia masih pengaruh obat bius, kami segera menenangkan pikirannya dia sangat syok dan meronta-ronta mungkin peristiwa yang kalian hadapi membuatnya menjadi mimpi buruk sehingga terpaksa kami menenangkannya.”
“Setelah kamu sembuh, kamu bisa mendatangi istrimu kamu, saya pastikan dia aman bersama kami di sini, tidak ada orang jahat yang akan menyakiti kalian, Satria sudah mengirim anak buahnya untuk berjaga-jaga juga di rumah sakit,” jelas Dokter Rizwan menenangkan pikiran Sulthan.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka, dan bersama Satria orang itu masuk dan mengamati sosok yang baru saja di selamatkan oleh orang kepercayaannya itu.
Pria tua itu mendekat dan memperhatikan wajahnya, lalu memeluknya.
“Dia memang cucuku yang hilang, akhirnya kamu kembali Sulthan, Kakek rindu sama kamu, setelah ayah kamu meninggalkan kakek hanya kamu yang menjadi tumpuan harapan Kakek,” ucapnya dengan mata yang sembab.
“Satria kamu memang hebat, kamu memang kebanggaan Kakek, kamu benar kalau kamu bisa menemukan Sulthan dalam keadaan hidup.”
“Terima kasih Satria.”
“Hidupku untuk kalian sudah sepantasnya Satria mengabdi kepada kalian, karena Kakek sudah menolong Satria dari anak jalanan menjadi orang yang berguna seperti ini, justru Satria yang banyak berhutang budi sama Kakek.”
“Tidak Satria, dalam tolong menolong tidak ada kata balas budi karena Kakek tidak ingin kamu membalas jasa apa yang Kakek lakukan untukmu, tetapi hari ini Kakek bahagia sekali akhirnya keluarga kita berkumpul lagi.” Kakek Baskoro memeluk Satria dengan hangat, Satria terbawa emosional sehingga dia pun menitikkan air matanya. Karena belum ada yang begitu perhatian di dalam kehidupannya setelah Ini jika tidak di tolong oleh Kakek Baskoro saat dia berumur sepuluh tahun.
“Bagaimana keadaan cucu saya Rizwan?”
“Sulthan sekarang dalam keadaan baik-baik saja hanya luka luar yang perlu diobati, luka bakar tidak terlalu serius, hanya dia masih kehilangan ingatan sampai saat ini.”
“Adakah dia bersama orang lain?”
“Ada Kek seorang wanita saat Satria menemukan mereka.”
“Baik, rawat dia sebaik mungkin dan beri dia uang yang cukup setelah dia sembuh,” sahut Kakek Baskoro dengan tegas.
“A—apa maksud Kakek?”
“Ya setelah kamu sembuh kita akan pulang ke rumah dan wanita itu harus kembali ke keluarganya kan, katakan di mana keluarganya biar Kakek kasih hadiah karena sudah menolong cucu Kakek, itu kan yang kamu inginkan?” tanya Kakek Baskoro menatap tajam ke arahnya.