Cemburu

1883 Words

Menjadi mahasiswa adalah impianku sejak dulu. Karena selama kehidupanku menjadi mahasiswa, aku menemukan kebebasan dalam setiap langkahku. Tidak ada lagi larangan atau pun kekangan dari kedua orang tuaku, terutama ayahku yang super duper posesif—Sean.


Aku menyukai kehidupanku saat ini, sebuah kebebasan tanpa adanya halangan. Semuanya sangat menyenangkan, sebelum kemudian ... dia datang kembali.


Reyan.


Ah, aku sangat benci menyebut namanya.


“Alisa.” Sapaan itu membuat lamunanku pecah berserakan. Aku lantas menoleh, menatap tajam pada sosok Abel yang rasanya sudah hampir satu abad lebih aku berteman dengannya.


Abel dan aku memang mengambil jurusan yang sama, karena itu suka duka yang kami lalui pun hampir serupa.


“Jadi gimana?” tanya Abel dengan raut wajah antusiasnya.


“Apanya yang ‘gimana?” Bingungku, menatapnya dengan kerutan kening yang tampil sangat jelas.


“Halah mau akting pura-pura enggak tahu ya lo?” ujar Abel. “Udah enggak usah akting segala, gue udah hafal sama sifat lo, Sa. Buruan ceritain gimana pertemuan lo sama Kak Reyan kemarin, eh maksudnya Pak Reyan,” desaknya.


Mendengar Abel berceloteh tanpa menyaring perkataannya, aku dengan gemas memukul pelan mulut Abel saat ia sudah berhenti berbicara.


“Lo bisa enggak sih ngomongnya pelan dikit?” kesalku, menatap Abel dengan helaan napas berat. “Orang lain bisa salah paham nanti,” imbuhku.


Seperti biasa, cengiran khas senyum kudanil pun tampil di wajah Abel.


“Maaf, gue terlalu euforia kawan,” ujarnya.


Sekali lagi aku menghela napas dengan berat, lalu menatap sekitar, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar perkataan Abel tadi.


“Nanti gue ceritain,” kataku kemudian.


“Kok nanti sih, gue maunya sekarang,” desak Abel.


“Sekarang lagi di kelas, Abel. Nanti kalau ada orang lain yang denger, mereka bisa salah paham. Gue enggak mau jadi bahan gosip di kampus,” ujarku, bersuara pelan.


“Ck, terpaksa harus sabar lagi gue,” dumel Abel.


“Banyak sabar enggak bakal bikin lo mati juga,” komentarku


Abel mencebik mendengarnya.


***


Sebuah motor yang terlihat memasuki area kampus membuat beberapa mahasiswi yang melihatnya tampak ternganga lebar, apalagi saat si pengendara motor besar itu membuka helmnya, para mahasiswi semakin dibuat terpesona dengan rupa dosen primadona itu.


“Ya ampun, itu Pak Reyan, sumpah kalau aja dia enggak ngajar mata kuliah psikologi komunikasi, gue pasti bakal ngira kalau dia itu salah satu mahasiswa di kampus kita,” komentar salah satu mahasiswi yang berdiri tak jauh dari sosok Reyan saat ini.


“Dia bukannya anaknya Pak Alan?” bisik salah satu mahasiswi lain.


“Iya, dia anaknya Pak Alan yang terkenal galak itu.”


“Tapi Pak Alan tuh sebenernya juga ganteng loh, cocok buat dijadiin sugar daddy, sayang beliau galak banget, gue aja pindah jurusan gara-gara semester satu ketemu sama beliau dan bener-bener enggak sanggup berurusan sama bapak satu itu,” keluhnya.


“Kalian itu seorang mahasiswa, apakah menggosipkan dosen sendiri adalah suatu etika yang baik?” celetuk seseorang dari belakang dua gadis yang tengah bergosip tadi.


Kedua gadis itu tersentak kaget saat tahu kalau yang berbicara pada mereka adalah Pak Alan yang kini tengah menatap keduanya dengan tatapan elang, siap menerkam mereka hidup-hidup.


“Ma-maaf, Pak,” ujar mereka, lalu berlari terbirit-birit menjauh dari sosok dosen yang terkenal galak itu.


Pak Alan yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Kemudian, pandangannya tertuju pada putranya yang sudah berjalan masuk ke dalam gedung fakultas Ilmu Sosial dan Politik.


“Punya anak cowok emang agak susah, ya. Apalagi harus dimirip-miripin sama itu bocah. Padahal udah jelas banget kalau aku lebih ganteng dari dia, kata Reya sih begitu,” komentar Pak Alan sembari tersenyum penuh percaya diri.


***


“Sa, ke kantin yuk, gue lagi pengen makan—”


“Enggak bisa,” potongku sembari memasukkan beberapa perlengkapan kuliahku ke dalam tas, lalu aku bangkit dari kursi kelas. “Gue mau ngadep Pak Yamin,” terangku, membuat Abel mengernyit penuh tanya.


“Ngapain lo mau ngadep Pak Yamin?”


“Gue ‘kan waktu itu pernah absen mata kuliah dia, dan kemarin dia bilang ke gue kalau nilai gue bakal bermasalah, makanya gue terpaksa ngadep dia buat minta toleransi,” paparku dengan raut kesal.


Abel terkekeh usai mendengar penjelasanku barusan. “Ouh, kalau ‘gitu semangat ya, kawanku,” katanya, sangat menjengkelkan.


Aku mencebik menatap teman karibku itu. “Awas lo, ya,” ancamku, bersungut kesal.


“Lo mau ke ruangannya Pak Yamin ya, Sa?” sahut seseorang, membuatku dan Abel langsung menoleh ke arahnya.


Farel, dia pria tampan dan seorang mantan ketua BEM di kampus ini. Dia juga merupakan mahasiswa kesayangan para dosen. Dia cerdas dan sangat pandai dalam hal public speaking. Satu lagi yang sangat menonjol dari dirinya, dia adalah anak sultan. Bisa dibilang—dia lahir dengan sendok emas di mulutnya.


“Iya,” jawabku. “Kenapa? Lo juga bermasalah sama Pak Yamin?” celetukku.


“Ya ampun, Lisa. Seorang Farel mana mungkin punya masalah sama dosen,” cakap Abel.


“Ya ... ‘kan siapa tahu Farel khilaf, lagian manusia itu enggak ada yang sempurna, pasti pernah lakuin kesalahan,” ujarku.


Farel tiba-tiba tertawa ringan, membuatku menatapnya heran. “Gue cuma mau ngumpul artikel yang Pak Yamin minta, jadi gue pikir kalau emang lo mau ke ruangannya Pak Yamin, bareng aja sekalian,” cakap Farel.


“Nah, bareng aja sama Farel, Sa. Kalau lo dateng sama dia, siapa tahu Farel yang punya privilege ini bisa bantu lo,” ucap Abel.


Aku diam memikirkan usul Abel barusan. Bener juga sih yang Abel bilang, pasalnya Farel itu benar-benar sangat spesial di mata para dosen, terlebih lagi Pak Yamin yang sering sekali memanfaatkan kepintaran Farel untuk membantu menyelesaikan tugas akhir pendidikan S3-nya.


“Oke deh,” ucapku.


Farel tampak mengurai senyumnya lebar saat aku setuju dengan ajakannya tadi.


***


“Selamat pagi, Pak,” sapa para mahasiswa dan mahasiswi yang tak sengaja berpapasan dengan sosok Reyan.


Reyan pun dengan senyum ramahnya membalas sapaan mereka satu per satu. Sungguh sikap yang berbanding terbalik dengan ayahnya—Pak Alan. Pantas saja selama Reyan bekerja sebagai dosen di kampus ini, banyak sekali yang membandingkan dirinya dengan sang ayah. Bahkan sampai terkadang ayahnya itu tampak kesal dan mendebatkan masalah ini di rumah.


“Pak Reyan,” sambut seorang mahasiswi, ia tiba-tiba berdiri di depan Reyan, seperti sudah menunggu Reyan sejak tadi.


“Iya, ada apa?” tanya Reyan, menatap mahasiswinya itu dengan raut ramah.


“I-ini untuk Pak Reyan,” katanya sembari menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang pada dosennya itu.


“Apa ini?” Reyan kembali bertanya sembari menerima kotak itu dengan kening berkerut heran.


“I-itu kue buatan saya sendiri, semoga Pak Reyan suka. Permisi,” ujar mahasiswi itu, yang kemudian langsung berlari kencang dari hadapan Reyan.


Reyan mengernyit heran, ia menggaruk keningnya sembari menatap sebuah kotak yang diberikan oleh mahasiswi tadi.


Kemudian, Reyan membuka pintu ruangannya. Namun, saat baru saja ingin masuk, ia tanpa sengaja mendengar suara dari seorang perempuan yang sudah beberapa tahun ini singgah di hatinya.


Reyan pun sontak mencari di mana sumber suara itu berasal. Dan benar saja, dia melihat Alisa tampak masuk ke dalam ruangan Pak Yamin bersama seorang pria yang terlihat—Reyan benci mengakui ini—tapi kenyataannya pria yang masuk ke ruangan Pak Yamin bersama Alisa itu memang terlihat tampan.


***


Beberapa saat setelah aku dan Farel berada dalam ruangan Pak Yamin, kami akhirnya keluar dengan helaan napas lega.


“Bapak tua sialan, ngeselin banget sih jadi dosen. Kalau aja tadi lo enggak bantu gue, gue pasti udah gila mikirin tugas yang dia suruh,” celotehku, mengutarakan kekesalan yang merasuk ke dalam hati.


Farel tertawa renyah mendengar celotehanku barusan.


“Kamu kalau lagi kesel gemesin banget, ya,” komentar Farel sembari mencubit pipiku gemas, diiringi dengan tawanya yang benar-benar terlihat memesona. Aku bahkan sampai terdiam menatap keelokan wajah rupawannya itu.


“Kamu?” lirihku, saat baru sadar kalau Farel memanggilku dengan sebutan ‘kamu’ alih-alih ‘lo’.


Tawa Farel pun reda, berganti dengan senyumnya yang terurai ke arahku.


“Aku pengen lebih deket sama kamu, Sa,” ujarnya tiba-tiba.


“Kita ‘kan emang udah deket,” kataku.


“Lebih dari sekedar teman.”


“Ha? Maksudnya?”


“Aku suka sama kamu, Sa. Dari semester satu aku deketin kamu, tapi kamu sama sekali enggak respons dan justru malah anggep aku cuma sebatas temen. Tapi sekarang, aku pikir udah saatnya aku ungkapin perasaan aku ini ke kamu,” urai Farel, yang seketika itu membuatku membeku dalam kebingungan.


Aku harus menjawab apa?


“Alisa.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar tegas memanggil namaku.


Suara itu ....


“Datang ke ruangan saya sekarang juga,” suruh si pemilik suara itu—Kak Reyan, ah lebih tepatnya Pak Reyan, karena sekarang dia adalah dosenku.


“Gu-gue ke ruangannya Pak Reyan dulu, ya. Daa, Farel,” pamitku, dengan segera berlari masuk ke dalam ruangan Pak Reyan, memanfaatkan kesempatan emas itu untuk kabur dari Farel yang entah bagaimana bisa mengungkapkan perasaannya padaku secara mendadak.


Sesampainya di dalam ruangan Pak Reyan, aku mengembuskan napas sesaat, lalu menatap sosok Pak Reyan yang tampak menatapku dengan sorot tajamnya.


Ini kenapa lagi pria satu ini? Tatapannya udah mirip banget kayak burung hantu begitu.


Ya ampun, kalau kayak gini sama aja aku keluar dari kandang macan terus masuk ke kandang harimau.


“Ada apa Bapak panggil saya?” tanyaku, tak berani menatap pada sosok pria yang tengah berdiri di dekat meja kerjanya itu.


“Kamu itu ke kampus tujuannya cari ilmu atau cari pacar?” tanya Pak Reyan, suaranya terdengar sangat dingin dan tegas.


Aku mendongak, menatap dosen satu itu dengan kening berkerut bingung.


“Maksud Pak Reyan?”


“Kalau Om Sean tahu kamu sibuk pacaran di kampus, kira-kira reaksi dia seperti apa?” ujar Pak Reyan.


Aku membeliak mendengar perkataannya yang terdengar seperti sebuah ancaman itu.


“Siapa yang pacaran? Saya enggak pacaran?” tampikku, tak mau dituduh sembarangan, apalagi sampai dia mau melaporkanku pada Daddy.


“Jangan bohong, jelas-jelas tadi kamu sama laki-laki itu—”


“Sebenernya Pak Reyan maunya apa sih? Tujuan Pak Reyan panggil saya itu apa?” tukasku, tanpa sadar berbicara ketus pada dosenku sendiri.


“Mau saya?” cakap Pak Reyan. Pria itu kemudian menatapku dengan tangan yang tampak bersedekap di depan dadanya. Sungguh terlihat sangat dominan, aku bahkan seketika itu merasa sangat kecil di depannya.


“Kamu dilarang dekat dengan laki-laki manapun,” timpalnya, membuat ingin tertawa miris mendengarnya.


“Emangnya Pak Reyan ayah saya? Pak Reyan enggak punya hak buat larang saya dekat dengan laki-laki manapun. Lagian suka-suka saya lah mau deket sama siapa aja,” tandasku.


“Kamu!”


“Kenapa? Pak Reyan enggak suka sama jawaban saya? Mau marah? Marah aja, saya enggak takut,” sungutku, padahal hatiku sudah ketar-ketir ketakutan.


Helaan napas berat terdengar dari diri Pak Reyan. Kemudian tangannya tampak bergerak menunjuk ke arah pintu ruangannya. “Keluar kamu dari ruangan saya,” suruhnya, tegas.


“Oke,” ucapku, dengan senang hati aku memutar balik tubuhku, dan bersiap melangkah mendekati pintu keluar.


Namun, tiba-tiba suara pria satu itu kembali terdengar. “Tunggu,” cegahnya.


“Apa lagi?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.


“Sudahlah, buruan pergi sana, kepalaku pusing lihat kamu,” kata Pak Reyan, yang sepertinya batal mengatakan sesuatu karena sikapku yang terlihat dingin padanya.


“Kepala saya juga pusing lihat Bapak,” balasku. Setelah itu langsung melangkah cepat keluar dari dalam ruangan tersebut, takut kalau Pak Reyan marah dengan perkataanku barusan.

quotes
Author's note
notes
Halo, yg minta sekuelnya DGIS, nih udah aku up. Tapi aku cuma up cerita ini di hari Senin sama Jumat ya, karena kalian lihat sendiri task cerita yg harus aku selesaiin banyk banget. Nanti kalo 2 ceritaku udh tamat, baru deh aku up ini tiap hari. Jangan lupa saran dan masukannya ya kawan.
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd