Pagi minggu,setelah merapikan dan membersihkan ruangan.Afila keluar untuk mencari udara sejuk di Teras Rumah.Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Mbak Chika,seorang Makeup artis yang di percaya untuk membuat penampilannya lebih cantik hari ini.
" Hei Afila apa kabar?" sapa perempuan itu ramah.
" Baik Mbak." jawabnya bersahabat.
" Jangan capek-capek nanti saat lamaran malah jatuh sakit."
Afila menyipitkan Matanya ke arah Chika," ngomong apa sih Mbak,gue enggak mau di salahin kalau Mama denger ini."
Perempuan itu tertawa." Mbak masuk dulu ya."
Afila mengangguk,mempersilahkan Chika meninggalkan dirinya sendirian.
Ada rasa senang,sedih dan gelisah yang bercampur aduk menjadi satu.Afila menarik Kursi Besi yang cukup berat,lalu mendudukinya.
Air Mancur di depan Rumah terlihat deras hingga menimbulkan percikan yang indah.
" Sudah lama kita enggak kumpul di sini," lirih Afila dengan tersenyum hambar." Sekedar mengerjakan tugas Sekolah ataupun menghabiskan waktu untuk melukis."
" Siapa?" Tutur Anisa yang sudah ikut duduk di samping Afila.
Gadis itu menoleh ke samping dan buru-buru menggeleng," bukan siapa-siapa Ma."
" Beneran?"
" Ia bener,ngapain bohongin juga sama Mama."
" Hidup ini tidak ada yang sempurna,terkadang malah lucu.Yang bukan di harapkan justru menjadi bagian hidup,Walaupun terdengarnya miris.Tapi itulah sebuah fakta yang ada Fil."
Afila sontak menoleh dengan bingung." Ma,"
" Enggak apa-apa kalau kamu ingin di simpen sendiri," balas Anisa tersenyum.
" Namanya Adit Ma,sejak Smp kita sudah dekat.Dia merupakan kakak kelas Fila,orangnya baik dan perhatian.Tapi sekarang entah dimana,sejak Tamat Sekolah dia ikut pindah Orangtuanya,tanpa kabar."
" Ooh namanya Adit,pacar kamu?"
" Bukan sih,kita cuma temenan."
Anisa membalas." Kalau hanya berteman mengapa kamu tidak mencoba untuk melupakan."
" Enggak mudah Ma,ibaratnya Batu yang di tetesi Air hujan ia akan Berlubang juga,tetapi butuh waktu.benerkan Ma? Mama enggak faham sih bagaimana kebaikan dia pada Afila."
" Dan mencintai Nanda juga tidak seburuk apa yang kamu fikirkan,kalau kamu menemukan Satu kebaikan pada Adit maka kamu akan menemukan Beribu kebaikan dari Nanda,menetaplah di sana."
Afila tertawa pelan,ia hanya memandang beberapa Kupu-Kupu yang berterbangan.Masih tidak percaya,
" Dari pada bengong,habisin waktu.Lebih baik kamu bersiap-siap untuk Acara Lamaran nanti." Perintah Anisa setelah cukup lama saling diam.
Langit Kota Pekanbaru cerah,tidak ada tanda sedikitpun akan hujan.Bahkan panas terik Matahari mulai menembus dasar Bumi.
" Afila masuk Ma." ujarnya pelan.
Anisa mengangguk dan tersenyum melihat tubuh Afila yang masuk ke dalam Rumah,bahagia Impiannya sebentar lagi akan terwujud.
Marry With My Senior
Ada kalimat yang sering di dengar : Sebenci apapun kalau Jodoh kamu tidak akan bisa lari.
Lamaran ini mirip seperti Dua keluarga besar yang menghabiskan waktu Akhir tahun untuk berkumpul,karena di acara sakral milik Nanda dan Afila hanya mengundang keluarga saja.
Perempuan yang mengenakan baju Putih keseluruhan di d******i hitam sedikit.
Terpaku lama pada sosok yang mengenakan warna baju senada,suasana bahagia terpancar dari wajah-wajah keluarga besar mereka.Berbalik dengan Afila,ia hanya merasakan kesenduan yang sulit di jelaskan.
Memang ia tersenyum tetapi semua itu hanya kepalsuan semata.Walaupun acara berlangsung dengan baik,tetap saja tidak membuat Afila bahagia.
Afila menyadari tatapan dari Nanda yang tidak teralihkan sedari tadi,entah mungkin sedang menilai atau apapun.
Hingga suara Alidan menyadarkan lamunannya.
" Selamat ya Afila,sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluarga besar Alidan Baskoro dan juga menjadi Istri dari anak om,Nanda Eko Putra."
Afila mengangguk dan berusaha untuk tetap tersenyum,walau ia sudah kehabisan Oksigen untuk terus tersenyum.Ia ingin segera melepaskan tangisnya sekarang juga,entah apa yang di sedihkan sebenarnya Afila pun tidak tahu.
" Adik," Afila langsung menoleh ke belakang ketika suara yang tidak asing terdengar di Gendang Telinga.
Ia tertawa bahagia melihat sosok Perempuan yang tidak kalah cantik dengan dirinya,yang selalu memanggilnya Adik di saat semua Orang lebih menyukai memanggilnya Nama saja.
" Kak Anin."
Anin mengangguk dan mendekat pada Afila yang masih duduk di Kursi Kehormatan,Ah berlebihan sih sebenarnya.
" Selamat dik untuk lamaran kamu hari ini,kakak janji akan menemani di sini hingga hari pernikahan kamu tiba."
" Beneran kak?" Afila memeluk Anin dengan erat.
" Kamu harus percaya dong dengan kakak sendiri,ngomong-ngomong mana calon suaminya? tunjukin." Anin menyentil hidung mancung Afila.
" Kenalkan saya Nanda Eko Putra,calon suami Adik kakak." Ujar cowok yang tadi sudah mencuri dengar perbincangan singkat Adik-beradik itu.
" Hai Nanda salam kenal.Saya Anin Inayah kakak dari Afila.Lebih tepatnya kakak angkat sih," cengiran malu dari Anin membuat Afila mencubit pinggang perempuan itu.
" Apaan sih dek,sakit." Omel Anin meringis.
" Siapa bilang kakak Angkat," jawab Afila ketus.
" Kamu besok kalau sudah menikahi dia hati-hati ya.Tangannya emang kecil tapi tajam." Anin menunjuk Tangan Afila pada Nanda.
" Boleh minta waktunya Fil,saya ingin bicara berdua dengan kamu." Pinta Nanda menatap Afila dengan tersenyum,suaranya begitu lembut.Tuhan selalu menghadirkan sesuatu Hal apapun tentang kelembutan,itu yang selalu Afila syukuri.
Tatapan penuh goda Afila dapatkan dari Anin,ia bersiap-siap untuk memberikan ruang untuk Dua Makhluk Tuhan yang sebentar lagi akan di persatukan dengan pernikahan.
" Kakak ketemu Mama ya,kalian ngobrol aja gapapa." Anin kembali terkekeh geli ketika matanya menangkap wajah Afila yang malu.
Afila menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menatap wajah Nanda yang di hadapan.
" Mau ngomong apa?"
" Saya lihat dari tadi kamu gelisah,ada apa?"
" Lo sedang perduli?"
Nanda mengangguk," bisa di bilang seperti itu."
" Untuk apa?"
" Emangnya salah? memang enggak boleh?"
Afila tertawa geli pada sosok cowok yang di sebelah.
" Kok ketawa?" Nanda mengangkat wajah,hingga mereka berdua saling bertatapan.
" Nanti saja naksirnya kalau sudah menikah."
" Siapa juga yang Naksir!" Afila menggeleng cepat,membuat cowok itu kembali tertawa.
" Kamu tahu enggak apa yang membuat cewek naksir kalau sedang menatap saya?"
" Ganteng?"
" Salah."
" Coba kamu perhatikan ketika saya tersenyum,pasti lesung pipi saya begitu menggoda." ujar Nanda menunjukkan senyumnya.
Awalnya Afila enggan,namun akhirnya ia memperhatikan juga senyum cowok itu.Bagaimana pun rasa penasaran mulai menyeruak dirinya.
Sekarang ia mengerti,ucapan Nanda sangat benar.saat ini Afila tengah terkesima pada manisnya lesung pipi tersebut.
" Gimana? kamu sudah naksir dengan saya?"
" Apaan sih! biasa aja juga." Elak Afila dengan wajah memerah.
" Tapi tatapan kamu seperti mengatakan ' apa yang dia omong benar sekali'," Nanda menaikkan Alisnya berulangkali.
" Emang," jawab Afila asal.
" Tuh kan,sebenarnya hati dan isi kepala kamu itu lembut,tapi ada sesuatu yang membuat kamu bertahan untuk tetep keras kepala."
Afila terdiam,sungguh ia terkejut dengan ucapan Nanda barusan.Di hari yang menurut keluarga adalah hari kebahagiaan untuk Afila,ia merasakan sesuatu yang belum pernah di rasakan.Seperti perasaan Abstrak,dimana sulit untuk percaya dengan rasa itu sendiri.
Apa yang sedang di rasa,Afila tidak mengerti.
" Kalau kamu naksir saya itu wajar Fil,secara cowok ganteng,pinter, osis most wanted pula.Yang aneh itu kamu enggak bisa naksir saya." Canda Nanda.
" Eh gue serius!"
Tawa renyah Nanda membuat Afila diam-diam mengukir senyum juga,entah mengapa ia senang hanya sekedar melihat saja.
Perempuan itu membuang muka ketika menyadari Nanda yang sudah melihat ke arahnya sedari tadi.
" Mau menghindar? saya sudah lihat lebih cepat." ejeknya.
Afila menelan ludah dan menjaga jarak dari Nanda,ia melihat sekeliling.Keluarga besarnya tengah sibuk dengan obrolan masing-masing.
" Enggak." balas Afila." Siapa juga yang menghindar."
" Oh ya?"
" Udah deh gue mau ganti baju,panas."
" Ia udah sana nanti bau.Jangan lupa parfumnya di banyakin,"
" Ih lo nyebelin banget sih!" Teriak Afila penuh penekanan.
" Ampun Fil," Nanda menunjukkan Dua Jarinya dengan senyuman khas dirinya.