Empat Mata

1136 Words
Sepanjang berjalan menuju ke ke Kelas Afila menunduk dan hanya sesekali menatap ke depan dengan tatapan kosong. kesal dan sedih,hati juga perasaannya sedang tidak baik setelah tadi pagi ribut dengan Mamanya kembali.Bahkan ia meninggalkan Anisa yang sedang mempersiapkan sarapan pagi. Menyesal dan rasa bersalah bersamaan datang dari hati Afila,namun kalau bukan saja ancaman dari Cowok yang bernama Nanda.Mana mungkin ia berani ambil resiko. " Ma,Afila nggak mau jadi istri Nanda.Titik," " Mama mau ngomong apa nanti kalau tiba-tiba di batalin," " Lagipula Mama tidak ada meminta pendapat pada Afila terlebih dahulu,setuju atau tidak." " Mama lakuin ini untuk kamu,masa depan kamu.Biar nanti enggak salah dalam pilih suami." " Mama tau nggak? Nanda itu sudah salah kalau dia bakal nemani hidup Afila,ngertiin dong Ma." " Ia mama ngerti sayang." " maka dari itu kalau ngerti mama harus batalkan pernikahan kita ya." " Nggak bisa Fil." " Karena Mama enggak ingin semua nya batalkan," Afila terlihat kesal dan berulangkali menghentakkan kaki di Lantai. " Pernikahan kamu sudah di rancang oleh om Alidan saat kalian masih Smp,bagaimana perasaanya jika Mama batalkan begitu saja.Pasti dia terluka dan kecewa," " Yang menjalani itu Afila Ma bukan Om Alidan." bantahnya untuk tetap pada pendirian awal,yaitu membatalkan pernikahan. " Tapi dia yang selalu ada di keluarga kita,Fil." " Kalau mama nggak bisa batalkan itu semua,Afila ikut papa." Gadis itu mengusap Airmata yang sudah jatuh ke Pipi,sadar ucapan itu sangat menyakiti hati Mamanya. Walau saat itu wanita yang selalu ada di hidupnya memeluk erat dan menenangkan tubuhnya yang sudah terisak-isak,tapi ia terluka. " Aduh." Suara yang menyadarkan Afila dari lamunan panjang,ia langsung buru-buru membereskan buku yang berserakan di lantai. " Kak ini bukunya,maaf saya nggak sengaja." ujar Afila merasa bersalah. " Terimakasih,saya juga minta maaf karena terburu-buru." Perempuan dengan rambut terurai sebahu itu tersenyum kecil pada Afila dan mengambil buku miliknya kemudian segera berlalu. " Hei,masih pagi udah ngelamun aja." suara Poppy sudah terdengar di telinga Afila langsung menoleh ke samping. " Gue kaget,bego." jawab Afila sinis,ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas. " Ada masalah atau gimana?" " Enggak juga,tumben lo cepet dateng." " Emang cuma lo aja yang boleh dateng tepat waktu." Afila tertawa pelan dan langsung memeluk sahabatnya. Poppy menatap bingung." Lo kenapa sih,sakit atau terkena gangguan Jiwa." " Ish mulut lo kurang ajar banget.Pop menurut lo gue gimana?" " Ya enggak gimana-gimana,Cantik dan juga Baik." " Gue tadi berantem dengan Mama lagi,kesel sama sikap mama yang Egois.Selalu memaksa keinginan nya sendiri," " Maksa apa? Nikah?" " Hah?kok lo ngomong gitu sih." jawab Afila kaget. " Ya terus apa dong selain nikah. Emang ada lagi?" " Ya banyak lah.Misalnya kapan kelar sekolah,kapan punya cowok atau kapan mau pergi liburan." " Enggak mungkin tante Anisa maksa seperti itu.di paksa dapat cowok ya?" " bukan itu," " Lalu apa? gue liat masalah lo berat banget kali ini.Cerita aja gapapa Fil,kalau itu nanti yang buat semua perasaan membaik." Afila meletakkan Tas di atas Meja dan duduk di Kursi miliknya dengan wajah lelah,namun tidak lama Airmatanya sudah jatuh kembali. " Lo kok nangis? ada apa." Poppy memegang bahu sahabatnya guna untuk menenangkan tangis yang sedari ingin di lepaskan. " Gue lelah ikut dalam kehidupan yang seperti ini." " Kehidupan seperti apa?" " Kehidupan orangtua gue,dari kecil sampe sekarang gue bener-bener kurang kasih sayang." " Kok lo ngomong gitu sih Fil,gue tau banget Mamanya lo wanita pertama yang mati-matian buat ngebahagiain kehidupan lo sekarang." Afila menggeleng pelan." Mama merasa gue adalah beban." " Seorang Ibu enggak akan pernah berfikir anak adalah bebannya Fil,apapun yang dia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan." " Tapi caranya salah kalau begini." " Gue enggak tau apa inti masalahnya,tapi di sini gue sebagai sahabat hanya ingin ngeliat lo baik-baik aja.Apalagi sampai menangis seperti ini," " Makasih banyak,sekarang cuma lo yang gue punya." " Udah jangan sedih terus,lo berhak bahagia Fil." Poppy menyemangati dengan menyodorkan sebungkus Roti yang di bawa dari rumah. Perempuan itu tertawa melihat apa yang di lakukan oleh poppy,sejenak melupakan semua beban hidupnya. Marry With My Senior " Afila,di minta ke Ruang Osis." kata Denis,salah satu Siswa kelas Dua Ipa. Remaja yang tengah Asik menikmati waktu Istirahat,menatap kesal pada teman sekelasnya itu. " Ish,ganggu banget sih Den." " Ya elah Fil jangan marah ke gue.Kak Nanda yang titip pesan barusan." Afila langsung mendongakkan kepala dengan sempurna." Siapa?" " Osis kita,menurut lo siapa." Denis segera keluar dari kelas tanpa perduli Afila yang masih ingin bertanya. "Itu Orang ngeselin banget." Keluh Afila. Ruangan yang berada di samping Koperasi Sekolah memang berjarak cukup jauh,memakan waktu hingga Lima menit.Dari Dua Puluh Menit waktu istirahat,hanya Tiga Menit Afila menikmati dengan baik. " Masuk." Ya,suara lembut itu membuat Afila melongokkan kepala nya dari Kaca kecil Pintu Osis. Hanya ada Nanda,dan tadi suara itu tidak salah dengar? " Sampai Jam masuk kamu ingin berdiri di situ?" Afila mengerucutkan Bibir dan membuka pintu tersebut. " Silahkan duduk." Cowok yang tengah sibuk dengan Laptopnya menjadi pemandangan Afila saat ini. " Lo emang enggak bisa sabar ya," Nanda segera beralih dari layar Laptop dan menatap gadis yang masih tetap berdiri,bahkan sudah mendekap tangan di d**a. " Maksud kamu?" " Gue bisa batalkan pernikahan itu,lo tenang aja.Enggak harus minta ke Ruangan ini juga buat bahas hal yang enggak penting." Seketika Nanda langsung mengerti,ia tersenyum simpul. " Mau minum apa?" tawar Nanda menunjukkan Dua botol minuman yang berbeda Merk.Ada Tea botol dan Air Mineral. " Enggak perlu basa-basi," " Saya minta maaf untuk ucapan Lalu yang menuduh bahwa pernikahan ini adalah bagian dari rencana kamu." Ujar Nanda pada sosok yang di hadapannya. " Santai saja." " Oh iya,kalau enggak salah kamu itu saat Mos pernah saya hukum untuk foto bareng kambing tapi kamu foto dengan Kambing beneran,itu kambing siapa?" kenang Nanda pada kejadian Satu Tahun lalu,tapi ia tidak pernah lupa." Padahal maksud saya kakak pembimbing." Afila mendengus kesal,pura-pura tidak mendengar ucapan Nanda barusan.Sampai kapanpun ia tidak akan bisa lupa kejadian memalukan itu,seumur hidupnya. " Saya waktu itu sampai tidak bisa tertawa lagi karena sebegitu lucunya sama kepolosan kamu." Cowok itu berusaha untuk tidak tertawa lepas. " Sialan." Afila memutarkan bola matanya,menatap jengah pada Nanda. " Oke,oke lupakan itu.Boleh minta Nomor handphone kamu?" Afila menatap Nanda ragu,bahkan alisnya sudah bertaut menjadi satu." buat?" " Kita akan saling membutuhkan menjelang hari pernikahan." " Hah? hari pernikahan?" " Saya sudah menyetujui untuk pernikahan kita Fil,maka dari itu saya mengajak bertemu Empat Mata.kamu tidak perlu lagi membatalkan semua rancangan tante Anisa,saya juga sudah sampaikan permohonan maaf karena kesalahfahaman itu. " Jawaban yang membuat Afila mati kutu,ia melongo menatap Nanda tidak percaya. " Tolong di catet ya nomor handphone nya." Cowok itu menyodorkan benda pipih berwarna Hitam ke arah Afila. Mau tidak mau ia mengambil handphone milik cowok itu,mencatat Dua Belas Digit nomor yang biasa ia gunakan untuk menghubungi Oranglain. " Terimakasih." Senyuman manis yang terang-terangan melihatkan lekukan lesung Pipi Nanda.Cowok itu meletakkan kembali handphonenya di saku baju seperti semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD