“Mbak… bangun, Mbak!”
Tok. Tok. Tok.
Kalinda sudah berdiri di depan pintu kamar Lintang sejak sepuluh menit yang lalu. Awalnya masih sabar. Masih pakai nada halus. Tapi semakin lama—ketukannya makin cepat, makin keras, makin membuat darah tinggi.
“Lintang!” kali ini tidak lagi pakai embel-embel “mbak”.
Walaupun begitu masih saja tak ada jawaban.
Kalinda memicingkan mata, menatap pintu itu seolah bisa menembus isi kamar dan segera menarik putrinya untuk bangun. “Ya Allah… punya anak perawan satu kok kebonya Masya Allah…” gerutunya, dan tangannya kini sudah berpindah ke pinggang. “Ini kalau bukan anak sendiri, sudah aku siram pakai air satu ember dari tadi!”
Tok! Tok! Tok!
Kalinda mengetok pintu itu lagi. Ketukannya berubah jadi gedoran kecil.
"Ya Allah Mbak. Apa gak pedes itu mata kamu buat merem terus?!” nada suaranya naik satu tingkat, penuh gereget yang ditahan-tahan.
Masih saja hening. Tak ada suara pergerakan sekalipun. Kalinda yakin jika putrinya saat ini semakin masuk ke dalam selimutnya. Kalinda menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar.
“Sampean mau jadi perawan tua kalau bangun siang-siang begini?” ocehnya mulai keluar tanpa rem. “Rejekinya dipatok ayam, jodohnya lari ke orang lain baru tahu rasa! Nanti kalau tetangga sudah gendong cucu semua, kamu masih gendong laptop, nangis di pojokan!”
“Lintang! Ini terakhir Ibun panggil baik-baik ya—” Ia berhenti sejenak… lalu— “Kalau nggak dibuka, Ibu dobrak!”
Baru saja Kalinda hendak benar-benar memutar kenop pintu— Sebuah tangan hangat menyentuh bahunya. Kalinda sedikit tersentak, menoleh cepat.
“Ibun… kenapa?” suara lembut Bramasta menyusul, tenang dan langsung membuat emosi Kalinda sedikit mereda.
Kalinda langsung menghela napas panjang, menunjuk pintu dengan ekspresi campur aduk antara kesal dan lelah.“Anak kamu ini, Mas… sudah angkat tangan aku,” adunya. “Sudah siang kok ngebo aja. Tadi malam entah jam berapa baru tidur. Ngetik-ngetik terus sampai pagi mungkin. Tapi ya nggak gini juga, Mas. Dipanggil nggak nyaut, pintu diketuk nggak dibuka!”
Ia melirik lagi ke pintu, geregetnya belum hilang. “Ini kalau bukan karena sayang, sudah Ibu buka pakai linggis, Mas.”
Bramasta terkekeh pelan, lalu mengelus kepala istrinya dengan lembut. “Ibun… sudah,” ucapnya menenangkan. “Ndak pareng marah-marah pagi hari, nanti cantiknya hilang.”
Kalinda mendengus kecil. “Cantik-cantik juga kalau anaknya bikin darah tinggi begini percuma, Mas.”
Bram hanya tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat ke pintu kamar Lintang.
"Ya sudah, Mas. Tolong ya, jangan dimanjakan terus, nanti makin melunjak itu anak."
Setelah Kalinda turun, suasana koridor lantai dua kembali sunyi. Bramasta tidak mengetuk dengan keras. Ia hanya memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang sedikit berantakan dengan tumpukan buku dan laptop yang masih tergeletak di atas meja balkon.
Bramasta duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah putri sulungnya yang masih terlelap. Ada lingkaran hitam tipis di bawah mata Lintang—tanda bahwa gadis ini benar-benar bekerja keras demi dunianya sendiri.
"Mbak... Bangun, Nak," panggil Bramasta, suaranya soft spoken banget, nyaris seperti bisikan tapi memiliki wibawa yang tak bisa diabaikan. Ia mengusap rambut Lintang dengan penuh kasih.
Lintang melenguh, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah teduh sang Ayah.
"Ayah... jam berapa?" suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Sudah jam delapan, Cah Ayu. Kasihan Ibun dari tadi sudah seperti alarm rusak di depan pintu," ucap Bramasta terkekeh kecil. "Ayo, bangun. Cuci muka, terus turun ke bawah ya? Kita sarapan bareng. Linggar sudah habis setengah piring itu."
Lintang menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Iya, Yah... Lintang mandi sebentar," gumam Lintang sambil berusaha duduk, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.
"Nggak usah buru-buru, tapi jangan tidur lagi. Ayah tunggu di meja makan, ya?" Bramasta bangkit, menepuk pelan puncak kepala Lintang sekali lagi sebelum melangkah keluar dengan tenang.
----
Tak butuh waktu lama bagi Lintang untuk mengubah dirinya dari putri tidur menjadi gadis segar yang wangi sabun. Ia turun ke lantai bawah dengan langkah ringan, mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek yang nyaman. Rambutnya diikat kuda tinggi, menyisakan beberapa anak rambut di pelipis.
Begitu kakinya menginjak lantai ruang makan, radar jahilnya langsung menangkap sasaran empuk. Linggar sedang duduk serius, mulutnya penuh dengan nasi goreng buatan Ibun, pipinya yang gembul bergerak naik turun dengan ritme yang lucu.
Hup!
Tanpa aba-aba, Lintang membungkuk dan mencubit kedua pipi Linggar dengan gemas. "Aduh, bantal berjalan Mbak ini kalau makan kok semangat banget, sih!"
"Mbak Lintaaaang! Sakit tauuu!" pekik Linggar dengan suara sengau karena mulutnya masih penuh. Sendoknya hampir saja terlepas kalau tidak ditahan oleh Bramasta.
Meja makan yang tadinya tenang pun langsung pecah menjadi arena keributan kecil.
"Ya Allah Gusti! Mbok yo anteng, Mbak! Isuk-isuk ojok garai mumet, Lintang!" Kalinda berseru dari arah dapur sambil membawa teko berisi teh hangat. Ia menggelengkan kepala, melihat putrinya yang sudah besar tapi kelakuannya masih seperti anak SMP.
"Hehe, maaf Ibun. Habisnya Linggar gemesin banget pagi ini," Lintang buru-buru menggeser kursinya, merapat ke sisi Ayahnya agar terhindar dari jangkauan cubitan maut sang Ibu.
"Mbak, sudah... jangan ganggu adiknya makan. Kasihan itu, nasinya sampai mau tumpah," tegur Bramasta lembut, meskipun matanya berkilat jenaka melihat interaksi kedua anaknya.
"Iya, Ayah," sahut Lintang patuh, tapi matanya tetap mengerling jail ke arah sang adik.
Linggar yang merasa menang karena dibela Ayahnya, langsung menjulurkan lidah ke arah Lintang dengan bangga, seolah berkata, 'Wlee, Mbak Lintang kalah!'
Lintang tertawa kecil sambil mulai menyendok nasi goreng ke piringnya. Ia menyadari sesuatu yang berbeda pagi ini. "Loh, Dek? Kamu kok nggak sekolah? Memangnya hari ini tanggal merah?"
"Bukan, Mbak. Kita mau ke Malang hari ini," Kalinda yang menjawab sambil duduk di samping suaminya. "Kakung Iqbal kemarin telepon, katanya kangen sama cucu-cucunya. Beliau juga baru panen mangga di kebun belakang."
"Ke rumah Kakung?" Lintang menghentikan kunyahannya. "Hari ini banget?"
"Iya, mumpung Ayahmu ada libur dua hari. Rencananya kita menginap semalam di sana," tambah Kalinda.
Bramasta menatap putri sulungnya dengan pandangan mengajak. "Mbak mau ikut? Biar sekalian cari inspirasi di Malang. Di sana udaranya dingin, siapa tahu naskahmu makin lancar kalau ngetik di teras rumah Kakung."
Lintang terdiam sejenak. Godaan udara dingin Malang memang menarik, tapi bayangan tumpukan revisi dan "gangguan" dari pembaca setianya membuatnya harus berpikir dua kali. Apalagi, ia masih merasa canggung kalau harus berlama-lama jauh dari laptop besarnya di kamar.
"Kayaknya Lintang absen dulu deh, Yah. Naskah Lintang lagi masuk bab krusial, takutnya kalau di sana malah asyik main sama Kakung terus kerjaannya nggak selesai," tolak Lintang halus.
"Yakin nggak mau ikut? Ada sambal tumpang kesukaanmu lho di sana," goda Kalinda.
Lintang meringis, godaan perut itu memang berat. "Titip bungkus aja ya, Bun. Lintang mau fokus 'bertapa' dulu di rumah. Lagian, kasihan rumah kalau ditinggal kosong semua."
"Ya sudah kalau memang mau di rumah saja. Tapi kuncinya jangan sampai lupa, gerbang dikunci terus kalau malam," pesan Bramasta dengan nada protektif.
Lintang mengangguk mantap. Dalam hatinya, ia merasa sedikit lega bisa punya waktu sendirian di rumah. Tapi kemudian, ia teringat pada balkon sebelah. Kalau keluarganya pergi ke Malang, berarti ia akan sendirian di rumah ini... bertetangga dengan si "Mas Bule" yang misterius itu.
Tiba-tiba, rasa tenang yang ia bayangkan berubah menjadi desiran aneh di dadanya. 'Sendirian di rumah, tetanggaan sama kulkas dua pintu itu... aman nggak ya jantungku?' batinnya was-was.