11

1426 Words
Lintang berdiri di depan pagar, tangannya menyilang di d**a sambil sesekali melambai pada Linggar yang sudah duduk manis di car seat belakang. Matahari pagi Surabaya mulai terasa menggigit kulit, namun suasana di depan rumah keluarga Aryadinata mendadak jadi lebih "panas" saat sebuah siluet tinggi muncul dari tikungan blok. Dewa berjalan santai dengan napas yang sedikit teratur, sisa-sisa lari paginya. Ia mengenakan celana pendek olahraga hitam dan kaos putih yang—sialnya bagi mata Lintang—mencetak dengan jelas lekukan tubuh tegap dan d**a bidangnya. Keringat tipis yang membasahi pelipis dan kaosnya membuat aura pria itu berkali-kali lipat lebih maskulin daripada saat ia mengenakan kemeja kaku. "Mas Buleee!" Linggar berteriak ceria dari balik jendela mobil yang terbuka setengah, melambaikan tangan kecilnya dengan semangat. Dewa menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang. Ia mengatur napas sejenak sebelum menunduk sopan. "Linggar. Om," sapanya dengan suara bariton yang masih sedikit serak karena ia yang sedikit mengatur napas. Lintang yang berdiri di samping pilar pagar hanya mendengus pelan, membuang muka ke arah pohon mangga milik tetangga seberang. 'Cih, gaya banget lari pagi pakai kaos putih gitu. Sengaja pamer otot apa gimana?' batinnya julit. "Habis lari, Wa?" tanya Bramasta ramah sambil mengecek tekanan ban mobilnya. "Iya, Om. Muter komplek saja tadi, cari keringat," jawab Dewa sopan. Matanya sempat melirik sekilas ke arah Lintang yang masih asyik menatap pohon mangga, namun ia segera kembali fokus pada Bramasta. "Mau ke mana, Om? Rapi sekali." "Mau ke Malang ini, Wa. Ke rumah ayah mertua, sudah kangen katanya sama cucunya," jawab Bramasta. Tepat saat itu, Kalinda keluar dari pintu utama sambil menjinjing dua tas kain besar berisi camilan dan bekal perjalanan. "Loh, Dewa! Pas banget kamu di situ," seru Kalinda dengan wajah sumringah. Dewa sedikit membungkuk. "Pagi, Tante." "Dewa, kamu dua hari ini sibuk nggak? Ada acara keluar kota atau gimana?" tanya Kalinda tanpa basa-basi, mengabaikan Lintang yang mulai merasa ada firasat tidak enak. Dewa terdiam sejenak, tampak berpikir. "Ndak, Tante. Kebetulan saya sedang nggak ada jadwal ke luar. Memangnya kenapa, Tante?" "Tante titip rumah sama Lintang ya, Wa? Tolong dijagain," ucap Kalinda enteng, seolah-olah ia baru saja menitipkan kucing peliharaan. "Ibun..." Bramasta langsung menegur lembut sambil menggelengkan kepala. Alisnya bertaut, menunjukkan ketidaksetujuan dan sepertinya tak perlu. "Mbak Lintang sudah dewasa, Bun. Masa dititipkan ke tetangga? Nggak enak sama Mas Dewa." Lintang apalagi. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri. "Ibun! Apa-apaan sih? Lintang bukan anak umur lima tahun yang harus dijagain!" Kalinda justru berkacak pinggang, menatap suami dan putrinya bergantian. "Apa sih, Yah? Nggak papa, kan? Cuma titip dipantau aja. Dewa kan tetangga paling dekat, pagarnya saja nempel. Namanya orang tua pergi itu ya was-was kalau anaknya sendirian di rumah besar begini." Kalinda beralih lagi ke Dewa dengan senyum manisnya. "Dewa, kalau malam tolong dilihat-lihat ya rumah Tante. Kalau ada apa-apa, atau kalau Lintang nggak keluar-keluar kamar sampai siang, tolong digedor saja pintunya. Anak ini kalau sudah ngetik suka lupa makan, lupa mandi, lupa semuanya." Dewa melirik Lintang yang wajahnya sudah merah padam—antara malu dan marah. Sudut bibir Dewa berkedut, menahan tawa yang hampir pecah melihat ekspresi "macan" Lintang yang kini berubah jadi "kucing kejepit". "Tante tenang saja," sahut Dewa dengan nada yang sengaja dibuat sedalam mungkin. "Saya akan pantau terus. Kalau Lintang... 'lupa dunia', saya sendiri yang akan pastikan dia kembali ke bumi." Lintang melotot. 'Heh, kalimat macam apa itu?!' "Nah, gitu dong! Makasih ya, Wa. Jadi tenang hati Ibun," Kalinda menepuk bahu Dewa dengan akrab. "Mbak, dengar itu. Jangan aneh-aneh di rumah sendirian. Kalau ada apa-apa, ketok tembok sebelah atau telepon Mas Dewa. Ibun sudah simpan nomor Dewa di HP kamu tadi malam pas kamu tidur." "Ibuuuuun!" jerit Lintang frustrasi. "Kenapa nggak sekalian dititipkan ke kantor polisi aja sih?!" Bramasta hanya bisa menghela napas pasrah melihat kelakuan istrinya. Ia mendekati Dewa, menjabat tangan pria itu. "Maaf ya, Wa. Ibun memang suka repot sendiri. Tapi saya titip putri saya ya, tolong dibantu kalau ada kesulitan apa-apa." Dewa mengangguk mantap, tatapannya kini mengunci mata Lintang dengan sorot yang penuh kemenangan sekaligus penuh misteri. "Siap, Om." Mobil pun mulai bergerak mundur. Linggar masih sibuk berteriak "Daaa Mas Bule! Daaa Mbak Lintang pelit!" dari dalam mobil. Lintang hanya bisa berdiri mematung di depan pagar, menatap mobil keluarganya yang perlahan menghilang di ujung blok. Kini, di depan pagar itu, hanya tersisa Lintang yang sedang emosi dan Dewa yang masih berdiri dengan kaos putih basah keringatnya. Suasana mendadak hening. Kecanggungan yang terjadi diantara mereka semakin pekat saja. "Ternyata statusmu naik, ya?" suara Dewa memecah kesunyian, nadanya terdengar sangat provokatif. Lintang menoleh dengan tatapan membunuh. "Status apa maksudmu?!" Dewa melangkah satu tindak mendekati pagar pembatas rumah mereka. "Dari sekadar 'tetangga berisik' menjadi 'tanggung jawab saya'." Wajah Lintang terasa terbakar. "Nggak perlu. Aku udah besar! Masuk sana! Mandi. Bau keringat!" Lintang berteriak sambil membanting pintu pagarnya dan lari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dewa yang akhirnya tertawa lepas—sebuah tawa yang sangat renyah, yang entah kenapa membuat hati Lintang makin berantakan. --- Dewa melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sejuk, namun hawa panas dari olahraga paginya masih terasa di permukaan kulit. Ia menyandarkan punggung di depan kulkas dua pintu yang besar, mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya dengan rakus. Air dingin itu mengalir melewati tenggorokan, sementara beberapa tetes air sisa keringat dan embun botol jatuh membasahi kerah kaos putihnya, membuatnya semakin transparan hingga mencetak garis-garis otot dadanya yang kokoh. "Lucu," gumam Dewa pelan. Bayangan wajah Lintang yang memerah menahan kesal, dengan mata bulat yang melotot galak, terus berputar di kepalanya. Ada kepuasan aneh yang menggelitik dadanya setiap kali ia berhasil membuat gadis itu tantrum atau mencak-mencak tidak jelas. Bagi Dewa yang terbiasa hidup di lingkungan korporat yang kaku dan penuh kepalsuan, ekspresi jujur Lintang adalah hiburan paling mewah yang ia temukan sejak kembali ke Surabaya. Ia kemudian teringat celetukan terakhir gadis itu sebelum membanting pagar. "Emang aku bau?" Dewa mengangkat lengannya, sengaja mengendus aroma tubuhnya sendiri. Ia mendengus geli. Bagaimana mungkin ia bau? Meskipun berkeringat setelah lari tujuh keliling kompleks, aroma maskulin yang bercampur dengan sisa parfum citrus-woody mahalnya masih tercium samar. "Keringetan begini saja masih wangi kok. Dasar bocah itu, ada-ada saja alasannya buat kabur." Lagi-lagi Dewa tertawa sendiri, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat ringan di ruang dapur yang sunyi. Sementara itu, di balik tembok rumah sebelah, Lintang sedang mengalami krisis identitas yang cukup parah. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu utama yang tertutup rapat, jantungnya berdegup kencang seperti baru saja lari maraton menanjak. "Aduh, gila... panas banget sih!" Lintang mengipasi wajahnya dengan kedua tangan. "Ibun ini lho, kok ya bisa-bisanya nitip ke bule kaku itu. Mana dia pakai kaos putih ketat gitu lagi. Sengaja banget pengen pamer kalau badannya kayak aktor Marvel?!" Wajah Lintang merona hebat. Meskipun mulutnya menghujat, jiwa gadisnya tidak bisa berbohong. Bayangan otot lengan Dewa yang menegang saat pria itu menyeka keringat tadi benar-benar merusak konsentrasinya. Pesona "Mas Bule" dalam kondisi sweaty ternyata jauh lebih berbahaya daripada saat ia memakai kemeja rapi. Mendadak, sebuah ide liar melintas di kepalanya. Matanya yang tadi gelisah kini berbinar tajam. Sebagai seorang penulis, otaknya bekerja secara otomatis mengubah kejadian nyata menjadi narasi fiksi. "Eh, sebentar..." Lintang bergumam sendiri. Ia segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. "Kalau si tokoh utama prianya aku buat adegan lari pagi, terus ketemu tokoh perempuannya yang lagi mau ditinggal pergi keluarganya... terus ada adegan bumbu-bumbu tipis begitu..." Lintang menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja, membuka laptopnya dengan gerakan kilat. Jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa. Rasa kesalnya pada Dewa kini berubah menjadi bahan bakar kreativitas. "Laki-laki itu berdiri di depanku, kaos putihnya yang lembap oleh keringat menempel sempurna di tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk otot yang membuatku lupa bagaimana cara bernapas..." Lintang mengetik kalimat itu sambil menggigit bibir bawahnya, membayangkan sosok Dewa secara spesifik. "Nah! Gini dong! Ini baru namanya chemistry!" seru Lintang puas. Ia menulis bab baru itu dengan semangat membara, menuangkan segala sensasi "panas" yang ia rasakan tadi ke dalam bentuk kata-kata. Namun, di tengah keasyikannya ngetik, Lintang mendadak berhenti. Ia teringat pesan Ibun: 'Kalau ada apa-apa, ketok tembok sebelah.' Lintang melirik tembok kamarnya yang berbatasan langsung dengan kamar Dewa. Ia membayangkan pria itu mungkin sedang mandi atau berganti baju di balik tembok tersebut. "Duh, Lintang! Fokus nulis! Jangan bayangin yang enggak-enggak!" Lintang menepuk pipinya sendiri, berusaha mengusir pikiran kotor yang mulai merayap. Ia kembali menatap layar laptop, tanpa menyadari bahwa "sumber inspirasinya" kini sedang berdiri di balkon sebelah, hanya dibatasi oleh kaca, sedang memperhatikan siluetnya yang bergerak-gerak gelisah. Dewa yang sudah berganti pakaian santai, menyesap kopinya sambil menatap balkon Lintang. Ia bisa melihat bayangan Lintang yang sesekali memukul kepalanya sendiri atau tertawa kecil di depan laptop.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD