12

1859 Words
Baru saja Lintang hendak menuntaskan paragraf panas tentang "pria berkaos putih", suara bel rumah di lantai bawah berbunyi dengan brutal. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali seolah-olah ada penagih hutang yang sedang kelaparan. "Duh, jancuk! Sopo se kah?!" umpat Lintang sambil menghentakkan kakinya ke lantai. (Siapa sih?!) Dengan langkah ogah-ogahan dan rambut yang makin awut-awutan karena habis diperas otaknya, Lintang menuruni tangga. Ia membuka pintu dengan wajah siap menerkam siapa pun di baliknya. "Gak usah dibanting juga kali pintunya, ntar copot ganti ruginya pakai naskah novelmu tah?" Lintang langsung mendengus begitu melihat sosok pria jangkung yang berdiri dengan cengiran tanpa dosa di depan pintu. Reksa. Kakak sepupunya yang paling menyebalkan sedunia, yang seumuran dengan Dewa tapi kelakuannya lebih mirip bocah SD. "Ngapain ke sini, Mas? Nggak terima tamu, tutup!" Lintang sudah hendak menutup pintu lagi, tapi kaki Reksa lebih cepat mengganjal celah pintu. "Eits, galak amat. Mana Bulek Kalinda sama Paklik Bram? Terus keponakan gembulku si Linggar mana? Aku bawain martabak ini, mumpung habis dapet bonus kasus," ujar Reksa sambil mengangkat kantong plastik berminyak dengan bangga. "Telat. Mereka baru aja berangkat ke Malang tadi pagi," jawab Lintang ketus, akhirnya membiarkan sepupunya itu masuk. "Ibun kangen Kakung, jadi mereka nginep di sana." Reksa langsung nyelonong masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. "Yah... zonk dong. Padahal mau pamer main PS baru sama Linggar. Berarti kamu sendirian di sini? Wah, aman nggak ini rumah kalau penjaganya modelan macan kayak kamu?" "Aman dari maling, tapi nggak aman dari lambemu, Mas!" balas Lintang sambil duduk di kursi seberang, matanya melirik martabak yang dibawa Reksa. Meskipun kesal, aroma martabak telur itu tidak bisa bohong. Reksa tertawa, lalu membuka kotak martabaknya. Sambil mengunyah, matanya melirik ke arah jendela yang menghadap ke rumah sebelah. "Eh, Dek. Omong-omong, rumah sebelah itu sudah ada yang nempatin ya? Tadi di depan aku lihat ada SUV hitam parkir. Keren juga mobilnya." Lintang mendadak kaku. "Hah? Oh... itu. Iya, sudah ada yang punya. Bule kaku." "Bule?" Reksa mengernyitkan dahi. "Siapa? Jangan-jangan si Dewa? Sadewa?" Lintang langsung menoleh cepat. "Loh, Mas Reksa kenal?" "Ya kenal lah! Dewa itu temen SMA-ku dulu sebelum dia pindah ke luar negeri. Kita satu tim basket. Wah, beneran dia yang nempatin rumah itu? Dunia sempit banget!" Reksa tampak antusias, hampir tersedak martabaknya. "Ganteng kan dia sekarang? Dulu aja fansnya satu sekolahan." Lintang memutar bola matanya malas. "Ganteng apanya. Kulkas berjalan gitu. Mana sombong banget." "Dek, udah mandi kamu?" Lintang mendongak sambil mengunyah martabaknya. "Kenapa?!" "Kamu bau dek." "Masak sih?" "Lha, emang kamu bau?" ejek Reksa sambil tertawa terpingkal-pingkal. "MAS REKSA!" Di tengah keributan itu, dari balik pagar pembatas yang hanya setinggi d**a, Dewa ternyata sedang berada di taman sampingnya untuk membenahi keran air yang sedikit bocor. Ia mendengar suara tawa pria yang sangat familiar dari arah rumah Lintang. Dewa berdiri tegak, matanya menatap ke arah pintu rumah Lintang yang terbuka sedikit. Ia melihat siluet pria lain di dalam sana yang sedang bercanda sangat akrab dengan "tanggung jawabnya". Ada perasaan aneh yang berdenyut di pelipis Dewa—sesuatu yang lebih tajam dari sekadar rasa penasaran. Tanpa sadar, ia meremas kunci inggris di tangannya. "Siapa pria itu?" gumam Dewa dingin. Baru saja ia hendak kembali ke dalam, suara Reksa terdengar berteriak dari dalam rumah Lintang. "Dek, aku mau sapa Dewa dulu ah! Mau tak ajak mabar atau makan martabak bareng. Dewa! Oy, Dewa! Kamu di situ kan?!" Lintang panik. "Mas, jangan aneh-aneh! Dia itu lagi sibuk!" Tapi Reksa sudah terlanjur lari ke teras depan dan melambai heboh pada Dewa yang kini berdiri di balik pagar dengan tatapan yang seolah bisa membekukan air terjun. "Reksa?" gumam Dewa, alisnya terangkat satu. "Yo'i! Gila, beneran kamu, Wa! Sini-sini, masuk rumah Lintang! Kita makan martabak, Lintang yang bayar!" teriak Reksa tanpa tahu bahwa Lintang di belakangnya sudah ingin menenggelamkan diri di laut saat itu juga. Dewa menatap Reksa, lalu matanya beralih pada Lintang yang berdiri di belakang sepupunya dengan wajah merah padam. Dewa tersenyum tipis—kali ini senyum yang penuh dengan maksud tersembunyi. "Boleh. Kebetulan saya lapar," jawab Dewa pelan, namun matanya tetap mengunci pada sosok mungil Lintang. Lintang membatin frustrasi, 'Ibun... pulaaaaang! Lintang nggak mau dititipin ke dua orang gila ini!' ---- Suasana ruang tengah rumah keluarga Aryadinata yang biasanya hanya diisi suara ketikan laptop Lintang, mendadak berubah riuh. Dewa kini duduk di sofa tunggal, sementara Reksa menguasai sofa panjang dengan martabak telur yang sudah terbuka lebar di atas meja. Dewa memperhatikan sekeliling. Rumah ini terasa sangat hangat dan nyaman. Seperti rumahnya dulu—banyak foto keluarga, aroma kayu yang hangat, dan beberapa tumpukan buku referensi milik Lintang di sudut ruangan. Juga buku-buku lainnya yang kemungkinan milik Bramasta. "Gila ya, Wa. Sepuluh tahun lebih nggak ketemu, kamu malah makin kayak aktor di film-film gitu," cetus Reksa sambil mengunyah martabak. "Papa sempat nanya kabar papamu juga kemarin. Gimana? Betah balik ke Surabaya?" Dewa menyandarkan punggungnya, tampak jauh lebih rileks meski masih dengan pembawaan tenangnya. "Lumayan, Sa. Surabaya makin panas, tapi udaranya... beda saja. Bikin betah." "Oh iya, kamu sekarang sibuk apa? Mau buka cabang bisnis papamu di sini atau gimana?" tanya Reksa yang kini mengikuti jejak ayahnya mengelola firma hukum keluarga. Sebelum Dewa sempat menjawab, Lintang yang baru saja kembali dari dapur membawa piring kecil langsung menyambar dengan nada julit. "Halah Mas Reksa, Mas Bule ini pengangguran elit. Kerjanya cuma nyiram tanaman sama lari pagi. Nggak tau juga itu uang ngalir dari mana. Pesugihan kali." Dewa hanya diam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti. Ia tidak menyanggah, tidak juga membenarkan. Ia justru menikmati bagaimana Lintang dengan percaya diri melabelinya sebagai "pengangguran". "Masa sih?" Reksa tertawa, lalu tanpa aba-aba ia menarik leher Lintang ke dalam pitingan lengannya, saking gemasnya pada adik sepupunya itu. "Kamu itu jangan asal mangap kalau ngomongin orang, Dek. Nanti kualat jadi cinta baru tahu rasa." "Aduuuh! Mas Reksa! Jiamput, lepasin! Rambutku baru dicuci!" pekik Lintang sambil meronta-ronta di bawah lengan kekar Reksa. "Heh mesoh." Reksa malah mencomot bibir Lintang. "Ancen koen iki jiamput kok." Semakin dah itu Lintang. (Memang kamu itu *****) "Astaugfirullah. Mulutnya Dek. Ndak boleh Dek." Dewa yang sedari tadi tenang, tiba-tiba merasa rahangnya mengeras melihat physical touch yang begitu akrab antara Reksa dan Lintang. Meski ia tahu mereka saudara sepupu, dan dirinya yang hanya orang lain disini. ada bagian dari dirinya yang merasa sedikit terganggu—atau mungkin... cemburu? "Sa, kasihan adiknya. Bisa putus itu lehernya," celetuk Dewa dengan suara rendah, tapi cukup tegas untuk membuat Reksa melepaskan pitingannya. Reksa tertawa sambil menyentil dahi Lintang sekali lagi sebelum melepaskannya. "Lha dia ini memang minta diginiin kok, Wa. Lali (lupa) dia kalau dulu waktu kecil sering nangis minta digendong aku." "Itu kan dulu! Sekarang aku udah gede, udah bisa bales kamu Mas, mau apa hayo!" Lintang membalas sambil merapikan rambutnya yang makin acak-adakan. "Dek, kamu nggak buatin tamu kopi kah?" tanya Reksa, melirik meja kosong di depan Dewa. "Emang siapa tamunya?" sahut Lintang tanpa dosa, sambil mencomot martabak yang paling banyak isinya. "Ya Dewa ini! Sama Mas-mu?!" Reksa geleng-geleng kepala. "Lho, kan Mas Reksa yang undang dia masuk, bukan Lintang. Ya Mas Reksa dong yang buatin," balas Lintang cuek, membuat Reksa mengelus d**a. "Astaghfirullah... Wa, kamu lihat sendiri kan? Punya adik sepupu satu saja kayak pelihara macan. Nggak ada sopan-sopannya sama tamu, sana buatin loh!" keluh Reksa. Dewa menatap Lintang yang sedang mengunyah martabak dengan pipi kembung, sama sekali tidak peduli dengan protes kakaknya. Gadis itu tampak sangat natural, tanpa topeng, dan entah kenapa, Dewa merasa kopi buatan Lintang—meski harus dipaksa—pasti akan terasa lebih enak daripada espresso termahal yang pernah ia minum. "Nggak apa-apa, Sa. Saya sudah minum kopi tadi di rumah," potong Dewa tenang, matanya masih mengunci sosok Lintang. "Dek buatin gih." Paksa Reksa. "Dih, siapa yang punya rumah sih? Mekso senengane," (Maksa sukanya) gerutu Lintang pelan, namun ia tetap beranjak dari sofa dengan kaki yang sedikit dihentakkan ke lantai. Meski bibirnya mencibir, ia tidak benar-benar menolak permintaan kakak sepupunya itu. Dewa menatap punggung Lintang sampai gadis itu menghilang di balik sekat dapur. Setelah suasana sedikit tenang, Dewa kembali melirik Reksa yang kini tampak lebih serius. "Kamu nggak kerja, Sa?" tanya Dewa, mengalihkan topik. Reksa menyandarkan punggungnya, melonggarkan satu kancing kemejanya. "Lagi off dulu. Baru aja menangin kasus besar minggu lalu, jadi ya... ambil napas sebentar sebelum dihajar berkas lagi." "Kasus apa?" Dewa bertanya dengan nada rendah, matanya menatap tajam, tipikal pria yang selalu menganalisis setiap informasi. "Masalah pelecehan," jawab Reksa pendek. Dewa menatap Reksa dengan tatapan yang sulit terbaca. Di dunianya, kasus seperti ini bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam semalam. Namun, Reksa justru menghela napas panjang, menunjukkan ada sisi lain dari cerita itu. "Ternyata cuma tuduhan yang salah alamat," lanjut Reksa sambil menggelengkan kepala. "Klienku jadi tertuduh cuma karena dia ada di tempat kejadian dan dia sahabat dekat si perempuan. Publik langsung menghakimi tanpa tahu duduk perkaranya." Tepat saat itu, Lintang muncul kembali dengan nampan berisi dua cangkir kopi hitam yang aromanya sangat kuat—kopi tubruk khas rumahan yang mengepulkan uap panas. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu dengan hati-hati di meja, namun telinganya yang tajam sudah menangkap inti pembicaraan. "Terus Mas, klien kamu gimana sekarang? Kasihan dong, kan bukan dia pelakunya?" Lintang langsung ikut nimbrung, rasa keingintahuannya sebagai penulis mendadak bangkit. Ia duduk di samping Reksa, menatap sepupunya itu dengan serius. "Alhamdulillah udah ada titik temu. Ceweknya aja yang agak 'sakit'. Dia obsesif banget sama klienku. Dia merekayasa seolah-olah dilecehkan, padahal dia yang memanipulasi keadaan supaya klienku nggak bisa lepas dari dia," jelas Reksa. Mata Lintang membelalak, ia meletakkan piring kecil berisi biskuit dengan sedikit hentakan. "Wih, gendeng arek wedok iku! Pengen tak tekek!" (Wih, gila perempuan itu! Pengen aku cekik!) Lintang bersungut-sungut, tangannya bahkan secara refleks membentuk gerakan mencekik di udara. "Masa harga diri dan masa depan orang dibuat mainan cuma gara-gara obsesi? Jahat banget." Dewa memperhatikan Lintang yang sedang berapi-api. Ada binar lain di mata gadis itu yang membuatnya terlihat... menarik. Tidak ada kepura-puraan di sana. "Dunia memang penuh orang manipulatif, Lintang," sahut Dewa tiba-tiba dengan nada yang sangat tenang hingga membuat Lintang menoleh cepat. "Terkadang, apa yang terlihat di permukaan hanyalah skenario yang sudah disusun rapi." Lintang tertegun sejenak mendengar suara bariton Dewa. "Ya tapi tetep aja nggak bener, Mas Bule. Bayangin kalau Mas Reksa nggak bisa buktiin dia nggak bersalah? Bisa hancur hidup orang." Reksa menepuk bahu Lintang. "Makanya, kamu kalau nulis novel jangan cuma yang romantis-romantis menye-menye terus. Masukin isu hukum begini biar pembacamu pinter dikit." "Heleh, sok tahu!" Lintang menjulurkan lidahnya. "Novelku itu risetnya dalam ya! Cuma ya itu... pembacanya aja yang kadang minta adegan yang aneh-aneh." Dewa menyesap kopi buatan Lintang. Rasanya pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. "Termasuk adegan 'panas' yang kamu keluhkan semalam?" tanya Dewa dengan nada datar, namun ada kilat jenaka di matanya. Lintang yang baru saja mau menyesap tehnya sendiri langsung mematung. Wajahnya perlahan berubah menjadi semerah tomat matang. Ia melirik Reksa yang mulai menatapnya penuh curiga, lalu kembali menatap Dewa yang tampak sangat menikmati kemenangannya. "Adegan panas apa, Lin? Kamu nulis apa sih sebenernya?" Reksa mulai mendekat, siap menginterogasi. "Gak ada! Mas Bule ini cuma asal ngomong! Mas, kopinya dihabisin terus pulang sana!" usir Lintang panik, sementara Dewa hanya meletakkan cangkirnya kembali dengan tenang, seolah baru saja meledakkan bom di tengah ruang tamu tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD