Sore itu, Surabaya sedang gerah-gerahnya. Lintang sudah rapi dengan tote bag kanvas dan kunci motor di tangan. Pikirannya sudah melayang ke rak toko buku, hari ini novel terbaru dari penulis favoritnya resmi rilis, dan sebagai kolektor garis keras, ia tidak mau keduluan orang lain. Klik. Pintu rumahnya terkunci rapat. Baru saja Lintang hendak membalikkan badan menuju Vespa kuningnya, sebuah bayangan tinggi menelan tubuh kecilnya. Bau parfum maskulin yang segar—campuran kayu dan citrus—tiba-tiba menyapa indra penciumannya lebih dulu sebelum suara bariton itu terdengar. "Mau ke mana?" Lintang tersentak, hampir saja menjatuhkan kunci motornya. Ia mendongak dan mendapati Dewa berdiri tepat di belakangnya. Pria itu sudah berganti pakaian; celana chino gelap dan kaos polo hitam yang membuatn

