chapter 6

1002 Words
Rani pun menurut. Selalu seperti itu sejak dulu, tak sekalipun dia pernah membantah atau menentangku. Dia memang wanita yang penurut. "Gimana kabar kamu Ran?" Ucapku basa-basi menanyakan kabarnya, walau aku sangat tahu bagaimana kondisinya saat ini. "Alhamdulillah. Sepertinya yang pak dokter lihat" ucapnya sembari tersenyum hangat ke arahku. "Bisa aja kamu Ran." Ucapku merasa malu dia memanggilku seperti itu. "Aku senang kamu bisa sukses seperti sekarang, hen. Seperti yang selalu kamu cita-citakan dulu." Balas Rani dengan Tatapan ketulusan. "Alhamdulillah, terimakasih Ran." Rani hanya mengangguk dalam senyuman. "Bagaimana kehidupanmu sekarang Ran? Aku harap kamu memiliki kehidupan yang lebih baik dari sejak aku meninggalkanmu." Rani tersenyum. "seperti yang kau katakan hen, kehidupanku sangat baik. Aku menikah dengan seorang lelaki yang sangat baik, aku juga dikaruniai seorang anak putri yang cantik, dia baik, pintar dan sangat menyayangiku." Jawab Rani dengan senyum merekah. "Syukur Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga kau selalu bahagia ran." "Amin" "Mungkin lain kali kau boleh kenalkan aku dengan suamimu? Aku ingin tau sosok yang berhasil menggantikan posisiku di hatimu." Ucapku menggoda Rani. Dia tertawa renyah. "Tidak ada yang menggantikan ataupun di gantikan, kalian berdua memiliki tempat masing- masing di hatiku," jawab Rani membuatku kembali merasakan jiwa remajaku. "Kamu memang paling pandang berkata-kata ya Ran." Rani terkekeh "Ok, jadi kapan kita bisa bertemu?" Tanyaku tak sabar jujur aku memang penasaran bagaimana sosok lelaki beruntung yang memiliki Rani itu. Rani terdiam, raut wajahnya berubah. "Dia sudah tiada, hen." Aku terkejut mendengar jawaban Rani, jadi merasa bersalah telah bertanya tentang suaminya. "Maaf, aku nggak tau Ran" "Gak papa, insyaallah aku sudah ikhlas." Jawab Rani tabah. "Mas Riko pergi saat anak kami masih dalam kandungan, Allah lebih sayang dia sehingga dia dipanggil terlebih dahulu." Rani melanjutkan ceritanya. Kali ini aku kembali dibuat terkejut oleh kenyataan yang dialaminya. Betapa berat perjalanan hidup yang harus dia lalui, tak bisa kubayangkan bagaimana ia harus melewati ini semua seorang diri. Ia begitu kuat dan tabah. "Ya Allah, maaf Ran. Aku benar-benar tidak tahu." Sesalku. Rani tersenyum. "It's okey hen" "Lalu bagaimana dengan anakmu? Siapa namanya dana berapa usianya?" "Putriku lahir 25 tahun yang lalu, dia aku beri nama Adelia Maharani," jawab Rani menatapku. "Adelia?" Tanyaku memastikan. "Iya, Adelia. Nama yang sempat kita pilih untuk calon putri kita dulu." Aku tersenyum penuh makna. "Kamu tahu ran? Aku juga menamai putraku dengan nama Adelo Mahendra, seperti rencana kita." Ceritaku antusias. Kita tertawa sejenak, mengingat masa-masa indah saat kita bersama. Aku berpacaran dengan Rani cukup lama, 3 tahun kami menjalin hubungan. Bahkan kamu berencana untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Banyak rencana yang sudah kamu susun, bahkan sampai urusan mempersiapkan nama untuk anak-anak kita kelak. Adelio dan Adelia adalah nama yang kita sepakati, nama dengan makna 'mulia' itu kita harapkan akan menjadi doa untuk anak-anak kita kelak. Namun manusia hanya bisa berencana, tetapi tuhan lah yang menetapkan takdir kita. Tiba-tiba Rani terbatuk, gegas kuambilkan segelas air putih untuk meredakan batuknya. "Diminum, Ran" ucapku dengan menyerahkan segelas air putih. "Terima kasih hen." "Sama-sama" Sejenak suasana menjadi hening. "Ran, boleh aku bertanya? Ucapku kembali membuka obrolan di antara kita. "Silahkan, mau tanya apa?" "Kemana kamu selama ini Ran? 30 tahun aku mencari keberadaanmu namun tak kunjung bertemu," ucapku sedih, teringat akan Rani yang menghilang begitu saja sejak hari pernikahan ku dengan Arumi. Rani menatapku dalam. Sorot matanya penuh makna, entah apa yang tengah dipikirnya. "oiya? Padahal aku nggak kemana-mana loh, hen. Buktinya kamu menemukan aku begitu dekat denganmu, kan?" Aku hanya terdiam mendengar jawaban Rani. "Lagi pula untuk apa lagi kamu mencariku, hen? Bukan kah kau sudah memiliki kehidupan yang lebih baik?" Lanjut Rani terus terang. Entah mengapa jawabannya begitu menyakitkan bagiku. Aku memang bersalah telah meninggalkannya saat itu. "Maafkan aku, Ran" sesalku. Rani tersenyum tipis. "Kamu tidak perlu minta maaf, hen. Permintaan maaf hanya untuk orang-orang yang menyesal. Sedang kamu tak pernah menyesali keputusanmu, kan?" Jawabnya tenang. Ya Allah, perih sekali hati ini mendengarnya. Lagi-lagi aku tak menyangkal jawaban Rani, karena apa yang dia katakan memang benar adanya. Justru aku sangat mensyukuri pernikahanku dengan Arumi. "Lagipula tidak ada lagi yang perlu dimaafkan darimu, hen. Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Justru aku bangga sama kamu yang selalu berbakti pada orang tua." Jawab Rani. Aku memang meninggalkannya demi baktiku kepada orang tua. Kami berpisah secara baik-baik karna aku yang ternyata sudah dijodohkan oleh Abah. Bukan aku tak memperjuangkan cinta Rani, aku sudah mencobanya, namun Abah tetap memintaku untuk menikahi Arumi demi menjaga hubungan baiknya dengan almarhum papa mertuaku. Karna Abah dan papa sudah bersepakat menjodohkan kami bahkan saat kami masih bayi. Saat itu Rani sangat memahami posisiku, juga sangat menghargai keputusanku. Aku tahu, ini sangat berat baginya. Namun itulah Maharani, ia sangat pandai menyimpan rasa. Sampai pada hari sebelum hari pernikahanku, aku melihat ia begitu tegar, dia bahkan meyakinkan aku bahwa keputusan yang ku pilih sudah benar. Dia berhasil membuatku yakin bahwa ia sangat ikhlas menerima takdir ini. Masih kuingat kata-katanya di malam itu, " Berbahagialah, kamu hen. Karena kamu masih memiliki kesempatan untuk berbakti pada orang tuamu. Bayangkan jika kamu jadi aku yang sebatang kara ini, tidak punya panutan, tidak punya pijakan, tidak punya pegangan." Saat itu aku hanya bisa berharap, semoga tuhan mengirimkan seseorang yang lebih baik untuk menggantikanku menjaga Rani. Ternyata dugaanku salah, Rani tak setegar yang aku pikirkan. Semua yang dia lakukan, semua yang dia katakan sebelumnya hanyalah upaya untuk menghiburku, untuk meyakinkan keputusanku, namun jauh di lubuk hatinya ia menyimpan luka yang mendalam. Hal itu baru aku sadari saat ia tiba-tiba menghilang saat ijab qabul kuucapkan. Ia benar-benar menghilangkan dan tak dapat ku jangkau kembali. Saat itu aku benar-benar bersalah padanya aku jahat telah meninggalkannya dengan luka menganga. "Ran, please. Berkatakah sesuai dengan isi hatimu. Aku tahu aku salah, aku tau saat itu kau sangat terluka. Aku memang begitu tega meninggalkanmu begitu saja tanpa memikirkan perasaanmu. Sungguh sejak malam kamu menghilang, sampai hari ini aku dihantui rasa bersalahku padamu." Rani hanya terdiam tak berkata sepatah kata pun. Suasana hening sejenak. "Sudahlah, hen. Itu semua hanya masa lalu. Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing." Jawab Rani mencegah keheningan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD