"kamu tenang dulu di sini ya, kondisi kamu masih sangat lemah, kamu tidak perlu khawatir, semua keperluan ibu kamu sudah saya urus." Ucap dr. Mahendra menenangkan. sedangkan Lia masih dalam isakan tangisnya.
Lio yang sedari tadi memperhatikan ayahnya memberanikan diri untuk bicara.
"Ayah hutang penjelasan pada Lio" bisik Lio lirih, pasalnya terlalu banyak pertanyaan yang berputar di benaknya, dari mulai informasi pihak HRD sampai keberadaan ayahnya di sini sekarang.
Dr Mahendra lalu menoleh ke arah puteranya, kemudian bergantian memandang Lia.
"Ya, kalian berdua pasti bertanya-tanya soal keberadaan ayah di sini. Baiklah akan ayah jelaskan. Lagipula ada hal penting yang harus ayah sampaikan pada kalian berdua," ucap dr Mahendra.
"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu, Lia. Karena saya harus membahas ini dalam kondisi kamu yang sedang berduka seperti ini. Tapi memang tidak bisa ditunda lagi." Ungkapan dr Mahendra membuat lio dan lia semakin penasaran. Lalu dr Mahendra melanjutkan pembicaraannya.
"Ibu kamu adalah teman lama saya Lia, kami bertemu beberapa waktu lalu, saat saya tak sengaja melihatnya dirawat di ruang mawar 3. Jujur saya turut prihatin dan menyesal melihat kondisi ibu kamu saat itu, andai saya bertemu beliau lebih awal, mungkin kondisinya akan lebih baik. Dan dari dalam lubuk hati yang terdalam saya ucapkan bela sungkawa atas kepergian ibu kamu, Lia. Dia orang yang sangat baik, insyaallah akan mendapatkan tempat terbaik-Nya juga di Surga."
"Aamiin" ucap Lio dan Lia bersamaan.
Kemudian dr. Mahendra melanjutkan,
"Banyak hal yang harus kita bahas saat itu. Namun, yang terpenting yang perlu kamu tau saat ini adalah ibu kamu sangat ingin melihat kalian berdua segera menikah. Kamu Lia, dan juga anak om, Lio." Ucap dr Mahendra dengan memandang keduanya bergantian.
Kalimat terakhir yang terlontar dari dr. Mahendra sukses membuat kedua mata Lia dan Lio membulat sempurna kemudian saling memandang penuh keheranan.
*****
MAHENDRA POV
**FLASH BACK**
Sore itu aku berjalan melewati komplek ruang rawat "mawar". Seperti biasa, setiap sehari dalam seminggu aku selalu turun lapangan untuk melihat sendiri kinerja para tenaga kerja di rumah sakit yang sudah kubangun ini.
Hari itu kebetulan jadwalku untuk mengecek komplek mawar dan melati. Aku sengaja membuat jadwalnya secara acak, agar apa yang aku lihat dari kinerja mereka adalah sebuah spontanitas. Bukan suatu hal yang dibuat-buat.
Ku langkahkan kaki melewati ruang mawar, hingga tak sengaja netraku menangkap pemandangan yang tak asing.
Tampak seorang suster tengah membantu pasien wanita kembali tidur ke ranjangnya, mungkin dia dari kamar mandi tebakku kala itu.
Tapi yang menjadi fokusku adalah wajah pucat pasien itu, seperti tak asing bagiku.
'Rani, apa benar dia Rani? Seseorang yang selama ini aku cari tahu keberadaannya.' Batinku.
Aku terus memperhatikannya dari kejauhan, sepertinya memang benar itu rani. Dia sudah sangat berubah, bahkan hampir saja aku tidak mengenalinya. Mungkin hal itu disebabkan oleh faktor usia, atau mungkin karena kondisi kesehatannya? Entahlah.
Kulihat suster yang lagi membantu rani berjalan keluar meninggalkan ruangan.
"Suster!" Panggil ku.
"Ya, dok?" Jawabnya sedikit terkejut melihat aku berdiri tak jauh darinya. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku sedari tadi.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Bisa, dok. Silahkan"
"Siapa pasien di ruang rawat mawar 3 itu?" Tanyaku sambil berjalan melanjutkan pengecekan di komplek mawar.
"Oh, itu ibu Maharani dok. Pasien leukimia stadium akhir"
Deg!
Seketika langkahku terhenti mendengar jawaban dari suster dengan name tag "Mirna" di dadanya itu. Ternya sesuai dugaanku, dia adalah Maharani yang selama ini aku cari, dan yang lebih membuatku terkejut adalah penjelasan suster tentang kondisi Rani saat ini.
"kenapa, dok?"
"Tidak apa-apa. Sepertinya dia teman lama saya, tadi saya sempat tak mengenalinya, karena dia sudah sangat berubah. Maka saya tanya kamu untuk memastikan." Jawabku menutupi keterkejutan.
"Sudah berapa lama dia dirawat di sini?" Tanyaku lagi.
"Sekitar satu Minggu yang lalu, dok. Tapi beliau sudah keluar masuk rumah sakit ini sejak tiga bulan yang lalu" ujar suster Mirna menjelaskan.
"Ya Allah, bagaimana mungkin dalam waktu 3 bulan aku baru menyadari kehadirannya?" batin ku.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, dok?" Tanya suster mirna menyadarkan lamunanku.
"Tidak ada, sus. Silahkan kamu lanjutkan perkejaanmu. Terima kasih atas informasinya."
"Baik dok, sama-sama." Jawab suster Mirna kemudian beranjak pergi. Gegas aku menyelesaikan tujuanku, kemudian segera menemui Rani di ruangannya.
Tok tok tok
"Permisi," ucapku mengetuk pintu ruangan Rani.
"Masuk aja" terdengar suara Rani mempersilahkan.
Kuraih knop pintu dan memasuki ruangan Rani.
"Oh, pak dokter, tumben visit nya...?" Ucapan Rani terhenti kala melihatku dari jarak yang lebih dekat.
"Hendra?"
"Iya, Rani" jawabku dengan memandang netranya lekat. Mata itu tetap sama. Begitu teduh dan menghangatkan.
Kami terdiam sejenak, saling memandang dalam beberapa saat.
"Silahkan duduk, hen" ucap Rani. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan dengan kehadiranku di hadapannya.
Rani berusaha bangun dari tidurnya demi menghargai keberadaanku di sisinya.
Tapi aku segera mencegahnya.
"Ga usah Ran, udah gitu aja."