chapter 4

1189 Words
"Bagus, yang anda perlu tahu, bagi saya adab yang baik dari karyawan saya memiliki nilai 50% dari keseluruhan. Karena bagi saya percuma kinerja baik tapi kelakuannya tidak baik. Jadi, saya minta kejadian seperti tadi jangan sampai terulang kembali." "Baik, pak. Sekali lagi saya minta maaf." Sesal Wiraguna sekali lagi. "Iya, silahkan anda boleh pergi." Titah Lio tak mau berlama-lama. Wiraguna pun beranjak pergi meninggalkan ruangan Lio. Lio duduk di kursi kerjanya, ia kembali memandang ruangan sang ayah yang kini menjadi ruangannya. "Aku tak menyangka ayah akan secepat ini mempercayakan rumah sakit ini di tanganku. Tapi aku tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan ayah, akan aku buktikan bahwa aku bisa diandalkan, aku akan melakukan yang terbaik untuk kemajuan rumah sakit ini." Tekad Lio. Hening sejenak. Lalu pikiran Lio kembali pada pernyataan pak Sigit soal nama Adelia Maharani. "Sebenarnya apa alasan ayah merekomendasikan Lia?" Pikir Lio masih bertanya-tanya. Ia lalu melirik jam di tangannya. '30 menit lagi jam makan siang. Ada baiknya aku makan di kantin rumah sakit, untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru ini.' Batin Lio. Lio berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Berbeda dengan kondisi pagi tadi, Siang ini banyak mata yang memandangnya, bahkan tak sedikit yang memberikan senyuman manis dan sekedar bertegur sapa. Semua orang mendadak menjadi ramah, tampaknya kabar tentang dirinya sebagi CEO baru telah menyebar ke seluruh penjuru bangunan megah ini. 'Ah, ternyata benar juga jargon tak kenal maka tak sayang itu,' batin Lio sedikit jumawa. Lio terus berjalan menyusuri setiap detail dari bangunan rumah sakit ke arah kantin, hingga langkahnya terhenti di ruang mawar karena melihat kehebohan disana. Beberapa suster berlari cepat menuju ruang 3, tak lama kemudian mereka membawa seorang pasien menuju ICU. Diantara beberapa suster yang sedang mendorong brankar itu nampak seorang gadis dengan raut wajah penuh kekhawatiran. 'Gadis itu, seperti tidak asing wajahnya' batin Lio mengingat-ingat. "Astaghfirullah..... Lia! Itu kan Adelia Maharani, cewek yang aku temui tadi pagi?" Lirih Lio kala teringat siapa gadis itu. Gegas Lio menyusul menuju ruangan ICU. ****** Didepan ruang ICU Lia mondar-mandir panik di depan ruang ICU, nampak raut wajahnya sangat khawatir. Segala rasa cemas, takut, gelisah, berkumpul menjadi satu. Bagaimana tidak? Malaikat dalam hidupnya kini tengah berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. Melihat itu, Lio merasa sangat iba, ia mendekati Lia. "Lia," panggil Lio pelan. Mendengar seseorang memanggil namanya Lia segera menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah suara itu berasal, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pak Lio sudah berdiri di belakangnya. "Pak Lio?" Tanya Lia heran dengan keberadaan Lio disana. "Kamu tenang ya, mari duduk sini" ucap Lio sembari memapah Lia untuk duduk di kursi tunggu. "Ada apa, Lia?" Tanya Lio ketika mereka sudah duduk di kursi tunggu. "Ibu, pak. Ibu saya... Hiks" Adelia tak mampu lagi menahan tangisnya. Ia terisak hingga punggungnya berguncang hebat. "Lia, kamu tenang ya. Saya tidak tau apa yang terjadi dengan ibu kamu, tapi yang jelas dalam kondisi seperti ini kamu harus tenang. Minta lah pertolongan dari yang maha menyembuhkan segala penyakit. Jangan cemas ya, jangan gelisah. Kamu tenang ya." "Saya takut pak, saya takut ibu akan pergi meninggalkan saya." "Sssttt... Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Ucapanmu adalah doa, Lia. Sebaiknya kita sama-sama berdoa untuk ibu kamu ya." Ucap Lio menenangkan. Saat kemudian kondisi Lia mulai tenang. Suasana menjadi hening. Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Sedari tadi Lia hanya diam sembari memejamkan mata, ia menautkan jari jemari seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Ia tengah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan keajaiban bagi ibunya. Sedang Lio hanya terdiam di sisi Lia. Menenangkan gadis yang baru ia kenalinya beberapa waktu lalu, meyakinkan bahwa ia tidak sendiri. Tiba-tiba terdengar suara derap kaki yang begitu cepat menuju ruang ICU, seperti langkah kaki seseorang yang sedang terburu-buru. Lio menoleh ke arah suara tersebut, dan betapa terkejutnya ia ketika tahu ternya itu adalah suara langkah kaki ayahnya ditemani seorang suster menuju ruang ICU. "Ayah...?" "Lio, kamu?" Ucap keduanya bersamaan. "Nanti ayah jelaskan." Jawab dr. Mahendra singkat, sejenak ia melirik ke arah Adelia di sisi putranya, lalu segera memasuki ruang ICU. Tampak raut wajahnya begitu khawatir. 'siapa sebenarnya ibu Lia? Kenapa ayah sampai turun tangan sendiri untuk menanganinya? Ayah juga tampak sangat khawatir' batin Lio bertanya-tanya. 'siapa lelaki itu? Apa beliau seorang dokter sehingga bisa masuk ke ruang ICU untuk menangani ibu? Dan sebentar, tadi pak Lio memanggil dengan sebutan ayah, apakah beliau dr. Mahendra pemilik rumah sakit ini? Apa hubungannya dengan ibu ya? Ah, apapun itu, aku harap ibu bisa diselamatkan dalam penanganannya.' batin Lia juga bertanya-tanya. Di ruang ICU, dr. Mahendra tengah berjuang melakukan pertolongan terbaik pada Maharani. "Please, kamu harus kuat, Rani. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan bersama." Lirih dr. Mahendra berkali-kali. Wajahnya tampak sangat menghawatirkan wanita yang sempat mengisi ruang di hatinya itu. Satu jam berlalu, tetapi tidak ada satu tenaga medis pun yang keluar dari ruangan ICU. Hal ini tentu membuat perasaan Lia semakin tak menentu. ketakutan yang selama ini menghantui kini terasa semakin nyata. Tak berselang lama tampak pintu ruang ICU terbuka, disusul dengan kemunculan dr. Mahendra disana. Gegas Lia berdiri dari tempatnya dan menemui dr Mahendra di susul Lio di belakangnya. "Dok, bagaimana kondisi ibu saya dok? Ibu saya baik-baik saja kan dok?" Tanya Lia kepada dr Mahendra beruntun. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dr Mahendra. Tak lama kemudian, tampak beberapa suster mendorong keluar sebuah brankar dengan pasien yang telah tertutup kain seluruh tubuhnya. Pandangan itu sontak membuat kedua mata Adelia terbelalak dengan kedua telapak tangan menutup mulutnya. Ia begitu kaget melihat pemandangan di depannya. Ia lalu meminta para suster untuk berhenti sejenak. Perlahan ia mendekati jasad yang tidak ia ketahui identitasnya itu, kemudian tangannya meraih kain yang menutupi wajahnya lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah sang ibunda sedang terlelap damai disana tanpa hembusan nafas lagi. Seketika Lia berteriak, "Ibuuuuuuuu..." Sembari menghamburkan dirinya memeluk jasad sang ibunda. Ia tak mampu lagi menahan Isak tangisnya. "Ibu... jangan tinggalin Lia, Bu...." Ucap Lia parau di tengah-tengah isakannya. Pemandangan ini mengundang tangis haru orang-orang di sekitarnya. Betapa tidak, hampir semua suster tahu bahwa hanya Bu Maharani lah yang Lia punya di dunia ini. Setelah beberapa saat membiarkan Lia memeluk jasad ibunya, akhirnya dr. Mahendra berusaha melepas pelukan itu dan berganti membawa Lia ke dalam pelukannya. "Kamu yang sabar ya nak. Kamu harus kuat," bisik dr. Mahendra dalam pelukannya. Lia menyaksikan jasad ibunya yang dibawa menuju kamar jenazah dengan tak berdaya. Semakin lama pemandangan matanya terasa semakin buram, dan ia tak dapat mengingat apapun yang terjadi setelah itu. ****** Di IGD Lia mengerjapkan matanya perlahan, berusaha mengumpulkan kesadarannya sampai ia teringat dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Sontak Lia bangun dari tidurnya. "Ibuuuu." Teriak Lia. Mendengar itu Lio yang sedari tadi menungguinya mendekat. "Lia, kamu tenang dulu ya" ucap Lio menenangkan. "Saya mau liat ibu saya pak" "Kondisi kamu masih sangat lemah Lia, sebaiknya kamu istirahat dulu. Soal jenazah ibu kamu, ayah sedang mengurusnya." "Nggak, nggak mungkin, nggak mungkin ibu pergi," ucap lia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Kejadian ini masih terasa seperti mimpi baginya. Bahkan dokter pun masih memperkirakan ibunya akan bertahan sampai sebulan kedepan. "Saya tidak bisa di sini pak, saya harus..." Ucap Lia terhenti kala melihat dr. Mahendra masuk ke ruangan IGD dan berjalan mendekatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD