chapter 3

1007 Words
Banyangan tentang ibu yang akan menyusul ayah dan meninggalkan aku seorang diri di dunia ini selalu menghantuiku. Bukan aku berburuk sangka bahwa Tuhan akan segera memanggilnya, tetapi kondisi ibu yang semakin hari semakin menurun membuat aku semakin pesimis dan takut hal yang tak diinginkan itu semakin dekat terjadi. Terkadang terbesit sebuah penyesalan dalam hati, seandainya ayah tak meninggalkan kamu secepat ini, maka kondisi kami akan lebih baik. Setidaknya aku masih memiliki sandaran disaat-saat seperti ini. Akan tetapi, semua tak akan terjadi. Jangankan mengharap bisa bersandar di dadanya, bahkan yang kutau dari ayah hanya gambar dan tulisan nama di batu nisannya. Tak ada kenangan indah yang tertinggal di memori. Tidak ada nasihat-nasihat yang dapat menguatkanku ketika menghadapi semua masalah ini seorang diri, karna ayah meninggalkanku saat masih di dalam kandungan ibu. Seringkali ku keluhkan bahwa hidup ini tak adil bagiku. Namun, ibu selalu mengatakan, "tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya." Ah, ibu. Dialah satu-satunya penguatku di dunia ini. Aku terus melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit, melewati taman-taman di depan ruang rawat yang begitu indah, berbagai macam bunga tertanam rapih di sana. Di taman yang beralaskan rumput hijau itu juga terdapat kolam ikan dengan suara gemericik air yang menenangkan, juga kadang burung yang menghasilkan suara kicauan saling bersahutan. Bangku-bangku dan beberapa gazebo juga tersedia di sana. Benar-benar suasana yang nyaman. Teringat kemarin sore saat ibu memaksa ingin dibawa kesana untuk menikmati suasana yang indah sembari saling bercerita. "Nak, ibu ingin kamu kembali bekerja seperti sedia kala," pinta ibu sore itu. Ya, sebelumnya memang aku bekerja berprofesi sebagai perawat di rumah sakit daerah. Namun, sudah 3 bulan ini aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku agar bisa fokus merawat ibu. "Nggak Bu, Lia ingin fokus merawat ibu di sini sampai sembuh. Kalau Lia kerja, siapa yang akan merawat ibu? Lagi pula Lia juga sudah resign Bu," jawabku. "Tapi hidup kamu harus tetap berjalan, nak. Kamu butuh biaya untuk melanjutkan hidup" ungkap ibu menghawatirkan aku. "Ibu tenang aja ya. Tabungan Lia insyaallah masih cukup untuk bertahan, kok. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan ibu." Ucapku menenangkannya sembari menghambur ke pelukannya. Ibu lalu mencium keningku penuh cinta. "Terima kasi ya nak, kamu memang anak ibu terbaik." "Sama sama Bu, ini sudah menjadi kewajiban Lia sebagai anak ibu" jawabku dengan mengeratkan pelukanku. Sejenak menikmati kehangatan pelukan ibu yang selalu ku rindu dikala jauh. "Tapi menurut ibu tidak ada salahnya kamu mencoba melamar kerja lagi nak. Kamu bisa melamar kerja di rumah sakit ini. Jadi kamu tetap bisa memantau ibu." Ku lepas pelukanku dan menatap ibu sejenak, "Ibu yakin?" Lalu ibu menganggukan kepalanya cepat. "Tapi Lia gak yakin bakal diterima, Bu. Ini kan rumah sakit elite, pasti mereka juga akan sangat selektif dalam memilih tenaga kerjanya. Sedangkan Lia masih sangat minim pengalaman." Jelasku ragu. " Kamu jangan menyerah sebelum perang dong. Nggak ada salahnya kan kalau kamu coba dulu? Ibu akan selalu mendoakan kamu nak" ucap ibu menyemangatiku. Aku berfikir sejenak, mungkin kali ini aku harus coba saran ibu, siapa tahu keberuntungan sedang berada di pihakku. "Oke, Bu. Bismillah besok Lia akan coba melamar kerja." Jawabku mantap. "Alhamdulillah" ucap ibu tersenyum bangga. Kemudian kami menghabiskan sore bersama, saling bercanda dan tertawa bahagia. ***** Acara peresmian Adelio Mahendra sebagai CEO baru telah usai. Dr. Mahendra berpamitan undur diri terlebih dahulu sebab ada urusan yang harus ia selesaikan. Sedang hadirin yang lain bersiap meninggalkan ruangan. "Oiya, pak Sigit ikut saya ke ruangan ya, saya ada perlu." Ucap Lio kepada kepala HRD. "Baik, pak." Jawab pak Sigit. "dan anda juga pak Wiraguna. Ikut saya ke ruangan ada hal yang ingin saya sampaikan." "Baik, pak" jawab Wiraguna dengan wajahnya yang pucat pasi. Kejadian pagi tadi membuatnya menciut di hadapan sang pengganti dr. Mahendra. Ia tak pernah menyangka bahwa seseorang yang berhadapan dengannya tadi adalah atasan barunya. Lio berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruangannya, diikuti kapala HRD dan diikuti direktur utama di belakangnya. Sesampainya di ruangan, Lio mempersilahkan keduanya duduk. Kemudian ia menyerahkan berkas milik Adelia pada kepala HRD. "Pak Sigit, ini CV salah satu pelamar kerja yang tidak sengaja bertemu dengan saya tadi pagi." Lio menjeda kalimatnya sekejap, lalu melirik ke arah wiraguna. Tampak Wiraguna hanya menunduk kepalanya. "seharusnya dia ikut interview hari ini, namun karena satu dan lain hal dia gagal hadir," lanjut Lio dengan penuh penekanan membuat Wiraguna semakin menciut. "Saya sudah sempat interview singkat dengan dia tadi, dan kalau melihat berkasnya sepertinya dia seorang perawat. Secara kepribadian sangat baik, tinggal pak Sigit cek lagi bagaimana pengalaman kerja dia sebelumnya ya." Sambung Lio dengan menyerah berkasnya kepada pak Sigit. Kepala HRD itu segera mengecek CV yang diberikan oleh atasannya. "Adelia Maharani, pak?" "Ya, betul" Kalau begitu saya tidak perlu mengeceknya lagi secara mendetail, karna nama ini adalah rekomendasi dr. Mahendra sendiri." Jawab pak Sigit mantap. "Rekomendasi ayah?" Tanya Lio memastikan. "Iya benar, pak." Beberapa waktu lalu dr. Mahendra menginfokan kepada saya. Lio mangut-mangut tanda mengerti . 'aneh, kalau memang rekomendasi ayah, kenapa tidak langsung dipekerjakan saja? mengapa harus melalui proses sesuai SOP? Ah, mungkin ini salah satu bentuk profesionalisme kerja ayah.' batin Lio. "Baik lah kalau begitu tolong segera dihubungi ya pak, supaya dia bisa secepatnya mulai bekerja." Titah Lio. "Baik pak Lio, ada lagi yang bisa saya bantu?" "Oh, tidak ada. Silahkan bapak boleh pergi." "Baiklah kalau begitu saya permisi pak." "Silahkan." Pak sigit pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Lio berdua bersama Wiraguna. dalam hati ia masih bertanya-tanya. "Adelia Maharani, nama yang direkomendasikan ayah. Siapa dia sebenarnya?" Lio lalu memandang Wiraguna dengan penuh intimidasi. "Ada yang anda ingin sampaikan pada saya bapak Wiraguna yang terhormat!?" Tanya Lio penuh penekanan pada Wiraguna. "Saya minta maaf atas kejadian tadi pagi, pak. Saya benar benar menyesal. Tolong jangan pecat saya." Ujar Wiraguna penuh penyesalan. "Seharusnya anda meminta maaf kepada Adelia, bukan kepada saya." Jawab Lio sinis. "Kejadian tadi pagi saya saksikan sebelum saya diresmikan sebagi CEO di rumah sakit dr. Mahendra ini. Jadi saya sama sekali tidak berhak memecat anda. Tapi kalau sampai kejadian serupa terulang kembali, saya tidak akan segan-segan memecat anda bapak Wiraguna, apa ucapan saya tadi bisa dimengerti?" Lanjut Lio. "Bisa pak." Jawab Wiraguna cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD