chapter 2

996 Words
"maksud Lio dia calon karyawan baru di sini om" lanjutku cepat sebelum adelia merasa semakin tidak nyaman. kulihat ia menggaruk-garuk kepalanya yang terbalut hijab. "Hahah 10 tahun di USA ternya tidak merubahmu ya, Lio. kamu tetap Lio yang humoris yang om kenal" kekeh om mario. aku hanya tersenyum sopan "ya sudah, kamu lanjutkan apa yang harus kamu lanjutkan. om harus melihat dan memastikan semua persiapan acara sudah Ready." "oh, iya silahkan, om" om Mario lalu pergi meninggalkan kami berdua. aku membuka knop pintu dan mempersilahkan Adelia masuk dan duduk di sofa tamu. kuambil dua minuman dingin dari kulkas dan duduk di hadapan Adelia. "silahkan diminum" ucapku seraya meletakkan sebotol kopi kemasan di hadapannya. "terimakasih pak. tapi bapak tidak perlu repot-repot begini." sahutnya sungkan. "sama sekali tidak repot, minumlah, kamu pasti haus setelah berdebat dengan Wiraguna tadi." "terimakasih" ucapnya kemudian meminum minuman yang aku berikan. sesaat suasana menjadi hening. kupandangi sekeliling, ruangan ini tidak pernah berubah, baik tata letak maupun semua perabotannya yang serba warna putih. hanya warna catnya saja yang selalu di perbarui. begitulah ayah, selera beliau tidak pernah berubah. ayah memang berpendirian teguh, tak mudah menggoyahkan hatinya jika sudah memiliki tekad. seperti keberadaanku di ruangan ini, salah satu contoh keputusan ayah yang tak bisa dibantah. ia begitu yakin aku mampu menggantikannya. penolakanku dengan alasan minim pengalaman pun beliau tolak. menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk aku melalui pengalamanku. kulihat Adelia sudah meletakkan minumannya di meja. "sekali lagi saya ucapkan terima kasih, karna bapak sudah membantu saya tadi" ucapnya "sama-sama. sudah menjadi kewajiban saya sebagai manusia." balasku. ia hanya tersenyum sopan. "oiya, saya tadi tidak sengaja membaca nama "Adelia Maharani" di antara berkas-berkas kamu. apa benar itu nama kamu?" "iya, benar pak" aku manggut-manggut paham, sedikit merasa aneh dengan kemiripan nama kita, sungguh kebetulan yang sangat mengganjal di hati. "ngomong - ngomong ternyata nama kita mirip loh. perkenalkan, nama saya Adelio Mahendra. kamu bisa panggil saya Lio" "baik, pak Lio. senang bisa mengenal anda. Anda juga bisa memanggil saya Lia." "oke Lia, jadi apa tujuanmu datang ke rumah sakit ini?" Tanyaku memulai obrolan. "Saya datang hari ini denga tujuan untuk melamar kerja, pak. Sebenarnya pagi ini saya ada jadwal interview dengan pihak HRD. Tetapi karena satu dan lain hal saya gagal menghadiri undangan interview tersebut." "Oh, maaf. Itu pasti karena saya mengajak kamu ke ruangan saya, ya? Kalau gitu kamu boleh pergi sekarang, sebelum semakin terlambat." Titahku merasa bersalah telah mengajaknya kemari. "Tidak kok pak, saya memang datang terlambat karna saya harus mampir ke ruangan ibu saya terlebih dahulu untuk menyelesaikan hajatnya, karena itu saya tadi terburu-buru sampai tak sengaja menabrak pak Wiraguna." Jelasnya. Aku manggut-manggut paham. "Oh, jadi apakah ibu kamu juga bekerja di rumah sakit ini?" "Tidak pak, ibu saya sedang dirawat di sini." Jawab Lia dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Tampak sekali ia tengah mengemban beban yang berat. "maaf, saya tidak tahu Lia." Sesalku. "Tidak apa-apa pak." Jawab Lia sembari tersenyum manis. Kulirik jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 08.20. lalu terdengar suara notifikasi dari hpku. Ternyata pesan dari ayah. [ Kamu sudah siap Lio? Ayah baru sampai. sepertinya langsung menuju ruang rapat, karena acara pengenalan kamu akan dimulai 10 menit lagi. Kita bertemu di sana, ya.] k****a pesan dari ayah. Aku menghela nafas sejenak, sebelum kemudian mengetikkan balasan untuk pesan dari ayah. [ Ok yah ] balasku singkat. Lalu meletakkan kembali hpku di saku celana yang kukenakan. "Maaf, Lia" "Maaf, Pak" Ucapanku dan Adelia bersamaan. "Ehem," aku berdehem salah tingkah. "Silahkan bapak dulu." Ucapnya mempersilahkan. "Oh iya maaf sebelumnya, sepertinya saya harus pergi karena ada suatu urusan." "Baik, pak. Saya juga harus ke ruangan ibu saya." Pamit Lia. "Baiklah, kalau begitu kamu tinggalkan saja CV kamu disini. Nanti biar saya periksa. kebetulan hari ini saya juga ada pertemuan dengan kepala HRD." "Wah, terimakasih banyak pak. Rasanya saya sangat bersyukur hari ini dipertemukan dengan orang baik sebaik bapak." Ucap Lia dengan senyuman bahagia. Sangat menenangkan dan indah dipandang. Aku tersenyum melihatnya. "Sama sama" jawabku singkat. "Kalau begitu, saya permisi pak." "Silahkan. Salam untuk ibu kamu ya, semoga lekas sembuh." "Baik, pak. Pasti akan saya sampaikan" Kemudian Lia beranjak dari tempatnya, dan pandanganku tak lepas mengikuti langkahnya. Sampai ketika ia hendak meraih knop pintu ruanganku, entah mengapa aku begitu ingin menahannya. "Eh, Lia." Panggilku menghentikan langkah Lia. "Iya, pak?" Jawab Lia seraya berbalik ke arahku. Aku terdiam, merutuki diri sendiri tiba-tiba mencegah Lia keluar tanpa tujuan. "Ada apa, pak?" Tanya Lia menegaskan. 'Astaga, apa yang harus kukatakan?' "Ibu kamu dirawat di ruangan apa?" Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar meluncur dari mulutku. Sejenak tampak raut wajah Lia keheranan. Namun tak lama ia menjawab, "Kamar Mawar No.3 pak" "Baiklah. Kamu boleh pergi." Dan beberapa detik kemudian Lia telah lenyap dari pandanganku. "Astaghfirullah" ucapku lirih. 'Apa yang sedang kamu lakukan Lio?' batinku seraya menggeleng-gelengkan kepala heran dengan diriku sendiri. Kemudian segera beranjak ke ruang rapat. 'ayah pasti sudah menunggu' batinku. ******** Adelia POV Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan pak Lio. Rasanya masih seperti mimpi bisa menginjakkan kaki di lantai 5 dari bangunan megah ini. Bahkan dijamu oleh sang CEO dengan begitu baik. Jujur aku tak menyangka, bahwa CEO di rumah sakit semegah ini ternyata masih sangat muda dan tampan. Rumah sakit dr. Mahendra sudah menjadi tempat yang tak asing lagi bagiku, karna sejak 3 bulan belakangan, aku keluar masuk rumah sakit ini untuk menjaga ibu. Ibuku sudah lama mengidap penyakit Leukimia. Kondisinya semakin hari semakin parah, hingga terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit ini untuk mendapatkan penanganan dan perawatan terbaik. Rumah sakit dr. Mahendra memang rumah sakit terbesar di Bali. Fasilitasnya lengkap, pelayanannya pun sangat baik. Tapi ibu selalu menolak tiap kali kutawari berobat kemari. Sampai pada akhirnya kondisinya lah yang membawanya sampai ke tempat ini. Entah apa alasannya? Padahal untuk biaya pengobatan sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jujur, melihat kondisi ibu saat ini sangat menyakitkan bagiku. Beliau satu-satunya yang saya miliki di dunia ini, kini hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Segala upaya telah aku lakukan untuk kesembuhan ibu, tetapi kondisinya tak kunjung membaik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD