THE HOLLOW

1282 Words
Loukin tidak memejamkan mata sepanjang malam. Ia menghabiskan berjam-jam duduk mematung di lantai kamar kos, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin dengan ponsel tergenggam erat di tangan. Layar peramban yang menampilkan forum *The Hollow* memancarkan cahaya kebiruan, menerangi wajahnya yang pucat di tengah kegelapan ruangan. Ia telah membaca setiap unggahan di forum itu berulang kali hingga hafal di luar kepala. *Kulitku memudar saat menyentuh kayu.* *Pendengaranku mendadak sangat tajam.* *Mataku melihat sesuatu yang aneh di dalam gelap.* *Aku merasa ada yang mengikutiku dari atas atap.* Loukin berhenti pada baris terakhir. Jantungnya berdetak kepinggir d**a. Pengalaman yang dituliskan akun anonim itu persis sama dengan apa yang ia alami beberapa jam lalu. Dengan jemari yang gemetar, Loukin mengetikkan balasan di kolom komentar. "Aku juga merasakannya. Ada bayangan berukuran besar di atas atap toko. Gerakannya terlalu cepat dan presisi untuk ukuran manusia biasa." Ia menekan tombol kirim. Teks hijau pucat itu menggantung di layar. Loukin menunggu selama beberapa menit, menahan napas di tengah kesunyian kamar, namun tidak ada balasan balasan instan. Ia menurunkan ponselnya ke atas lutut, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Siapa sebenarnya sosok yang mengintipnya dari kegelapan atap toko, dan mengapa sosok itu menargetkan orang-orang yang mengalami anomali fisik seperti dirinya. Keesokan paginya, Loukin memaksakan diri untuk kembali ke kampus. Ia tidak bisa mengurung diri selamanya di dalam kamar kos. Jika ia ingin mencari kebenaran, ia harus berani berada di tengah keramaian. Selain itu, Mira telah mengirimkan belasan pesan teks yang beralih dari nada cemas menjadi kemarahan karena panggilan teleponnya terus diabaikan. Loukin mengetik pesan balasan singkat: "Aku sudah membaik. Kita bertemu di depan perpustakaan." Ia mengantongi ponselnya lalu melangkah keluar. Suasana kompleks kampus pagi itu terasa amat berbeda. Rektorat telah memasang pengumuman digital berukuran besar di atas gerbang utama. *Pengumuman Rektorat: Seluruh Kegiatan Perkuliahan Tatap Muka Dialihkan ke Sistem Daring Selama Dua Minggu Ke Depan. Seluruh Mahasiswa Diimbau Tetap Berada di Hunian Masing-Masing dan Segera Melaporkan Gejala Fisik Tidak Biasa ke Posko Kesehatan.* Loukin membaca pengumuman itu dengan d**a yang menyempit. Penghentian aktivitas kampus secara mendadak menegaskan bahwa pemerintah atau pihak otoritas kampus mengetahui sesuatu yang lebih besar dari sekadar efek samping imunisasi biasa. Saat melintasi lorong menuju gedung perpustakaan, Loukin menangkap sosok seorang gadis yang berdiri mematung di dekat jendela besar. Gadis itu mengenakan jaket kulit hitam dengan rambut panjang terurai. Pandangannya lurus menatap ke arah lapangan utama, namun ekspresinya begitu kosong dan dingin. Ketika Loukin melangkah mendekat, gadis itu menoleh secara mendadak. Mata mereka bertabrakan di udara. Loukin merasakan sensasi merinding yang dingin merambat di sepanjang tulang belakangnya. Tatapan gadis itu tidak memiliki keramahan khas mahasiswa pada umumnya, melainkan begitu tajam dan terfokus, layaknya seekor burung pemangsa yang sedang mengunci sasaran dari ketinggian. Gadis itu menyipitkan matanya sedikit, sunggingan senyum tipis yang misterius terukir di sudut bibirnya sebelum ia berbalik dan berjalan menghilang di belokan koridor. "Kin! Akhirnya kamu muncul juga!" Suara Mira memutus perhatian Loukin. Gadis berambut pendek itu berlari mendekat, menatap wajah Loukin dari jarak dekat dengan alis bertaut. "Wajahmu pucat sekali," ujar Mira sambil mengamati lingkaran hitam di bawah mata Loukin. "Kamu benar-benar cuma demam biasa? Anak-anak di grup obrolan makin liar membahas penutupan kampus ini. Temanku di FISIP bilang ada mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit isolasi karena kulitnya mengalami perubahan rona seperti reptil." Loukin menahan napasnya, berusaha keras menjaga agar raut wajahnya tetap datar. "Itu pasti cuma rumor yang dilebih-lebihkan karena panik." "Entahlah," Mira mengangkat bahunya. "Tapi kalau memang ada orang yang bisa berganti warna kulit seperti bunglon, rasanya mengerikan sekali. Seperti bukan manusia lagi." Kata-kata Mira menghantam kesadaran Loukin bagai pukulan telak. *Bukan manusia lagi.* Kalimat itu terus berulang di dalam kepalanya sepanjang sisa hari. Di sore hari, saat duduk sendirian di selasar taman kampus, Loukin kembali membuka forum *The Hollow*. Sebuah unggahan baru yang diunggah satu jam lalu berada di barisan paling atas. *Bagi siapa pun di area kampus ini yang mengalami perubahan warna kulit dan lonjakan indera: Datanglah ke Gedung Kesehatan lama lantai tiga malam ini jam sembilan. Jangan membawa siapa pun. Kita harus bicara.* Jantung Loukin berdegup kencang. Unggahan itu dikirim oleh akun dengan nama pengguna Silas. Ini bisa saja menjadi perangkap atau ancaman bahaya baru, namun ini juga merupakan satu-satunya petunjuk nyata yang ia miliki. Malam harinya, tepat pukul sembilan, Loukin melangkah menyusuri lorong berdebu Gedung Kesehatan lama yang sudah tidak terpakai. Bangunan tua itu dikelilingi pepohonan tinggi, berdiri gelap tanpa penerangan listrik. Loukin menaiki tangga beton yang berkerak, menahan napas setiap kali menginjak anak tangga yang menimbulkan bunyi gemeretak. Saat tiba di lantai tiga, ia mendorong pintu kayu yang lapuk dan melangkah masuk ke dalam bekas ruang perawatan yang luas. Cahaya bulan menerobos masuk dari jendela kaca yang pecah di beberapa sisi, membiaskan bayangan panjang di atas lantai semen. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria muda berambut pendek dengan struktur wajah yang tegas dan dingin. "Kamu datang," ujar pria itu. Suaranya datar tanpa intonasi, bergaung pelan di dalam ruangan kosong. Loukin menghentikan langkahnya tiga meter di depan pria itu. "Kamu yang memakai nama Silas di forum?" Pria itu mengangguk pelan. "Benar. Dan aku tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhmu." Loukin mencengkeram jemarinya sendiri. "Siapa kamu sebenarnya?" Silas tidak langsung menjawab. Ia perlahan mengangkat lengan kanan bajunya. Di bawah sorotan cahaya bulan, kulit lengan sawo matangnya bergetar. Rona kulit itu memudar cepat, berganti menjadi lapisan sisik-sisik halus keperakan yang mengilap, mencerminkan tekstur dingin menyerupai kulit ular sebelum akhirnya surut kembali normal. "Nama saya Silas," kata pria itu dingin. "Perubahan ini bukan cuma terjadi padamu. Tubuh kita sedang dipaksa bertransformasi oleh sesuatu yang dimasukkan ke dalam darah kita." Loukin menatap lengan Silas dengan napas tertahan. Momen itu adalah kali pertama ia melihat mutasi fisik secara langsung pada orang lain. "Siapa yang mengintai kita dari atas atap?" Raut wajah Silas berubah kaku. "Ada pihak lain yang sedang berburu. Mereka tahu anomali ini mulai bermunculan dan mereka mengumpulkan subjek seperti kita satu per satu. Itulah alasan aku mengumpulkan orang-orang dari forum." "Untuk apa?" tanya Loukin curiga. "Untuk bertahan hidup," balas Silas cepat. "Jika kamu bergerak sendirian dengan tubuh yang belum sepenuhnya kamu kuasai, kamu hanya akan menjadi mangsa." Loukin menatap mata Silas yang kelam dan tidak tertebak. Ada kalkulasi dingin di balik nada bicaranya yang terlalu tenang, membuat insting kewaspadaan Loukin justru menyala pesat. "Aku butuh waktu untuk memahami semua ini." Silas tidak menahan saat Loukin mundur beberapa langkah menuju pintu keluar. "Jangan terlalu lama berpikir. Mereka tidak akan memberimu waktu." Loukin melangkah tergesa-gesa keluar dari area Gedung Kesehatan lama. Udara malam terasa menusuk kulitnya, namun pikirannya jauh lebih dingin. Silas memang mengalami mutasi yang sama, tetapi Loukin tidak bisa serta-merta mempercayainya. Tiba-tiba, rasa gatal yang menusuk tajam kembali menghantam lehernya. Sensasi bahaya yang pekat menyengat sarafnya. Suara gesekan kain yang halus terdengar dari arah atap bangunan di sampingnya. Loukin mendongak seketika. Di atas pembatas atap toko kelontong, sosok berjaket dan bertopeng hitam berdiri mematung di bawah cahaya bulan. Ukuran tubuhnya tinggi tegap, menatap lurus ke arah Loukin dari ketinggian. Tanpa berpikir panjang, Loukin memutar badan dan berlari sekencang-kencangnya. Tungkai kakinya menghantam aspal gang dengan gema yang nyaring. Ia tidak menoleh lagi hingga tiba di depan pintu kosnya, membanting pintu itu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya pada kayu pintu dengan d**a yang naik-turun memburu. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ketika ia menurunkan pandangan ke arah lengannya dalam remang kamar yang gelap, tubuhnya telah melakukan tugasnya secara mandiri. Pakaian, kulit, dan seluruh sosoknya telah menyatu penuh dengan warna kegelapan sudut pintu, menjadi bayangan kelam yang tidak terdeteksi oleh mata biasa. Loukin menatap tangannya yang menyatu dengan kegelapan. Ketakutan di dalam dirinya mendadak menguap, berganti menjadi ketegangan yang tajam dan dingin. Ia tidak lagi sekadar bersembunyi. Seseorang sedang memburunya, dan ia harus siap bertarung saat saat itu tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD