THE VACCINE
Ponsel di atas meja kayu bergetar tiga kali.
""Dzz... dzz... dzz...""
Loukin menarik bantal, menutupi kedua telinganya rapat-rapat. *"Bisa tidak, sih, baru hari ketiga kuliah sudah diganggu notifikasi jam segini?"* batinnya jengkel.
Namun cahaya dari layar gawai itu terus berpendar menerobos kegelapan kamar kosnya. Dengan mata setengah terpejam dan napas berat, ia meraba meja, merebut ponsel itu, lalu menyipitkan mata begitu layar menyala silau.
Satu notifikasi berita lokal bertengger di paling atas.
*Peningkatan Kasus Gejala Mirip Flu di Beberapa Wilayah, Masyarakat Dihimbau Jaga Kesehatan.*
Loukin mengusap matanya yang terasa gatal. Ia menggeser layar ke bawah, menelusuri kolom komentar yang sepi.
*"Paling cuma flu perubahan cuaca."*
*"Gara-gara hujan terus ini, pada lebay."*
*"Tiap tahun juga begini pas musim pancaroba."*
Loukin terkekeh pelan. *"Iya juga. Media selalu saja cari bahan berita buat bikin heboh."*
Ia melempar ponselnya ke kasur busa yang tipis, lalu menatap langit-langit kamar dengan cat yang mulai mengelupas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hari ketiga sebagai mahasiswa baru harusnya berjalan lancar.
"Kamu tidak bingung kan cari gedung kuliahnya? Ini kan baru hari ketiga masuk," suara ibunya terdengar dari pengeras suara ponsel.
Loukin berjongkok di depan pintu kos, mengikat tali sepatu ketsnya dengan satu tangan.
"Sudah tidak, Bu. Minggu lalu kan sudah keliling pas orientasi," sahut Loukin sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya. "Lagipula dari kos ke gerbang kampus cuma butuh jalan kaki lima menit."
"Di kantor Ibu banyak yang mulai batuk-batuk. Katanya musim pancaroba. Kamu yang baru belajar ngekos jangan sembarangan makan."
"Iya, Ibu sayang. Aku bisa jaga diri kok," Loukin tersenyum tipis. "Ibu juga jangan lembur terus di rumah sakit. Nanti malah Ibu yang drop."
"Ibu cuma di bagian administrasi, Kin. Nggak seberat tenaga medis," ibunya terkekeh pelan. "Ya sudah, cepat berangkat. Nanti kamu terlambat masuk kelas pertama."
"Dah, Bu."
Loukin mematikan sambungan, mengantongi ponselnya, lalu melangkah keluar.
Udara pagi kota terasa hangat. Di sepanjang jalan, warung kopi penuh oleh warga yang mengobrol santai, sementara beberapa mahasiswa baru yang mengenakan almamater berjalan santai sambil mengunyah sarapan. Semuanya berjalan biasa saja, khas suasana minggu pertama kuliah.
"Kin! Kamu sudah kumpul berkas Maba ke rektorat?"
Loukin menoleh. Raka, teman satu kelompoknya saat orientasi kampus minggu lalu, berjalan mendekat dan menyamai langkahnya begitu memasuki area atrium.
"Belum, bukannya paling lambat akhir minggu ya?" tanya Loukin.
Raka menunjuk papan pengumuman digital di depan atrium yang menampilkan banner biru terang.
*Verifikasi Berkas Maba: Pemeriksaan Kesehatan dan Vaksinasi Wajib Semester 1.*
"Jadwalnya dipercepat," Raka mendengus sambil melipat tangan di d**a. "Katanya kalau belum dapat cap stempel dari Gedung Kesehatan hari ini, KTM fisik kita belum bisa dicetak. Bikin malas antrenya."
Loukin menatap papan itu sejenak. *"Halah, paling cuma tes kesehatan standar Maba,"* pikirnya.
"Tapi, Kin..." Raka mendekat, menurunkan volume suaranya. "Anak kos sebelahku bilang, kemarin ada Maba gelombang pertama yang demam tinggi habis disuntik. Trus pas malam, matanya kelihatan agak aneh pas kena lampu kamar."
Loukin menatap Raka, lalu tertawa kecil. "Kamu percaya rumor begituan? Palingan dia cuma kecapekan habis ospek minggu lalu trus halusinasi."
"Iya sih, lagian anak-anak Maba sekarang demen banget bikin cerita aneh," Raka ikut tertawa, mengibaskan tangannya. "Yuk ah, mumpung antrenya belum panjang."
"Lengan kiri digulung ya, Mas."
Petugas medis berpakaian serba putih itu tersenyum ramah. Suasana ruang kesehatan kampus sangat tenang, jauh dari kata mencekam.
Loukin melipat lengan kausnya. "Nggak bakal bikin pegal seharian kan, Mbak? Soalnya habis ini ada kelas pengantar."
"Sedikit saja. Seperti digigit semut," sahut perawat itu santai sambil memoleskan kapas beralkohol yang dingin di kulit lengan Loukin.
Jarum suntik menembus kulitnya.
*Ckit.*
Loukin memalingkan wajah, menahan napas sejenak. *"Dingin,"* batinnya saat merasakan cairan asing mengalir pelan masuk ke pembuluh darahnya.
"Selesai," kata perawat itu sambil menempelkan plester dan membubuhkan stempel di lembar berkasnya. "Silakan lanjut ke meja administrasi KTM."
"Terima kasih, Mbak."
Loukin berdiri, mengusap lengannya yang agak ngilu. Tidak ada rasa pusing, tidak ada gejala aneh. *"Selesai juga. Raka saja yang terlalu berlebihan,"* gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar gedung.
Tengah malam.
Loukin mendadak membuka mata.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena rasa hangat yang tidak biasa di dalam tubuhnya—seperti ada desiran arus listrik pelan yang mengalir dari jantung menuju seluruh ujung sarafnya.
*"Apa-apaan ini...?"* batinnya bingung.
Ia terduduk di tepi tempat tidur, mencoba menetralkan napasnya. Keringat dingin menetes dari dagunya. Ia tidak merasa sakit atau pusing. Malah sebaliknya, seluruh inderanya mendadak terasa sangat tajam. Suara derik jangkrik di luar kos terdengar begitu nyaring di telinganya.
Loukin mengangkat kedua tangannya ke udara.
Di bawah remang cahaya bulan yang menerobos jendela, ia membeku.
Kulit di punggung tangannya tampak... bergerak. Bintik-bintik pigmen kecil bergeser dan bergetar halus di bawah jaringan epidermisnya.
*"Mataku yang salah, atau..."*
Secara refleks, Loukin meletakkan telapak tangan kirinya di atas selimut abu-abu gelap yang menutupi kakinya.
Dalam hitungan detik, pigmen di tangannya memudar, berganti rona menjadi abu-abu pekat yang persis sama dengan warna kain selimut tersebut.
Jantung Loukin berdetak kencang menghantam dadanya. *"Ini... ini tidak mungkin."*
Dengan tangan gemetar, ia merenggut tangannya kembali dari selimut. Warna kulitnya perlahan kembali ke sawo matang.
Untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi buruk, Loukin menempelkan telapak tangannya rapat-rapat ke dinding semen putih krem di samping tempat tidurnya.
Gatal halus merambat di permukaan kulitnya. Dan di depan matanya sendiri, warna kulit tangannya memudar lagi—bertransformasi menjadi warna putih krem yang menyatu sempurna dengan tekstur dinding. Tangannya seolah-olah menghilang.
*"Tunggu... apa yang terjadi pada tubuhku?!"*
Napas Loukin memburu. Ia menarik tangannya kembali, menatap jemarinya yang gemetar hebat di tengah kegelapan malam.
Rasa hangat di dadanya perlahan surut, meninggalkan sensasi dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Warna tangannya kembali normal, tetapi pikiran Loukin telah kacau balau.
Ia meraba dadanya, memegang lengannya, menekan pipinya. Semuanya terasa utuh. Ia masih manusia.
Tapi di dalam batinnya, sebuah ketakutan hebat mulai tumbuh menjalar:
*"Sesuatu yang bukan manusia... baru saja masuk ke dalam tubuhku."*