Matahari belum sepenuhnya terbit saat Loukin akhirnya beranjak dari tepi tempat tidur. Ia tidak memejamkan mata sepanjang malam. Waktunya habis hanya untuk duduk bersandar di dinding kamar kos, menatap kedua telapak tangannya bergantian layaknya seseorang yang mendadak menemukan kecacatan asing pada tubuhnya sendiri.
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan bintik-bintik pigmen yang bergeser di bawah kulitnya terus terbayang. Rona abu-abu pekat, warna putih krem, lalu kembali ke sawo matang.
Loukin membasuh wajahnya secara kasar di depan cermin kamar mandi yang kusam. Bayangan di cermin menampilkan wajah yang kacau. Lingkaran hitam menjejak tegas di bawah matanya, rambutnya acak-acakan, dan tatapannya memancarkan kepanikan yang teramat sangat.
"Ini cuma efek samping vaksin," bisiknya pada bayangan sendiri di cermin, mencoba meyakinkan logika manusianya. "Reaksi alergi langka. Cuma itu."
Namun kalimat itu menggantung hampa. Tidak ada sejarah medis mana pun di dunia yang mencatat bahwa vaksin mampu merangsang kulit manusia untuk bertransformasi layaknya seekor bunglon. Loukin mengalirkan air keran yang dingin, membiarkannya membasahi jemarinya. Tangannya tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda perubahan warna.
*"Pasti cuma halusinasi akibat panik berlebihan,"* batinnya berusaha menghibur diri, meski di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu kejadian semalam benar-benar nyata.
Getar ponsel di atas meja memecah kesunyian. Nama ibunya tertera di layar gawai. Loukin menatap panggilannya selama beberapa detik, mengatur napas agar suaranya terdengar stabil sebelum mengangkatnya.
"Halo, Bu."
"Kin, kamu sudah siap-siap? Jangan sampai terlambat masuk kelas hari ketiga ini," suara ibunya terdengar ramah. "Ibu baru ingat, kemarin kamu tes kesehatan dan vaksinasi di kampus kan? Ada rasa demam atau pusing tidak?"
Loukin menarik napas perlahan. "Tidak ada, Bu. Aku baik-baik saja. Nggak ada efek samping."
"Syukurlah kalau begitu. Di rumah sakit tempat Ibu kerja, tadi pagi ada beberapa pasien rujukan yang mengeluh demam tinggi setelah menerima suntikan dari posko warga. Ada yang sampai mual berat."
"Mungkin cuma reaksi imun biasa," balas Loukin singkat, berusaha menjaga agar nada bicaranya tetap datar.
"Iya, dokter bilang begitu. Tapi suara kamu terdengar agak lemas. Benar tidak demam?"
Loukin menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. *"Lemas karena aku baru saja menyaksikan tubuhku berubah semalam, Bu,"* jerit batinnya.
"Aku cuma kurang tidur, Bu. Semalam sempat merapikan berkas kuliah," jawab Loukin berbohong. Rasa bersalah langsung mengganjal tenggorokannya. Ini kali pertama ia menyimpan rahasia besar dari ibunya.
"Ya sudah, jangan lupa sarapan sebelum berangkat. Ibu mau lanjut rekap data pasien dulu."
"Iya, Bu. Hati-hati di rumah sakit."
Perjalanan menuju kampus terasa sangat berbeda pagi itu. Bukan karena arsitektur kota atau jalanan yang berubah, melainkan cara pandang Loukin yang mendadak diliputi paranoia.
Ia mengamati setiap orang yang berpapasan dengannya di trotoar. Di halte bus, seorang pria paruh baya menggaruk lengannya yang kemerahan. Loukin menatapnya lekat-lekat, mencari tanda-tanda pergeseran pigmen kulit. Tidak ada. Di penyeberangan jalan, seorang mahasiswi bersin berulang kali. Loukin meliriknya penuh waspada. Semuanya tampak normal. Hanya dirinya yang merasa asing dan terancam di tengah kerumunan.
Suasana di area atrium kampus pun masih dipenuhi hiruk-pikuk minggu pertama perkuliahan. Namun, di papan pengumuman digital, informasi baru telah terpasang di bawah spanduk vaksinasi Maba.
*Bagi Mahasiswa yang Mengalami Reaksi Fisik atau Efek Samping Berkelanjutan, Diharapkan Segera Melapor ke Gedung Kesehatan Kampus.*
Loukin membaca tulisan itu dengan d**a menyempit. Melaporkan efek samping? Bagaimana mungkin ia datang ke Gedung Kesehatan dan mengatakan bahwa kulitnya bisa berganti warna menyesuaikan warna dinding kos? Mereka pasti akan langsung mengisolasinya atau menganggapnya gila.
Saat melangkah menyusuri tangga utama gedung perkuliahan, percakapan dua mahasiswa di depannya memancing pendengarannya.
"Kamu dengar cerita anak Fakultas Kedokteran Gigi tidak?" bisik salah satu dari mereka. "Katanya kemarin sore dia demam tinggi habis vaksin."
"Demam biasa kan sering terjadi," sahut temannya acuh.
"Bukan cuma demam. Teman satu kosnya bilang, bentuk pupil matanya sempat berubah saat kena sorot lampu. Memipih vertikal seperti mata kucing atau reptil."
Loukin menghentikan langkahnya seketika. Dadanya berdegup kencang. Ia teringat cerita absurd yang didengarnya kemarin. Cerita yang awalnya ia anggap cuma rumor fiksi kini menghantamnya sebagai kenyataan yang mengerikan.
*"Aku bukan satu-satunya,"* batin Loukin bergetar. Ada orang lain yang juga mengalami anomali pada tubuh mereka.
"Kin! Kenapa melamun di tengah jalan?"
Panggilan ceria itu memecah lamunan Loukin. Seorang gadis berambut pendek sebahu berjalan mendekat dengan ransel hitam menggantung di punggungnya. Mira Sol, teman satu kelompoknya saat masa orientasi minggu lalu. Cewek yang paling vokal, humoris, dan mudah bergaul di antara teman-teman barunya.
"Kamu pucat sekali," ujar Mira sambil memiringkan kepala, menatap wajah Loukin dengan teliti. "Jangan bilang kamu panik gara-gara ada kelas pengantar dosen senior hari ini?"
Loukin mencoba tersenyum tipis. "Bukan. Cuma agak kurang tidur."
"Baru hari ketiga kuliah sudah begadang," Mira tertawa pelan sambil berjalan beriringan di sampingnya menuju ruang kelas. "Kemarin vaksinasi lancar kan? Lenganku sempat agak pegal, tapi semalam tidurku nyenyak sekali."
Loukin melirik plester medis yang masih menempel di lengan atas Mira. "Kamu tidak merasakan sesuatu yang aneh?"
"Aneh bagaimana? Paling cuma mengantuk," Mira menaikkan alisnya. "Kenapa? Jangan-jangan kamu percaya rumor soal pupil mata berubah itu ya? Anak-anak di grup obrolan Maba sibuk membahas itu dari semalam."
"Menurutmu itu cuma kebohongan?" tanya Loukin.
"Jelas cuma cerita karangan orang jahil," balas Mira mantap. "Kalau memang ada orang yang matanya bisa berubah jadi mata kucing, harusnya sudah viral di media sosial. Sudah ah, ayo masuk kelas. Tempat duduk di barisan belakang nanti diambil orang."
Loukin mengekor di belakang Mira. Celotehan gadis itu tentang kantin kampus dan rencana bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa mengalir tanpa henti. Untuk sejenak, suara ceria Mira berhasil mengalihkan fokus Loukin dari ketakutan yang menghantuinya.
Kelas pengantar berlangsung selama dua jam. Dosen di depan sibuk menjelaskan struktur kurikulum dan bobot nilai, sementara Loukin duduk mematung di kursi kayu paling belakang. Tangannya sibuk meremas pulpen, memikirkan setiap kemungkinan terburuk.
Saat jam perkuliahan berakhir, koridor gedung mendadak dipenuhi sesak oleh ratusan mahasiswa yang saling berpapasan untuk berpindah ruangan.
"Aku ke toilet sebentar ya, Kin. Tunggu di dekat jendela," pamit Mira sebelum menghilang di balik pintu lorong.
Loukin bersandar pada pembatas koridor, menatap ke arah lapangan basket di bawah. Tiba-tiba, seorang mahasiswa yang berjalan tergesa-gesa menyenggol bahunya dari samping dengan cukup keras.
Loukin kehilangan keseimbangan dan secara refleks menempelkan telapak tangan kirinya ke dinding koridor untuk menahan tubuh agar tidak terjatuh. Dinding beton itu dicat putih krem, persis sama dengan warna dinding kamar kosnya.
Seketika itu pula, rasa gatal yang menusuk merambat di sepanjang saraf tangannya.
Di depan mata kepala sendiri, di tengah koridor yang ramai oleh lalu lalang orang, lapisan kulit di punggung tangan Loukin merespons. Pigmen sawo matangnya memudar cepat, berganti menjadi putih krem yang menyatu sempurna dengan permukaan dinding.
Jantung Loukin serasa berhenti berdetak. Panic attack menghantamnya seketika. Ia menyentakkan tangannya menjauh dari dinding, menariknya masuk ke dalam saku jaket dengan napas memburu. Perubahan rona itu langsung surut kembali normal hanya dalam hitungan detik.
Ia menoleh ke sekeliling dengan peluh dingin membasahi leher. Beruntung, orang-orang di sekitarnya terlalu sibuk dengan gawai dan percakapan masing-masing untuk menyadari keanehan singkat tersebut.
"Kin? Kamu kenapa berdiri kaku begitu?" Mira muncul dari balik toilet, menatapnya penuh keheranan.
"Tidak ada apa-apa," sahut Loukin cepat, berusaha mengatur suaranya yang gemetar. "Cuma agak pusing sedikit."
Mira mengerutkan kening. "Wajahmu makin pucat. Kalau tidak kuat, mending kamu ke UKS saja."
"Nanti saja habis kelas kedua," tolak Loukin pelan sambil melangkah mendahului Mira.
Satu jam berikutnya terasa seperti siksaan. Loukin tidak sanggup lagi berpura-pura tenang. Ketika kelas kedua usai, ia langsung melangkah cepat menuju toilet lantai dasar, mengabaikan panggilah Mira yang kebingungan di luar ruangan.
Loukin mengunci pintu bilik toilet rapat-rapat. Ia melangkah ke depan wastafel, memegang pinggiran porselen putih itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Ia membusungkan d**a, menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu mendongak menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajah di cermin itu memancarkan ketakutan murni. Loukin mendekatkan mukanya ke permukaan kaca, mengamati kedua mata sawo matangnya. Lingkaran pupilnya tampak biasa saja, berbentuk bulat sempurna layaknya mata manusia pada umumnya.
Loukin menghela napas lega, mencengkeram tepi wastafel lebih kuat. *"Hanya halusinasiku saja. Aku cuma terlalu cemas."*
Namun, sebelum napas leganya tuntas, rasa gatal yang tajam dan dingin mendadak menusuk dari belakang bola matanya.
Otot-otot halus di dalam iris matanya berkontraksi secara paksa. Tepat di depan matanya sendiri, pupil hitam yang tadinya bulat sempurna mendadak menyusut dan memipih tajam secara vertikal.
Sepasang mata reptil kini menatap balik ke arahnya dari dalam cermin.
Loukin mundur satu langkah hingga punggungnya menghantam pintu bilik toilet. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, menekan dadanya yang naik-turun tidak beraturan. Air mata dingin menetes tanpa bisa ia tahan.
Ketika ia membuka matanya kembali beberapa detik kemudian, pupilnya telah melebar dan kembali bulat seperti biasa. Namun kenyataan pahit kini telah terpampang jelas di depan matanya.
Ini bukan reaksi alergi. Ini bukan halusinasi. Ada sesuatu yang asing, sesuatu yang bukan berasal dari spesies manusia, sedang tumbuh dan terbangun di dalam tubuhnya.