Bismillahirrohmanirrohim.
Farida perlahan-lahan mulai sadar, dia merasa ada cahaya yang masuk ke dalam kedua bola matanya. Dia berusaha membuka matanya dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar.
"Astagfirullah, aku dimana? apa aku sudah ditangkap oleh ketiga preman tadi." Pikir Farida masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Setelah merasa kesadarannya sudah kembali utuh Farida perlahan-lahan bangun dari tidurnya untuk duduk, belum tahu dia kalau saat ini dirinya berada di dalam mobil.
Kedua bola mata Farida menatap tempat sekitar sambil otaknya terus mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya, Farida dapat bernafas lega saat melihat pakaian yang dia kenakan tidak ada satupun yanh berkurang.
"Alhamdulillah, Allah menyayangimu Farida."
Dia merasa sangat bersyukur sekali karena selamat dari para preman itu.
"Tunggu, tapi siapa yang sudah menolong Farida?" tanyanya pada diri sendiri.
Sampai Farida mengingat jika dia sudah melibatkan seorang yang tidak dia kenal untuk menolong dirinya.
"Bener orang tadi yang udah nolong Farida, tapi dimana dia sekarang."
Dengan segera Farida melihat keluar mobil mencari sosok laki-laki yang sudah membantunya tadi. Dia tidak tahu bagaimana ketiga preman itu pergi. Apakah laki-laki yang menolongnya itu sudah mengusir para preman.
"Itu orangnya."
Buru-buru Farida turun dari dalam mobil saat netranya menangkap sosok laki-laki yang dia lihat sebelumnya.
"Permisi."
Laki-laki bernama Fatih itu langsung mendongokan kepalanya kala mendegar ada orang yang menyapanya, kedua bola mata mereka tak sengaja bertemu tapi Fatih cepat mengalihkan pandangannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar, pulang kemana? biar saya antar." Fatih berbicara pada Farida tanpa menatap lawan bicarnya.
Farida paham akan gerak-gerik Fatih tidak mempermasalahkan hal itu, di tolong oleh Fatih saja dia merasa sudah sangat bersyukur sekali..
"Tidak perlu, om. Saya bisa pulang sendiri."
'Astagfirullah hal-adzim, apakah saya setua itu sampai dia memanggil saya dengan sebutan, om?' Fatih hanya mampu bertanya pada diri sendiri.
"Biar saya anatar mbak, bahaya malam-malam begini untuk perempuan. Besok-besok kalau keluar atau pulang malem jangan lewat jalan tadi mbak. Bahaya tempat itu rawan, ayo biar saya antar."
Farida membenarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang sudah menolongnya ini. kalau ke tiga preman itu kembali lagi terus tidak ada yang menolongnya dia tak tahu harus bagaimana tadi saja sudah kewalahan menghindari para preman itu.
"Maaf om menyusahkan lagi." Sesal Farida merasa tidak enak.
"Tak apa, kita sesama manusia memang diharuskan untuk tolong menolong." Fatih menjawab perkataan Farida sambil berjalan menuju mobilnya.
Tanpa menunggu Farida Fatih langsung masuk ke dalam mobil. Farida juga sudah ada didekat mobil Fatih.
"Om itu orang baik, pasti tidak mungkin mencelakai Farida. Aku duduk di belakang saja."
Lalu Farida segera membuka pintu mobil Fatih yang di belakang. Melihat apa yang dilakukan oleh Farida, Fatih tak protes setidaknya perempuan yang sudah ditolong itu tahu diri tidak duduk di sebelah kemudi.
"Rumah?"
"Jalan Anggrek, apartemen anggrek, om!"
Setelah tahu dimana tempat tinggal Farida tak ada lagi pertanyaan atau kata-kata yang keluar di dalam mulut Fatih, dia melajukan mobilnya menuju tempat yang baru saja Farida sebut.
"Om terima kasih banyak sekali lagi telah membantu saya."
Hm....
Sebuah deheman dari Fatih membuat Farida tidak lagi bernai berkata apapun. Cukup tahu laki-laki yang sedang mengemudi saat ini sangat dingin sekali pada dirinya.
Sebenarnya Fatih bukan orang sekitar tempat itu. Tadi waktu di rumah sakit ada pasien yang harus dia tangani lebih dulu padahal sudah jam pulangnya. Fatih adalah seorang dokter yang sangat bertanggungjawab, jadi sebelum pulang dia mengurus pasien yang membutuhkan pemeriksaan dirinya terlebih dahulu. Saat pulang karena adzan isya sudah lewat 1 jam lalu, Fatih memutuskan untuk shalat di masjid atau mushola yang dia temui.
Sudah terbiasa shalat diawal waktu, jika tak segera shalat ada rasa khawatir di dalam diri Fatih jika tidak segera melaksanakan shalat. Maka dari itu dia tadi baru keluar dari sebuah masjid.
Lalu saat akan menuju mobilnya Fatih sedang mengirim pesan pada uminya karena pulang terlambat disitulah dia bertemu dengan Farida. Itulah kenapa dia bisa bertemu dengan Farida.
Mobil Fatih sudah sampai di apartemen Farida. Gadis itu buru-buru keluar dari dalam mobil Fatih, dia juga takut terjadi fithan nantinya..
"Sekali lagi terima kasih banyak om, saya permisi Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Fatih singkat.
Setelah memastikan jika Farida sudah benar-benar keluar dari dalam mobilnya, Fatih segera pergi meninggalkan tempat itu. Malam ini pertama kalinya mobil Fatih dimasuki oleh seorang perempuan selain umi dan kakak perempuannya.
Di dalam mobil tadi kedua orang itu saling mengucapkan istighfar di dalam benak mereka masing-masing.
"Ya Allah, Astagfirullah. Maaf atas kesalahan Fatih, umi, abi." Sesalnya.
Fatih berusaha meluapakan kejadian tadi, sekarang yang dia ingikan hanya satu cepat sampai di rumah dan mencium uminya, dia benar-benar sangat merasa bersalah.
Di apartemen Farida, gadis itu baru saja akan masuk ke dalam kamar apartemennya tapi ada seorang yang menyapa dirinya.
"Tumben baru pulang Da? biasanya jam segini udah betah di kamar aja."
Farida tersenyum pada tetangga apartemennya itu, tanganya masih memegang knop pintu apartemen.
"Banyak kerjaaan di buktik Rin, terus tadi di kampus pulangnya agak telatan."
"Tadi siapa yang anter Da?" tanya Ririn lagi.
Sontak kedua bola mata Farida membulat sempurna, dia tak menyangka jika ada orang yang melihat dirinya turun dari mobil laki-laki yang sudah menolongnya tadi.
"Temen Rin."
"Cowok? cewek? bilang aja cowok lu ya Da."
"Astgafrullah, bukan lah. Dia cewek kok Rin."
"Tumben nggak lo ajak mampir."
"Heheh, buru-buru kata dia tadi, udah ya aku mau mandi dulu. Selamat malam tetangga kamar."
Buru-buru Farida masuk ke dalam kamar apartemennya sebelum tentangga keponya itu terus bertanya lebih lanjut lagi.
'Ya Allah, maaf Farida sudah berbohong kalau jujur makin rumit nanti, takut salah pahham juga.'
Ada perasaan sesal di hati Farida karena sudah berbohong tapi dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Ririn.
"Semua sudah terlanjur, semoga tidak bertemu lagi dengan orang itu. Dia memang baik tapi aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."
Sudah tak betah karena tubuhnya terasa lengket Farida segera membersihkan diri, dia juga baru ingat kalau belum melaksanakan salat isya, biasanya Farida akan salat di butik mungkin tadi dia lupa.
"Astagfirullah, Farida, Farida."
Di tempat lain seorang sedang merasa puas saat menatap handponenya, dia seperti seorang yang baru saja memenangkan hadia lotre berjumlah milyaran rupiah.
"Nggak sia-sia keluyuran jam segini, lumayan bisa dapat duit, emang rezeki nggak akan kemana." Ucap orang itu merasa bahagia sekali.