Insiden

1001 Words
Setelah menyadari bahwa aku hanya memakai piyama, dengan cepat ku tutup pintu hotel itu lalu mencari handuk dan memakainya ketubuhku. Kemudian kembali berjalan membuka pintu. " Ada apa?" tanyaku cepat. " Turun. Kita makan." jawabnya. " aku ngantuk." bantahku. " ck.. makan dulu Lexa. " paksa Raquel. " Yudah tunggu." ujarku akhirnya. Aku menutup pintu dengan kencang. Setelah itu kaki ku melangkah, tapi langkah ku tertahan. Aku menoleh kebalakang, melihat tali handuk yang sudah terjepit di pintu. Damn! Aku lupa mengikatnya ketubuhku. Dengan kesal aku membuka pintu kembali, ketika pintu akan terbuka tarikan pintu itu membuat tali handuk ikut menarikku. Aku teriak sambil menutup mata siap untuk merasakan keramik hotel yang dingin, tapi- aku merasa tubuhku melayang. Dengan pelan, mataku terbuka. Sedetik kemudian tatapan mataku beradu dengan mata biru milik Raquel. Lekat. Aku hanya bisa terdiam, terlebih lagi badan ku yang ikut menyamakan pergerakan bibir Raquel yang mendekat kearah bibirku. Cup Badanku meregang, ketika ciuman pertama ku jatuh kepada Raquel. Aku ingin memberontak melepaskan tangan Raquel yang menahan pinggangku. Tapi jiwa ku menolak, menjadikan ciuman kami semakin menguat. Aku hilang kendali, apalagi merasakan ciumannya yang begitu memabukkan. Mataku terpejam mengikuti semua permainan bibir Raquel. Tidak hanya itu, lidahnya ikut mendesak masuk kedalam mulutku. Mulutku terbuka, membiarkan lidah Raquel yang menari dilidahku. Karena tidak tahan, aku melepaskan tangan Raquel yang menahanku, kemudian tanganku merangkul pundak Raquel. Masih dengan keadaan berciuman, Raquel mendorongku kedalam. Kakinya mendorong pintu sehingga pintu itu tertutup. Kami berjalan dalam posisi berpagutan. Sampai Raquel mendorong ku kasar ke atas kasur. Pria itu menindihku, aku ingin memberontak tapi tanganku ditahan dengan tangan miliknya. Ciuman Raquel semakin memuntut, lalu berpindah ke leher, membuatku hilang kendali dan semakin menikmati permainan Raquel. " ahh." desahku tidak tertahan. Raquel berhenti dari permainannya, pria itu berdiri dengan lutut yang ditekuk. Aku yang berada dibawahnya, segera duduk dengan bantuan siku. Posisi kami saat ini begitu intim, kaki ku yang diapit oleh kedua kakinya. Dan parahnya handukku sudah terbuka menampilkan tubuhku. Dengan sigap, aku mengetatkan handuk ini. " ckk.. aku sudah melihatnya Lexa." Ucap Raquel. Aku menoleh kelain arah, Tapi tangan Raquel memegang daguku membawaku menoleh kembali kearahnya. " Kau sengaja bukan menggodaku seperti itu?" tanya nya dengan pelan. Aku menggeleng. " Tidak." Aku berani bersumpah bahwa aku sama sekali tidak menggoda Raquel. Memang kebetulan saja tadi aku lupa karna rasa kantuk yang begitu kentara. " Lexa, apakah kau benar-benar ingin memberiku keturunan?" Baru saja hendak menjawab, bibir Raquel kembali menempel dibibirku. " heumm." ucapku tertahan. Kesadaran ku kembali, Aku tidak bisa meneruskan ini semua. Kedua tanganku yang bebas terpaksa harus mendorong d**a Raquel. Tapi tenaga Raquel sangat besar, malah doronganku membuatku jatuh terhimpit dengan dadanya yang bidang. Ciuman Raquel kasar, aku hanya memejamkan mata terlebih lagi Raquel yang mulai menciumi ku kesegala arah. " Ahh." desahku lagi. " Kau menikmati permainan ku bukan?" tanyanya disela-sela menciumi seluruh badanku. " Raquel, ahh... kita tidak bisa seper-ahhh , kita tidak bisa seperti ini." Ucapku terbata-bata berusaha untuk tidak mendesah. " Tapi kau menikmati nya." Raquel berhenti, aku melihatnya membuka baju, dengan cepat aku mendorong tubuh Raquel sehingga pria itu terjatuh keatas kasur. Kesempatan itu aku gunakan untuk turun dari atas kasur, tapi tangannku ditahan Raquel. " Raquel, plis. " mohon ku padanya. Bukannya mendengar ucapanku, malah pria itu menarik ku kedalam pelukannya. Posisiku saat ini tengah berada diatas nya. Baru beberapa detik, posisi ku sudah bertukar menjadi dibawahnya. Raquel menarik semua pakaian ku secara paksa, ia membuka celananya menampilkan miliknya yang begitu panjang. Kaki ku di angkatnya kemudian diletakkan diatas bahunya. " Raquel aku mohon." lirihku ketika bendanya bersentuhan dengan pahaku. " Raqu-aghhhhhhh" ___________ Pagi hari, alarm ponselku berbunyi. Mataku masih terpejam, sangat sulit untuk terbuka. Malah ku biarkan alarm itu berbunyi dan semakin mengetatkan selimut yang membungkusku. Walaupun selimut yang sedang ku kenakan ini begitu tebal, tapi Ac yang berada didalam kamar masih terasa dikulitku. Sontak membuatku tersadar atas kejadian semalam. Aku berbalik badan dan mendapati Raquel yang tengah tertidur. Sial, pantas saja Ac masih terasa. Kiranya aku sedang tidak memakai apa-apa sekarang. Aku duduk dengan tangan yang menempel didada agar selimut ini tidak terbuka. " Raquel." panggil ku. Tapi pria ini sama sekali tidak bergeming, membuatku harus menggoyang-goyangkan badannya agar terbangun. " Raquel. Bangun, kita ada meeting malam ini. " sentakku. Tidak lama Raquel terbangun. " Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan muka bantal. Aku meraih ponselku yang berada diatas nakas. Lalu melirik jam yang tertera disana. " Jam setengah tujuh." jawabku. " Sit! Kita ada janji jam 8. Bersiap-siap lah Lexa." Suruhnya. " Ck... bagaimana aku bisa bersiap-siap sementara kau masih disini." kesalku. " Apa salahnya? Aku sudah melihat semuanya. " ledek Raquel. Aku menahan senyumku. Mungkin saat ini pipiku sudah seperti kepiting rebus. " Pergi lah Raquel. Kembali ke kamar mu." rengekku. " Aku ingin disini sampai kau selesai mandi." Aku menjewer telinga Raquel karena tidak tahan dengan sikapnya yang menyebalkan. " sttt sakit Lexa. Ampun." " Makanya pergi dari sini." " Iya-iya.. ampun. " Aku melepaskan tanganku dari telinganya. Sementara Raquel menggosok-gosokkan tangannya di telinga. Aku tersenyum puas melihat telinganya yang sudah memerah. Tidak lama pria ini menarik selimut dengan sangat keras sehingga membuat selimut yang berada ditubuhku terlepas. Aku melotot kearah Raquel. " RAQUELLLLLL!!! " teriakku. Pria itu malah berlari dengan selimutku kemudian membuka pintu. " KAU MASIH PERAWAN." Setelah mengucapkan itu, Raquel menghilang dari balik pintu. Menyisakan ku dengan raut wajah yang sangat malu. Aku melirik ke arah tempat tidur yang dipenuhi dengan bercak darah. Bingung adalah hal yang menggambarkan perasaan aku saat ini. Tapi disatu sisi , aku sangat senang bisa bersama Raquel. Dengan keadaan bugil, aku hendak berjalan kekamar mandi. Tapi pada saat berjalan, rasa perih membuatku meringis. Membayangkan bagaimana beringasnya Raquel semalam membuatku bergidik ngeri. Mungkin karena ia yang sudah berpengalaman dan lagi pula ini bukan pertama kali pria itu melakukannya. Ternyata hidupku memanglah sangat miris, menerima kenyataan bahwa aku telah menikmati bekas istri sah Raquel. Ingin rasanya menangis setiap mengingat bahwa Raquel telah memiliki istri. Tapi aku bisa apa, sementara aku lah yang menjadi selingkuhan pria itu. ______
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD