Waktu berdua

1034 Words
“ Untuk area pembangunannya , sekretaris saya sudah memperhitungkan. Nanti rekan-rekan bisa baca , termasuk untuk besar bahan yang dibutuhkan sudah tertera disini. Saya minta salah satu dari rekan semua yang ada diBandung, yaitu Pak Zeze untuk memegang laporan ini. “ “ Baik Pak.” “ Untuk rapat kita hari ini, saya cukupkan. Jika ada hal yang ingin ditanyakan mengenai project silahkan hubungi sekretaris saya. Sekian terimakasih.” jelas Raquel saat memimpin rapat. Semua hadirin yang hadir dalam rapat ini, mulai membubarkan diri. Menyisakan ku berdua dengan Raquel. Aku yang sedang membereskan semua berkas-berkas yang sudah dikeluarkan saat rapat. Sementara Raquel berdiri di dekat jendela untuk mengangkat ponselnya yang berbunyi. Setelah semua berkas ini kumasukkan, aku menunggu Raquel dengan membalas chat dari Mama. Wanita itu berkali-kali mengirimkan pesan whatshap kepadaku. Untung saja saat rapat, aku sudah menghidupkan mode silent sehingga deringan nya tidak membuat terganggu. My Mom P P P P Lexa kapan pulang. Mama kangen. Alexandra Chaterine Bsk. My Mom Kenapa tidak sekarang???? Mama suruh papa jemput ya!? Alexandra Chaterine Msi ad krjaan. Klo mama mau aku di pcat, y udh sruh Papa jmpt aku skrg. “ Lexa? Ayo.” Panggilan Raquel membuatku segera mematikan ponsel lalu memasukkannya kedalam tas. Aku berdiri dari tempat duduk dan berjalan mengikuti Raquel. Pria itu memiliki langkah lebar yang membuatku harus sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya. “ Yang nelfon kau siapa?” tanya ku kepo ketika sudah berjalan di samping Raquel. “ Istriku.” jawabnya membuat langkah ku terhenti. Sementara Raquel masih terus berjalan, tidak memperdulikan ku yang tertinggal. Aku kaget mendengar jawaban Raquel. Benarkah pria itu memiliki istri? Mood ku hancur. Perasaan ku juga ikut hancur saat mendengarnya. Aku menghela nafas kasar dan kembali berjalan menyusul Raquel yang mungkin sudah berada di parkiran. Pikiran ku saat ini sangatlah kacau. Aku juga tidak semangat untuk bersama Raquel lagi. Tapi bagaimana dengan kejadian semalam, apakah pria itu akan lupa. Setiba nya di parkiran, aku melihat Raquel yang sedang menunggu didalam mobil dengan posisi kaca mobil terbuka. Aku membuka pintu penumpang dibagian belakang, kemudian masuk kedalamnya. “ Aku bukan supir taxi. Pindah kedepan.” suruh Raquel tidak ku indahkan. Aku menatap keluar jendela, mengalihkan pandangan Raquel yang menatap ku dari kaca mobil. “ Lexa. Kau kenapa?” tanyanya. “ Tidak kenapa-kenapa. Buru nyalakan mobil, aku mau tidur.” elakku agar jauh-jauh dari Raquel. “ ck.. aku tidak mau menjalankan mobil jika saja kau tidak pindah ke depan.” ancamnya. “ Yaudah aku pesan gojek.” Ucapku tidak mau kalah. “ Ayolah Lexa. Kau ini kenapa??” “ Tanyakan saja pada istrimu.” Sindirku pada Raquel. “ Oh karena itu. Yang menelfon tadi bukan istriku, tapi Mama ku.” Aku menoleh kearah Raquel. Dengan rasa penasaran, aku turun dari mobil lalu pindah kedepan. Tepat disamping pengemudi. “ Kau belum punya istrikan?” tanya ku menyelidik. Raquel hanya diam dan menjalankan mobil nya. “ Raquel! Jawab!” desakku semakin penasaran. “ Diamlah Lexa. Aku akan membawa mu ke mall hari ini.” Aku menatap Raquel dari samping dengan senyum sumringah. “ Benarkah?” tanya ku antusias. Pria itu mengangguk. Aku bersorak gembira, sudah lama rasanya aku tidak pergi ke mall. Mungkin terakhir kali, sebelum pergi ke luar negeri. _____ Akhirnya disini lah aku berada. Di tengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati hasil jerih payahnya. Mall di bandung tidak kalah besar dengan Mall yang berada di Jakarta. Aku menggandeng tangan Raquel dengan penuh kegembiraan. Dengan mata yang celingak-celinguk mencari sesuatu yang akan ku beli. Aku membawa Raquel memutari mall, sampai mataku beralih ke toko perhiasan. “ Raquel, ayo kesitu!” tunjukku. “ Mau ngapain?” tanyanya. “ Ya mau beli perhiasan lah. “ Aku menarik tangan Raquel kencang, agar kami bisa sampai dengan cepat ke toko itu. “ Pelan-pelan Lexa.” tegur nya tidak membuat langkah ku melambat. Malah semakin mempercepat langkahku sehingga membuat langkah Raquel juga ikut cepat. “ Ada yang bisa saya bantu? “ tanya wanita si penjaga toko ketika kami sudah sampai disana. Aku melepaskan tanganku dari Raquel, lalu mulai menelisik setiap perhiasan yang ada didalam kaca. Semua perhiasan disini sangatlah cantik. Tidak sabar mengirimkan fotonya kepada Mama. Agar wanita itu iri kepadaku. Dengan satu tangan, aku mengeluarkan ponsel yang berada didalam tas. “ Mbak, saya izin foto ya.” ucapku pada wanita yang berada diseberang kaca. “ Silahkan Kak.” “ Terimakasi.” Setelah itu aku mulai memotretnya kemudian mengirimkannya pada Mama. Baru beberapa detik mengirimnya, Mama sudah membalas pesanku. Mama memang fast respon kalau aku yang mengirimnya pesan. Berbeda jika papa dan kak Al yang mengirimnya pesan, pasti wanita itu akan membalasnya beberapa jam setelah pesan itu masuk. My mom Wow! Perhiasannya cantik-cantik. Beliin mama satu ya, gelang yang ini. Send pictures Aku melihat gambar yang sudah mama lingkarkan. Lalu melihatkannya pada wanita ini. “ Mbak, saya mau yang ini. Size nya besarin lagi. Soalnya yang mau make, umur 50 tahunan. “ Ujarku. “ Baik Mbak. Tunggu sebentar ya.” Aku mengangguk. Kemudian berjalan mendekat kearah Raquel yang sedang duduk di luar toko. “ Lama.” Celutuk Raquel saat aku sudah duduk disampingnya. “ Aku beliin Mama gelang. “ ucapku. “ Kau pamer kepadanya bukan?” tebak Raquel. “ Iya. Itung-itung oleh-oleh untuk Mama. Oh iya, kau tidak beli oleh-oleh untuk kedua orangtua mu?” “ Mereka sudah tua. Jadi tidak perlu hal yang semacam itu. “ Aku mendesis. Lalu menarik tangan Raquel. Walaupun sempat pria itu menolak. Aku tetap membawanya ke toko baju untuk memilih pakaian yang akan dikenakan kedua orangtuanya Raquel. Aku memutari setiap sudut toko, mencari baju wanita dan pria yang sudah berumur. Walaupun sulit, karena aku sama sekali tidak pernah kenal dengan kedua orangtuanya Raquel. Tapi aku akan berusaha menebak dengan ukuran kedua orangtuaku. Mempunyai anak seperti Raquel, mungkin harus menunggu pria itu memiliki istri agar setiap keluar kota kedua orangtuanya mendapat oleh-oleh. Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan baju yang cocok. Dengan bantuan kursi, aku meraih baju yang terletak di bagian atas. Lalu membawanya ke kasir. Sebenarnya aku ingin membayar semua belanjaan ini, tapi Raquel melarangku. Ia mengeluarkan kartu debitnya , aku hanya menatap Raquel malas. Mentang-mentang pria itu banyak duit. Setelah semua nya selesai, aku mampir dulu ditoko perhiasan tadi untuk mengambil pesananku. Setelahnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel _____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD