Setelah seminggu semenjak pulang dari bandung, aku jatuh sakit dan harus dirawat dirumah sakit.
Untungnya hari ini bisa kembali merasakan kasur empukku. Aku sangat merindukan kamar ku , seharusnya sepulang dari Bandung aku bisa tidur dengan nyenyak disini.
Aku menghela nafas pelan.
Lalu teringat pekerjaan yang sudah seminggu ini ku tinggalkan. Padahal kalau dipikir-pikir aku baru tiga hari bekerja.
“ Lexa… Bos mu ingin bertemu.”
Suara dari seorang yang sangat ku kenali membuat ku menoleh kearah pintu, disana sudah berdiri Mama dan juga Raquel. Alisku bertautan , kemudian menyuruhnya untuk masuk.
“ Mama tinggal dulu ya. “ pamit Mama setelah itu meninggalkan kami berdua didalam kamar.
Aku menatap Raquel yang sedang duduk di kursi. Memperhatikan pria yang sudah seminggu tidak ku lihat.
Sama halnya sepertiku, Raquel juga menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah aku tidak tau, apa yang ada di pikiran pria itu.
“ Bagaimana kabarmu?” tanyanya membuyarkan tatapanku kearahnya.
“ Eh? Aku-baik.” jawabku.
“ Jonathan yang memberitauku kalau kau sedang jatuh sakit.” ujarnya.
Aku memang menyuruh Papa untuk mengizinkan ku pada Raquel. Karena untuk menghubungi pria itu aku tidak memiliki nomornya, ataupun nomor orang kantor.
“ Seharusnya, kalau kau sedang kenapa-kenapa segera hubungi aku.”
“ Bagaimana bisa menghubungi mu, nomor mu saja aku tidak punya.” timpalku.
“ Mana ponselmu?”
Aku menyerahkan ponsel yang berada di sebelahku. Lalu menyerahkannya pada Raquel, terlihat pria itu yang sedang mengetik di ponselku. Aku hanya mengamatinya dari tempat tidur.
Ketampanan Raquel berkali-kali lipat saat pria itu sedang fokus. Tanpa ku sadari, aku sedang tersenyum memperhatikan Raquel.
Dengan cepat, aku mengalihkan pandangan. Tidak ingin terlihat oleh pria itu kalau aku sedang memperhatikannya.
“ Ini. Aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu. “ ujar Raquel lalu menyerahkan ponsel itu kepadaku.
“ Terimakasi. “ Ucapku padanya. Lalu fokus dengan benda pipih itu.
“ Lexa.” panggilnya.
Aku yang sedang mencari nomor Raquel, mendongak untuk menatap pria itu.
“ Heum?”
“ Dokter bilang kau sakit apa?”
“ Aku tipes. Mungkin efek kelelahan.” Jawabku.
“ Aku minta maaf.” ucap Raquel.
“ Minta maaf untuk apa?”
“ Karna aku, kau harus dirawat dirumah sakit. Seharusnya aku tidak perlu membawa mu bekerja terlalu jauh. Selanjutnya aku akan meminta manager produksi yang menemaniku pergi.” jelas Raquel panjang lebar.
Aku tersenyum simpul. Kemudian menyuruh Raquel untuk mendekat kearah ku. Saat pria itu sudah duduk di tepi ranjang, aku meraih tangan Raquel lalu mengelusnya.
“ Ini bukan salahmu. Memang fisikku saja yang lemah.” ucapku menenangkannya.
“ Lexa.”
“ Iya?”
“ Aku-ingin berbicara sesuatu padamu..” pinta Raquel.
Aku mengangguk mengiyakan. Jantungku saat ini sedang berdetak cepat. Apalagi melihat Raquel yang menatapku seperti itu.
“ Aku jatuh cinta padamu Lexa.”
Deg
Aku terbungkam mendengar penuturan dari Raquel. Ini benar-benar terlalu cepat untukku. Dan rasanya sungguh tidak percaya. Apakah secepat itu aku meluluhkan hati Raquel? Tapi apakah pria ini benar-benar mencintaiku?
“ Aku tidak yakin kau begitu cepat mencintaiku.”
Raquel membawaku tanganku untuk dikecupnya. Hal itu semakin membuat jantungku berdetak tidak karuan. Rasa yang dari awal sudah ada untuk Raquel semakin bergejolak.
“ Dari dulu, hatiku sangat sulit untuk diberikan pada wanita. Tapi dengamu, rasanya berbeda. Sejak pertama kita bertemu, jantungku berdetak kencang, bahkan setiap aku berbicara denganmu detakannya semakin membuat ku menggila. Makanya saat aku b******u dengan mu, aku tidak bisa menahannya Lexa. Aku ingin kau menjadi milikku.”
“ Kau serius?” tanyaku memastika semua ucapan Raquel.
Sebenarnya aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada Raquel. Aku merasakan bagaimana jatuh cinta pada pandangan pertama. Biasanya semua pria lah yang mengejar ku, tapi saat bersama Raquel aku lah yang ingin mengejarnya.
Mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Raquel membuat ku terharu dan bahagia.
“ Lexa, apakah kau mau menjadi pacarku?” tanya Raquel membuat senyumku mengembang.
Tanpa memikir panjang, aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu Raquel memeluk ku erat kemudian menciumi seluruh wajahku. Aku menghentikan aksi Raquel takut jika Mama melihatnya.
“ Lexa. Aku ingin berkata jujur padamu..”
Aku menatap Raquel dengan heran. Apalagi yang ingin dikatakan pria ini? Bukannya ia sudah menyatakan cintanya untukku?
“ Apa yang ingin kau katakan?” tanya ku penasaran.
“ Aku- sebetulnya sudah beristri.”
Bagaimana rasanya setelah kita dibuat bahagia kemudian dijatuhkan dengan Satu fakta yang membuatku hancur saat itu juga, pengakuan orang yang ku cintai telah memiliki hubungan yang sah dengan wanita yang mengenalnya terlebih dahulu.
Aku melepaskan tanganku yang berada ditangan Raquel. Memalingkan muka dari nya, menahan air mata yang siap kapan saja akan menyeluruh kebawah.
Aku tidak bisa berkata-kata saat ini. Hatiku sakit, tapi rasa sakit hatiku tidak seberapa sebanding dengan rasa sakit istrinya jika mengetahui semua perbuatan yang dilakukan suaminya dibelakang.
Tak kuasa menahan tangis, aku menampar pipi Raquel dengan kasar.
“ b******k! Apa yang telah kau perbuat dibelakang istrimu Raquel?!!! HAH?!! Kalaupun aku tau kau punya istri, aku tidak akan mau berurusan denganmu” Histeris ku
“ Sttt… tenanglah Lexa. Aku minta maaf, tapi aku takut kau mengetahui semuanya. Aku takut kau menjauh.” Ujarnya menahan tanganku. Aku berusaha melepaskan tanganku dari tangannya.
“ Memang itu yang akan ku lakukan! Jika sudah begini aku harus apa? Hah! Hikss…hikss… aku sudah terlanjur mencintaimu Raquel. Tapi aku takut. “ lirih ku.
Aku bingung harus berbuat apa sementara aku sudah terlanjur mencintai pria yang duduk bersama ku saat ini.
“ Aku juga mencintai mu Lexa. Kita akan tetap menjalankan hubungan ini.”
Aku menatap Raquel dengan tajam. “ terus Aku akan menjadi selingkuhan mu?”
“ Maaf. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan.”
“Ck… kau jahat Raquel! JAHAT! “ ucapku sambil memukul dadanya.
“ Tenanglah Lexa, aku berjanji setelah hubungan kita berlangsung lama, aku akan menceraikan istriku.”
Aku menatap Raquel dengan lekat. Lalu menyeka air mata yang mengalir di pipi ku. Posisi ku saat ini serba salah, disatu sisi aku mencintai Raquel tapi disisi lain aku takut hubungan kami ini terbongkar.
Aku hanya bisa terdiam saat ini. Memikirkan semua yang akan terjadi padaku. Aku tau bahwa aku salah karena telah merebut suami orang, tapi sungguh aku sebetulnya tidak ingin semua ini terjadi. Tapi apalah daya takdir yang mengharuskan aku bertemu dengan Raquel.
_____