Hari weekend aku habis kan untuk berkemas-kemas semua barang yang ada dikamar. Aku telah memutuskan untuk pindah ke apartmen yang telah Papa berikan untukku.
Tentu harus melewati perdebatan yang panjang dengan Mama. Untung saja aku bisa membujuk nya dengan perhiasan yang sudah ku belikan waktu itu.
Memang kondisi yang sangat tepat saat memberikannya pada mama yang sedang marah kepadaku. Alhasil wanita itu memperbolehkan ku pindah dari rumah ini.
Setelah kamar ini ku sapu, aku turun ke lantai satu. Menyusul Mama dan Papa yang sedang membungkus barangku dengan buble wrap.
“ Pa. Lexa mau pindah hari ini saja.” Celutuk ku saat tiba di antara Mama dan Papa yang terlihat sibuk.
“ Bisanya besok nak. Hari ini securitynya sedang libur. Jadi tidak ada yang bantu kita.” ujar Papa.
“ Lagian kenapa si pengen cepat-cepat pergi dari rumah.” ucap Mama dengan nada kesal.
Aku duduk disalah satu sofa yang tidak jauh dari keberadaan Mama dan Papa. Kemudian menyilangkan kaki ku sambil memainkan kuku tangan yang terlihat kotor.
“ Lexa tidak sabar ingin mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.” kilahku.
Sebenarnya aku hanya ingin telfonan bebas dengan Raquel. Kalau dirumah, Mama selalu datang untuk menggangguku bahkan tidur denganku. Aku bahkan tidak mempunyai privasi jika dirumah. Untung saja Papa tidak seperti Mama.
“ Kau pasti akan keteteran kalau tidak ada Mama.” tebak Mama.
“ Siapa bilang? Bisa saja Lexa menjadi sangat rajin dibanding Mama.”
“ Ck.. kemarin keluar kota cuma beberapa hari langsung sakit.” sindir Mama
“ Oh iya kemarin Raquel kerumah ya?” tanya Papa.
Aku berhenti memainkan kuku. Kemudian berjalan menghidupkan televisi berpura-pura tidak ingin terlibat dalam obrolan mereka.
“ Iya, katanya mau melihat Lexa.” Jawab Mama samar-samar masih terdengar olehku.
“ Raquel memang bos yang baik. Tapi sayangnya , dia sudah beristri.”
Walaupun suara Mama dan Papa yang terhalang dengan suara televisi, tapi aku masih bisa mendengar perbincangan mereka dengan samar. Terlebih lagi ucapan mama yang membuatku tertarik untuk mendengarnya.
“ Istri Raquel kata orang-orang, mandul ya Pa.” Ucap Mama membuatku teringat dengan pertanyaan Raquel didalam mobil.
Ternyata apa yang ditanyakan Raquel kepadaku saat itu merupakan keadaan istri nya.
Karena rasa penasaranku yang semakin tinggi, aku mencoba untuk ikut membantu Mama dan Papa. Aku mengambil barang-barangku kemudian ikut membungkusnya dengan buble wrap disamping Papa.
“ Iya, udah 7 tahun pernikahan tapi sampai sekarang belum punya anak.” ujar Papa.
“ Kasian ya. Terus siapa yang akan meneruskan perusahaan TC kalau Raquel udah tua.” ucap Mama.
“ Mana tau, Raquel mau menikah lagi kan dengan istri baru.”
“ Uhukkk”
Mama dan Papa menoleh kearah ku yang terbatuk. Aku gelagapan ditatap mereka seperti itu, ucapan Papa sedikit membuatku tersindir.
“ Kenapa Lexa?” tanya Mama bingung.
“ A-aapa Ma. Aku cuma seret.” alasanku.
“ Minum dulu kedapur, nanti baru bantu- bantu kami lagi..” suruh Papa.
Aku mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan kedapur untuk mengambil minum. Baru sehari menjadi pacar Raquel, membuat ku secara tidak langsung tersindir oleh ucapan Papa. Bagaimana nanti, jika ada orang yang membahas istri pria itu didepan ku.
Mau tidak mau, aku harus menebalkan telinga dari setiap ucapan orang. Agar bisa menerima kenyataan bahwa aku hanyalah sekedar selingkuhan nya Raquel.
_____
Malam hari, tampilan ku sudah terlihat sangat sempurna. Dengan balutan dress bewarna merah sebatas lutus dan juga polesan make up yang natural diwajah.
Aku memoleskan lipstik merah yang berada di rak make up kemudian memakai heels yang sudah kusediakan didepan pintu kamar.
Setelah itu aku turun tangga dengan sangat hati-hati. Takut jika suara heelsku membangunkan Mama dan Papa yang sedang tertidur.
Aku memang sengaja mengatur jadwal dengan Raquel pada malam hari pukul sebelas malam.
Semata-mata agar Mama dan Papa tidak banyak bertanya tentang ku. Pasalnya aku bukan lah tipe gadis yang suka keluar rumah.
Setibanya didepan pintu, aku membuka ganggang pintu dengan sangat pelan sehingga tidak menimbulkan bunyi decitan.
Setelah itu aku menutupnya kembali lalu berlari dengan heels yang sedang ku kenakan.
Saat berada disamping mobil Raquel, pintu mobil itu terbuka membuatku segera masuk kedalamnya.
“ Ayo. Takut Mama sama Papa bangun.” desak ku pada Raquel saat sudah duduk di kursi mobil
Raquel mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.
“ Mama , Papa sudah tidur?“ tanya Raquel.
“ Sudah. Mereka tidak pernah tidur larut malam jika tidak ada hal yang penting. “ jawabku.
“ Aku merasa berdosa karena tidak izin terlebih dahulu untuk membawamu sayang.”
Aku tersenyum malu mendengar panggilan Raquel yang sudah berubah saat aku menjadi pacarnya.
“ Kalau kau minta izin pada mereka, aku yang akan dikeluarkan dari kk.” celutuk ku.
Raquel terkekeh pelan. Sehingga menampilkan gigi putihnya yang rapi.
“ Kau tau, mereka membicarakan istrimu tadi.”
Terlihat Raquel menoleh kearah ku sebentar sebelum ia kembali fokus menyetir.
“ Bicara tentang apa?”
“ Tentang istrimu yang mandul.”
Hening. Tidak ada tanggapan dari Raquel. Aku sesekali melirik kearahnya untuk melihat bagaimana raut wajah Raquel. Tapi keadaan mobil yang begitu gelap membuatku tidak dapat melihatnya dengan jelas.
“ Raquel. Aku minta maaf kalau kau merasa tersinggung.” celutuk ku merasa tidak enak hati padanya.
“ Tidak apa. Aku hanya bingung. “
“ Bingung kenapa?”
“ Bingung harus bagaimana kepada istriku. Sementara kedua orangtuaku menuntut ku untuk memiliki anak.” jelasnya.
“ Kau bisa mengatakan kalau istrimu itu mandul Raquel.”
“ Tapi aku tidak tega.”
“ Ckk.. karna kau cinta padanya bukan?” sendirku sinis.
Setelah itu hanya terdengar suara deruan mobil dan motor disepanjang jalan. Sampai akhirnya mobil milik Raquel berhenti disebuah restoran mewah yang ada di Jakarta.
Aku turun dari mobil itu setelah Raquel membukakan pintu untukku. Kami berjalan bergandengan masuk kedalam restoran.
Restoran ini letaknya cukup terpencil, karena Raquel tidak ingin ada yang mengetahui hubungan ku dengan nya.
Takut jika media meliputnya dan reputasi Raquel menjadi buruk. Hal itu bisa membuat pesaing bisnis yang lain memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan perusahaan Raquel.
Begitulah penjelasan Raquel kepadaku. Bahkan aku sempat memikir bagaimana sulitnya menjalin hubungan dengan pria ini.
Aku hanya menatap miris lampu kerlap-kerlip yang berada didepan ku ketika aku telah duduk bersama Miracle.
Entah sampai kapan hubungan ini akan dirahasiakan.
______