Sore hari nya hujan turun dengan sangat lebat, membuat kepulanganku dari kantor harus tertunda. Disinilah aku harus menunggu jemputan, duduk di kursi yang ada di lobby kantor. Tidak banyak orang disini karna rata-rata mereka sudah pulang dengan menggunakan mobil masing-masing.
Sayangnya aku sama sekali tidak bisa mengendarai mobil ataupun motor. Mungkin karena Mama tidak pernah memberikan izin setiap Papa akan mengajariku.
Padahal saat itu aku bukan lagi anak kecil, usia ku sudah 18 tahun. Terkadang aku iri dengan kak Alexo, diusianya yang saat itu baru memasuki 17 tahun sudah bisa mengendarai mobil dan motor.
Miris sekali bukan, alhasil begini lah akibatnya. Harus menunggu jemputan dari Mama. Mamapun menjemputku tidak menggunakan mobil, melainkan menggunakan motor. Karena wanita itu sama sekali tidak bisa mengendarai mobil bahkan setelah belajar les private mengendarai.
Berulang kali, aku mengecek ponsel yang sedari tadi berada digenggaman, berharap ada pesan dari Mama yang mengatakan bahwa beliau sudah ‘otw’ menjemputku. Tapi nihil, hanya ada pesanku yang hanya di baca olehnya.
“ Sedang menunggu siapa?”
Kepalaku menoleh ke kanan, melihat Raquel yang sudah berdiri dengan tangannya yang dimasukkan kedalam kantong celana.
“ Saya sedang menunggu jemputan Pak.” jawabku.
Pria itu berdiri dengan tatapan mata yang terfokus ke depan. Sama sekali tidak menatapku, mungkin memang hobby Raquel yang berbicara tanpa harus menatap lawan bicaranya.
Aku menghela nafas sejenak, walaupun Raquel begitu tapi tetap bisa membuat jantung ku berdetak tidak karuan.
“ Kalau diluar kantor, kau tidak perlu berbicara formal.” ujarnya.
Lagi-lagi Raquel berhasil membuatku tersenyum malu. Aku tau maksud pria yang berdiri ini, pasti Raquel sengaja ingin lebih dekat denganku.
“ Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku juga berbicara seperti ini pada setiap karyawan yang kujumpai diluar kantor.” jelas Raquel.
Senyumku pudar tergantikan dengan tatapan kekesalan. Apakah Raquel cenayang yang bisa membaca pikiran orang? Kalau begitu, sungguh aku sangat malu ketika memikirkan yang berlebihan tentang dirinya.
“ Kau besar kepala. Aku tidak mikir yang aneh-aneh.” elakku.
“ lantas kenapa kau senyum-senyum sendiri? “ tanya nya.
Aku mendelik kearah Raquel.
“ Memang apa salahnya aku senyum-senyum? “
“ Tidak masalah.”
Setelah mengucapkan itu, tidak lama mobil merk lamborghini berhenti didepan kantor. Disertai pria berbaju hitam yang saat itu pernah aku jumpai , keluar dari mobil dengan menggunakan payung.
Pria itu mendekat, mataku tidak berhenti melihatnya. Dari mulai pria itu yang menyerahkan payung kepada Raquel lalu mengikuti Raquel dari belakang ketika Raquel sudah berlalu pergi begitu saja.
Aku hanya menatap nanar punggung Raquel. Tidak ada kah niatan nya untuk menawari ku pulang bersama? Atau sekedar basa-basi memayungi ku ala-ala drama korea yang pernah ku tonton?
Lagi-lagi aku harus menahan kekecewaan terhadap pria itu.
Setelah lamborghini milik Raquel pergi, tidak lama motor Mama berhenti. Mama dengan jas hujannya turun dari motor dengan membawa satu payung ,Lalu ia menghampiriku.
“ Ini Lexa. “ ucap Mama menyerahkan payung pink itu kepadaku.
“ loh Mama ga bawa jas hujan lebih? “ tanyaku heran.
“ Mama cuma punya satu. Itupun baru Mama beli online saat hendak menjemput mu.” terang Mama membuat ku menghembuskan nafas jengah.
“ Terus gimana, masa Lexa hujan-hujanan sih.” rengekku kepada Mama. Aku tidak ingin jatuh sakit, apalagi mengingat besok pagi harus pergi kerja di luar kota.
“ Lexa, kau itu bodoh apa gimana. Kan ada payung, saat diatas motor kau bisa memakai payung itu.”
“ Mama pikir aja, anginnya gimana. Nanti kalau payungnya terbang, Lexa juga yang harus basah-basahan. “ jelasku.
“ Yaudah! Mama pulang dulu, nanti Mama akan suruh papa menjemputmu. Jangan kemana-mana tunggu disini!”
Setelah berucap seperti itu, Mama melenggang pergi, menghidupkan motor dan berjalan meninggalkan ku yang berdiri dengan tampang bodoh.
Aku menatap tidak percaya pada payung yang ada digenggamanku ini. Jadi untuk apa ia repot-repot kesini kalau hanya untuk mengantarkan payung dan tidak membawaku pulang. Entah lah, kepala ku sungguh pusing. Orang-orang disekelilingku memang sangat aneh.
________
“ Wow, ada apa gerangan tuan puteri bangun pagi-pagi.” Ucap Mama melihatku yang berjalan ke dapur dengan pakaian rapi. Matanya lantas menatap koper yang ku seret.
“ Kau mau kemana dengan membawa koper? “ tanya Mama.
“Lexa mau pergi keluar kota” ujar ku kemudian ikut bergabung bersama papa dimeja makan. Lalu koper ini kuletakkan dibawah meja.
“ Lexa, Mama mengatakan kau ingin hidup mandiri? papa bisa menyewa apart untukmu tinggal disana.” timpal Papa tiba-tiba.
Baru saja aku akan menjawab, Mama sudah lebih dahulu menjawab ‘tidak’.
“ Mama tidak akan rela Lexa tinggal berjauhan dari Mama. Cukup Al saja yang memilih tinggal berjauhan dari orangtuanya.” tolak Mama pada Papa.
“ Ma, Lexa ini sudah dewasa. “ peringatku pada Mama.
“ Lexa bebas memilih untuk jalan hidupnya sendiri .” dukung Papa.
Tidak lama kemudian, Mama meletakkan masakannya diatas meja. Lalu wanita itu ikut bergabung bersama ku dan Papa.
“ Pokoknya mama tidak mau Lexa jauh-jauh dari Mama. Titik.”
“ Kalau Lexa sudah menikah, Mama masih ngelarang Lexa?” tanyaku lalu mulai menyantap omlet yang sudah mama buatkan.
“ Kalau yang itu beda cerita.” jawabnya.
“ Ma, kalau papa mau menyewa apart untuk Lexa, Lexa akan sangat senang bisa hidup mandiri. Pastinya Lexa akan mengunjungi Mama dan Papa. “ ucapku disela-sela makan.
“ Kalau tidak, Mama ikut tinggal bersama Lexa saja.” timpal Papa membuatku menoleh. Lalu menyenggol tangan Papa yang diletakkannya diatas meja. Membuat pria paruh baya itu terkekeh.
“ Gimana ceritanya, Lexa mau hidup mandiri tapi papa malah menyarankan Mama untuk ikut tinggal bersamaku. ” bantahku.
Mama tertawa pelan mendengarnya.
“ Kalau usul papa begitu, Mama sudah pasti setuju.” ucap Mama.
Tidak lama suara klakson mobil membuat Mama dan Papa yang sedang berbicara terdiam. Aku meletakkan sendok diatas piring, lalu menyandang tas yang ku letakkan di atas kursi.
“ kau memesan grab? “ tanya Mama ketika aku sudah bersiap untuk pergi.
Aku berjalan mengampiri Mama, lalu menciumin pipinya.
“ Itu bos Lexa..” ucapku kemudian berjalan kearah papa dan mencium pipinya.
“ Bos kamu yang Raquel kan?” tanya Papa membuat ku mengangguk.
“ Lexa pergi dulu. Bye..”
Aku berlari kecil menyusuri sudut rumah takut jika Raquel menunggu terlalu lama. Ketika sampai diambang pintu, aku menarik pintu itu kencang lalu membiarkan pintu itu terbuka.
Di seberang pagar yang tidak terlalu tinggi itu, terlihat mobil lamborghini milik Raquel.
Aku berjalan cepat menghampiri mobil itu.