" ckk.. terus? Kau kesini buat apa?" tanya nya semakin membuatku heran.
Aku berkacak pinggang kemudian meletakkan tas ku diatas mejanya.
" Aku kesini ya untuk bekerja. " jawabku dengan kesal. Ternyata pria tampan yang tidak kuketahui nama nya ini, terlalu menyebalkan jika berbicara. Kalau begitu, lebih baik dia diam saja.
" Apa jabatan mu disini?" tanya nya lagi.
" Menjadi sekretaris Pak CEO" jawabku angkuh.
" Ooh menjadi sekretarisku."
Ingin sekali aku melemparnya dengan heels yang sedang ku kenakan saat ini. Sedari tadi ia berbicara dengan percaya diri.
" Mohon maaf, perlu aku ingatkan. Aku kesini untuk mencari CEO, bukan mencari mu. Dan aku bekerja menjadi sekretaris CEO bukan menjadi sekretarismu." jelasku panjang lebar. Berharap pria yang duduk dihadapanku ini mengerti.
" Kau tidak mengetahui siapa nama CEO mu? Dan bagaimana wajahnya?"
" Aku cuma tau namanya."
Ya. Aku cuma tau nama CEO di perusahaan ini. Tapi tidak dengan wajah nya, walaupun pria itu sering tampil di berita televisi dan koran, tapi wajahnya selalu tertutup dengan masker dan kacamata.
" Kau harus membaca identitas ini." ucap pria itu sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi name tag kepadaku.
Aku mengambil name tag itu dengan satu tangan, lalu melihatnya lekat. Sekita mataku langsung membulat. Foto yang ada di name tag ini sangat mirip dengan pria ini.
" Kau Raquel? Eh maksud ku Pak Raquel?" tanyaku heran.
" Ya. " jawabnya singkat.
Aku terdiam dan merasa malu pada Raquel. Terlebih lagi ucapanku yang lancang kepadanya. Entah bagaimana nasib ku diperusahaan ini, baru pertama masuk kerja aku harus dihadapkan dengan masalah yang seperti ini.
" maaf ya Pak. Saya benar-benar tidak tau, kalau bapak adalah Pak Raquel." sungkan ku padanya.
Raquel hanya menatapku sekilas lalu tangannya mengambil tumpukkan kertas yang berada diatas meja kemudian menyerahkan nya padaku.
" Kerjakan. " ucapnya setelah tumpukan kertas itu berpindah ke tanganku.
Dahiku menyerngit, menatap Raquel dengan tatapan tidak suka karna hampir saja semua kertas ini jatuh berserakan.
Dengan kesal, aku berjalan kearah meja yang berada disebelah meja Raquel. Meletakkan tumpukan kertas itu lalu berjalan kembali ke meja Raquel untuk mengambil tasku yang berada diatas mejanya.
" Aku mau ambil ini." Tunjukku padanya, walaupun aku tau pria ini tidak akan menoleh.
Setelah itu, aku mulai mengerjakan setiap lembaran yang berisikan angka-angka yang membuatku pusing ketika membacanya.
Aku bukanlah lulusan SMK akuntansi, bukan juga lulusan IPA yang lancar berhitung. Aku ini anak IPS, yang cuma bisa membaca lalu menghafal setiap tulisan-tulisan dibuku.
Untuk mengerjakan semua ini, tentu membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi baru pertama masuk kerja.
" Pak. Bisakah anda membantu saya untuk memberikan contoh atas pekerjaan ini?" tegur ku pada Raquel yang tengah sibuk dengan komputernya.
" Aku sibuk."
Begitulah jawabannya tanpa mengalihkan pandangan dari komputer itu.
Aku berdecak malas. “ Tapi saya tidak mengerti pak. Tidak bisa kah kau mengajariku sebentar saja? Cukup satu lembar kertas yang kau ajari.” Pinta ku pada Raquel.
Raquel melirik sebentar kearah ku, sebelum pria itu kembali sibuk dengan layar komputernya.
“ Kerjakan saja apa yang kau bisa. Aku ingin melihat bagaimana pekerjaan mu tanpa campur tangan Jonathan.”
Sindir Raquel membuatku membisu. Jonathan itu merupakan nama Papa ku. Dan perlu kalian ingat, papa lah yang membantu ku untuk masuk kedalam perusahaan ini.
Dengan kesal, tanganku mulai mengetik diatas keyboard. Mencoba memasukkan data itu kedalam microsoft excel.
______
Pukul 12 siang, pekerjaan ku belum selesai. Ingin sekali keluar lalu mencari makan. Kebetulan sedang istirahat kerja, tapi sifat malas membuatku harus bertahan disini sendiri
Apalagi mengingat pekerjaan yang masih begitu banyak dan juga belum mempunyai teman. Tanganku memijat kepala yang terasa pusing, perut sudah keroncongan. Tadi pagi hanya makan roti lalu minum s**u.
Dengan lesu, kepala ku rebahkan diatas meja dengan lengan sebagai penyangganya. Mungkin tidur selama 5 menit bisa menghilangkan rasa pusing.
Baru saja akan memejamkan mata, getaran dari meja membuat ku menegakkan badan. Terlihat Raquel yang sudah meletakkan sebuah nasi kotak diatas meja dengan minuman starbuck dingin ditangannya.
“ Ini.” ujarnya .
“ Untuk siapa?” tanyaku.
“ Tidak ada orang disini selain aku dan kau.” jawabnya membuatku menahan senyum.
Setelah itu Raquel kembali pergi. Aku menatap punggung kekarnya itu dengan senyum yang mengembang.
Kadang Raquel memiliki sifat yang sangat menyebalkan tapi dibalik itu juga memiliki sifat yang perhatian.
Aku tidak bisa menyangkal bahwa telah terbawa perasaan terhadapnya. Selain wajahnya yang tampan, salah satu sifatnya yang seperti ini mampu membuat ku terpesona.
Dengan riang, aku mulai membuka bungkus nasi kotak itu lalu menyantapnya. Rasa nikmat saat gigitan pertama membuat ku memejamkan mata.
“ Permisi.” ujar seseorang membuat mataku terbuka.
Diambang pintu, berdiri Seorang gadis dengan rambut ikal. Pakaiannya sangat sexy, dengan crop top sebatas pusat dan celana ketat yang menjiplak area pribadinya.
“ Iya kenapa?” tanyaku sedikit keras agar gadis itu dapat mendengarnya.
“ Maaf, apakah ada Pak Raquel?”
Aku menggeleng.
“ Memangnya ada apa ya?”
“ Saya izin masuk ya.” ucapnya.
Aku mempersilahkan gadis itu masuk. Tapi sebelum itu, makanan yang ada diatas meja aku singkirkan ke pinggir. Tidak enak rasanya diliat karyawan yang sedang masuk ke dalam ruangan kerja.
Gadis itu menyerahkan map bewarna cokelat kearah ku. Dengan satu tangan aku menerimanya.
“ Saya minta tolong serahkan ini pada Pak Raquel ya, Bu.” timpalnya.
“ Baik. Atas nama siapa?”
“ Katakan saja atas nama Melani.”
Aku mengangguk pelan. Setelahnya gadis yang bernama Melani itu pamit meninggalkan ruangan. Karena rasa penasaranku yang sangat tinggi, aku membuka map cokelat ini lalu membacanya.
Tidak ada hal yang penting, selain berisi tentang jadwal rapat yang sudah ditabelkan.
“ Itu apa?”
Aku mendongak kaget. Ternyata Raquel sudah berdiri di samping meja kerja ku. Aku menutup map itu lalu memberikannya pada Raquel.
“Ini dari Melani. “ serahku.
Raquel terlihat mengangguk-angguk.
“ Oh iya siapa namamu?” tanya pria itu setelahnya.
“ Alexa. Tapi panggil saja Lexa. “ kenalku pada Raquel. Padahal Raquel sedari tadi berbicara padaku, tapi baru saat ini menanyakan namaku.
“ Lexa, besok jangan lupa jam 7.00 kita sudah pergi keluar kota. “
Aku melongo.” Keluar kota? Ngapain?”
“ ck… ya tentu saja ada urusan pekerjaan yang harus kita selesaikan disana.”
“ Tapi sayakan karyawan baru disini Pak.” ingatku pada Raquel. Masalahnya aku sangat malas untuk berpergian.
“ Besok saya jemput kerumah.”
_____