Hara menatap hampa kearah kerumunan teman-temannya yang sedang bernyanyi mengelilingi api unggun. Malam ini adalah penutupan acara makrab jurusannya, bahkan acara penutupan sudah selesai sejak tadi namun masih banyak yang memilih bersenang-senang di sana. Hara sendiri lebih memilih duduk di teras vila. Pikiran Hara melayang jauh. Panji memenuhi isi kepalanya. Bukannya tidak mempercayai Panji, Hara hanya ragu dengan hubungan mereka. Panji di sana hidup dengan bebas. Pria itu tidak terikat apapun, Panji bebas melangkah kemanapun dia pergi. Hara hanya takut, jika Panji mencari hati yang lain. Panji memiliki segalanya, wajah yang tampan dan uang yang banyak. Siapa yang bisa menolak pesona Panji Wirapandu? Hara yakin tidak ada.
Bayangan-bayangan masa SMA yang mereka lewati terlitas begitu saja. Kadang-kadang membuat Hara tersenyum dan kadang juga membuat Hara mendengus.
Panji adalah orang yang sangat Hara percayai, seberapa burukpun orang berbicara tentang masa lalu Panji di hadapannya. Hara hanya akan menanggapinya dengan senyuman. Bagi Hara, Panji tidak seperti itu. Panji adalah cowok yang baik yang selalu menjaga dan meyayanginya. Cowok itu akan selalu mengalah pada Hara.
“Mikirin apa?” tanya Handini, teman baru Hara. Mereka cukup dekat sejak ospek dan semakin dekat setelah beberapa kali menghabiskan waktu bersama. Handiri Putri Pratomo. Teman pertama Hara di Bandung. Handini gadis yang ceria dan sangat mudah di dekati.
“Nggak papa,” jawab Hara sambil tersenyum.
“LDR sulit ya, Ra,” ucap Handini. Sama halnya dengan Hara. Handini juga menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Yogyakarta dan Bandung.
“Iya, salah nggak sih, Din kalau kadang gue merasa ragu sama pacar gue sendiri?” tanya Hara. Dia menoleh kearah Handiri.
“Gue nggak tau, Ra. Gue sendiri bahkan sangat ragu. Belum apa-apa gue udah berantem sama dia. Jadwal kuliah yang sama-sama padat membuat kami semakin sulit untuk mengatur waktu. Kadang gue mikir untuk putus aja tapi dia nggak mau,” ucap Handini. Udara Bandung di malam hari membuat mereka sama-sama merapatkan jaket.
Hara bahkan pernah memikirkan hal yang sama, hubungan jarak jauh sudah terdengar horor bagi Hara sejak awal. Tapi melihat bagaimana kerasnya perjuangan Panji membuat Hara sedikit melunak. Dia berusaha mati-matian untuk percaya bahwa tidak semua hubungan jarak jauh itu gagal. Banyak juga diantara mereka yang berhasil dan berakhir di pelaminan.
“Udah nggak usah mikirin macam-macam, gabung sama yang lain yuk,” ajak Handini. Dia menarik paksa Hara untuk berdiri. Malam itu Hara benar-benar memanfaatkan waktu bersama teman-temannya. Saling mengenal dan mereka menghabiskan waktu sampai fajar menjelang. Mulai dari bernyanyi bersama sampai bermain tebak-tebakkan berakhir dengan perntanyaan-pertanyaan yang membuat beberapa dari mereka berlari mati-matian untuk menghindar.
***
Panji menatap malas pada gadis yang duduk di hadapannya. Alina Pratiwi. Seolah dari SMP tidak pernah merasa bosan, gadis itu kembali mengejar-ngejarnya.
“Lo ngapain sih?” tanya Panji dengan bosan ketika Alina terus mengangkat kamera kearahnya.
“Foto bareng, mumpung kita lagi ketemu kayak gini. Aku kangen tau, Nji, bisa jalan berdua gini sama kamu,” ucap Alina. Dia menatap ponselnya dengan wajah sumringah. Dia dan Panji terlihat sangat cocok di foto itu.
“Nggak sengaja ketemu,” koreksi Panji dengan malas. Panji sesekali mengecek ponselnya. Menunggu Hara membalas pesannya namun sudah siang, Hara masih belum membaca pesan dari Panji. Mungkin Hara kelelahan, itu yang Panji pikirkan sejak tadi.
“Nggak sengaja ketemu itu yang di bilang bakal jodoh,” ucap Alina. Alina Pratiwi itu adalah kakak kelas Panji waktu SMP. Panji sempat mendekati Alina dulu tapi tidak sampai berpacaran.
“Terserah lo aja, gue mau balik,” ucap Panji. Dia menyesal pergi ke kafe siang ini. Niat Panji ingin menenangkan diri berakhir bertemu siluman ular betina yang membuat Panji selalu muak.
“Anterin aku pulang sekalian, ya,” ucap Alina. Dia menahan tangan Panji, menatap Panji penuh permohonan.
“Lo pulang sendiri,” jawab Panji malas.
“Rumah kita searah, Nji,” ucap Alina. Panji menatap malas gadis itu apalagi sekarang mereka jadi pusat perhatian.
“Terserah lo,” ucap Panji dan melepas dengan paksa tangan Alina dari tangannya. Alina tersenyum sumringah. Panji Wirapandu, sampai kapanpun, Alina akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali perhatian Panji.
***
Hara menguap pelan, kondisi Hara tidak baik. Sejak pulang dari acara makrab itu, Hara jatuh sakit. Demam dan pusing. Hara memilih untuk istirahat sejak pagi dan baru bangun di sore hari. Hara baru ingat belum mengabari kedua orangtuanya dan Pandu. Hara yakin mereka menghawatirkan dirinya sekarang.
Hara mengambil ponselnya di samping bantal, banyak sekali notifikasi yang menghiasi ponselnya. Hara mengabari kedua orangtuanya terlebih dahulu namun saat ingin menghubungi Panji pesan baru masuk ke ponselnya.
Hara menatap nanar foto dan pesan yang dikirim seorang yang tidak begitu Hara kenal. Tapi Hara tahu, gadis itu adalah satu dari sekian gadis yang berada di masa lalu Panji.
Kak Alina: Hallo Hara, apa kabar? Baik dong yak karena sekarang udah jadi anak kedokteran.
Kak Alina: Aku ketemu Panji hari ini. Kamu beruntung banget ya bisa dapat cowok sebaik dia. Bahkan dia nawarin aku pulang bareng.
Hara hanya membaca pesan itu. Dia mati-matian untuk tidak terpancing, namun Hara gagal. Dia merasa sangat marah. Hara hanya berfikir belum apa-apa Panji sudah jalan sama cewek lain terus apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Hara akan di campakkan begitu saja?
Alih-alih mengabari Panji, Hara memilih mematikan ponselnya. Dia memilih melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini Hara ingin pergi jalan-jalan bersama Handini. Mereka harus mengenal Bandung lebih dalam lagi. Kakak tingkat mereka sudah menyarankan beberapa tempat yang harus mereka tahu di Bandung. Mulai dari tempat makan sampai tempat-tempat untuk membeli perlengkapan sehar-hari dan kuliah. Hara dan Handini ingin melakukannya malam ini sebelum mereka benar-benar aktif kuliah.
Panji menatap gusar ponselnya. Sudah belasan kali dia mencoba menghubungi Hara namun ponsel gadis itu tidak aktif. Panji merasa sangat khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada Hara. Gadis itu cukup sensitive pada udara yang terlalu dingin. Hara bahkan sering demam kalau dia kedinginan.
Di lain tempat, Hara sedang makan bersama Handini. Hara terlihat tidak berselera namun gadis itu tetap memaksakan diri untuk makan. Hara tidak ingin jatuh sakit dan merepotkan orang-orang di seitarnya.
“Udah minum obat?” tanya Handini.
“Udah, Din. Palingan besok pagi udah baik-baik aja,” jawab Hara sambil tersenyum. “Habis ini kita jadi cari alat-alat buat kuliah, kan? Gue belum persiapan apa-apa,” ucap Hara.
“Jadi, dong. Gue juga sama, belum beli apa-apa buat kuliah. Niat hati mau beli di rumah tapi kata ibu ribet,” ucap Handini. Hara terkekeh.
“Sama, ibu gue juga bilang gitu,” ucap Hara dengan lesu. Kali ini Handini yang tertawa. Jiwa ibu-ibu memang kadang tidak ada bedanya.
***
“Ra, kamu kemana aja, kenapa pesan aku nggak di balas? Kenapa ponsel kamu baru aktif jam segini, kamu baik-baik aja, kan?” pertanyaan bertubi-tubi di seberang sana membuat Hara mendengus. Gadis yang baru saja kembali ke indekosnya itu menaruh ponsel di meja dan menyalakan speaker ponselnya, sedangkan Hara mondar-mandir mempersiapkan perlengkapan kuliahnya.
“Hp aku di charger tadi,” jawab Hara dengan santai.
“Kamu kenapa nggak hubungin aku, aku khaawatir sama kamu, Ra,” ucap Panji. Hara mendengus sinis.
“Yakin khawatir?” tanya Hara dengan nada remeh bahkan gadis itu terkekeh layaknya orang bodoh.
“Maksud, kamu?” tanya Panji.
“Enak bangat ya, yang abis reunian sama mantan gebetan. Udah jalan sejauh mana tuh prosesnya?” tanya Hara dengan nada yang tidak bersahabat. Dia mendengar Panji menghela napas berat di ujung sana.
“Hara, itu nggak seperti apa yang kamu pikirkan,” ucap Panji.
“Aku mikirin apa memangnya?” tanya Hara dengan santai.
“Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan sama Alina,” ucap Panji, menjelaskan.
“Aku nggak nuduh kamu loh, ya,” ucap Hara sambil terkekeh, “lagian kamu bebas kok mau ngelakuin apa aja disana. Aku nggak akan nahan-nahan kamu. Nanti kalau mau putus bilang sama aku ya, Nji. Biar aku punya persiapan,” lanjut Hara tanpa memberi Panji waktu untuk menjelaskan.
“Hara, kamu ngomong apa sih?!” seru Panji di ujung sana. Panji terdengar mengerang frustasi.
“Kalau mau putus bilang, ya,” ucap Hara dengan santai. Dia duduk di kursi belajarnya dan mulai membuka buku.
“Sayang dengerin aku baik-baik, aku nggak jalan sama Alina. Aku nggak sengaja ketemu dia di kafe siang tadi saat aku datang kesana. Aku niatnya tadi cuma mau menenangkan diri karena aku kangen bangat sama kamu tapi malah ketemu Alina. Aku udah berusaha ngusir dia tapi dianya nggak mau, terus aku juga nggak mau nganter dia pulang tapi dianya maksa. Karena nggak enak sama pengunjung kafe yang lain aku anterin dia pulang,” jelas Panji.
“Kebetulannnya nyenengin bangat, ya?” tanya Hara. Bukan tidak mempercayai Panji. Tapi dari awal Alina adalah orang yang paling berpotensi menghancurkan hubungannya dengan Panji. Alina terkenal sebagai gadis yang nekat. Gadis itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Alina Pratiwi menyukai Panji Wirapandu sejak SMP bukan rahasia lagi. Orang yang berada satu sekolah dengan mereka mengetahui itu semua.
“Sayang, please percaya sama aku,” ucap Panji, Hara menghela napas sebentar. Dia menutup bukunya.
“Aku nggak bisa percaya sama Alina,” ucap Hara.
“Aku cuma sayang kamu, Hara.”
“Aku tahu, tapi aku bukan satu-satunya cewek yang sayang sama kamu,” jawab Hara dengan santai.
“Sayang,” suara Panji terdengar putus asa di ujung sana, namun Hara masih belum berhasil untuk merasa baik-baik saja.
“Besok hari pertamaku kuliah, aku tutup ya.”
“Hara.”
“Malam Panji.”
***
Panji menatap ponselnya dengan nanar, lagi-lagi Hara memutuskan telpon tanpa persetujuan. Panji menatap buku-buku di hadapannya dengan lelah. Panji baru selesai dengan kegiatan les yang dia ikuti.
Panji tidak menyangka Hara akan semarah ini karena dia mengantar Alina pulang ke rumah. Hara bukan tipe gadis yang pencemburu namun mendengar bagaimana cara Hara berbicara tadi, Panji tahu gadis itu marah besar. Panji bahkan tidak yakin besok Hara akan bersikap baik padanya.
Panji mengusap wajahnya dengan kasar. Harandita Pramutia selalu berhasil membuat Panji kehilangan akal. Demi apapun, Panji bahkan tidak berniat untuk berselingkuh sedikitpun. Panji mencintai Hara dengan begitu besar. Menyakiti Hara bahkan tidak pernah terlintas di pikiran Panji.
Panji: Ra, jangan marah sama aku ya? Jangan salah paham. Aku nggak akan melakukan apa yang kamu pikirkan. Aku nggak pernah suka sama Alina, Ra.
Panji menatap ponselnya penun harap, dia berharap Hara membalas pesannya. Senyum Panji tersungging ketika Hara sudah membaca pesan yang dia kirim.
Hara: Terserah kamu mau suka sama siapa.
Panji: Aku harus apa supaya kamu percaya sama aku?
Hara: Tidur gih, aku nggak marah sama kamu
Panji menggeleng. Dia belum puas dengan jawaban Hara. Gadis itu jelas masih marah padanya.
Panji: Akhir bulan ini aku ke Bandung, kita bicara baik-baik. Percaya sama aku, Ra.
Hara: Oke.
Panji menatap pesan terakhir dari Hara. Panji tahu ini salah paham pertama yang terjadi diantara dia dan Hara. Panji tahu masalah ini tidak akan selesai jika mereka tidak bertemu secara langsung. Menemui Hara ke Bandung adalah cara satu-satunya agar gadis itu paham dan mengerti keadaan yang sebenarnya.