Kuliah tidak semudah yang pernah Hara bayangkan sejak awal. Sejak hari pertamanya kuliah Hara harus kejar-kejaran dengan deadline setiap hari, resporasi, pratikum, tugas pengaderan, dan berbagai ujian yang membuat Hara sulit mengendalikan waktu bahkan jadwal kuliahnya hampir full dalam satu minggu. Rasanya sangat berat, Hara tidak terbiasa sama sekali. Hara sering kejar-kejaran dengan waktu. Bahkan Hara banyak kehilangan waktu untuk dirinya sendiri dan jelas Hara kehilangan waktu untuk orang-orang yang dia sayangi. Termasuk Hara harus kehilangan banyak waktu dengan Panji.
Hara merenggangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku, gadis dengan piyama itu melihat keluar jendela indekosnya, langit sudah benar-benar gelap dan sepertinya tidak ada lagi kehidupan di sekitarnya. Hara melirik jam yang ada di meja belajarnya. Sudah jam satu pagi dan Hara baru menyelesaikan satu laporan pratikumnya, masih ada antrian tiga laporan pratikum yang lain.
Hara memilih menutup layar laptopnya. Gadis itu sudah berulang kali menguap. Hara membuka ponselnya yang sedari tadi dia anggurkan. Banyak sekali pesan dari Panji. Hubungannya dengan Panji memang tidak terlalu baik sejak hari itu. Akhir pekan nanti Panji akan ke Bandung dan jelas Hara sangat menantikan itu. Mereka butuh bicara dan saling menjelaskan. Satu hal yang Hara syukuri, Panji tidak pernah menuntut banyak hal pada Hara. Cowok itu selalu berusaha mengerti dirinya. Mengerti kesibukan Hara dan selalu mendengarkan keluh kesah Hara ketika Hara benar-benar merasa lelah. Ini belum genap sebulan mereka menjalani hubungan jarak jauh. Namun, rasanya masih sangat sulit dan Hara masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia dan Panji harus berpisah seperti ini.
Panji memang selalu membuktikan mereka mampu melewati semuanya, namun Hara tidak pernah yakin. Sampai kapan Panji akan mampu bersikap seperti itu? Sampai kapan Panji akan bertahan dengan kesibukan Hara yang seperti sekarang? Hara hanya takut jika Panji tiba-tiba merasa bosan dan memilih meninggalkan Hara begitu saja.
Selesai memncuci wajah dan mengolesi wajahnya dengan skincare Hara mematikan lampu dan beranjak tidur.
“Semua akan baik-baik saja Hara,” ucap Hara, menirukan ucapan yang sering Panji ucapkan hampir setiap hari ketika Hara merasa ragu.
***
Panji mulai terbiasa dengan kesibukan barunya dan Hara. Kesibukan Panji dan Hara jelas sangat berbeda. Panji sekarang di sibukkan dengan les masuk universitas yang dia ikuti setiap hari kecuali weekend sedangkan Hara, disibukkan dengan tugas kuliah yang tidak hentinya berdatangan setiap harinya. Tiga hari yang lalu Panji sempat melakukan video call bersama Hara. Panji bisa melihat wajah lelah dan kantong mata menghitam Hara. Gadis itu mengaku sangat kelelahan setelah Panji paksa bahkan Hara sempat menangis dan mengatakan dia salah jurusan.
Namun, Panji mengatakan, Hara hanya belum terbiasa. Panji merasa hanya itu yang bisa dia lakukan untuk Hara saat ini. Memberikan suntikan semangat dan dukungan pada Hara.
Malam ini setelah selesai mengikuti les, Panji mengendarai motornya, beriringan dengan motor milik Kaivano. Mereka akan berkumpul dengan teman-teman club motor. Acara bulanan yang sudah menjadi rutinitas.
“Lo kelihatan lebih baik sekarang, udah bisa menerima kenyataan LDR sama Hara?” tanya Kaivano dengan suara yang sedikit berteriak.
“Galau kepanjangan nggak baik juga buat gue dan Hara,” jawab Panji dengan suara yang juga berteriak. Motor Kawasaki Ninja yang di tumpangi dua orang itu berbelok memasuki area kafe yang selama ini di jadikan tempat nongkrong untuk club motor mereka.
“Semua ikut ngumpul nggak malam ini?” tanya Panji setelah melepas helmnya.
“Bahkan bang Kenzo ada malam ini,” jawab Kaivano.
“Bang Ken nggak kuliah?” tanya Panji. Setahunya kakak kelasnya itu sekarang sudah semester 6.
“Oh iya, bang Kenzo kan ada di universitas sama Hara. Boleh tuh lo tanya-tanya soal Hara sama dia. Siapa tahu mereka pernah ketemu,” jawan Kaivano. Mereka berjalan beriringan ke dalam kafe.
“Gue selalu tahu kabar Hara setiap hari,” jawab Panji.
“Nggak usah naif, lo nggak tahu kan apa yang Hara lakukan disana?” tanya Kaivano. Kadang Panji merasa Kaivano itu mirip sekali dengan setan. Senang sekali menghasut Panji.
“Berisik mulu lo dari tadi,” dengus Panji. Dia mulai menyapa teman-teman club motornya. Termasuk menyapa Kenzo yang benar-benar hadir malam ini.
“Yang LDR apa kabar ni?” tanya Kenzo sambil bersalam ala laki-laki dengan Panji.
“Baik gue, bang. Lo apa kabar?” tanya Panji. Dia dan Kaivano bergabung di meja yang di tempati teman-temannya.
“Seperti yang lo lihat. Gue juga baik-baik aja,” jawab Kenzo. Kenzo selalu menjadi kakak tingkat panji sejak dulu sehingga membuat mereka cukup dekat ah bukan sangat akrab lebih tepatnya. Kenzo bahkan tahu semua kenakalan yang di lakukan Panji sejak SMP begitu pula dengan Panji. Panji sangat tahu bagaimana bejatnya Kenzo yang selalu menjadi idola di sekolah.
“Syukur deh,” jawab Panji. Kemudian obrolan mereka mengalir begitu saja, ada beberapa yang sibuk bermain game, bermain kartu atau hanya menikmati kopi. Kenzo juga menceritakan pernah bertemu dengan Hara sekali ketika mencari makan malam dan setelah itu tidak pernah lagi.
“Anak kedokteran itu udah kayak zombie semua. Ngeri gue lihat kantong matanya,” ucap Kenzo sambil tertawa.
“Tapi lo sekarang pacaran dengan salah satu zombie itu,” celetuk Kaivano. Kenzo semakin tertawa lebar.
“Kalau Kania beda lagi. Dia zombie cantik dan kesayangan Kenzo,” ucap Kenzo sambil tertawa terbahak-bahak. Panji dan Kaivano kompak memasang ekspresi ingin muntah.
“Bucin lo bang bucin!” seru Panji.
Kaivano melirik Panji dengan sinis, “ngaca! Lo lebih bucin!” seru Kaivano pada Panji.
“Ngaca lo calon bucin!” seru Kenzo kemudian mereka kembali tertawa. Obrolan konyol itu terus mengalir sampai mereka merencanakan akan mengadakan touring akhir bulan depan.
“Bulan depan bangat, bang?” tanya salah satu dari anggota club motor tersebut. Kenzo yang sudah beberapa tahun menjabat sebagi ketua terpilih mengangguk.
“Kenapa? Lo ada kegiatan di lain?” tanya Kenzo.
“Gue sih kagak ada, tapi noh si Panji, ada jadwal ngapelin Hara ke Bandung!” seru cowok itu membuat yang lain tertawa dan jelas tawa Kaivanolah yang paling keras sedangkan Panji berusaha bersikap biasa saja dan tidak terpengaruh oleh obrolan teman-temannya itu.
“Bucin lo ternyata lebih kelas atas dari gue, segitu cintanya lo sama Hara?” tanya Kenzo membuat Panji sekarang menjadi pusat perhatian. Panji hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Berisik lo, bang. Gue balik,” ucap Panji sambil mendengus. Lagi-lagi teman-temannya tertawa termasuk Kenzo. Dia tidak habis fikir, ternyata si playboy kelas kakap semasa SMP seperti Panji bisa tobat juga.
“Baperan bangat lo. Udah di sini aja kali. Dari pada galau sendirian mikirin Hara yang sibuk kuliah,” ucap Kenzo. Panji lagi-lagi mendengus dan melahap makanan pesanannya.
Hari beranjak larut. Panji yakin Hara sudah beranjak tidur. Jadi tidak ada yang perlu Panji tunggu.
***
Panji mengerjabkan matanya melihat panggilan video dari Hara. Ini masih pagi sekali. Panji bahkan baru selesai melaksanakan shalat subuh. Kebiasaan baru Panji akhir-akhir ini. Dulu, Panji termasuk orang yang jarang sekali shalat namun setelah mendapat hidayah, sekarang Panji sudah semakin rajin melaksanakan kewajibannya walau kadang masih suka bolong-bolong.
“Kangen.”
Suara serak Hara mengalun. Panji duduk di kursi meja belajarnya. Menatap wajah mengantuk gadis yang selalu Panji rindukan. Gadis selalu ingin Panji jaga.
“Masih ngantuk tuh, tidur lagi sayang,” ucap Panji dengan lembut. Dia memperhatikan Hara yang menguap dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
“Aku kangen kamu,” suara serak itu kembali mengalun. Mata Hara sepertinya memang sulit sekali terbuka. Panji memandangi Hara dengan gemas. Menunggu-nunggu kapan mata gadis bermata sipit dan berpipi chuby itu akan terbuka.
“Aku juga kangen kamu,” ucap Panji. Dia masih memperhatikan Hara yang masih bersandar di kepala tempat tidur dengan posisi yang sama.
“Aku tahu,” jawab Hara dan Panji otomatis terkekeh. Bagaimaa Panji tidak bucin kalau pacarnuya semenggemaskan ini.
“Kamu tidur jam berapa selamam? Tugas kuliah masih banyak?” tanya Panji. Hara mengangguk beberapa kali.
“Jam satu malam. Masih ada sisa tiga laporan pratikum dan masih banyak yang lain. Maafin aku ya,” ucap Hara, sekarang mata sipit itu terbuka. Dia menatap Panji dengan wajah merasa bersalah dan juga mengantuk.
”Nggak papa sayang, aku akan coba untuk selalu ngerti kesibukan kamu yang baru. Jangan lupa makan dan istirahat,” ucap Panji. Hara mengangguk.
“Les masuk universitas kamu, gimana?” tanya Hara. Sekarang gadis itu benar-benar sudah membuka matanya dengan sempurna walau terlihat masih mengatuk.
“Lancar. Kaivano juga les bareng aku,” jawab Panji.
“Semoga tahun depan lolos ya. Semangat sayang!” seru Hara. Senyum Panji melebar. Rasanya sudah lama Hara tidak bersikap semanis dan semanja ini pada Panji.
“Makasih, sayang,” jawab Panji. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Saling menikmati senyuman masing-masing. Mereka benar-benar merindukan kebersamanaa.
“Kamu kapan jadi ke Bandung?” tanya Hara. Dia kembali menguap dan Panji kembali di buat terkekeh melihat Hara. Rasanya kasihan sekali meliat Hara kecapean seperti itu.
“Malam sabtu mungkin setelah aku les,” jawab Panji. Hara kembali mengangguk.
“Aku kangen,” suara rengekan Hara kembali mengalun dan Panji jelas menikmati itu. Rasanya Panji seperti kembali menemukan Haranya. Dan sepertinya Panji melupakan sesuatu.
“Kamu lagi kedatangan tamu bulanan, ya?” tanya Panji dan sepertinya tebakan Panji tepat sasaran saat Hara mengangguk. Kebiasaan Hara ketika kedatangan tamu bulanannya adalah bermanja-manja.
“Perutnya sakit?” tanya Panji lagi dan Hara kembali mengangguk.
“Sakit bangat atau sakit biasa aja?” tanya Panji lagi. Panji mendadak khawatir. Dulu saat SMA Hara pernah pingsan karena tamu datang bulannya atau tidak Hara akan menangis karena tidak kuat menahan rasa sakitnya.
“Sakit dikit, kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak akan pingsan,” ucap Hara dengan senyum tipis. Panji diam-diam menarik napas legas.
“Jangan lupa minum air hangat,” ucap Panji memperingatkan Hara yang kadang suka lupa itu.
“Iya,” jawab Hara. Gadis itu kembali menguap.
“Yasudah kamu istirahat lagi ya. Jangan capek-capek. Jangan sakit-sakit. Assalamualaikum sayangnya Panji,” ucap Panji.
“Waalalikumsalam,sayangnya Hara.”