Mobil yang di kendarai Panji melaju membela jalan ibu kota di malam hari. Hari ini Panji benar-benar berangkat ke Bandung. Rasa rindunya pada Hara sudah menggelora. Panji sengaja berangkat malam supaya besok dia memiliki banyak waktu bersama Hara. Panji tahu dia terlalu bucin, tapi apasalahnya dia berkorban untuk kelangsungan hubungannya dengan Hara. Untuk kebaikan dirinya dan juga Hara.
Musik yang di hidupkan Panji mengalun menemani perjalanannya yang sunyi. Panji di tuntut untuk lebih fokus karena kota sedang di guyur hujan deras. Panji bahkan belum sempat membersihkan diri. Dia benar-benar berangkat setelah selesai mengikuti les masuk universitasnya bahkan Panji menolak mentah-mentah ketika Kaivano mengajaknya untuk ngopi di kafe seberang tempat les.
Panji juga sudah menghubungi Hara dan juga Kenzo. Panji akan menginap di apartemen Kenzo selama dia di Bandung nanti karena tidak mungkin jika Panji menginap di indekos Hara yang hanya di khususkan untuk kaum perempuan.
Hara mengatakan hari ini dia sedang di sibukkan dengan kegiatan kampus. Gadis itu sedang pratikum dan kemungkinan akan selesai besok pagi. Panji kadang kasihan melihat jadwal Hara yang padat merayap. Dia takut gadis itu jatuh sakit.
Panji sesekali ikut bernyanyi ketika dia menyukai lagu yang sedang mengalun. Tubuhnya kadang bergerak pelan mengikuti irama. Panji hanya berusaha menghalau kantuk, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk karena kelalaian dirinya sendiri.
***
“Gimana perjalanannya?” Tanya Kenzo. Mereka menelusuri koridor apartemen yang sudah Kenzo tempati hampir tiga tahun. Sebenarnya indekos lebih murah. Namun, untuk anak sultan seperti Kenzo apartemen tidak ada artinya. Bahkan setahu Panji harga apartemen yang di tempati Kenzo cukup fantastis.
“Nggak seburuk yang gue bayangkan,” jawab Panji. Dia menjatukan tubuhnya yang terasa sangat pegal di sofa panjang yang ada di ruangan santai apartemen Kenzo. Fasilitas apartemen yang di tempati Kenzo sangat lengkap. Terdiri dari dua kamar tidur, ruang santai, dapur dan meja makan dan berbagai fasilitas lain.
“Lo udah hubungin Hara?” tanya Kenzo. Dia melemparkan minuman soda yang langsung di tangkap oleh Panji. Kenzo kemudian duduk di samping Panji. Menyalakan layar plasma besar di hadapannya.
“Udah, dia ada pratikum. Kemungkinan selesai pagi,” jawab Panji. Dia meneguk minuman bersodanya.
“Oh, Kania malah baru pulang,” jawab Kenzo, dia melirik salah satu pintu kamar yang tertutup rapat. Dahi Panji mengeryit. Menatap Kenzo penuh tanda tanya.
“Mbak Kania, disini? Bareng lo?” tanya Panji dengan ekspresi tidak percaya. Dia tahu Kenzo sangat b******k tapi tidak mungkin bukan kebrengsekan Kenzo sudah jauh dari yang Panji tahu.
“Kecapean, lagi tidur,” ucap Kenzo. Panji mengamati Kenzo dari atas sampai bawah. Rambut cowok itu terlihat berantakan. Bajunya juga terlihat kusut dan Panji baru menyadari Kenzo hanya memakai celana boxer pendek.
“Jangan bilang lo sama mbak Kania?” tanya Panji dengan penuh selidik. Kenzo malah tertawa terpingkal-pingkal membuat Panji semakin curiga.
“Nggak usah sekaget itu. Hanya sesekali saat gue sama dia sama-sama stress,” jawab Kenzo dengan santai. Panji menggeleng tidak habis pikir
Sesekali katanya?!
“Ternyata kebrengsekan lo udah tingkat akut. Kenapa mbak Kania bisa kepincut cowok b******k lo sih?” tanya Panji. Kenzo lagi-lagi tertawa. Lagian hal semacam itu sudah biasa untuk orang zaman sekarang. Lagian Kenzo dan Kania melakukannya atas dasar suka sama suka dan untuk mencari kepuasan. Jadi, tidak ada yang perlu disalahkan dan juga di sesali.
“Gue sama Kania melakukannya atas suka sama suka. Jadi nggak ada masalah. Buktinya hubungan gue sama Kania sampai sekarang baik-baik aja,” ucap Kenzo dengan santai. Panji meneguk minuman sodanya dengan rakus. Ucapan Kenzo terasa sangat menganggu ketenangan jiwanya yang sangat raput. Panji berusaha menekan pikirannya yang sudah berkelana kemana-mana.
Bunyi pintu terbuka membuat mereka kompak memalingkan wajah ke sumber suara. Panji bisa melihat seorang gadis dengan piyama berantakan keluar dari kamar itu. Rambut lurus gadis itu juga sama seperti piyama berlengan pendeknya. Berantakan. Panji memperhatikan semua gerak-gerik Kania. Perempuan itu tampak membuka lemari es kemudian mengambil air mineral dan meneguknya sampai habis. Langkah Kania tampak gontai menandakan perempuan itu masih mengantuk.
Namun, detik berikutnya Panji hampir menjerit ketika melihat Kania duduk di pangkuan Kenzo sambil mengalungkan tangannya di leher pria b******k itu. Dan Panji merasa semakin tidak dianggap ada dan malu sendiri ketika Kania mengecup bibir Kenzo dan menenggalamkan wajahnya di ceruk leher Kenzo.
“Ayo tidur,” suara serak Kania mengalun di ceruk leher Kenzo. Panji bisa melihat Kenzo mengusap puncak Kania penuh kasih sayang dan menyeringai layaknya iblis pada Panji. Panji hanya diam. Mencoba mencerna apa yang terjadi dihadapannya.
“Gue lanjut tidur dulu. Lo kalau mau istirahat bisa pakai kamar sebelah,” ucap Kenzo kemudian menggendong tubuh Kania seperti koala. Meninggalkan Panji yang masih terbengong-bengong melihat pasangan itu. Panji bahkan tidak pernah melakukan lebih dari cium kening, pipi dan berpelukan dengan Hara.
“Kenzo, semprul!” seru Panji kemudian dia melirik jam yang ada di dinding apartemen Kenzo, sudah jam setengah tiga pagi. Kenzo menguap, dia kemudian beranjak kearah kamar yang tadi di tunjuk Kenzo.
***
“Lo nggak sarapan dulu!” seruan Kenzo membuat Panji menghentikan langkahnya yang terburu-buru. Dia menoleh kearah Kenzo dan Kania yang sudah rapih dan duduk di meja makan. Panji bisa melihat pasangan yang membuat Panji gagal tidur karena terlalu berisik itu, kini tersenyum padanya.
“Temennya Kenzo?” Kania bertanya dengan suara super lembut pada Panji. Perempuan yang Panji akui sangat cantik itu tersenyum bergitu cantik kearahnya. Panji mau tidak mau ikut tersenyum.
“Bukan, mbak,” jawab Panji dengan santai. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Panji bisa melihat Kenzo melotot kearahnya dan jelas Panji abaikan. Dia lebih memilih mengambil roti yang kemungkinan besar sudah di olesi selai oleh Kania dan meneguk s**u yang sudah di sediakan disana.
“Udah nginep, nggak tahu diri lagi. Sono deh, lo pergi cepat-cepat!” seru Kenzo tidak santai. Panji bisa melihat Kania terkekeh pelan dan mengelus lengan Kenzo penuh sayang. Lagi-lagi Panji merasa Kenzo itu adalah si b******k yang sangat beruntung.
“Nama saya Kania, kamu, Panji?” tanya Kania. Panji tersenyum dan mengangguk.
“Iya mbak, saya Panji. Kebetulan di takdirkan kenal sama manusia laknat seperti Kenzo,” ucap Panji semakin tidak tahu diri. Lagi-lagi Kania terkekeh. Jarang-jarang sekali Kania bisa melihat ada orang yang begitu berani pada tunangannya itu, biasanya Kenzo yang selalu menistakan orang lain.
“Sepertinya kapan-kapan kita harus double date, saya dengar kamu pacar salah satu adik tingkat saya?” tanya Kania. Panji mengangguk.
“Boleh mbak, tapi nggak usah ajak manusia b***t kayak dia,” ucap Panji sambil menunjuk Kenzo dengan dagunya.
“Tunangan gue nggak akan pernah kenama-mana tanpa izin gue,” ucap Kenzo dengan bangga.
“Tunangan? Lo sama mbak Kania tunangan dan nggak undang gue? Sok iye, bangat lo, bang!” seru Panji.
“Emang siapa lo?” tanya Kenzo dengan wajah pongah lalu mengecup puncak kepala Kania.
“Sialan! Gue berangkat sekarang. Bosan gue ketemu lo mulu,” ucap Panji lalu dengan langkah cepat dia meninggalkan pasangan gila itu. Panji benar-benar tidak habis pikir kanapa gadis secantik Kania mau bertungan dengan pria turunan dajjal seperti Kenzo.
***
Hara: Kamu sudah sampai?
Pesan yang baru saja dikirim Hara membuat sudut bibir Panji terangkat membentuk senyuman. Dia buru-buru mengetikan balasan.
Panji: Aku di parkiran fakultas kamu. Kamu sudah selesai?
Hara: Masih setengah jam lagi. Kamu nunggu nggak papa?”
Panji melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih jam setengan delapan. Panji baru tahu, pratikum akan selama itu.
Panji: Nggak papa, aku tunggu di mobil ya.
Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Hara. Panji memilih memutar playlist di ponselnya, menyetel kursi mobil seyaman mungkin lalu mata Panji mulai terpejam. Desahan heboh Kenzo dan Kania semalam membuat mata Panji gagal terpejam. Pasangan itu benar-benar sangat mengganggu. Membuat sesuatu dalam diri Panji juga memberontak ingin di lepaskan dan berakhir Panji main solo di kamar mandi. Dia merasa sangat miris. Berkali-kali Panji ingin mengutuk si Kenzo penjahat kemalin itu.
Suara ketukan di kaca mobilnya membuat Panji perlahan membuka matanya. Dia melihat Hara sambil tersenyum tipis di luar sana membuat senyum Panji mengembang. Panji buru-buru membuka kunci mobilnya dan keluar dari sana. Dan tanpa kata Panji langsung menarik tubuh mungil pacarnya itu, Panji memeluk Hara dengan sangat erat.
“Aku kangen,” ucap Panji sambil menghujani puncak kepala Hara dengan ciuman. Dia mendengar Hara terkekeh pelan.
“Maafin aku lama,” ucap Hara, dia ikut memeluk Panji. Bohong jika Hara mengatakan dia tidak merindukan cowok yang ada dalam pelukannya ini. Hara rindu Panji bahkan sangat merindukan Panji.
Perlahan pelukan itu terlepas. Mereka saling tatap. Tangan Hara masih memegang ujung kaus yang di pakai Panji sedangkan Panji menangkup pipi chubby Hara. Wajah Hara terlihat benar-benar kelelahan. Ibu jari Panji bergerak mengusap kantong mata Hara perlahan. Tatapannya menghujami wajah Hara dengan sangat lembut.
“Capek ya?” tanya Panji. Dia menatap Hara tepat di mata gadis itu. Hara mengangguk mengiyakan.
“Aku ngantuk. Belum tidur semalaman,” rengek Hara. Panji mengecup kilat pipi Hara kemudian kembali mengusap pipi gadis itu. Untung saja parkiran mobil kampus sangat sepi di hari weekend seperti ini jadi membuat Hara tidak perlu menghawatirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dia dapat ketika hari senin tiba.
“Kamu mau istirahat dulu di indekos sebelum ngobrol sama aku?” tanya Panji namun Hara menggeleng pelan. Gadis itu kembali berhamburan ke dalam pelukan Panji.
“Aku kangen, mau sama kamu seharian,” ucap Hara. Panji terkekeh. Dia mengusap surai Hara penuh kasih sayang.
“Tapi kamu besih-bersih dulu ya biar nyaman. Aku antar ke indekos dan aku tungguin di depan,” ucap Panji dan langsung diangguki Hara tanpa penolakan.
“Beneran jalan-jalan seharian?” tanya Hara. Panji mengangguk sambil terkekeh. Dia merangkul pundak Hara, memutari mobil lalu membukakan pintu mobil itu untu Hara.
“Seharian, karena ini adalah sabtu bersama Panji,” ucap Panji sambil terkekeh. Hara menggeleng melihat tingkah Panji. Hal seperti inilah yang membuat Hara merasa khawatir. Panji bisa dengan sangat mudah membuat perempuan jatuh hati. Hara jadi bertanya-tanya, bisakah Panji selamanya untuk dirinya?