THE TRUST | 5

1517 Words
    Senyum Panji perlahan tertarik ketika melihat wajah Hara yang terlihat lebih segar dari sebelumnya. Baju gadis itu juga sudah berganti dengan baju yang lebih rapih. Hara masih terlihat sama. Selalu cantik di mata Panji dan masih sulit di abaikan.     “Sudah siap?” tanya Panji ketika Hara sudah duduk di samping kursi kemudi. Hara mengangguk sambil tersenyum tipis.     “Kamu sampai jam berapa selamam?” tanya Hara ketika Panji selesai memasang sabuk pengaman untuknya.     “Jam dua pagi kalau nggak salah. Aku lupa,” jawab Panji seadanya. Dia mulai menghidupkan mobil dan perlahan mobil itu bergerak meninggalkan indekos Hara yang cukup sepi di hari weekend.     “Kamu udah sempat tidur?” tanya Hara. Panji menelan ludahnya bayangan adegan tidak senonoh yang dilakukan oleh Kenzo dan Kania membuat Panji menelan ludahnya bulat-bulat. Dia tidak mungkin mengatakan itu pada Hara. Hara pasti akan cemberut sepanjang hari dan mengatakan Panji m***m.     “Enggak sempat. Keasikan ngobrol sama bang Kenzo,” jawab Panji. Hara mengangguk mengerti dan Panji bernapas lega melihat itu. Tidak terbayang jika Hara menanyakan apa yang Panji lakukan bersama Kenzo selain mengobrol.     “Kita cari makan dulu, ya,” ucap Panji.     “Kamu belum sarapan?” tanya Hara.     “Bukan aku, tapi kamu. Kamu pasti belum makan apapun dari selamam. Jangan di biasakan sayang. Kamu bisa sakit.” Panji menoleh pada Hara dengan wajah khawatir.     “Aku sempat makan malam kemarin sama Handini,” ucap Hara. Tangan Panji yang kosong kini menggenggam tangan Hara. Rasa hangat langsung membanjiri perasaan keduanya. Mereka saling lirik dan kembali saling tersenyum hangat.     Hara menggeser tubuhnya sedikit, tangannya mengalung di lengan Panji dan kepala Hara bersandar di pundak cowok yang sudah menemaninya sejak tiga tahun yang lalu.     “Jakarta apa kabar?” tanya Hara. Matanya terpejam. Menikmati kehangatan tangan Panji yang mengelus telapak tangannya.     “Sepi karena tidak ada kamu.” Hara terkekeh pelan mendengar ucapan penuh gombalan Panji.     “Gombal,” ucap Hara. Matanya masih terpejam. Mobil yang di kendarai Panji berjalan pelan membela jalan Bandung di pagi hari.     “Aku seriusan, Ra. Sepi sekali. Separuh nyawa aku berasa di bawa pergi. Setiap datang ketempat-tempat yang sering kita kunjungi wakt SMA aku malah jadi kepikiran kamu terus,” ucap Panji. Hara menepuk lengan Panji gemas.     “Bohong bangat, yang ada kamu bebas bangat kalau nggak ada aku,” ucap Hara dengan bibir mengerucut.     “Aku nggak pernah main-main, Ra. Aku berusaha keras untuk menjaga kepercayaan kamu. Aku nggak mau nyakitin kamu dan jelas aku nggak mau kehilangan kamu,” ucap Panji. Hara mendongak. Menatap wajah Panji dari bawah. Menikmati pahatan sempurna yang di ciptakan tuhan itu dan kebetulan Hara di takdirkan untuk menikmati pahatan itu. Kehangatan lagi-lagi menyelinap ke dalam hati Hara. Dia lagi-lagi merasa sangat beruntung. Perlahan Hara semakin mendekat lalu mengecup kilat pipi Panji dan Hara menjauh setelah itu karena merasa malu dan pipinya yang mendadak memanas.     Panji menoleh dengan senyum gemas pada Hara yang kini menatap keluar jendela. Tangan Panji kembali meraih tangan Hara lalu mengecup punggung tangan itu penuh sayang.     “Makasih, ya,” ucap Panji. Hara masih memilih menatap keluar jendela. Menyembunyikan pipi chubby nya yang sekarang sudah di pastikan memerah.     “Sayang, lihat sini dong. Masa pacarnya datang jauh-jauh malah di punggunging,” ucap Panji dengan seringai menggoda. Panji sendiri juga di buat kaget. Ini untuk pertama kalinya Hara mencimnya duluan. Bahkan sekarang jantung Panji berdebar tidak karuan. Efek Hara memang selalu luar biasa pada dirinya.     “Jangan godain, aku,” rengek Hara. Panji menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya karena gemas pada Hara.     “Hara, lihat sini,” ucap Panji. Hara masih menggeleng. Dia masih menolah untuk menatap kearah Panji.     “Bentar dulu, aku masih malu,” ucap Hara. Tangan Panji bergerak mengacak rambut Hara.     “Sini-sini Haranya Panji nggak boleh malu-malu. Sini lihat dulu pipi merahnya, sini,” ucap Panji dengan suara jahil. Hara menoleh sambil menangkup pipinya sendiri. Gadis itu merengut dengan bibir mencebik kesal.     “Jangan jahilin aku terus. Aku pulang nih,” ucap Hara. Tawa Panji langsung meledak, dia mencubit pipi chubby Hara dengan gemas.     “Pacar siapa sih yang gemesin ini?” tanya Panji sambil mencubit pipi Hara dengan cukup keras. Hara memukul tangan Panji dengan brutal.     “Pacarnya Rejun,” jawab Hara dengan senyum lebar, sekarang Panji yang merengut. Kedua tangan Panji kini memegang setir mobil, tatapannya lurus ke depan.     “Kamu masih ngikutin cowok-cowok berjoget itu?” tanya Panji dengan sinis membuat Hara mati-matian menahan tawa. Hara tidak tahu kenapa Panji selalu sinis jika Hara sudah menyebut salah satu nama dari idolanya, Panji bahkan sering ngambek karena cemburu karena Hara selalu mengikuti perkembangan idola-idolanya setiap saat.     “Jelas masihlah. Mereka itu penyemangat aku tahu. Malah ganteng bangat lagi. Gimana aku nggak suka,” ucap Hara. Panji mengerem mobilnya secara mendadak. Dia menatap Hara dengan wajah kesal.     “Yaudah kamu pacaran aja sana sama si Rejun-Rejun itu. Aku mau pulang ke Jakarta,” ucap Panji. Wajahnya sudah di tekuk. Panji paling benci kalau Hara sudah menbawa-bawa nama Rejun, Jeno, Doyoung, Jaemin dan siapalah itu. Panji sangat membenci melihat mata Hara yang berbinar-binar saat membahas mereka. Panji merasa sangat di abaikan dan tidak dianggap.     Senyum Hara perlahan terbit, tangannya terangkat lalu mengelus wajah Panji yang masih cemberut, “uluh-uluh, masih aja cemburu sama mereka. Mereka itu hanya idolaku tapi kamu adalah segalanya, idola, pacar, kakak, dan jelas orang yang aku sayang,” ucap Hara dan sepertinya bujukan Hara berhasil saat dia melihat senyum Panji perlahan terbit. Tangan Panji bergerak memegang tangan Hara yang ada di pipinya.     “Kamu kalau mau ngomongin mereka jangan di depan aku. Aku berasa jadi butiran debu kalau kamu udah muji-muji mereka,” ucap Panji. Hara mengangguk saja walau dia tidak bisa janji. Pesona oppa-oppa Korena sangat sulit di abaikan. Jiwa fangirl Hara langsung menjerit.     “Aku janji,” ucap Hara. Panji kemudian menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.     “Kenapa aku selalu kangen kamu. Kenapa rasanya sulit sekali berbagi perhatian kamu dengan orang lain,” ucap Panji. Hara lagi-lagi tersenyum. Hara bahkan tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali dia tersenyum hari ini. Sudah terlalu banyak. Panji selalu bisa membuatnya merasa berbunga-bunga dan sangat berarti.     Panji adalah dunia Hara begitu pula sebaliknya Hara adalah dunia Panji. Tangan Hara bergerak mengelus punggung Panji dengan lembut. Menyalurkan kehangatan. Saling melepas kerinduan. Sebulan ini mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sering berandai-andai sampai membuat kepala mereka ingin pecah. Selalu menaruh curiga padahal tidak ada yang perlu di curigai. Sekarang Hara tahu, mereka hanya butuh pertemuan. Rasa rindunya membuat mereka menjadi hampir kehilangan kepercayaan.     “Makasih ya undah repot-repot mau nemuin aku ke Bandung,” ucap Hara. Hara merasakan Panji mengangguk di dalam pelukannya kemudian Hara merasakan Panji mengecup puncak kepalanya.     “Ayo sarapan,” ucap Panji. Dia mencabut kunci mobil, mengambil dompet dan ponsel yang langsung dia titipkan di tas Hara.     “Emang sudah sampai?” tanya Hara penuh tanda tanya. Anggukan dari Panji membuat Hara menengok keluar jendela. Benar saja, mereka sudah sampai di salah satu kafe yang ada di Bandung, tidak terlalu jauh dari kampus dan indekos Hara.     Hara langsung turun ketika Panji membuka pintu untuknya. Hara benar-benar di buat semakin melayang ketika jemari Panji bertautan dengan jemarinya.     “Kamu mau sarapan apa?” tanya Panji.     “Espresso,” jawab Hara membuat Panji langsung melotot.     “Kamu mau bunuh diri?” tanya Panji.     “Becanda,” jawab Hara sambil nyengir pelan melihat ekspresi Panji.     “Apa aja yang bikin kenyang. s**u vanilla jangan lupa,” jawab Hara. Panji mengangguk. Mereka kemudian memesan beberapa menu. Tentu saja Panji tetap melarang Hara memesan kopi sedangkan cowok itu sendiri memesan kopi.     “Kenapa aku nggak boleh minum kopi juga?” tanya Hara ketika mereka sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.     “Karena kamu pernah punya riwayat sakit magh, aku nggak bisa lihat kamu sakit,” jawab Panji dengan santai.     “Tapi nanti aku boleh nyoba dikit, kan?” tanya Hara masih membujuk. Hara ingin seperti yang lain, bisa menikmati kopi di pagi hari.     “Nggak boleh sayang, kamu minum s**u aja,” ucap Panji membuat Hara mau tidak mau mengangguk saja karena tidak ada gunanya keras kepala kala semua itu akan berefek buruk padanya.     “Setelah ini mau main kemana?” tanya Panji.     “Ciwiday. Boleh? Aku pengen bangat santai-santai di sana,” jawab Hara. Panji langsung mengangguk tanpa berfikir panjang membuat senyum Hara mengembang semakin lebar.     Saat sarapan obrolan diantara keduanya mengalir seperti air. Sangat santai tanpa ketegangan. Bahkan sepertinya Hara melupakan apa yang menjadi penyebab utama Panji datang kesini. Masalah tentang Alina. Sesekali pasangan yang sedang melepas rindu akibat hubungan jarak jauh itu terkekeh lalu tertawa.     “Itu bukan aku!” seru Hara ngotot ketika Panji memperlihatkan foto Hara yang sedan tidur dengan mulut sedikit terbuka. Foto itu di ambil ketika mereka sedang liburan ke Bali bersama-sama teman SMA.     “Itu kamu, sayang,” ucap Panji.     “Ih bukan, aku. Hapus nggak!” seru Hara berusaha merebut ponsel Panji. Panji menggeleng dan menyembunyikan ponselnya di saku celananya hingga membuat Hara tidak bisa berbuat apa-apa lagi.     “Lagian mau dalam keadaan apapun, cantik kamu tuh selalu tumpah-tumpah,” ucap Panji membuat Hara diam-diam mengulum senyumnya.     “Gombal bangat jadi laki,” ucap Hara lalu meneguk s**u vanilanya sampai habis untuk menutupi rasa gugupnya.     “Aku berbicara fakta loh, Ra” ucap Panji.     “Terserah kamu deh,” jawab Hara.     “Iya-iya aku sayang kamu pake bangat di ulang tiga kali,” ucap Panji yang berhasil membuat pipi chubby Hara memerah.     “Jangan godain aku terus!”     “Abisnya cantik kamu keterlaluan. Bikin hatiku gemeteran.”     “Panji!”     “Iya sayang.     “Udahan ah, aku marah beneran loh,” ucap Hara dan Panji langsung tertawa setelahnya. Menggoda Hara adalah satu dari banyak yang selalu Panji rindukan tentang Hara. Gadis itu selalu berhasil membuat Panji bertekuk lutut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD